Share

BAB 6 - BUKAN PENGGANGGU

Khania yang sudah lemas dan tidak sanggup untuk bertahan lagi samar-samar melihat seseorang menghampirinya, seseorang itu menggenggam dan membawa tubuh Khania, setelahnya Khania kehilangan kesadarannya.

**

Efgan yang melihat Khania menabrak pembatas jembatan dan terjatuh ke sungai segera keluar dari dalam mobilnya dan pergi berlari ke pinggir sungai, sampai di pinggir sungai, Efgan segera berenang untuk menolongnya.

Setelah beberapa saat Efgan berenang menyusuri sungai, akhirnya Efgan menemukan Khania yang tidak jauh dari dirinya. Efgan yang melihat Khania sudah lemas dan tak berdaya segera berenang menghampiri Khania dan membawanya ke atas permukaan.

Efgan segera membawa tubuh Khania ke daratan, lalu dia mengecek nadinya. Dengan segera Efgan melakukan pertolongan pertama dengan melakukan CPR dan juga memberikan bantuan napas untuk Khania. "Khania saya mohon sadarlah."

Efgan masih terus berusaha menyadarkan Khania. "Khania tolong sadarlah. Jangan sampai saya merasakan penyesalan lagi, saya mohon Khania bertahanlah."

Efgan terus memberikan CPR dan bantuan napas berulang kali kepada Khania sampai akhirnya Khania sadar.

"Uhuk ... uhuk!"

Efgan menghela napas lega ketika dia melihat Khania yang tersadar. "Alhamdulillah, kamu tidak apa-apa Khania?!" tanya Efgan, ia lalu membawa tubuh Khania kepangkuannya dan mendekap erat Khania agar tidak kedinginan.

Wajah tegang dan penuh kekhawatiran Efgan berganti menjadi wajah penuh kelegaan. Ia mendekap erat Khania dan terus mengucapkan syukur yang terus terucap di bibirnya.

Khania yang masih lemas tidak menolak ataupun memberontak, ia sangat bersyukur karena Efgan telah menyelamatkan nyawanya.

Khania yang berada di dekapan Efgan mendongakan kepalanya dan menatap Efgan. "Terima kasih!" ucapnya dengan suara yang lemah.

"Kamu tidak apa-apa Khania? Apa ada yang sakit?" tanya Efgan lagi sambil memeriksa tubuh Khania.

Efgan sangat bersyukur karena ia tadi mengikuti Khania. Andaikan ia tadi langsung pulang, sudah pasti ia tidak akan pernah tau, jika Khania mengalami kecelakaan dan terjatuh ke dalam sungai.

Khania tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

Efgan melerai pelukannya dan segera mengambil jas yang tadi ia lempar kesembarang arah. Setelahnya ia memakaikan jas itu pada Khania dan membenarkan rambut Khania yang sedikit menutupi wajahnya.

Khania yang masih lemas karena terkejut dan syok, hanya diam menerima perlakuan Efgan kepadanya, ia tidak menolak dan hanya menatap Efgan yang memperlakukannya dengan penuh perhatian.

"Kita ke rumah sakit sekarang, takutnya kamu ada cedera," Efgan lalu membantu Khania untuk berdiri. "kamu tadi terjatuh cukup tinggi." Dia mendongakan kepalanya melihat jembatan yang di mana Khania tadi terjatuh.

"Gak usah, saya tidak apa-apa," sahut Khania karena dia merasa baik-baik saja dan tidak perlu sampai dibawa ke rumah sakit.

"Tapi ...," ucapan Efgan terhenti kala dia melihat Khania yang menatapnya dengan lembut dan senyuman di bibirnya.

Efgan yang baru pertama kali melihat Khania tersenyum diam mematung. Sungguh, hati Efgan menghangat, saat dia melihat senyum Khania yang begitu manis. Karena biasanya hanya tatapan sinis dan wajah jutek yang selalu Khania tampilkan kepadanya.

"Saya tidak apa-apa jadi gak usah ke rumah sakit. Saya hanya ingin pulang dan istirahat," balas Khania dengan senyum yang masih terpatri di bibirnya.

Khania lalu berjalan tertatih-tatih meninggalkan Efgan yang masih diam mematung di sana.

Efgan tersadar dari rasa kagumnya saat melihat Khania yang sudah berjalan cukup jauh dengan tertatih-tatih.

Dengan segera ia menyusul Khania dan membantunya berjalan dengan memapahnya.

Khania menoleh ke arah Efgan dan tersenyum. "Terima kasih!" ucapnya lagi.

Efgan hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia tersenyum tipis, sangat tipis dan nyaris tidak terlihat sambil menatap lurus ke depan.

