Share

Bab 3

Author: Mita Yoo
last update publish date: 2026-07-09 14:44:15

Arumi terbelalak. Ia refleks menatap ke arah suara.

Pria itu, Arumi mengenalnya. Namanya Elang.

Ia dikenal sebagai salah satu saudagar muda yang digilai gadis-gadis muda di desa karena ketampanannya. Melihatnya tiba-tiba datang ke acara itu, membuat Arumi bertanya-tanya maksud kedatangannya.

Gatot menatap pria itu. Sesaat ia terkejut. Tapi kemudian seperti biasa, ia tertawa. Tawanya meremehkan, meledak-ledak di tengah suasana yang khidmat.

Elang tidak bergerak. Tidak terpancing. Bibirnya hanya membentuk senyum tipis yang lebih dingin daripada udara malam.

“Apa mereka punya hutang ke Pak Lik?” tanya Elang.

Gatot mendengus. “Jangan ikut campur urusanku, Elang! Mereka yang punya hutang. Kamu cuma anak kecil! Jangan sok jadi pahlawan!”

“Aku cuma tanya, Pak Lik. Berapa hutang mereka?”

Gatot mengepalkan tangannya. Matanya menyipit, menatap Elang dari atas ke bawah. Lalu ia menatap Darsono dan Indah yang masih tampak ketakutan sekaligus bingung.

“Beraninya kalian minta tolong keponakanku?” Gatot menunjuk ke arah Darsono. “Sudah kubilang, selesaikan urusan kita berdua!”

Darsono menunduk. Indah menangis semakin keras. Tidak ada yang berani menjawab.

Arumi menggigit bibir. Sedikit bingung melihat Elang, pria yang selama ini dikenal sebagai saudagar muda itu berdiri di hadapan Gatot dengan penuh keberanian.

“Pak Lik,” suara Elang kembali terdengar, lebih pelan tapi menusuk. “Sekali lagi, aku tanya. Berapa hutang mereka?”

Gatot tersenyum menyeringai. Gigi kuningnya tampak menjijikkan. Ia mengangkat satu jari, lalu dua, dan tiga jarinya terangkat.

“Tiga puluh juta,” katanya.

Suasana mendadak hening. Jumlah itu seperti hantaman palu di dada setiap orang yang mendengar.

Arumi merasakan kakinya lemas. Tiga puluh juta.

Jumlah angka yang membuat ayahnya sampai menjualnya. Itu sebabnya ibunya tidak berani menolak.

Elang mengangguk pelan. Tangannya masuk ke dalam jaket dengan gerakan lambat, tidak terburu-buru.

Lalu ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat. Tebal dan menggembung. Amplop itu dilempar ke pangkuan Gatot.

“Tiga puluh juta,” kata Elang. “Sisanya ambil saja. Hutang mereka lunas. Dan pernikahan ini batal.”

Hening tiba-tiba, semua orang hanya menatap ke arah mereka.

Gatot membuka amplop dengan jari gemetar—bukan karena takut, tapi karena marah. Matanya membulat melihat isinya.

Uang kertas pecahan seratus ribuan. Masih baru. Masih berbau mesin cetak.

“Kau—” Gatot terpaku.

“Aku sudah melunasi utang mereka,” potong Elang. “Sekarang, Arumi bukan lagi jaminan. Pak Lik tidak punya hak atasnya.”

Gatot berdiri. Tubuhnya yang gemuk mendidih seperti ketel air. “Kau! Berani-beraninya!”

Elang tidak menunggu jawaban. Tangannya bergerak cepat meraih pergelangan Arumi dan menariknya.

Ia menarik Arumi dengan kuat. Arumi tersentak. Kakinya tersandung, hampir jatuh, tapi Elang menahannya.

“Jangan bawa dia!” Darsono mencoba mendekat.

“Kau juga, Paman Darsono.” Elang menatap Darsono dengan tatapan yang membuat lelaki tua itu mundur. “Hutangmu lunas. Tapi urusan kita belum selesai. Nanti kita bicara.”

Arumi tidak mengerti apa-apa. Kepalanya mendadak pusing. Dunia berputar.

Ia hanya merasakan genggaman tangan Elang yang kuat dan hangat—menariknya menjauh dari pelaminan, menjauh dari Gatot, menjauh dari ayahnya.

Di belakang mereka, kedua istri menahan Gatot yang hendak mengejar. Teriakan dan makian memenuhi tenda acara.

Arumi berlari. Kakinya membawa tubuhnya mengikuti langkah Elang yang panjang dan cepat. Mereka melewati tenda, melewati pagar bambu, melewati pohon mangga tempat Raka berdiri tadi.

