Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 38. Di Antara Keraguan

Share

Bab 38. Di Antara Keraguan

Author: juskelapa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-15 23:58:16

Satria berdiri di ambang pintu, masih dengan kemeja yang sama, lengannya digulung. Di belakangnya meja kerja berantakan oleh berkas dan map cokelat yang belum ditutup.

Wajahnya tenang, tapi matanya waspada seperti seseorang yang sedang bersiap menerima amukannya. “Ada apa?” tanyanya.

Sheza tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk satu langkah. Pintu ditutup Satria perlahan di belakang mereka. Ruangan itu kembali sunyi, hanya lampu meja yang menyala.

Sheza berdiri dengan tangan saling meng
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (15)
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
satria setenang air buat sheeza merasa ga pantas dinikahi
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
padahal satria udah nunggu2 lho wkwk
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Kasihan Sheza ....
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • KAMAR KEDUA   Bab 252. Ketika Semua Harus Terjadi 

    Tante Vonny yang tadi sempat diam, kini berkata pelan, “Sat … kamu pernah cinta Nadine, kan?”Pertanyaan itu membuat Sheza membeku di dekat pintu. Bahkan suara jangkrik dari taman seakan ikut menghilang.Satria terdengar kembali menghela napas. Lalu ia meneguk wine-nya lebih dulu dan memandang ke arah kolam yang memantulkan cahaya lampu taman."Aku menghormatinya." Satria kembali diam. "Aku peduli ke Nadine. Di mataku … Nadine nggak lebih kayak anak kecil yang selalu mendapatkan apa yang dia mau.”"Dulu … meski awalnya aku merespon ide Pak Salim soal perjodohan dengan banyak pertimbangan. Tapi aku berniat jadi suami yang baik. Keberadaan Pak Salim yang mampu menjadi pendengarku, sekaligus mentor, bikin aku kepengin punya orang tua seperti beliau.”"Tapi itu bukan jawaban pertanyaan Tante." Tante Vonny menatapnya lurus.Lama sekali Satria tidak berbicara.Sampai akhirnya ia mengembuskan napas pelan. “Cinta itu apa? Saat itu aku bahkan nggak memikirkan soal itu. Bagiku waktu itu … cinta

  • KAMAR KEDUA   Bab 251. Bukan Kisah Cinta Biasa

    Obrolan panjang dan rumit di meja makan sampai pada Nadine mengomentari sesuatu tentang strategi bisnis ayahnya. Nada bicaranya sedikit terlalu tajam. Dan ibunya langsung menegur. "Nadine."Ruangan menjadi hening sesaat."Kamu nggak harus mendebat semua hal,” kata Bu Mieke lembut, tapi tajam.Nadine langsung membuang pandangan. Ekspresinya berubah. Lebih terlihat seperti seseorang yang bosan mendengar hal yang sama ketimbang amarah.Saat itulah Satria angkat bicara. "Menurut saya nggak ada yang salah,” ucapnya tenang.Semua orang di meja makan menoleh. Satria lalu meletakkan gelasnya. "Nadine cuma menyampaikan pendapat. Saya rasa … anak muda seperti kami kadang-kadang punya cara penyampaian yang sedikit lebih berani.”Bu Mieke terlihat sedikit terkejut. "Nggak semua orang nyaman dengan cara penyampaiannya."Satria mengangguk. "Mungkin." Lalu ia menoleh pada Nadine. "Tapi isinya masuk akal.”Kali ini Nadine tidak langsung membalas.Tidak mendebat Satria atau menyelanya. Ia hanya meman

  • KAMAR KEDUA   Bab 250. Pertolongan Masa Itu

    Beberapa minggu setelah pertemuan pertamanya dengan Pak Salim, keadaan Rylee Logistics perlahan membaik. Belum sepenuhnya pulih. Namun setidaknya kapal-kapal mereka kembali beroperasi.Salah satu investor baru yang diperkenalkan Pak Salim bahkan sudah menandatangani komitmen pendanaan. Investor lain mulai membuka ruang diskusi. Bank yang sebelumnya menekan juga bersedia meninjau ulang beberapa jadwal pembayaran.Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu hidup dalam tekanan, Satria merasa bisa bernapas sedikit lebih lega. Bukan karena dirinya selamat. Melainkan karena perusahaan itu selamat.Puluhan karyawan yang menggantungkan hidup pada Rylee Logistics tidak perlu kehilangan pekerjaan mereka. Para kru kapal masih bisa berlayar. Para sopir masih bisa membawa pulang nafkah.Dan untuk seorang Satria yang membangun semuanya dari nol, itu jauh lebih berarti daripada sekadar angka di rekening perusahaan.Malam itu, sebuah undangan makan malam kembali datang dari Pak Salim. Satria tida