Sampai di dekat mobil, Efgan langsung membukakan pintu mobil untuk Khania, ia membantu Khania duduk di kursi depan, dan memakaikan seatbelt untuk Khania. Lalu ia mengambil selimut kecil di kursi belakang. "Kamu pakai ini biar gak kedinginan dan tidak demam nanti." Efgan menyelimuti tubuh Khania dengan selimut yang tadi ia ambil.

Khania hanya diam menatap Efgan yang kini tengah memakaikannya selimut, ia tidak menolak, karena masih merasakan terkejut dan syok yang membuat tubuh dia lemas bagai jelly.

Sunggung ia tadi sudah pasrah, dan tidak menyangka jika ia akan diselamatkan oleh orang yang selama ini selalu dia tolak, dan ia anggap sebagai pengganggu.

Di sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara baik Efgan maupun Khania, mereka sama-sama diam.

Hingga suara Khania memecahkan keheningan saat mereka sudah tiba di depan rumah Khania.

"Pak boleh saya bertanya?" tanya Khania sambil menatap Efgan dengan lembut tanpa ada tatapan sinis yang biasanya dia berikan pada Efgan.

Efgan yang ditatap begitu oleh Khania menjadi salting. Dia mencoba menetralkan degup jantungnya yang entah kenapa bisa berdetak lebih kencang. "Ekhemm! Boleh." jawabnya lalu dia menatap Khania.

"Kenapa anda mau bersusah payah menjaga dan melindungi saya? Padahal saya tau anda itu bukan saudara ataupun teman Mas Albi. Karena saya tau semua teman-temannya Mas Albi," tanya Khania pada Efgan.

Dia sangat penasaran kenapa bisa lelaki di hadapannya ini mau repot-repot menjaganya.

"Karena saya sudah berjanji kepada suami kamu untuk menggantikan dia menjaga dan melindungi kamu," jawab Efgan sambil memalingkan wajahnya dari Khania.

"Kenapa ... Kenapa anda mau berjanji seperti itu?! Anda bisa saja kan membiarkan atau tak memedulikan ucapan Mas Albi yang bagi anda dia itu orang asing! Apa ada alasan lain sampai anda mau berjanji untuk menjaga saya dan menggantikan Mas Albi untuk melindungi saya?"

Khania benar-benar tidak mengerti kenapa orang asing di hadapannya ini mau susah-susah menjaganya, dan meluangkan waktunya untuk mengikuti Khania. Apa orang ini tidak punya pekerjaan lain selain mengikuti Khania.

Efgan hanya diam membisu. Efgan tidak tau apa dia harus memberitahu Khania yang sebenarnya, alasan kenapa dia mau menjaganya, atau dia harus merahasiakannya?! Efgan sungguh dilema.

"Ayo bicaralah ... katakan apa alasan anda sampai anda mau repot-repot menjaga saya?" seru Khania yang sudah tak sabar ingin mendengar alasan apa yang akan lelaki ini berikan kepadanya.

"Maaf."

Hanya satu kata yang terlontar dari mulut Efgan. Efgan lalu menatap manik mata Khania dengan tatapan penuh arti.

"Untuk apa?" tanya Khania dengan mengerutkan alisnya.

Khania hanya ingin tau alasannya, kenapa lelaki ini mau menjaganya sampai sebegitunya, hingga lelaki itu rela mengorbankan nyawanya sendiri demi melindungi dirinya. Bukan kata maaf yang ingin dia dengar.

Lagi-lagi Efgan tidak menjawab dan hanya menatap Khania dengan tatapan penuh penyesalan.

Ingin rasanya Efgan memberitahukan alasan yang sebenarnya. Namun entah kenapa ada perasaan takut di dalam hatinya jika Khania sampai mengetahui alasan di balik dia ingin menjaganya sudah pasti Khania akan membenci dan akan menjauhinya. Dan Efgan tidak mau itu terjadi.

"Baiklah jika anda tidak ingin memberitahu saya apa alasan anda mau menjaga saya, saya tidak akan memaksa! Saya harap ini pertemuan terakhir kita. Dan saya minta kepada anda tolong jangan pernah muncul lagi di hadapan saya. Karena saya tidak tau apa tujuan dan maksud anda mendekati saya."

Setelahnya Khania keluar dari mobil Efgan.

Efgan yang melihat Khania keluar tampak tak terima Khania menyuruhnya untuk menjauh.

"Ayolah Efgan berfikir, alasan apa yang bisa dia terima tanpa harus membencimu!" Efgan tampak berpikir keras. "Masa iya aku harus memberitahu dia yang sebenarnya?!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status