LOGINObrolan panjang dan rumit di meja makan sampai pada Nadine mengomentari sesuatu tentang strategi bisnis ayahnya. Nada bicaranya sedikit terlalu tajam. Dan ibunya langsung menegur. "Nadine."Ruangan menjadi hening sesaat."Kamu nggak harus mendebat semua hal,” kata Bu Mieke lembut, tapi tajam.Nadine langsung membuang pandangan. Ekspresinya berubah. Lebih terlihat seperti seseorang yang bosan mendengar hal yang sama ketimbang amarah.Saat itulah Satria angkat bicara. "Menurut saya nggak ada yang salah,” ucapnya tenang.Semua orang di meja makan menoleh. Satria lalu meletakkan gelasnya. "Nadine cuma menyampaikan pendapat. Saya rasa … anak muda seperti kami kadang-kadang punya cara penyampaian yang sedikit lebih berani.”Bu Mieke terlihat sedikit terkejut. "Nggak semua orang nyaman dengan cara penyampaiannya."Satria mengangguk. "Mungkin." Lalu ia menoleh pada Nadine. "Tapi isinya masuk akal.”Kali ini Nadine tidak langsung membalas.Tidak mendebat Satria atau menyelanya. Ia hanya meman
Beberapa minggu setelah pertemuan pertamanya dengan Pak Salim, keadaan Rylee Logistics perlahan membaik. Belum sepenuhnya pulih. Namun setidaknya kapal-kapal mereka kembali beroperasi.Salah satu investor baru yang diperkenalkan Pak Salim bahkan sudah menandatangani komitmen pendanaan. Investor lain mulai membuka ruang diskusi. Bank yang sebelumnya menekan juga bersedia meninjau ulang beberapa jadwal pembayaran.Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu hidup dalam tekanan, Satria merasa bisa bernapas sedikit lebih lega. Bukan karena dirinya selamat. Melainkan karena perusahaan itu selamat.Puluhan karyawan yang menggantungkan hidup pada Rylee Logistics tidak perlu kehilangan pekerjaan mereka. Para kru kapal masih bisa berlayar. Para sopir masih bisa membawa pulang nafkah.Dan untuk seorang Satria yang membangun semuanya dari nol, itu jauh lebih berarti daripada sekadar angka di rekening perusahaan.Malam itu, sebuah undangan makan malam kembali datang dari Pak Salim. Satria tida
Belasan tahun yang lalu, saat kantor Rylee Logistics belum semegah sekarang dan masih menghuni dua ruko yang sedikit jauh dari pelabuhan. Kawasan tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu mahal.Meski belum sebesar sekarang, tahun itu Rylee Logistics masuk masa stabil setelah beberapa tahun menyesuaikan diri dengan bisnis pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia. Masa stabil yang sebenarnya membuat seorang Satria belum cukup berpuas diri karena ia masih sibuk ke sana kemari menjalin relasi.Belum masuk masa tenang, pikirnya. Hasil usahanya belum mencapai angka yang ia ingin dan obsesinya membesarkan perusahaan shipping dari nol itu belum mencapai titik puasnya.Terlebih ketika suatu pagi keadaan kantor tiba-tiba gaduh. Staf yang baru beberapa orang itu sibuk dengan telepon yang berdering tanpa henti. Beberapa dari mereka mondar-mandir membawa dokumen. Tiga orang staf bahkan berdiri di depan ruang rapat dengan wajah pucat.Satria yang saat itu baru berusia dua puluh lima tahun
Itu adalah malam pertama Tante Vonny dan Om Franky berada di kediaman keluarga Rylee. Sebuah malam yang sering dipikirkan Satria sejak lama. Ia duduk di ujung meja makan meski makan malam belum dimulai. Tatapannya menyapu seisi ruangan. Ada Sheza yang menggendong Sagara dengan Nayla yang berusaha mengenakan sebelah kaus kaki bayi itu. Ada Dio yang sedang tertawa lepas karena mendengar lelucon Om Franky. Juga Tante Vonny yang masih berada di dapur bersama Tuti karena wanita itu bersikeras membantu menyiapkan makan malam. Tatapan Satria meredup. Rasanya … hidupnya semakin lengkap.Tak lama Tante Vonny datang dengan sepiring besar ayam goreng. “Ini resep ayam goreng yang biasa Tante masak, Sat.”Satria kini ikut melongok isi piring.“Harusnya kalau baru sampai jangan langsung repot. Banyak istirahat. Udah tua,” kata Satria.Tante Vonny menepuk punggung Satria. “Tua itu tidak bisa dihindari. Yang penting masih prima.” Ia terkekeh-kekeh. “Zee, sini. Kita makan.”Sheza mendekat bersamaan d
