Share

Bab 5

Penulis: Mita Yoo
last update Tanggal publikasi: 2026-07-09 14:49:33

Arumi membuka kulkas. Isinya cukup lengkap. Telur, sayuran, ayam potong, dan bumbu-bumbu. Arumi tersenyum kecil.

Memasak adalah satu-satunya hal yang ia kuasai, satu-satunya hal yang bisa ia berikan kepada orang yang baru saja menyelamatkannya dari pernikahan dengan pria tua bejat.

Ia bergerak cepat. Memotong bawang, menumis bumbu, merebus ayam. Aroma haru. masakan mulai memenuhi ruangan. Mengingatkannya pada dapur rumahnya dulu—sebelum semuanya hancur.

Tapi pikirannya melayang.

Mas Elang. Siapa sebenarnya pemuda itu? Gatot menyebutnya keponakan, tapi jelas, Elang memusuhi pamannya sendiri.

Elang tinggal di rumah mewah di tengah desa, tapi mengendarai motor, tidak ada mobil di garasinya. Dan hanya ada satu foto keluarga di rumahnya.

Dan yang paling membingungkan, mengapa ia mau melunasi hutang keluarga Arumi?

Tiga puluh juta. Bukan uang kecil. Arumi bahkan yakin jika Elang tidak mengenal Arumi sebelum kejadian ini.

“Apa dia punya maksud tertentu,” gumam Arumi pelan sambil mengaduk kuah. “Tapi apa?”

Arumi menggelengkan kepala. “Ah, aku terlalu banyak berkhayal. Nggak mungkin dia ada maksud apa-apa.”

Ia fokus kembali ke masakan. Ayam goreng, sayur bening, dan sambal terasi. Makanan sederhana tapi mengenyangkan.

Tidak lama kemudian, suara langkah terdengar dari lorong. Elang keluar dengan handuk melingkar di leher, kaos hitam lain yang kering, rambutnya masih meneteskan air.

“Baunya enak,” katanya datar.

“Masakan sudah siap, Mas Elang.” Arumi menaruh piring dan sendok di meja makan. “Silakan.”

Elang duduk tanpa basa-basi. Ia mengambil nasi, melahap ayam goreng, menyeruput sayur bening. Tidak ada pujian. Tidak ada komentar.

Namun cara makannya cepat, lahap, seperti orang yang sudah lapar berhari-hari. Dan itu sudah cukup menjadi pujian untuk Arumi.

Arumi duduk di seberangnya, hanya minum air putih. Ia mengamati Elang diam-diam.

Garis rahangnya tegas. Matanya lelah, ada lingkaran hitam di bawahnya. Pemuda ini pasti tidak tidur nyenyak dalam waktu lama.

“Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” Elang mengangkat wajah, menangkap tatapan Arumi.

“Eh … tidak, Mas. Saya cuma …” Arumi menunduk. “Saya … mau bertanya. Kenapa Mas Elang menolong saya? Kita bahkan tidak saling kenal.”

Elang meletakkan sendok. Diam sejenak. Lalu ia menatap Arumi dengan mata yang sulit dibaca.

“Karena …”

Arumi menunggu jawabannya.

“Lupain aja. Bukan urusan anak kecil sepertimu,” sahut Elang akhirnya.

Ia menatap Arumi, lalu melanjutkan makan. Tapi Arumi melihat sesuatu di sudut bibirnya. Ada senyum kecil. Hampir tak terlihat.

Setelah makan, Arumi mencuci piring. Elang duduk di ruang tamu, memegang ponselnya yang berdering pelan. Wajahnya berubah tegang saat melihat layar.

“Ada apa, Mas?” tanya Arumi dari dapur.

Elang berdiri. Tangannya menggenggam ponsel erat. “Aku harus pergi sebentar malam ini. Aku bawa kunci pintu belakang. Jangan buka pintu untuk siapa pun.”

“Baik, Mas.”

Arumi meneruskan langkah ke kamar dan tidur. Malam berlalu, matahari belum sepenuhnya terbit saat Arumi terbangun. Ia membersihkan rumah, menyapu halaman, menyiapkan sarapan sederhana untuk Elang.

Sejak malam pertama, ia memutuskan ini adalah cara membalas budi. Tidak banyak yang bisa ia berikan selain membantu pekerjaan sebisanya di rumah Elang.

Elang keluar dari kamar dengan kemeja navy dan tas ransel di punggung. “Aku ke kota. Ada pekerjaan.”

“Baik, Mas Elang.” Arumi menaruh nasi goreng di meja. “Ini sarapannya.”

