LOGINIn a whirlwind of passion and consequence, Andy, a struggling pauper finds herself entangled in a one-night stand with a billionaire Drake, leading to an unexpected pregnancy. But there's a chilling twist- a curse on Andy’s lineage makes abortion impossible except the father of the child is ready to die, leaving them both in peril. As Drake's impending wedding with Stephanie looms, he must show between protecting his future and confronting the dark secrets lurking within his soon-to-be wife, Stephanie. An unexpected twist occurs when Drake's mother happens to be Andy’s father's first love and the reason his manhood was destroyed. In a table of love, betrayal and the sinister forces of fate, who will emerge unscathed in the ultimate battle for survival? Will the child be killed? Will the wedding hold? Will Stephanie's dark secrets be revealed before the wedding? Will Andy’s father get revenge? Read on to find out!
View MoreSore itu sekolah sudah mulai sepi, menyisakan koridor panjang yang terasa sedikit angker.
Arjuna Dewangga alias Juna, menyeka keringat yang bercucuran deras di dahi menggunakan punggung tangannya yang kasar.
Dia memanggul keranjang plastik berisi sisa botol jamu dagangannya yang beratnya lumayan menguras tenaga.
Untungnya, sinom dan beras kencur buatan Ibu Lastri selalu ludes diborong teman-teman sekolah yang kehausan setelah jam pelajaran selesai.
“Alhamdulillah, kalau laris begini terus, uang obat Ibu buat bulan depan aman,” batin Juna sambil tersenyum kecut mengingat kondisi Ibunya di rumah.
Langkah kaki Juna menggema di koridor lantai dua, melewati deretan kelas yang sudah terkunci rapat.
Entah kenapa, perasaannya mendadak tidak enak saat mendekati lorong toilet guru wanita di ujung selasar.
Lorong itu terkenal sunyi, apalagi lampu neonnya sering berkedip-kedip seperti di film horor murahan..
Satu botol kaca jamu mendadak tergelincir dari tumpukan di keranjang plastik Juna karena pegangannya yang sudah agak longgar.
Duggg….Duggg..Duggg...Klontang…!
Benda itu menghantam lantai, namun tidak pecah, melainkan menggelinding dengan kecepatan penuh ke arah toilet wanita.
"Waduh, mampus! Botol modal ituh…!" umpat Juna dengan suara tertahan.
Dia segera berlari kecil mengejar botol itu yang seolah punya nyawa sendiri.
Celakanya, botol itu menggelinding masuk ke celah pintu bilik paling ujung yang sedikit terbuka.
Juna berhenti tepat di depan pintu toilet guru yang biasanya dilarang dimasuki siswa pria mana pun.
“Aduh, gimana inih? Kalau ketahuan Pak Broto, habis aku dikuliti hidup-hidup,” batin Juna sambil menoleh ke kanan dan kiri dengan waspada.
Rasa takut akan hukuman kalah telak oleh rasa sayang Juna pada barang dagangannya.
Juna menarik napas panjang, lalu menyelinap masuk ke dalam area toilet guru yang beraroma wangi mawar itu.
Dia membungkuk rendah, berusaha meraih botol jamu yang bersembunyi di balik bayangan pintu bilik.
Namun, tepat saat tangannya hampir menyentuh botol, Juna mendengar suara yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari tenggorokan.
"Ahhh... essshhh... sedikit lagihhh...!"
Suara desahan itu terdengar sangat berat, basah, dan penuh tekanan.
Juna membeku di posisi membungkuk, kepalanya tanpa sengaja melewati celah pintu yang terbuka sekitar sepuluh sentimeter.
Di dalam sana, di atas kloset duduk, Ibu Arini Kusuma sedang berada dalam kondisi yang menghancurkan seluruh logika Juna sebagai siswa teladan.
Guru Bahasa Indonesia yang terkenal anggun dan selalu rapi itu kini tampak berantakan.
Rok span hitam ketat miliknya sudah tersingkap sangat tinggi, bahkan melewati batas paha atasnya yang putih mulus.
“Be-Beneran mulusss... lebih mulus dari porselen di toko bangunan!” batin Juna dengan mata melotot liar.
Jari tangan kanan Ibu Arini bergerak ritmis di balik kain tipis yang menutupi area ‘apem tembem’ miliknya.
Wajah Ibu Arini memerah padam, keringat sebesar biji jagung membasahi leher jenjangnya.
Napasnya memburu, menciptakan uap hangat yang terasa memenuhi bilik sempit tersebut.
Juna merasakan suhu tubuhnya mendadak naik drastis seolah dia baru saja menenggak satu galon jamu penguat stamina.
“Gustiii... Ibu Arini lagi mainin anunya sendiri? Di toilet sekolah?” batin Juna sambil menelan ludah dengan susah payah.
Rasanya ada sesuatu yang mengeras di balik celana seragam Juna yang sudah mulai kerasa kekecilan itu.
‘Batangan nakal’ miliknya mendadak bereaksi, menegang kaku seolah mendapatkan sinyal magnetis dari pemandangan di depannya.