  • KAMAR KEDUA   Bab 249. Kepingan Masa Lalu 

    Belasan tahun yang lalu, saat kantor Rylee Logistics belum semegah sekarang dan masih menghuni dua ruko yang sedikit jauh dari pelabuhan. Kawasan tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu mahal.Meski belum sebesar sekarang, tahun itu Rylee Logistics masuk masa stabil setelah beberapa tahun menyesuaikan diri dengan bisnis pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia. Masa stabil yang sebenarnya membuat seorang Satria belum cukup berpuas diri karena ia masih sibuk ke sana kemari menjalin relasi.Belum masuk masa tenang, pikirnya. Hasil usahanya belum mencapai angka yang ia ingin dan obsesinya membesarkan perusahaan shipping dari nol itu belum mencapai titik puasnya.Terlebih ketika suatu pagi keadaan kantor tiba-tiba gaduh. Staf yang baru beberapa orang itu sibuk dengan telepon yang berdering tanpa henti. Beberapa dari mereka mondar-mandir membawa dokumen. Tiga orang staf bahkan berdiri di depan ruang rapat dengan wajah pucat.Satria yang saat itu baru berusia dua puluh lima tahun

  • KAMAR KEDUA   Bab 248. Makan Malam Keluarga 

    Itu adalah malam pertama Tante Vonny dan Om Franky berada di kediaman keluarga Rylee. Sebuah malam yang sering dipikirkan Satria sejak lama. Ia duduk di ujung meja makan meski makan malam belum dimulai. Tatapannya menyapu seisi ruangan. Ada Sheza yang menggendong Sagara dengan Nayla yang berusaha mengenakan sebelah kaus kaki bayi itu. Ada Dio yang sedang tertawa lepas karena mendengar lelucon Om Franky. Juga Tante Vonny yang masih berada di dapur bersama Tuti karena wanita itu bersikeras membantu menyiapkan makan malam. Tatapan Satria meredup. Rasanya … hidupnya semakin lengkap.Tak lama Tante Vonny datang dengan sepiring besar ayam goreng. “Ini resep ayam goreng yang biasa Tante masak, Sat.”Satria kini ikut melongok isi piring.“Harusnya kalau baru sampai jangan langsung repot. Banyak istirahat. Udah tua,” kata Satria.Tante Vonny menepuk punggung Satria. “Tua itu tidak bisa dihindari. Yang penting masih prima.” Ia terkekeh-kekeh. “Zee, sini. Kita makan.”Sheza mendekat bersamaan d

  • KAMAR KEDUA   Bab 247. Tamu dari Manado

    Sepanjang perjalanan menuju rumah, Nayla dan Tante Vonny tak berhenti bercerita. Namun topik pembicaraan mereka hanya satu.Saga.Kadang suara Nayla terdengar begitu ceria ketika menceritakan adik laki-lakinya yang sudah hampir tiga bulan itu."Saga sekarang udah bisa senyum kalau diajak ngobrol, Oma.""Iya?""Iya. Terus kalau Ibun nyanyi, dia suka diem. Anteng, tapi nggak tidur. Kalau Papa yang gendong, Saga sering ketiduran. Entah kenapa. Heran juga.”Vonny tertawa kecil mendengarnya."Lalu Saga udah bisa apa lagi?"Nayla langsung menghitung dengan jari-jarinya."Udah bisa tengkurap miring sedikit. Terus dia kalau lapar nangis. Suaranya kenceng banget. Tapi kalau kenyang lucu. Gampang ketiduran.”Namun beberapa saat kemudian, nada suara Nayla bisa berubah pelan. "Sayangnya aku nggak bisa sering-sering lihat Saga."Tante Vonny terdiam sejenak.Satria yang sedang menyetir melirik melalui kaca spion tengah.Nayla sedang memainkan ujung sabuk pengamannya."Tapi nggak apa-apa," lanjut Na

  • KAMAR KEDUA   Bab 27. Hal Kecil Lainnya

    Di hari sidang putusan, Sheza terbangun dengan perut yang terasa ditarik pelan dari dalam. Bukan nyeri hebat, tapi cukup membuat punggungnya kaku dan langkahnya melambat. Ia tetap bersiap seperti biasa. Meski tidak mengeluh, tapi rasa sakit itu menambah satu beban lagi di hari yang sudah berat. Sat

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • KAMAR KEDUA   Bab 35. Isak Seorang Anak

    Satria tidak menjawab cepat. Ia menunggu sampai Nayla mengangkat wajahnya. “Kamu nggak usah mikir sejauh itu,” katanya akhirnya. “Papa urus bagian Papa.” Nayla tersenyum kecil. “Iya. Aku cuma ngomong.” “Kita ke ruang keluarga, yuk. Dio pasti nunggu kamu.” Satria berdiri dari kursi. Nayla ikut

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • KAMAR KEDUA   Bab 36. Hari yang Hampir Normal

    Kalau dihitung dengan benar, hari pernikahan yang sudah mereka daftarkan ke KUA itu dilaksanakan tepat empat hari lagi. Sheza sudah memastikan kalau Athar yang akan menjadi wali nikahnya. Ibunya mengatakan dengan jelas tidak akan hadir dan memilih menjaga Dio di rumah. Entah kenapa Sheza sedikit leg

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • KAMAR KEDUA   Bab 30. Hidup Tetap Harus Berjalan

    “Bu Sheza mau keluar?” Sheza menoleh ke belakang dan melihat Tuti berdiri dengan selembar kertas di tangannya. Ia memang baru saja menyampirkan slingbag cokelat ke bahunya. “Iya, Mba. Kayaknya aku bakal sampai malam karena sekalian mau ke rumah ibuku. Pulang sekolah Dio dibawa ke sana sama Athar

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status