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Nayla dan Tante Vonny tak berhenti bercerita. Namun topik pembicaraan mereka hanya satu.Saga.Kadang suara Nayla terdengar begitu ceria ketika menceritakan adik laki-lakinya yang sudah hampir tiga bulan itu."Saga sekarang udah bisa senyum kalau diajak ngobrol, Oma.""Iya?""Iya. Terus kalau Ibun nyanyi, dia suka diem. Anteng, tapi nggak tidur. Kalau Papa yang gendong, Saga sering ketiduran. Entah kenapa. Heran juga.”Vonny tertawa kecil mendengarnya."Lalu Saga udah bisa apa lagi?"Nayla langsung menghitung dengan jari-jarinya."Udah bisa tengkurap miring sedikit. Terus dia kalau lapar nangis. Suaranya kenceng banget. Tapi kalau kenyang lucu. Gampang ketiduran.”Namun beberapa saat kemudian, nada suara Nayla bisa berubah pelan. "Sayangnya aku nggak bisa sering-sering lihat Saga."Tante Vonny terdiam sejenak.Satria yang sedang menyetir melirik melalui kaca spion tengah.Nayla sedang memainkan ujung sabuk pengamannya."Tapi nggak apa-apa," lanjut Na
Satria tetap berdiri di tempatnya.Sementara Nadine terlihat semakin sulit mengendalikan nada bicaranya. "Papaku cuma minta waktu ngobrol," ucap Nadine tajam. "Kenapa sesulit itu buat kamu?""Aku lagi sibuk.""Sibuk?" Nadine tertawa pendek. "Sibuk sampai nggak bisa balas telepon? Sampai orang lain harus nungguin kamu?""Aku punya prioritas lain."Jawaban datar itu justru membuat Nadine semakin kesal."Berasa kamu aja yang punya prioritas.”Tatapan Satria tetap tenang."Dulu waktu masih jadi bagian dari keluarga ini, kamu nggak pernah seperti ini."Satria memandang Nadine beberapa detik sebelum menjawab. "Dulu aku memang masih bagian dari keluarga ini."Kalimat itu membuat wajah Nadine menegang.Tepat saat itu, suara langkah terdengar dari dalam rumah. Pak Salim muncul dengan ekspresi yang lebih tenang dibanding putrinya."Nadine."Wanita itu mendecakkan lidah pelan sebelum bergeser.Pak Salim lalu memandang Satria. "Sebentar aja," katanya. "Saya cuma mau bicara."Satria menghela napas
Alina membasahi bibirnya.Tatapannya sempat turun ke lantai, lalu naik perlahan ke wajah Sheza. Bukan tatapan menantang. Lebih seperti seseorang yang ingin memastikan—wanita di depannya cukup kuat untuk mendengar cerita yang akan ia buka. Meski bukan kekuatan fisik yang dibutuhkan saat itu. Ia men
Roman tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.“Serius banget sih, Sat. Dari dulu juga hidup lo nggak pernah santai.”Satria menatapnya sebentar.Tatapan itu mampu membuat Roman berhenti tertawa.“Gue memang nggak pernah hidup buat santai,” kata Satria. Ia tidak menaikkan suara.“Dan orang yang b
“Mas…,” suara Sheza keluar pelan. Tatapannya tertuju pada punggung Satria. “Udah.”Satria tidak menoleh.Namun tubuhnya sedikit bergeser—cukup untuk berdiri tepat di depan Sheza. Meski tidak menyentuh atau memeluk Sheza, postur itu terlihat jelas sedang melindungi.Alina sempat tersentak. Langkahny
Satria menghela napas. Lalu menyentuh pipi Sheza. “Aku lebih takut,” jawab Satria tenang, “kalau kamu milih diem-diem aja karena ngerasa nggak pantas minta apa-apa dari aku.” Sheza memandangnya dengan sepasang mata basah. Tubuh wanita itu masih hangat dan lembap ketika ia melepaskan pelukannya tad







