ログインArumi terbelalak. Ia refleks menatap ke arah suara.
Pria itu, Arumi mengenalnya. Namanya Elang. Ia dikenal sebagai salah satu saudagar muda yang digilai gadis-gadis muda di desa karena ketampanannya. Melihatnya tiba-tiba datang ke acara itu, membuat Arumi bertanya-tanya maksud kedatangannya. Gatot menatap pria itu. Sesaat ia terkejut. Tapi kemudian seperti biasa, ia tertawa. Tawanya meremehkan, meledak-ledak di tengah suasana yang khidmat. Elang tidak bergerak. Tidak terpancing. Bibirnya hanya membentuk senyum tipis yang lebih dingin daripada udara malam. “Apa mereka punya hutang ke Pak Lik?” tanya Elang. Gatot mendengus. “Jangan ikut campur urusanku, Elang! Mereka yang punya hutang. Kamu cuma anak kecil! Jangan sok jadi pahlawan!” “Aku cuma tanya, Pak Lik. Berapa hutang mereka?” Gatot mengepalkan tangannya. Matanya menyipit, menatap Elang dari atas ke bawah. Lalu ia menatap Darsono dan Indah yang masih tampak ketakutan sekaligus bingung. “Beraninya kalian minta tolong keponakanku?” Gatot menunjuk ke arah Darsono. “Sudah kubilang, selesaikan urusan kita berdua!” Darsono menunduk. Indah menangis semakin keras. Tidak ada yang berani menjawab. Arumi menggigit bibir. Sedikit bingung melihat Elang, pria yang selama ini dikenal sebagai saudagar muda itu berdiri di hadapan Gatot dengan penuh keberanian. “Pak Lik,” suara Elang kembali terdengar, lebih pelan tapi menusuk. “Sekali lagi, aku tanya. Berapa hutang mereka?” Gatot tersenyum menyeringai. Gigi kuningnya tampak menjijikkan. Ia mengangkat satu jari, lalu dua, dan tiga jarinya terangkat. “Tiga puluh juta,” katanya. Suasana mendadak hening. Jumlah itu seperti hantaman palu di dada setiap orang yang mendengar. Arumi merasakan kakinya lemas. Tiga puluh juta. Jumlah angka yang membuat ayahnya sampai menjualnya. Itu sebabnya ibunya tidak berani menolak. Elang mengangguk pelan. Tangannya masuk ke dalam jaket dengan gerakan lambat, tidak terburu-buru. Lalu ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat. Tebal dan menggembung. Amplop itu dilempar ke pangkuan Gatot. “Tiga puluh juta,” kata Elang. “Sisanya ambil saja. Hutang mereka lunas. Dan pernikahan ini batal.” Hening tiba-tiba, semua orang hanya menatap ke arah mereka. Gatot membuka amplop dengan jari gemetar—bukan karena takut, tapi karena marah. Matanya membulat melihat isinya. Uang kertas pecahan seratus ribuan. Masih baru. Masih berbau mesin cetak. “Kau—” Gatot terpaku. “Aku sudah melunasi utang mereka,” potong Elang. “Sekarang, Arumi bukan lagi jaminan. Pak Lik tidak punya hak atasnya.” Gatot berdiri. Tubuhnya yang gemuk mendidih seperti ketel air. “Kau! Berani-beraninya!” Elang tidak menunggu jawaban. Tangannya bergerak cepat meraih pergelangan Arumi dan menariknya. Ia menarik Arumi dengan kuat. Arumi tersentak. Kakinya tersandung, hampir jatuh, tapi Elang menahannya. “Jangan bawa dia!” Darsono mencoba mendekat. “Kau juga, Paman Darsono.” Elang menatap Darsono dengan tatapan yang membuat lelaki tua itu mundur. “Hutangmu lunas. Tapi urusan kita belum selesai. Nanti kita bicara.” Arumi tidak mengerti apa-apa. Kepalanya mendadak pusing. Dunia berputar. Ia hanya merasakan genggaman tangan Elang yang kuat dan hangat—menariknya menjauh dari pelaminan, menjauh dari Gatot, menjauh dari ayahnya. Di belakang mereka, kedua istri menahan Gatot yang hendak mengejar. Teriakan dan makian memenuhi tenda acara. Arumi berlari. Kakinya membawa tubuhnya mengikuti langkah Elang yang panjang dan cepat. Mereka melewati tenda, melewati pagar