Share

Bab 5 - Singkuh

Penulis: Pelangi Jelita
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-24 11:03:42

Malam itu, kamar pengantin baru... terasa seperti medan perang.

Di tengah tempat tidur king size, terbentang tali rafia warna merah muda, dipasang rapi dari ujung kepala sampai kaki.

“Inget ya, ini pembatas. Batas wilayah. Kalau kamu lewat ke zona aku, kamu kena sanksi,” tegas Anaya sambil menunjuk tali itu dengan tatapan waspada.

Raka hanya melirik malas.

“Oke, Bu Komandan.”

Anaya menyiapkan selimut dan bantalnya sendiri, bahkan membawa guling tambahan dari rumah orangtuanya.

Saat ia sibuk merapikan sisi ranjangnya, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.

Anaya menoleh... dan langsung syok.

Raka keluar dari kamar mandi hanya pakai celana training tanpa baju, rambut masih basah, dan... dia terlihat sangat santai.

“APA NGGAK PUNYA MALU?!” teriak Anaya refleks, langsung menutup mata dengan tangan.

Raka mengangkat alis. “Lho, ini rumahku. Kamarku. Masa ganti baju harus izin?”

“KAMU ITU COWOK! Aku cewek! Kita baru kenal TIGA HARI! TIGA, Om! Bukan tiga tahun!”

Raka terkekeh sambil mengambil kaus dari lemari dan memakainya pelan, santai banget seolah baru pulang futsal.

“Tenang aja, Saset. Aku bukan predator. Inget jangan panggil aku om, saset”

Anaya masih menutup matanya, ngomel sendiri.

“Dasar kadal buntung... menyebalkan, lagian kalau nggak pake baju jangan seenaknya... bikin aku kelimpungan begini... sana ..jadi was was mau tidur…”

Raka mendengar gerutuan itu dan makin senang menggoda. Ia mendekat ke sisi tali pembatas, lalu pura-pura menyentuhnya.

“Ups, hampir lewat garis batas…”

“COBA AJA! AKU SEMPROT KAMU PAKAI PARFUM BUNGA MELATI!”

Raka tertawa terpingkal-pingkal.

Setelah keributan kecil itu, mereka sama-sama berbaring. Suasana hening. Hanya suara hembusan AC yang berbunyi..

Raka memandangi langit-langit kamar, lalu melirik sedikit ke arah Anaya yang sedang membelakangi dia, berselimut sampai leher.

Ia menarik napas pelan.

“Wajar dia kaget. Baru tiga hari kenal, tiba-tiba harus sekamar. Aku aja pasti stres kalau jadi dia.”

Perbedaan usia mereka hampir sepuluh tahun. Anaya masih muda, idealis, dan penuh batas, sedangkan Raka... sudah kenyang berhubungan dengan wanita dan bosan ditodong Opa dengan pertanyaan, “kapan nikah.”

Anehnya, walau ia sudah beberapa kali dekat dengan lawan jenis, baru kali ini ia merasa… tenang.

Ada seseorang di kamar, Ada suara lain dan yang pasti ada... kehidupan.

Raka menarik selimutnya sendiri.

“Nggak apa-apa, Aya. Kamu belum bisa nerima itu wajar Aku juga nggak maksa. Nikmatin aja pelan-pelan...”*

Lalu dengan nada menggoda, ia bersuara pelan.

“Eh, Saset…”

“Apa lagi?!”

“Besok kita beli guling tambahan lagi ya. Guling kamu keras banget, tanganku sampai kesemutan tadi.”

“ITU GULING AKU, KAMU NGAPAIN MEGANG?!”

“Ups.”

“KADAL BUNTUNG, TIDUR.....!!!”

***

Pagi pertama sebagai “istri kontrak” baru saja dimulai, dan sudah pusing tujuh keliling.

Baru bangun tidur, sudah disambut suara riang Opa Hartono dari ruang makan.

“Cucu Menantu yung cantik jelita! Hari ini masakin Opa dan suamimu yaa! Jangan cuma cantik, harus bisa ngurus Opa dan suami juga looo ”

Anaya hanya bisa meringis.

"Masak? Masakin buat kadal buntung itu? Gila... telur rebus aja kadang belum masak di tangan aku...*

Infonya, ART Bik Onah ternyata masih cuti hingga dua hari lagi, dan artinya... semua urusan dapur jatuh ke tangannya.

Di Dapur...

Anaya berdiri di depan kompor, berkutat dengan dua butir telur dan wajan panas. Setelah lima menit...

“...kok ini telur ceplok jadi gosong sebelah gini?! Hitam pula...”

Telur ceploknya gosong, putihnya keras, kuningnya lumer, tapi bukan lumer menggoda, malah lumer menghitam. Anaya melotot ke wajan.

