Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 38. Di Antara Keraguan

Share

Bab 38. Di Antara Keraguan

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-15 23:58:16

Satria berdiri di ambang pintu, masih dengan kemeja yang sama, lengannya digulung. Di belakangnya meja kerja berantakan oleh berkas dan map cokelat yang belum ditutup.

Wajahnya tenang, tapi matanya waspada seperti seseorang yang sedang bersiap menerima amukannya. “Ada apa?” tanyanya.

Sheza tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk satu langkah. Pintu ditutup Satria perlahan di belakang mereka. Ruangan itu kembali sunyi, hanya lampu meja yang menyala.

Sheza berdiri dengan tangan saling meng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (15)
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
satria setenang air buat sheeza merasa ga pantas dinikahi
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
padahal satria udah nunggu2 lho wkwk
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Kasihan Sheza ....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 356. Secangkir Kopi Larut Malam

    Pukul sepuluh malam, restoran mulai sepi. Nadine berdiri di dekat pintu dengan kunci mobil di tangan dan wajah yang sudah memutuskan sesuatu.“Pak Damar … makasih buat makan malam yang sangat menyenangkan buat kami, terutama buat Nayla.” Tangannya menyentuh bahu Nayla yang berdiri tegak di depannya.“Saya juga senang sekali. Semuanya sesuai dengan yang saya harapkan. Terutama ada bintang tamu yang pinter ini.” Damar menyodorkan kepalan tangannya. Nayla menyambutnya dengan mengadu kepalan tangan mereka. “Saya antar, ya.”"Kamj pulang berdua aja, Pak Damar. Seperti datang tadi. Aman,” kata Nadine dengan nada optimisnya seperti biasa."Saya tidak meragukan keamanannya," jawab Damar. "Saya meragukan jalanan Jakarta jam segini.""Sudah puluhan tahun saya nyetir sendiri jam segini.""Kalau begitu, begini saja." Damar mengulurkan tangan, setengah bercanda. "Saya yang bawa mobil Ibu. Ibu dan Nayla duduk manis. Nanti saya pulang naik taksi dari rumah Bu Nadine.”Nadine langsung menggeleng. "Da

  • KAMAR KEDUA   Bab 355. Makan Malam Sempurna (2)

    Ruang privat restoran itu didominasi warna krem lembut dengan pencahayaan temaram yang hangat. Satu meja bundar diatur di tengah ruangan, taplaknya putih bersih, tiga set alat makan tersusun rapi. Sebuah vas kecil berisi bunga segar diletakkan di tengah meja, bukan berlebihan, hanya cukup untuk membuat suasana terasa lebih istimewa dari makan malam biasa.Damar sudah berdiri menunggu ketika pintu ruangan itu terbuka. Ia mengenakan kemeja biru dongker, lengan tergulung rapi sampai siku, jauh dari penampilan kasualnya yang biasa terlihat berantakan di kantor konsultan kecilnya."Bu Nadine." Ia tersenyum, lalu menoleh ke sosok mungil yang berdiri di samping Nadine, matanya langsung berbinar. "Dan ini pasti Nayla."Nayla mengangguk, sedikit malu-malu, tapi matanya penuh rasa ingin tahu memandangi pria di depannya dari atas ke bawah."Halo, Nayla. Saya Damar," katanya, berjongkok sedikit agar sejajar dengan tinggi Nayla, mengulurkan tangan dengan sopan. "Senang akhirnya bisa ketemu kamu la

  • KAMAR KEDUA   Bab 354. Makan Malam Sempurna (1)

    Begitu pembicaraan dengan Nayla selesai, Nadine segera mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Damar.Nadine:Nayla udah siap. Kami berdua udah siap.Balasan pesan itu tidak butuh waktu lama.Damar:Oke. Biar saya yang atur. Saya mau bikin makan malam paling menyenangkan buat Nayla.Nadine membaca pesan itu dua kali, lalu meletakkan ponselnya dengan perasaan campur aduk—antara lega dan sedikit gugup membayangkan pertemuan itu benar-benar akan terjadi.**********Dua minggu kemudian, di Jalan Pine II No. 8, suara ketukan palu kecil memantul pelan di dinding bengkel kerja Satria.Siang itu ia sedang berkutat dengan sebuah lempengan emas kuning yang tipis dan memanjang, menempa bagian tepinya dengan hati-hati di atas landasan baja. Kacamata pembesarnya terpasang di hidung, dan beberapa alat ukir tersusun rapi di sampingnya—sketsa desain yang baru setengah jadi tergeletak di sudut meja kerja.Langkah kecil terdengar dari arah pintu. Satria menghentikan ketukannya, menoleh."Nay?

