Share

Bab 4

Author: Mita Yoo
last update publish date: 2026-07-09 14:45:11

“Ke rumah Pak Elang?”

Arumi hampir berteriak di atas deru mesin motor. Angin malam menghantam wajahnya, membuat matanya berair.

“Jangan panggil Pak.” Suara Elang terdengar datar dari depan. “Aku belum setua itu.”

“Ma-maaf, Mas Elang.”

Arumi menggigit bibir. Ia masih bingung. Masih takut. Tapi sesuatu dalam diri Elang—sesuatu yang tenang dan tegas—membuatnya tidak berani membantah.

Motor melaju semakin cepat. Jalan tanah berganti aspal, lalu berbelok ke sebuah gang sempit yang diapit pepohonan rimbun. Lima menit kemudian, Elang mengerem di depan sebuah pagar putih.

Arumi tertegun.

Rumah itu tidak besar, tapi terlihat bersih dan rapi. Dindingnya dicat krem.

Halamannya dihiasi pot-pot tanaman hijau yang tersusun rapi. Lampu teras menyala hangat, menerangi pintu kayu jati dengan ukiran sederhana. Untuk ukuran desa, rumah ini terbilang mewah. Terlalu mewah untuk seorang pemuda biasa.

“Ini rumahmu, Mas?” tanya Arumi pelan.

Elang turun dari motor. Ia tidak menjawab, hanya menggantung jaketnya di tiang pagar.

“Masuk.”

Arumi mengikuti. Kaki gemetarnya melangkah perlahan melewati halaman, melewati teras, masuk ke dalam rumah. Begitu pintu terbuka, ia kembali tertegun.

Ruang tamu minimalis dengan sofa kulit cokelat. Meja kaca bening. TV layar datar di sudut. Buku-buku tersusun rapi di rak kayu. Tidak ada debu. Tidak ada kekacauan. Semua terawat seperti rumah orang kota.

“Kamarmu di sana.” Elang menunjuk ke lorong di sebelah kiri. “Aku di kamar belakang. Kalau butuh sesuatu, ketuk pintu kamarku.”

Arumi mengangguk. Ia hampir tidak bisa berkata-kata.

Dunianya berubah dalam hitungan jam. Dari menjadi pengantin paksa, kini berdiri di rumah orang asing yang melunasi hutang keluarganya.

“Terima kasih, Mas Elang,” bisiknya, hampir tak terdengar.

Elang mengangguk singkat. Tanpa berkata lagi, ia berbalik dan masuk ke lorong belakang. Pintu kamarnya tertutup pelan.

Arumi berdiri di ruang tamu sendirian. Hening. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mencerna semua yang terjadi.

“Setidaknya …” ia bergumam, menatap langit-langit rumah yang bersih, “setidaknya aku nggak jadi nikah sama pria bangkotan kayak Juragan Gatot.”

Senyum kecil terukir di wajahnya. Senyum pertama malam ini.

Ia melangkah ke kamar yang ditunjuk Elang. Pintu terbuka, sebuah ruangan sederhana dengan tempat tidur, lemari, dan meja rias kecil. Namun yang membuat Arumi terbelalak adalah kasurnya. Kasur empuk berwarna putih dengan pegas tebal yang membuatnya memantul begitu ia duduk.

Arumi terperanjat. Lalu tertawa kecil. Tubuhnya terlempar ke atas beberapa sentimeter sebelum jatuh kembali ke permukaan yang lembut.

“Wah …” ia bergumam sambil tersenyum, “ini baru kasur!”

Beberapa kali ia mencoba memantul, seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Kegembiraan kecil itu menghapus sementara rasa takut di hatinya.

Tapi kemudian ingatan tentang ibunya yang menangis, ayahnya yang menjualnya, dan tatapan Gatot kembali menyerang.

Arumi menggeleng cepat. Ia tidak mau memikirkan itu sekarang.

Ia melangkah ke kamar mandi kecil di dalam kamar. Kamar mandi yang bahkan lebih bagus dari kamar tidurnya di rumah.

Arumi mandi dengan durasi yang cukup lama. Ia biarkan air hangat membasuh semua ketakutan, semua air mata, semua keringat malam itu.

Setelah selesai, ia membuka lemari untuk mencari pakaian. Ia hanya punya baju kotor yang ia kenakan sejak tadi malam.

Lalu ia melihatnya.

Di rak tengah lemari, tergantung rapi beberapa potong pakaian perempuan. Baju tidur sutra berwarna krem. Gaun sederhana. Juga pakaian dalam baru yang masih terbungkus plastik.

Arumi menatapnya dengan tatapan heran.

“Pakaian siapa ini?”