Motor sport terparkir di pinggir jalan. Elang naik ke atasnya, menyalakan mesin dengan satu tarikan gas.

“Naik,” perintahnya.

Arumi ragu. “Ke mana, Pak?”

“Tempat aman.”

Arumi menatap wajah Elang. Pemuda itu sama sekali tidak tersenyum. Tidak ada kesan ramah.

Namun matanya menatapnya serius sekaligus hangat. Arumu merasa dilindungi.

Arumi menaiki motor. Tangan gemetar mencengkeram sisi jok.

Elang tancap gas.

Motor melesat ke jauh ke depan. Angin berdesir di telinga Arumi, membuat rambutnya terbang liar. Rumah-rumah desa melintas cepat. Lampu-lampu redup mulai menyala berurutan karena langit semakin gelap.

Arumi memejamkan mata. Ia tidak tahu ke mana ia pergi. Namun, ia berharap pria itu benar-benar menyelamatkannya dari pernikahan yang tak diinginkan.

Yang ia tahu, ia bebas. Untuk saat ini. Untuk malam ini.

Namun saat ia membuka mata dan melihat papan nama jalan menunjuk arah menuju ke luar desa Kanigara. Dan ia tersentak.

“Kita mau ke mana, Pak?” tanyanya keras di atas deru mesin.

Elang tidak menjawab.

Motor berbelok ke jalan tanah yang gelap. Pohon-pohon besar menjulang di kedua sisi, menutupi bulan. Tidak ada rumah. Tidak ada lampu. Hanya kegelapan yang semakin pekat.

Arumi merasakan dingin merambat di punggungnya. Tangan Elang mencengkeram stang. Lalu, tanpa menoleh, suaranya meluncur ke belakang.

“Kita ke rumahku. Kamu akan aman di sana bersamaku.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 173

    Riyono tertawa dari seberang telepon. “Mungkin. Tapi kau punya waktu sampai besok pagi. Kalau tidak, kau tidak akan pernah melihat Arumi lagi.”Telepon terputus. Elang menatap ponselnya, lalu menekan nomor polisi lagi.“Pak, saya tahu siapa yang menculik istri saya. Ayah saya sendiri, Riyono.”“Baik, Pak. Kami akan segera melacaknya,” sahut petugas di telepon.Elang menutup telepon. Ia menatap ke luar jendela, ke jalanan yang mulai gelap. “Arumi, bertahanlah. Aku akan datang.”Di gudang tua di pinggir kota, Arumi terbangun dengan kepala berdenyut. Tangannya terikat, mulutnya disumpal. Ia melihat Riyono berdiri di depannya, tersenyum tipis.“Selamat datang, Arumi,” kata Riyono. “Kita akan menunggu suamimu datang.”Arumi mencoba berbicara. Namun, suaranya tertahan. Mulutnya disumpal dengan kain kotor yang berbau apek, membuatnya hampir muntah.Tangannya terikat ke belakang dengan tali tambang yang kasar, menggores kulit pergelangannya. Kakinya juga diikat ke kaki kursi kayu tua yang ber

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 172

    Riyono tidak bergeming. “Gatot hanya korban keadaan. Dia disuruh oleh seseorang. Dia bukan pelaku utama.”“Siapa yang menyuruhnya?!” Elang melangkah maju, wajahnya memerah karena amarah. “Bapak, ‘kan? Apa Bapak juga yang menyuruhnya membunuh Rina?”Riyono tersenyum tipis—senyum yang membuat darah Elang semakin mendidih. “Kamu terlalu cepat menyimpulkan, Elang. Aku hanya ingin keadilan. Gatot punya keluarga. Dia punya anak. Kamu tega membiarkan dia membusuk di penjara?”“Keadilan?” Elang tertawa pahit.“Keadilan macam apa yang Bapak maksud? Rina dibunuh dengan kejam! Dia disiksa! Dia diperlakukan seperti binatang! Dan Bapak bicara tentang keadilan untuk Gatot?”Arumi yang berdiri di belakang, menggenggam lengan Elang erat. Ia bisa merasakan tubuh suaminya gemetar. “Mas, tenang …” bisiknya.Elang menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia menatap Riyono dengan tatapan yang tidak lagi mengenal rasa hormat. “Bapak, dengarkan. Aku nggak akan membebaskan Gatot. Dia sudah membunuh k