bambu, melewati pohon mangga tempat Raka berdiri tadi. Motor sport terparkir di pinggir jalan. Elang naik ke atasnya, menyalakan mesin dengan satu tarikan gas. “Naik,” perintahnya. Arumi ragu. “Ke mana, Pak?” “Tempat aman.” Arumi menatap wajah Elang. Pemuda itu sama sekali tidak tersenyum. Tidak ada kesan ramah. Namun matanya menatapnya serius sekaligus hangat. Arumu merasa dilindungi. Arumi menaiki motor. Tangan gemetar mencengkeram sisi jok. Elang tancap gas. Motor melesat ke jauh ke depan. Angin berdesir di telinga Arumi, membuat rambutnya terbang liar. Rumah-rumah desa melintas cepat. Lampu-lampu redup mulai menyala berurutan karena langit semakin gelap. Arumi memejamkan mata. Ia tidak tahu ke mana ia pergi. Namun, ia berharap pria itu benar-benar menyelamatkannya dari pernikahan yang tak diinginkan. Yang ia tahu, ia bebas. Untuk saat ini. Untuk malam ini. Namun saat ia membuka mata dan melihat papan nama jalan menunjuk arah menuju ke luar desa Kanigara. Dan ia tersentak. “Kita mau ke mana, Pak?” tanyanya keras di atas deru mesin. Elang tidak menjawab. Motor berbelok ke jalan tanah yang gelap. Pohon-pohon besar menjulang di kedua sisi, menutupi bulan. Tidak ada rumah. Tidak ada lampu. Hanya kegelapan yang semakin pekat. Arumi merasakan dingin merambat di punggungnya. Tangan Elang mencengkeram stang. Lalu, tanpa menoleh, suaranya meluncur ke belakang. “Kita ke rumahku. Kamu akan aman di sana bersamaku.” ***Damar terus menatap ke arah rumah Elang sebelum berbalik arah dan pergi. Langkahnya pelan, seolah enggan meninggalkan tempat itu. Mobil hitamnya melaju perlahan, menghilang di balik tikungan jalan yang gelap. Elang masih berdiri di depan pintu, menatap kepergian Damar dengan mata waspada. Setelah suara mobil benar-benar hilang, ia menutup pintu dan menguncinya. Arumi berdiri di ruang tamu, memperhatikan setiap gerakan Elang. Ada ketegangan di bahu pria iitu. Elang berjalan ke meja, meletakkan buku dan kue bandros yang dibawa Damar di atasnya. Ia menatap benda-benda itu sejenak, seperti menilai apakah ada yang mencurigakan. “Mas Elang kok nggak nyuruh Pak Damar masuk?” tanya Arumi pelan, mencoba mencairkan suasana. Elang menoleh, wajahnya masih serius. “Sudah malam. Nggak baik bertamu ke rumah orang malam-malam.” Arumi hanya mengangguk. Tak membantah. Ia menduga Ela
“Dan kamu ke balai desa tadi?” tanya Elang, berbalik sebentar.Arumi menunduk. “Saya ambil materi ujian ke Pak Damar, Mas.”Elang tidak mengatakan apapun dan segera melangkah masuk ke kamarnya.‘Apa Mas Elang cemburu, ya?’ batin Arumi.Ia merasakan jantungnya berdebar-debar karena bahagia. Hangat pelukan Elang tadi masih terasa di pinggangnya, dan kata-kata Elang di depan Dokter Galih yang menyebutnya sebagai istri, masih terngiang di telinganya.Namun kemudian ia menggeleng dan menepuk wajahnya pelan“Jangan lupa posisi kamu di rumah ini, Arumi. Kamu cuma pembantu di sini. Nggak pantes berharap lebih.”Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir perasaan itu. “Mas Elang hanya melindungiku. Dia ingin seseorang yang bisa membantunya di rumah. Dia butuh pembantu, makanya bayarin hutang Bapak. Bukan karena dia sayang kamu, Arumi.”Arumi menguatkan hatinya. Ia meraih sapu d