Arumi bertanya-tanya pada diri sendiri. Istri? Namun Elang sama sekali tak mirip gambaran pria beristri.

Namun karena tidak ada pilihan lain, ia mengambil baju tidur sutra itu. Kainnya lembut di kulit. Pas di tubuhnya. Seperti dibuat untuk ukuran tubuhnya.

Setelah mengenakan baju itu, Arumi menatap cermin. Ia tampak berbeda. Lebih dewasa.

Tapi sebelum ia sempat berpikir lebih jauh—

Tok! Tok! Tok!

Ketukan keras terdengar di pintu kamarnya.

Arumi tersentak. “Ya?”

Suara Elang dari balik pintu. “Buka pintunya!”

Arumi cepat-cepat membuka pintu. Elang berdiri di ambang pintu.

Rambutnya sedikit basah, baju kaos hitam dan celana pendek. Matanya menatap Arumi sesaat, lalu segera mengalihkan pandangan.

“Kamu bisa masak?” tanyanya singkat.

Arumi mengangguk cepat. “Bisa, Mas. Saya biasa masak di rumah.”

“Kalau begitu,” Elang menunjuk ke arah dapur dengan telunjuknya, “Pergi ke dapur. Buatkan makanan apa saja. Aku lapar.”

Arumi mengangguk. “Baik, Mas Elang.”

Elang berbalik. Tapi sebelum melangkah pergi, ia berhenti sejenak. “Di dapur ada bahan makanan. Kalau kurang, nanti aku beli di warung ujung jalan. Kamu nggak boleh keluar malam.”

Arumi mengangguk. “Baik, Mas Elang.”

Elang berbalik. “Cepat masak. Aku ke kamar dulu.”

Arumi mengangguk. Lalu melangkah menuju dapur.

Ia terdiam sejenak di tengah dapur, masih berusaha menenangkan pikirannya dari kekacauan yang tiba-tiba tadi.

Arumi menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang.

“Jadi, mulai sekarang aku harus balas budi ke Mas Elang dan bantu apa saja di rumahnya,” pikirnya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 173

    Riyono tertawa dari seberang telepon. “Mungkin. Tapi kau punya waktu sampai besok pagi. Kalau tidak, kau tidak akan pernah melihat Arumi lagi.”Telepon terputus. Elang menatap ponselnya, lalu menekan nomor polisi lagi.“Pak, saya tahu siapa yang menculik istri saya. Ayah saya sendiri, Riyono.”“Baik, Pak. Kami akan segera melacaknya,” sahut petugas di telepon.Elang menutup telepon. Ia menatap ke luar jendela, ke jalanan yang mulai gelap. “Arumi, bertahanlah. Aku akan datang.”Di gudang tua di pinggir kota, Arumi terbangun dengan kepala berdenyut. Tangannya terikat, mulutnya disumpal. Ia melihat Riyono berdiri di depannya, tersenyum tipis.“Selamat datang, Arumi,” kata Riyono. “Kita akan menunggu suamimu datang.”Arumi mencoba berbicara. Namun, suaranya tertahan. Mulutnya disumpal dengan kain kotor yang berbau apek, membuatnya hampir muntah.Tangannya terikat ke belakang dengan tali tambang yang kasar, menggores kulit pergelangannya. Kakinya juga diikat ke kaki kursi kayu tua yang ber

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 172

    Riyono tidak bergeming. “Gatot hanya korban keadaan. Dia disuruh oleh seseorang. Dia bukan pelaku utama.”“Siapa yang menyuruhnya?!” Elang melangkah maju, wajahnya memerah karena amarah. “Bapak, ‘kan? Apa Bapak juga yang menyuruhnya membunuh Rina?”Riyono tersenyum tipis—senyum yang membuat darah Elang semakin mendidih. “Kamu terlalu cepat menyimpulkan, Elang. Aku hanya ingin keadilan. Gatot punya keluarga. Dia punya anak. Kamu tega membiarkan dia membusuk di penjara?”“Keadilan?” Elang tertawa pahit.“Keadilan macam apa yang Bapak maksud? Rina dibunuh dengan kejam! Dia disiksa! Dia diperlakukan seperti binatang! Dan Bapak bicara tentang keadilan untuk Gatot?”Arumi yang berdiri di belakang, menggenggam lengan Elang erat. Ia bisa merasakan tubuh suaminya gemetar. “Mas, tenang …” bisiknya.Elang menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia menatap Riyono dengan tatapan yang tidak lagi mengenal rasa hormat. “Bapak, dengarkan. Aku nggak akan membebaskan Gatot. Dia sudah membunuh k