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 171

    Pemakaman Rina berlangsung sakral. Langit pagi itu berwarna kelabu, seolah ikut berduka. Awan tebal menggantung di atas pemakaman umum desa Kanigara, menutupi sinar matahari yang biasanya terik.Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga-bunga yang diletakkan di atas pusara. Elang berdiri di depan liang lahat, tubuhnya tegap tetapi bahunya turun.Arumi berada di sampingnya, menggenggam tangannya erat. Di belakang mereka, Sardi, Nining, Bibi Siti, Pak Darman, dan beberapa tetangga berdiri dengan kepala tertunduk. Seorang pendeta memimpin doa, suaranya pelan tapi jelas, mengiringi kepergian Rina.“Tuhan, terimalah hamba-Mu ini dalam kedamaian abadi. Ampuni segala dosanya, dan terimalah dia di rumah-Mu yang kekal. Amin.”Elang menutup matanya. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi pipinya yang pucat. Ia tidak menyekanya. Ia membiarkan air mata itu mengalir, seperti sungai yang akhirnya menemukan muaranya.“Selamat jalan, Mbak,” bisiknya. “Aku akan selalu ingat Mbak. Te

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 170

    “Aku mau cerita. Ayahku … dia pernah mengurung aku di gudang. Di dalamnya banyak tikus. Aku masih kecil, aku nggak bisa keluar. Aku teriak, tapi nggak ada yang dengar. Sejak itu, aku takut sama tikus.” Mereka pulang dengan langkah ringan. Di rumah, Oren dan Salju menyambut dengan gembira. Arumi memasak makan siang yang lezat, dan mereka makan bersama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tidak ada ancaman yang menggantung di udara. Malam itu, setelah kepergian Wirsa, Elang dan Arumi duduk di ruang tamu. Lampu meja menyala redup, menciptakan cahaya keemasan yang hangat. Oren dan Salju sudah tertidur di sudut ruangan, sementara di luar, angin malam berdesir pelan. Elang menggenggam tangan Arumi, jempolnya mengusap punggung tangan istrinya pelan. Ia menatap ke arah jendela, matanya kosong, seperti sedang melihat sesuatu yang jauh di masa lalu. “Arumi,” kata Elang pelan. “Aku mau cerita sesuatu.” Arumi menoleh, menatap suaminya dengan penuh perhatian. “Iya, Mas?” Elang menarik

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 169

    Esoknya, Elang pamit kembali ke rumah kontrakan di pinggiran kota. Ia dan Arumi berpamitan pada Bibi Siti dan Nining, mengucapkan terima kasih atas semua bantuan yang telah mereka berikan. Oren dan Salju ikut dibawa, dimasukkan ke dalam keranjang kecil yang diletakkan di atas motor Elang. “Jaga diri kalian baik-baik, ya. Semoga kalian selalu dilindungi Tuhan,” pesan Bibi Siti sambil memeluk Arumi. “Iya, Bi. Terima kasih untuk semuanya,” kata Arumi, matanya berkaca-kaca. Nining melambaikan tangan dari teras. “Kalau butuh apa-apa, telepon aku, ya, Rum!” “Pasti, Ning! Maaf aku nggak sempat nepatin janji mau jalan-jalan sama kamu.” Motor melaju meninggalkan rumah Bibi Siti. Sepanjang perjalanan, Arumi memeluk pinggang Elang erat. Angin pagi berhembus sejuk, membawa aroma sawah dan pepohonan. Untuk sesaat, suasana terasa damai. Sesampai di rumah kontrakan, mereka membersihkan rumah yang sudah beberapa hari ditinggalkan. Elang menyapu halaman, sementara Arumi membersihkan dalam rumah.

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 168

    Sardi kemudian berusaha menjelaskan. “Aku tahu, Lang. Tapi kalau kamu memukulnya, kamu bisa masuk penjara. Dia akan bebas. Kamu mau itu?”Elang berhenti meronta. Napasnya terasa berat karena amarah. Matanya masih penuh dendam, tapi perlahan api amarahnya mulai mereda. Ia menatap Gatot yang masih tersenyum sinis.“Kau lihat?” kata Gatot. “Anak kecil sepertimu nggak bisa apa-apa, Elang. Kau cuma bisa diam.”Polisi yang bersama mereka segera memborgol Gatot dan membawanya keluar. Gatot masih berteriak-teriak, memaki, dan menyebut nama Elang. Namun Elang tidak menghiraukan. Ia berdiri diam, tubuhnya gemetar menahan marah.Sardi melepaskan cekalannya, menepuk bahu Elang. “Kamu melakukan hal yang benar, Lang. Jangan biarkan dia menyeretmu ke dalam dramanya. Levelmu beda dengannya.”Elang mengangguk pelan. Ia menutup matanya, mencoba menenangkan diri. Di dalam hatinya, ada amarah yang belum padam. Tapi ia tahu, Sardi ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status