“Huft... telor ceplok negro.”

Sementara itu, Raka muncul dengan kaus putih santai dan celana pendek, ngeloyor ke meja makan.

“Sarapan udah siap? Aku laper banget.”

Anaya ngedumel,

“Tapi aku belum masak, kadal buntung.”

“Heh, bukannya kamu yang masak barusan. Aneh.”

Anaya mendelik, lalu menoleh ke telur gosongnya yang menyeramkan.

Akhirnya, ia menghela napas dan terpaksa meminta bantuan.

“Kadal buntung… tolongin dong ini kenapa telurnya bisa jadi item begini.”

Raka duduk santai, memainkan sendok.

“Hm? Tadi kamu manggil aku apa?”

Anaya menggigit bibir bawah. Malu.

“Kadal buntung…”

“Nggak denger” jawab Raka dengan ekspresi polos.

Anaya menarik napas, lalu dengan suara pelan, setengah malu

“Mas Raka… bantuin dong. Aku beneran nggak bisa.”

DEG.

Desiran aneh muncul di dada Raka. Panggilan itu... berbeda. Suara lembut Anaya, nada minta tolong, dan kata “Mas” di depan namanya membuat langkahnya refleks mendekat.

“Nah, gitu dong. Istriku manis banget kalo ngomong sopan,” godanya sambil berdiri di belakang Anaya, membantu mengambil alih wajan.

“Pertama, kecilin apinya dulu. Kamu ini kayak ngelawan naga, semua disetel maksimum.”

“Ya... siapa juga yang biasa masak?! Aku kuliah di jurusan hukum, bukan perhotelan!”

Raka cekikikan sambil memperbaiki ceplokan terakhir.

“Santai, Chef Saset. Hari ini kita belajar masak telur. Besok mungkin kamu bisa bikin rendang... atau bubur bayi.”

“BUBUR BAYI? MAKSUDNYA APA ITU?!”

Raka menahan tawa.

Rumah ini baru sehari ramai, tapi hatinya sudah tak ingin kembali ke sepi.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jodoh Jebakan Dari Opa   Bab 190 - Ending

    Anaya duduk di sofa ruang tengah, matanya tak lepas menatap Raka yang sedang menimang Raya.Bayi kecil mereka yang baru beberapa minggu lahir tampak nyaman di pelukan ayahnya. Setiap kali Raka berbicara lembut, bayi itu tampak menenangkan diri.Anaya tersenyum, merasa hangat sekaligus terharu melihat suaminya yang dulu dikenal serius dan kadang kaku, kini berubah total menjadi ayah yang penyayang, sabar, dan lembut.“Mas… makasih ya udah jadi papa terbaik buat Raya,” bisik Anaya pelan, suaranya hampir tercekat oleh perasaan haru.Raka menoleh, wajahnya yang biasanya penuh tawa kini serius tapi hangat.“Sayang… aku cuma ngelakuin apa yang aku rasain. Aku nggak bisa bayangin kalau nggak ada aku di samping kalian berdua,” jawabnya sambil menepuk lembut kepala Raya.Anaya menunduk, memandang suaminya dengan mata berbinar. Ia merasa jatuh cinta lagi, tapi kali ini cintanya lebih dalam dan tenang.Setia

  • Jodoh Jebakan Dari Opa   Bab 189 - Kebahagiaan Sebagai Orangtua

    Malam itu sunyi, hanya terdengar suara angin dan detak jam dinding di kamar Raya.Matahari sudah lama tenggelam, tapi bagi Raka dan Anaya, malam masih penuh dinamika. Tepat tengah malam, suara tangisan kecil dari kamar bayi terdengar.Kali ini bukan tangisan biasa Raya bangun dengan suara yang nyaring, menandakan ingin sesuatu.Raka yang sudah berpengalaman beberapa malam terakhir langsung duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya yang masih sedikit mengantuk.“Tenang, Sayang… Papa siap,” gumamnya pada Anaya yang ikut terbangun. Anaya masih setengah terpejam, rambut acak-acakan, tapi matanya berbinar menatap suami.Dengan sigap, Raka mengambil bayi mungil itu dari crib. Raya yang masih merengek digendongnya dengan hati-hati.“Sabar ya, Nak… papa udah jago sekarang,” kata Raka sambil menepuk punggung Raya lembut.Anaya tertawa kecil dari samping.“Mas… serius jaga? Aku takut liat