Sebuah motor sport hitam melesat masuk ke halaman rumah, melewati gerbang yang setengah terbuka, dan berhenti tepat di samping mobil Galih. Mesinnya dimatikan dengan cepat.Saat pengendara motor itu membuka helm, Arumi menghela napas lega. Rambutnya sedikit berantakan, keringat membasahi pelipisnya, jaketnya terkibas angin.Matanya yang tajam dan waspada langsung tertuju pada Galih. Lalu beralih ke Arumi.“Arumi,” panggilnya dengan suara tenang. “Kamu kenapa di sini? Dan ini siapa?”Arumi membuka mulut, tapi lagi-lagi kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Ia menatap Elang, lalu menatap Galih yang tersenyum tipis dengan sikap santai.Galih melangkah maju, mengulurkan tangannya pada Elang. “Anda pasti Pak Elang.”Elang menatap tangan Galih sebentar, lalu menjabatnya singkat. “Ya. Ada keperluan apa?”“Sebelumnya perkenalkan, Pak Elang. Saya Dokter Galih. Saya membawa surat keputusan dari puskesmas kabupaten untuk program kesehatan desa Lingga.”“Program kesehatan? Saya tidak tahu ada p
Arumi berjalan cepat meninggalkan balai desa. Langkahnya terburu-buru, hampir berlari. Kertas-kertas materi ujian masih tergenggam erat di tangannya, tapi pikirannya kacau. Kata-kata Damar masih terngiang di telinganya.“Aku tertarik padamu.”Arumi menggigit bibir. “Aku tidak boleh memikirkan pria itu,” gumamnya pada diri sendiri. “Mas Elang sudah baik sama aku, mengizinkan aku sekolah. Aku tidak boleh mengkhianati kepercayaan Mas Elang.”Ia menggeleng, mencoba membuang pikiran itu.Namun saat ia hampir mencapai ujung jalan, sebuah mobil hitam melintas perlahan di sampingnya. Mesinnya menderu pelan, mengikuti langkah Arumi dengan kecepatan yang sama. Arumi menoleh sekilas, penasaran, tapi ia terus berjalan.Mobil itu tidak mempercepat. Tidak memperlambat. Hanya mengiringi langkah Arumi dengan jarak yang sama.Arumi merasakan bulu kuduknya meremang. “Kenapa mobil ini mengikuti aku?” bisiknya.Ia mencoba berjalan lebih cepat. Tapi mobil itu tetap mengikuti, seperti bayangan yang tidak m
Pagi itu, Arumi bangun lebih awal. Ia keluar dari kamar dan melihat Salju sudah tidur dengan tenang di kandangnya.Ia menghela napas lega, lalu berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan.Arumi baru saja menaruh sayuran di atas talenan ketika ponsel lamanya bergetar. Ia mengusap tangan di apron, lalu meraih ponsel itu. Dua pesan masuk, dari Damar.[Mbak Arumi, ada materi yang harus saya sampaikan untuk ujian. Mbak bisa datang ke balai desa, ya.][Saya tunggu jam sepuluh. Tolong datang.]Arumi menggigit bibir. Ia menatap layar ponsel, membaca ulang pesan itu. Materi ujian.Tapi mengapa Damar memintanya datang ke balai desa? Mengapa tidak menunggu jadwal kelas berikutnya?Ia menaruh ponsel lamanya itu di atas meja dapur, lalu kembali memasak. Tangannya memotong sayuran, tapi pikirannya tidak tenang. Damar selalu muncul dengan alasan yang masuk akal, dan sulit ditolaknya.“Ar
Pick-up hitam berhenti pelan di halaman rumah. Arumi turun dengan hati-hati, Salju masih nyaman di gendongannya. Anjing putih kecil itu mendengkur pelan, menikmati hangatnya pelukan Arumi.“Kita sudah sampai, Salju,” bisik Arumi sambil mengelus kepalanya. “Ini rumah barumu.”Namun, begitu kaki Arumi menginjak tanah, Oren melesat keluar dari pintu rumah. Mata kucing itu membulat melihat makhluk berbulu putih di tangan tuannya. Dalam sekejap, Salju melompat turun dari gendongan Arumi dan berdiri dengan kaki-kaki mungilnya.Guk! Guk! Guk!Salju menggonggong dengan suara kecil tapi nyaring ke arah Oren. Oren mendesis, bulunya berdiri, punggungnya melengkung seperti busur.“Salju, diam!” Arumi mencoba menenangkan. Tapi Salju terus menggonggong, ekornya tegak, matanya menatap Oren dengan waspada. Oren tidak mau kalah, ia mendesis lebih keras, kukunya terulur siap mencakar.“Sudah, sudah!” Arumi memegang ke