Juna yang panik mencoba menarik kembali kepalanya, namun sialnya, kakinya justru tersandung botol kaca tadi.
Takkk…!
Bunyi botol yang membentur keramik terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu.
Ibu Arini tersentak, matanya yang tadi terpejam sayu langsung membelalak lebar.
Dia menunduk dan langsung beradu pandang dengan wajah Juna yang masih membeku di bawah sana.
"Ju-Juna?!" pekik Ibu Arini dengan suara yang pecah karena kaget sekaligus malu.
Juna refleks menutup kedua matanya rapat-rapat menggunakan kedua telapak tangannya.
"A-A-Anu, Bu! S-Sumpah, Juna cuma mau ambil botol yang gelinding!" seru Juna dengan suara bergetar sehebat gempa bumi.
Dia merasa wajahnya terbakar, apalagi dia tahu posisi Ibu Arini masih sangat terbuka di depannya.
“Mampus aku! Habis ini pasti dikeluarkan dari sekolah! Mana beasiswa lagih…!” batin Juna meratap histeris.
Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membasahi tangannya yang masih menutupi mata.
"Junaaa... kamuuu... kamu lihat apa saja tadi?" tanya Ibu Arini dengan nada yang aneh, antara marah dan memohon.
"E-Enggak lihat apa-apa, Bu! Gelap semua! Sumpah, mata Juna minusnya nambah mendadak!" bohong Juna sambil gemetaran.
Dia mencoba membalikkan badan, berniat lari sekencang mungkin tanpa mempedulikan botol jamunya lagi.
Namun, sebelum Juna sempat melangkah keluar dari bilik, sebuah tangan yang terasa sangat panas mencengkeram pergelangan tangannya.
Cengkeraman itu begitu kuat, seolah-olah ditarik oleh seorang atlet angkat besi, bukan seorang guru wanita.
Srettt…!
"Masuk ke sini!" perintah Ibu Arini dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Juna terseret mundur masuk ke dalam bilik yang hanya berukuran satu kali satu meter itu.
Brakkkk!
Pintu bilik ditendang tutup oleh kaki Ibu Arini yang masih belum menurunkan rok spannya secara sempurna.
Klik!
Suara kunci pintu yang diputar terdengar seperti vonis hukuman mati bagi Juna.
Punggung Juna menghantam dinding keramik yang dingin, namun dadanya justru bersentuhan dengan bahu Ibu Arini yang panas.
Aroma parfum mawar bercampur dengan bau keringat yang sangat tajam dan menggairahkan langsung menyerang hidung Juna.
Ibu Arini menyandarkan kepalanya di dada Juna, bahunya naik turun seiring dengan napasnya yang belum teratur.
"B-Bu... i-iniii… salah paham, Bu. Juna janji nggak akan bilang siapa-siapa kalau Ibu lagiii... anu..." ucap Juna dengan suara mencicit.
Ibu Arini mendongak, menatap Juna dengan mata yang tampak sangat sayu dan dipenuhi gairah yang belum tuntas.
"Saya menderita penyakit langka, Juna. Sesuatu yang hanya muncul jika saya terlalu lama menahannya," gumam Ibu Arini lirih.
Juna semakin bingung, otaknya yang sudah mesum makin sulit diajak bekerja sama.
"Pee…Penyakit apa, Bu? Butuh jamu kunyit asam saya?" tanya Juna dengan polosnya.
Ibu Arini menggeleng, lalu menarik tangan Juna menuju ke arah pinggangnya yang ramping.
"Ini bukan penyakit yang bisa sembuh dengan jamu murahmu itu, Juna."
Wajah Ibu Arini mendekat ke arah telinga Juna, membisikkan sesuatu yang membuat seluruh saraf Juna menegang.
"Tubuh saya mendadak terasa dingin seperti es jika tidak ada yang menyentuhnya... dan kamu, Juna, tubuhmu terasa sangat panas."
Tangan Ibu Arini kini mulai meraba dada bidang Juna, mencari detak jantung pemuda itu yang berpacu gila.
"A-A-Anu... Bu... J-Juna harus pulang," ucap Juna terbata-bata sambil mencoba melepaskan diri.
Namun, Ibu Arini justru semakin merapatkan tubuhnya, membuat Juna bisa merasakan kenyalnya "melon" besar milik gurunya itu menekan dadanya.
Deggg...
Juna merasa dunianya seolah berhenti berputar detik itu juga.
Ibu Arini menatap lurus ke mata Juna, lalu berkata dengan suara yang sangat serius.
"Saya ingin kamu menjadi 'obat' pribadi saya mulai sore ini, Juna."
"Aa... apanya yang diobati, Bu?" tanya Juna dengan keringat dingin yang semakin deras.
Ibu Arini menarik tangan Juna lebih rendah lagi, menuju ke arah kakinya yang masih terbuka lebar.
"Semuanya. Dan jika kamu menolak, saya pastikan beasiswamu dicabut besok pagi."
Juna tertegun, ancaman itu menghantamnya tepat di ulu hati.
Di satu sisi dia ketakutan, tapi di sisi lain, batin mesumnya justru mulai menikmati aroma dan kehangatan tubuh Ibu Arini.