“Baunya enak,” katanya seraya duduk di kursi. Tangannya langsung mengambil sendok, melahap makanan dalam beberapa suapan cepat.

Arumi duduk di seberangnya. Ia memperhatikan Elang menyuap nasi goreng ke mulutnya. Tiba-tiba Elang berhenti. Matanya membulat. Lalu ia mengunyah lebih perlahan, seolah menikmati setiap butir nasi.

“Kayak masakan Ibuku," katanya pelan.

Arumi tersenyum kecil. “Ibunya Mas Elang?”

Elang mengangguk. “Masakanmu rasanya persis kayak masakan ibuku. Rempahnya pas, garamnya tidak kelebihan, dan telurnya masih setengah matang seperti yang Ibu suka buat.”

Ia menatap Arumi dengan tatapan hangat, tapi juga sedih.

Arumi merasakan dadanya terenyuh. Ia menunduk, memaksakan diri tersenyum. “Terima kasih, Mas Elang. Semoga Mas Elang suka.”

“Kamu nggak makan?” tanya Elang.

Arumi mengangguk. Ia mengambil sendok dan mulai menyuap nasi gorengnya.

Arumi berani menatap Elang sesekali. Ia melihat bagaimana Elang menyuap makanan dengan hati-hati.

Setelah selesai makan, Arumi berdiri untuk mencuci piring. Namun Elang meraih tangannya.

“Taruh aja di wastafel. Nanti aku bantu.”

Arumi terkejut. “Mas Elang bantu mencuci piring?”

“Kenapa? Aku nggak boleh cuci piring?”

“Boleh, tapi …” Arumi tersenyum, “Mas Elang kelihatannya nggak terbiasa.”

“Aku nggak sekuno itu.”

Elang menyandang tas, Arumi mengantarkannya sampai ke teras. Sebelum Arumi menutup pintu, Elang berbalik sebentar.

“Aku pergi dulu. Jangan buka pintu untuk siapa pun sebelum aku pulang,” pesan Elang sebelum melaju bersama motornya.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 49

    Arumi mengepalkan tangannya, menahan emosi. “Maaf, Pak Damar. Saya …”“Saya tidak meminta Mbak Arumi untuk meninggalkan Mas Elang sekarang.” Damar mengulurkan kotak itu, memaksa Arumi menerimanya. “Tapi saya ingin Mbak tahu, ada pilihan lain di luar sana. Saya bisa memberikan Mbak Arumi kehidupan yang lebih baik. Lebih aman dari apa yang Mas Elang berikan selama ini.”Arumi menatap kalung itu, lalu menatap Damar. Pria di hadapannya tampak tulus.Matanya lembut, senyumnya hangat. Tapi ada sesuatu di balik semua itu yang membuat Arumi tidak nyaman.“Maaf, Pak Damar,” kata Arumi pelan, lalu mendorong kotak itu dengan perlahan ke arah Damar.“Saya tidak bisa menerima ini. Saya sudah menikah dengan Mas Elang. Dan saya …” Arumi menjeda sesaat sebelum melanjutkan, “saya mencintainya.”Damar terdiam. Senyumnya sedikit memudar, tapi ia tetap menatap Arumi. “Mbak yakin?”Arumi mengangguk. “Saya y

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 48

    Arumi melangkah cepat menyusuri jalan desa menuju balai desa. Udara pagi masih sejuk, burung-burung berkicau di pepohonan. Oren ia tinggal di rumah bersama Salju, dan ia berharap semoga mereka tidak bertengkar lagi.Tiba-tiba, sebuah mobil hitam melambat di sampingnya. Kaca jendela menurun, memperlihatkan wajah Damar yang tersenyum ramah.“Mbak Arumi, mari, bareng sama saya. Saya juga ke balai desa,” pria itu menawarkan.Arumi menggeleng cepat. “Tidak usah, Pak Damar. Saya jalan kaki saja. Sambil menikmati udara pagi yang masih segar.”Ia mempercepat langkah, berusaha meninggalkan mobil itu. Tapi Damar tidak menyerah. Mobilnya terus berjalan pelan di samping Arumi.Bahkan tanpa diduga, Damar memarkir mobilnya di pinggir jalan dan turun. Ia menghalangi jalan Arumi dengan tubuhnya.“Jangan, Mbak. Biar sama saya saja. Nanti Mbak Arumi capek.” Suaranya lembut, tapi ada nada memaksa yang membuat Arumi tid