  • KAMAR KEDUA   Bab 353. Apa yang Diinginkan Nadine

    Setelah beberapa hari tenggelam dalam kesibukan memimpin perusahaan, ia mendapat laporan perkembangan hasil kerja gedung. Bagian kolom gedung sudah selesai. Bersamaan dengan itu, ia kembali teringat obrolannya bersama Damar soal makan malam.Malam itu, lewat pukul sepuluh, Nadine baru menyetir sendiri pulang dari kantor. Jalanan Jakarta yang biasanya ramai sudah lengang, tapi pikirannya justru mengembara ke banyak hal yang selama ini jarang ia izinkan muncul.Setelah Satria, tentu ada beberapa orang yang pernah mencoba mendekatinya. Entah karena ia memang belum benar-benar berdamai dengan masa lalu, atau karena kenyamanan yang ia rasakan sekarang terasa berbeda, Nadine tidak pernah benar-benar berpikir untuk meladeni percakapan lebih jauh dengan siapa pun. Semuanya berhenti di basa-basi, lalu lenyap begitu saja dari ingatannya.Berbeda dengan Damar.Damar baginya seperti teman ngobrol yang menyenangkan. Mereka nyambung, entah bagaimana caranya. Damar easygoing, dan anehnya, cukup saba

  • KAMAR KEDUA   Bab 352. Nasi Goreng Sepiring Berdua

    Mobil Damar melaju pelan menembus jalanan Jakarta yang mulai lengang. Nadine duduk di kursi penumpang, memandang keluar jendela, menyaksikan lampu-lampu kota berkelip di kejauhan."Kita ke mana?" tanyanya akhirnya."Gultik," jawab Damar singkat, matanya tetap di jalan. "Di Blok M. Udah pernah coba?"Nadine menggeleng. "Gultik? Namanya lucu.”"Katanya sih kepanjangannya gulai tikungan. Porsinya kecil-kecil, jadi setelah gultik, kita bisa makan yang lain.” Damar tersenyum, memperhatikan anggukan Nadine dan sepasang mata wanita yang bercahaya. Ia lalu membelokkan mobil ke arah Blok M.Mereka berhenti di deretan gerobak yang berjejer di pinggir jalan, asap mengepul dari arang yang menyala, aroma daging bercampur bumbu gulai memenuhi udara malam. Damar memesan dua porsi tanpa bertanya dulu, lalu duduk di bangku kayu panjang yang sedikit goyang ketika Nadine ikut duduk."Ini aman buat perut Ibu?" tanya Damar, sedikit meragu begitu makanan datang—sepiring nasi putih yang disiram gulai."Saya

  • KAMAR KEDUA   Bab 351. Mahasiswa Baru

    Setelah mengiyakan tawaran Damar, siang itu Nadine sudah berjalan beberapa langkah di belakang Damar, menyusuri koridor gedung Fakultas Teknik yang dindingnya dipenuhi poster seminar, kegiatan kampus atau pengumuman tugas akhir. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengan mereka menoleh, lalu berbisik-bisik pelan begitu melewati keduanya.Pembicaraan para mahasiswa yang mengenal Damar itu terdengar berbisik-bisik. "Pak Damar bawa tamu?""Itu kayaknya klien proyeknya, deh."Damar tidak menghiraukan bisikan-bisikan itu. Ia berjalan santai, sesekali menyapa mahasiswa yang menyapanya lebih dulu, tangannya membawa map berisi slide presentasi yang sudah dicetak."Kelasnya penuh?" tanya Nadine, suaranya pelan."Lumayan. Ini kelas struktur lanjut, semester akhir. Nggak terlalu besar, sekitar tiga puluh orang." Damar membuka pintu ruang kelas, lalu mempersilakan Nadine masuk lebih dulu. "Duduk di belakang aja, Bu. Biar nggak ganggu konsentrasi mereka. Mereka pasti penasaran siapa tamu yang data

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status