  • Jodoh Jebakan Dari Opa   Bab 188 - Cucu Pertama Keluarga Anaya

    Suasana di rumah Raka terasa hidup sekali pagi itu. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, menyoroti ruang keluarga yang dipenuhi mainan bayi, boneka, dan selimut lembut.Raya, bayi perempuan mungil yang baru berusia beberapa bulan, tengah terbaring di bouncer-nya, matanya yang bulat mengamati sekeliling dengan rasa ingin tahu.Anaya duduk di sofa, masih sedikit mengantuk tapi tersenyum lembut melihat tingkah anaknya. Ia mengusap lembut rambut Raya, yang sesekali menggerakkan tangan mungilnya seolah ingin meraih dunia.“Tuh kan, manis banget,” kata Anaya sambil tersenyum,“kayak mamanya, polos dan lugu.”Raka yang duduk di sampingnya ikut tersenyum, tapi matanya tak bisa lepas dari bayi mungil itu.“Iya, tapi jangan lupa, dia juga ada darah bandel papanya,” godanya sambil mengedip nakal ke arah Anaya.Belum sempat Anaya menanggapi, terdengar ketukan di pintu. Mama Anaya masuk dengan senyum lebar, diikuti Papa Anaya yang tampak b

  • Jodoh Jebakan Dari Opa   Bab 187 - Cicit Kesayangan

    Malam itu, rumah Raka–Anaya tampak semakin hidup dari biasanya.Lampu-lampu hangat menyoroti ruang tengah yang penuh dengan tawa, suara canda, dan aroma makanan ringan yang baru saja disiapkan oleh Bik Onah.Di tengah keramaian, Opa Hartono berdiri sambil menggendong Raya dengan penuh perhatian. Tangannya yang sudah keriput namun lembut itu menahan tubuh kecil bayi perempuan mereka, sementara matanya menatap penuh kasih sayang.“Cicit sayang…” suara Opa terdengar lembut namun bersemangat, seolah bayi mungil itu benar-benar mengerti setiap kata yang diucapkannya.“Kamu harus tau ya… karena campur tangan Opa, mama dan papamu bisa bersatu. Jadi, kamu lahir di keluarga yang penuh cinta ini.”Raka berdiri di samping, menatap ayahnya dengan wajah setengah geli, setengah terharu.“Opa… jangan terlalu lebay. Nanti Raya jadi terbiasa sama drama keluarga besar kita,” ujarnya sambil terseny

  • Jodoh Jebakan Dari Opa   Bab 186 - Opa Mendominasi

    Malam itu suasana di rumah Hartono terasa hangat luar biasa.Lampu gantung di ruang keluarga menyala lembut, memantulkan bayangan hangat ke dinding, sementara aroma kue hangat dari dapur membuat semua orang merasa nyaman.Opa Hartono duduk di sofa, Raya kecil dalam pelukannya, tertawa kecil sambil mengangkat tangan mungilnya.“Nah kan… berkat opa, kalian punya cicit cantik sekarang!” serunya dengan suara keras namun hangat.Tawa lebar langsung pecah di seluruh ruangan. Raka yang duduk di samping Anaya ikut tersenyum lebar, memandang putrinya yang lucu sambil menggeleng.“Opa… keterlaluan deh. Tapi… iya, makasih, Opa,” Anaya berkata, pipinya memerah.Bik Onah dan sopir yang biasa ikut menjaga rumah pun ikut tertawa. Mereka melihat Raka dan Anaya yang sibuk bergantian menatap Raya, sementara Opa sesekali menggelitik pipi cucunya.“Aduh, lihat ini, imut banget! Opi seneng banget!” Opa berseru sambil tertawa ngakak.Raka menghela n

  • Jodoh Jebakan Dari Opa   Bab 185 - Buka Rahasia

    Suasana sore itu begitu hangat. Matahari mulai condong ke barat, menebarkan cahaya keemasan melalui jendela ruang keluarga besar, sementara tawa dan obrolan hangat masih mengisi udara.Raya tidur di gendongan Anaya, yang duduk di sofa dengan Raka di sampingnya.Semua anggota keluarga berkumpul, mulai dari Opa Hartono dan Ibu, hingga Pak Herlambang dan Bu Nia, orang tua Anaya. Bahkan sepupu-sepupu Raka ikut menyela dengan komentar kocak mereka.Tiba-tiba, Opa Hartono yang sejak tadi duduk sambil menimang Raya berdiri dan menepuk tangan.“Baiklah, sepertinya momen ini tepat untuk aku buka rahasia lama,” ujarnya sambil tersenyum misterius. Semua mata tertuju padanya, termasuk Raka dan Anaya yang saling berpandangan, penasaran.Ibu Hartono menimpali dengan senyum kecil,“Iya, ini sebenarnya sudah lama ingin kami ceritakan. Semuanya bermula dari ide gila Opa…” Suara Ibu sedikit serak menahan tawa, membuat semua oran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status