“Sialan... kenapa ini malah jadi kontrak ranjang?!” batin Juna menjerit dalam dilema.
Pintu toilet mendadak terdengar diketuk dari luar dengan keras.
Tok! Tok! Tok!
"Arini? Kamu di dalam?" suara berat Pak Broto terdengar di balik pintu toilet luar.
Juna dan Ibu Arini seketika membeku, saling menatap dengan napas tertahan.
"Mampus... Pak Broto!" bisik Juna dengan wajah yang mendadak pucat pasi.
Ibu Arini segera membungkam mulut Juna dengan telapak tangannya yang harum.
Dia memberi isyarat agar Juna tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Masalahnya, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja, dan tangan Juna masih tertahan di atas paha mulus gurunya itu.
Ibu Arini menatap pintu bilik dengan tajam, sementara tangan lainnya mulai meraih kunci pintu seolah siap melakukan sesuatu yang nekat.
DRAKE’S POVMatthew paces back and forth in the office and I could not help but envy him. If my legs were working right now, I would love to do that too.“Can you stop pacing? You are sending the wrong signals to my brain” I complain and he stops in his tracks, flopping down on the couch on the farthest part of the office.The urge to run my hand through my hair, or plant my face in my palm gnawed at me so hard, but my brain and my hands were not in sync at this point.It angered me beyond measure. Because for the first time in my life, I could not do anything. Literally.I can’t walk when I want to, and I can not move either. Not because I don’t want to, but because I am not able to.And it is all her fault. It is all Andy’s fault. She put in this position.For the first time in my life, I have to come to a realization and face reality. I am helpless and I don’t have any hope until she says so.For the first time in my life I might have to at the mercy of someone.It would have been
MATTHEW’S POVMy shoe raps against the floor repeatedly as I waited out of the hospital room where Drake was being attended to.I am still yet to wrap my head around this whole thing, because it is happening so fast, everything is going on so fast and I can not even grasp onto one thing.All of this doesn’t make sense to me. I did now want to believe it at all.At first, I thought Drake was faking a story to just get rid of a girl. But I did not see the need to question him about it because it wasn’t the first time.I thought when all of that was over and we got rid of her he would tell me the truth like he naturally did.But I would not get past the fact that this was his actual first time of trying to get rid of a girl that he had slept with.Because all the girls he got with only spent the night with it and used it as some sort of flex. It was what happened when we got down with them.So how it got to all of this I what baffles me beyond measure. It was getting more serious as the
DRAKE’S POVMatthew paces back and forth in the office and I could not help but envy him. If my legs were working right now, I would love to do that too.“Can you stop pacing? You are sending the wrong signals to my brain” I complain and he stops in his tracks, flopping down on the couch on the farthest part of the office.The urge to run my hand through my hair, or plant my face in my palm gnawed at me so hard, but my brain and my hands were not in sync at this point.It angered me beyond measure. Because for the first time in my life, I could not do anything. Literally.I can’t walk when I want to, and I can not move either. Not because I don’t want to, but because I am not able to.And it is all her fault. It is all Andy’s fault. She put in this position.For the first time in my life, I have to come to a realization and face reality. I am helpless and I don’t have any hope until she says so.For the first time in my life I might have to at the mercy of someone.It would have been
ANGELA’S POVI bang my head against the headrest repeatedly as her words ring in my ear.Does he know?Does he know who you really are?I didn’t think she would play that card. Cripes I didn’t even think she would go that far.I could barely recognize Andy, infact I no longer know who she was. At first as I was confused. I was not sure if I was talking to the same Andy that I once knew.What changed?Why did she start to use such vile words?All I tried to do was protect her and her baby, but she was too far gone to listen.I had to go what I had to do. But I realized too late. I didn’t realize what I did was wrong until I had come down from my high anger.I let my emotions get the best of me. I was also trying to protect Ethan. He was getting too mixed up in the whole thing.In the beginning of all of this, his family was threatened. I did not want to imagine what they could do next if they found out she was staying in Ethan’s house.Most importantly she was being too reckless and de
ANDY’S POV“I’m sorry Miss, but they are no vacancies at this point” The manager tells me and walks back into his office and I sigh, running my hand through my hair as my frustration runs through my veins.You have got to be kidding me. This is the fifth café today and I was getting exhausted. At thi
ANDY’S POVI gulp down the bottle of water as I wait for the bus to arrive. The sun these days have not been friendly, and thankfully too, because I don’t think I could bare a cold weather.I had missed the first bus so I had to wait for the second one.I was feeling tired already and I couldn’t wait t
ANDY’S POVI block my eyes from the sun with my hand as I get up from the bed.I decided to sleep with the light on and I forgot to shut the window last night before I went to sleep, so the blinding sun greets me with a subtle threat of blindness.I put a slight pressure on my eye to ease the sleepines
DRAKE’S POV“Glad to finally get your attention Andy” I state as she bolts into my office. I think I have to change the door though.“Looks like slashing your tires wasn’t enough” She seethes as she closes the distance between us. Her hand lands across my face in quick succession.Her hand hurt so bad






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews