เข้าสู่ระบบPagi itu Arumi tiba di balai desa lebih awal. Ia masih memikirkan pesan Damar semalam ke nomor pribadinya. Dari mana Damar mendapatkannya?
Sebelum kelas dimulai, Arumi menatap Damar yang sedang menulis di papan tulis untuk pelajaran hari itu. “Pak Damar, saya mau tanya.” “Iya, Mbak Arumi?” Damar menoleh dengan senyum ramah. “Kemarin malam Pak Damar mengirim pesan ke pons“Aku nggak sengaja. Ada truk dari arah berlawanan. Aku banting setir, tapi refleksku nggak cukup cepat,” Elang menerangkan dengan suara lirih.“Sudah, Mas. Jangan banyak bicara dulu. Mas Elang masih harus banyak istirahat.” Arumi menyeka air matanya.Elang tersenyum, lalu memejamkan mata. Kelelahan dan efek obat membuatnya perlahan terlelap. Arumi tetap menggenggam tangannya, tidak mau melepaskan genggaman itu.Perawat mendorong brankar ke ruang rawat inap. Arumi berjaga di sampingnya. Ia menaruh kepalanya di sisi tempat tidur, masih menggenggam tangan Elang, dan perlahan mulai tertidur.Arumi tanpa sadar terlelap sampai fajar mulai menyingsing. Meski ia tidur dengan posisi yang tidak nyaman, tapi tangannya tetap memegang erat jari-jari Elang. Dan di atas tempat tidur, Elang terbangun sejenak, menatap Arumi yang tertidur di sampingnya.“Terima kasih,” bisik Elang. “Kamu selalu ada di sampingku.”Tak
Seorang perawat menahan bahunya. “Mbak, mohon tunggu di sini! Pasien ini baru saja masuk. Kami harus tangani dulu!”“Tapi itu suami saya!” Arumi hampir menangis. “Itu Mas Elang!”Perawat itu menatapnya dengan simpati. “Mbak, kami akan tangani sebaik mungkin. Silakan tunggu di ruang tunggu. Kami akan memberi kabar.”Tandu itu terus didorong ke dalam ruang IGD. Pintu tertutup. Lampu merah di atas pintu mulai menyala.Arumi jatuh terduduk di kursi terdekat. Tangannya gemetar, air mata mengalir deras di pipinya.“Mas Elang …” bisiknya. “Apa yang terjadi sama kamu?”Arumi memegang erat ponselnya. Jari-jarinya sudah lemas, tapi ia tidak bisa melepaskannya. Di hadapannya, lampu merah di atas pintu IGD masih menyala. Ruang tunggu terasa sunyi, hanya terdengar suara mesin pendingin dan langkah perawat yang hilir-mudik.Ia duduk di kursi tunggu, tubuhnya gemetar. Di dalam hatinya, ia terus berdoa
Arumi masih berdiri di koridor dekat apotek, ponsel di tangannya, jari-jarinya terus menekan nomor Elang berulang kali. Layar ponsel menunjukkan panggilan yang tidak terhubung.“Mas Elang kenapa ya? Kenapa nomornya tidak bisa dihubungi?” bisik Arumi, suaranya mulai bergetar. Matanya menatap layar ponsel, berharap ada panggilan masuk dari Elang.Namun tidak ada.Ia mencoba sekali lagi. “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silakan coba beberapa saat lagi …”Arumi menutup matanya, berusaha menenangkan diri. “Tenang, Arumi. Mungkin hanya sinyal. Mas Elang pasti baik-baik saja.”Tapi firasat buruk itu terus menghantuinya.Ia berjalan kembali ke ruang rawat inap dengan langkah berat. Kantong obat masih tergenggam erat di tangannya. Di dalam kamar, Indah masih tertidur pulas. Dewi sedang mengecek infus, dan tersenyum begitu melihat Arumi masuk.“Kamu kenapa?” tanya Dewi, melihat wajah Aru
Suara benturan keras memecah keheningan malam. Motor Elang terpelanting ke sisi jalan, tubuhnya terbanting ke aspal yang dingin dan kasar.Lampu motor padam. Hanya suara mesin truk yang terus melaju pergi, menghilang dalam kegelapan.Sementara di rumah sakit, Arumi duduk di sisi tempat tidur ibunya. Tangannya menggenggam jemari Indah yang dingin. Ruang rawat inap terasa sunyi, hanya terdengar suara detak mesin dan napas ibunya yang mulai teratur. Tapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan.Sejak tadi, perasaannya tidak enak. Ada firasat buruk yang merayap di dadanya, seperti bayangan gelap yang tidak bisa ia lihat tapi bisa ia rasakan. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, dan pikirannya terus melayang ke Elang yang belum juga kembali.“Kok perasaanku nggak enak begini ya?” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.Indah yang semula tertidur, perlahan membuka matanya. Wajahnya
Dewi tiba-tiba menyela obrolan Arumi dengan ibunya. Perawat itu masuk dengan langkah ringan, membawa berkas di tangannya, lalu tersenyum nakal ke arah Arumi.“Ngomong-ngomong, Arumi ... Aku penasaran, kamu udah isi belum?” tanyanya dengan nada bercanda tapi penuh rasa ingin tahu.Arumi terdiam sesaat, bingung harus menjawab pertanyaan itu. Wajahnya langsung memerah.Ia menggaruk rambutnya yang tak gatal, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Di sampingnya, Indah yang terbangun sedikit, ikut tersenyum mendengar pertanyaan Dewi.“Doakan saja, Dewi. Aku juga maunya segera,” jawab Arumi akhirnya, suaranya pelan dan malu-malu.Bukannya berhenti, Dewi justru makin penasaran. Matanya berbinar. “Memang kalian sudah berapa lama menikah?”“Se-sebulan,” sahut Arumi dengan terbata-bata.Dewi terkikik, menutup mulutnya dengan tangan. “Oh ... Pantesan. Masih pengantin baru toh? Wajar malu-malu begitu
Arumi terbangun dari tidurnya dengan perasaan hangat. Matanya masih sayu saat ia mencoba mengingat di mana ia berada. Lampu neon berkedip pelan di atasnya, aroma antiseptik masih menusuk hidung.Ia hendak bangkit, tapi matanya menangkap sesuatu yang membuatnya tertegun.Elang tidur dalam posisi duduk di sisi kakinya. Tubuhnya yang tinggi terlipat di kursi plastik kecil, kepalanya menunduk ke depan, dan tangannya masih bertumpu di sisi kursi tempat Arumi berbaring. Wajahnya yang tegas kini tampak tenang, bahkan Arumi bisa melihat sisi rapuhnya.Ada lingkaran hitam di bawah matanya, tanda bahwa ia tidak tidur nyenyak sepanjang malam.Arumi merasakan dadanya sesak. Elang menjaganya sepanjang malam.Pria itu tidak pergi. Ia tetap di sini, meskipun tidak ada yang memintanya.Air mata hangat mulai menggenang di sudut matanya. Arumi menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangis.Elang benar