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 47

    Damar terus menatap ke arah rumah Elang sebelum berbalik arah dan pergi. Langkahnya pelan, seolah enggan meninggalkan tempat itu. Mobil hitamnya melaju perlahan, menghilang di balik tikungan jalan yang gelap. Elang masih berdiri di depan pintu, menatap kepergian Damar dengan mata waspada. Setelah suara mobil benar-benar hilang, ia menutup pintu dan menguncinya. Arumi berdiri di ruang tamu, memperhatikan setiap gerakan Elang. Ada ketegangan di bahu pria iitu. Elang berjalan ke meja, meletakkan buku dan kue bandros yang dibawa Damar di atasnya. Ia menatap benda-benda itu sejenak, seperti menilai apakah ada yang mencurigakan. “Mas Elang kok nggak nyuruh Pak Damar masuk?” tanya Arumi pelan, mencoba mencairkan suasana. Elang menoleh, wajahnya masih serius. “Sudah malam. Nggak baik bertamu ke rumah orang malam-malam.” Arumi hanya mengangguk. Tak membantah. Ia menduga Ela

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 46

    “Dan kamu ke balai desa tadi?” tanya Elang, berbalik sebentar.Arumi menunduk. “Saya ambil materi ujian ke Pak Damar, Mas.”Elang tidak mengatakan apapun dan segera melangkah masuk ke kamarnya.‘Apa Mas Elang cemburu, ya?’ batin Arumi.Ia merasakan jantungnya berdebar-debar karena bahagia. Hangat pelukan Elang tadi masih terasa di pinggangnya, dan kata-kata Elang di depan Dokter Galih yang menyebutnya sebagai istri, masih terngiang di telinganya.Namun kemudian ia menggeleng dan menepuk wajahnya pelan“Jangan lupa posisi kamu di rumah ini, Arumi. Kamu cuma pembantu di sini. Nggak pantes berharap lebih.”Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir perasaan itu. “Mas Elang hanya melindungiku. Dia ingin seseorang yang bisa membantunya di rumah. Dia butuh pembantu, makanya bayarin hutang Bapak. Bukan karena dia sayang kamu, Arumi.”Arumi menguatkan hatinya. Ia meraih sapu d

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 45

    Sebuah motor sport hitam melesat masuk ke halaman rumah, melewati gerbang yang setengah terbuka, dan berhenti tepat di samping mobil Galih. Mesinnya dimatikan dengan cepat.Saat pengendara motor itu membuka helm, Arumi menghela napas lega. Rambutnya sedikit berantakan, keringat membasahi pelipisnya, jaketnya terkibas angin.Matanya yang tajam dan waspada langsung tertuju pada Galih. Lalu beralih ke Arumi.“Arumi,” panggilnya dengan suara tenang. “Kamu kenapa di sini? Dan ini siapa?”Arumi membuka mulut, tapi lagi-lagi kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Ia menatap Elang, lalu menatap Galih yang tersenyum tipis dengan sikap santai.Galih melangkah maju, mengulurkan tangannya pada Elang. “Anda pasti Pak Elang.”Elang menatap tangan Galih sebentar, lalu menjabatnya singkat. “Ya. Ada keperluan apa?”“Sebelumnya perkenalkan, Pak Elang. Saya Dokter Galih. Saya membawa surat keputusan dari puskesmas kabupaten untuk program kesehatan desa Lingga.”“Program kesehatan? Saya tidak tahu ada p

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 44

    Arumi berjalan cepat meninggalkan balai desa. Langkahnya terburu-buru, hampir berlari. Kertas-kertas materi ujian masih tergenggam erat di tangannya, tapi pikirannya kacau. Kata-kata Damar masih terngiang di telinganya.“Aku tertarik padamu.”Arumi menggigit bibir. “Aku tidak boleh memikirkan pria itu,” gumamnya pada diri sendiri. “Mas Elang sudah baik sama aku, mengizinkan aku sekolah. Aku tidak boleh mengkhianati kepercayaan Mas Elang.”Ia menggeleng, mencoba membuang pikiran itu.Namun saat ia hampir mencapai ujung jalan, sebuah mobil hitam melintas perlahan di sampingnya. Mesinnya menderu pelan, mengikuti langkah Arumi dengan kecepatan yang sama. Arumi menoleh sekilas, penasaran, tapi ia terus berjalan.Mobil itu tidak mempercepat. Tidak memperlambat. Hanya mengiringi langkah Arumi dengan jarak yang sama.Arumi merasakan bulu kuduknya meremang. “Kenapa mobil ini mengikuti aku?” bisiknya.Ia mencoba berjalan lebih cepat. Tapi mobil itu tetap mengikuti, seperti bayangan yang tidak m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status