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 171

    Pemakaman Rina berlangsung sakral. Langit pagi itu berwarna kelabu, seolah ikut berduka. Awan tebal menggantung di atas pemakaman umum desa Kanigara, menutupi sinar matahari yang biasanya terik.Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga-bunga yang diletakkan di atas pusara. Elang berdiri di depan liang lahat, tubuhnya tegap tetapi bahunya turun.Arumi berada di sampingnya, menggenggam tangannya erat. Di belakang mereka, Sardi, Nining, Bibi Siti, Pak Darman, dan beberapa tetangga berdiri dengan kepala tertunduk. Seorang pendeta memimpin doa, suaranya pelan tapi jelas, mengiringi kepergian Rina.“Tuhan, terimalah hamba-Mu ini dalam kedamaian abadi. Ampuni segala dosanya, dan terimalah dia di rumah-Mu yang kekal. Amin.”Elang menutup matanya. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi pipinya yang pucat. Ia tidak menyekanya. Ia membiarkan air mata itu mengalir, seperti sungai yang akhirnya menemukan muaranya.“Selamat jalan, Mbak,” bisiknya. “Aku akan selalu ingat Mbak. Te

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 170

    “Aku mau cerita. Ayahku … dia pernah mengurung aku di gudang. Di dalamnya banyak tikus. Aku masih kecil, aku nggak bisa keluar. Aku teriak, tapi nggak ada yang dengar. Sejak itu, aku takut sama tikus.” Mereka pulang dengan langkah ringan. Di rumah, Oren dan Salju menyambut dengan gembira. Arumi memasak makan siang yang lezat, dan mereka makan bersama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada ancaman yang menggantung di udara. Malam itu, setelah kepergian Wirsa, Elang dan Arumi duduk di ruang tamu. Lampu meja menyala redup, menciptakan cahaya keemasan yang hangat. Oren dan Salju sudah tertidur di sudut ruangan, sementara di luar, angin malam berdesir pelan. Elang menggenggam tangan Arumi, jempolnya mengusap punggung tangan istrinya pelan. Ia menatap ke arah jendela, matanya kosong, seperti sedang melihat sesuatu yang jauh di masa lalu. “Arumi,” kata Elang pelan. “Aku mau cerita sesuatu.” Arumi menoleh, menatap suaminya dengan penuh perhatian. “Iya, Mas?” Elang menarik

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 169

    Esoknya, Elang pamit kembali ke rumah kontrakan di pinggiran kota. Ia dan Arumi berpamitan pada Bibi Siti dan Nining, mengucapkan terima kasih atas semua bantuan yang telah mereka berikan. Oren dan Salju ikut dibawa, dimasukkan ke dalam keranjang kecil yang diletakkan di atas motor Elang. “Jaga diri kalian baik-baik, ya. Semoga kalian selalu dilindungi Tuhan,” pesan Bibi Siti sambil memeluk Arumi. “Iya, Bi. Terima kasih untuk semuanya,” kata Arumi, matanya berkaca-kaca. Nining melambaikan tangan dari teras. “Kalau butuh apa-apa, telepon aku, ya, Rum!” “Pasti, Ning! Maaf aku nggak sempat nepatin janji mau jalan-jalan sama kamu.” Motor melaju meninggalkan rumah Bibi Siti. Sepanjang perjalanan, Arumi memeluk pinggang Elang erat. Angin pagi berhembus sejuk, membawa aroma sawah dan pepohonan. Untuk sesaat, suasana terasa damai. Sesampai di rumah kontrakan, mereka membersihkan rumah yang sudah beberapa hari ditinggalkan. Elang menyapu halaman, sementara Arumi membersihkan dalam rumah.

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 168

    Sardi kemudian berusaha menjelaskan. “Aku tahu, Lang. Tapi kalau kamu memukulnya, kamu bisa masuk penjara. Dia akan bebas. Kamu mau itu?”Elang berhenti meronta. Napasnya terasa berat karena amarah. Matanya masih penuh dendam, tapi perlahan api amarahnya mulai mereda. Ia menatap Gatot yang masih tersenyum sinis.“Kau lihat?” kata Gatot. “Anak kecil sepertimu nggak bisa apa-apa, Elang. Kau cuma bisa diam.”Polisi yang bersama mereka segera memborgol Gatot dan membawanya keluar. Gatot masih berteriak-teriak, memaki, dan menyebut nama Elang. Namun Elang tidak menghiraukan. Ia berdiri diam, tubuhnya gemetar menahan marah.Sardi melepaskan cekalannya, menepuk bahu Elang. “Kamu melakukan hal yang benar, Lang. Jangan biarkan dia menyeretmu ke dalam dramanya. Levelmu beda dengannya.”Elang mengangguk pelan. Ia menutup matanya, mencoba menenangkan diri. Di dalam hatinya, ada amarah yang belum padam. Tapi ia tahu, Sardi ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status