Share

BAB 7

Author: NawankWulan
last update publish date: 2026-02-07 00:01:05

"Ceraikan aku sekarang, Pak. Ambil saja rumah ini jika memang itu maumu, tapi jangan ambil kedua anakku. Mereka mutiara hidupku. Bagaimanapun keadaannya, aku ingin tetap bersama mereka," ucap ibu tegas. Entah kekuatan darimana yang membuat ibu setegas detik ini. 

Tak hanya aku dan Amy, bapak pun tampak shock mendengar keputusan terakhir ibu. Aku yakin bapak tak pernah menyangka jika ibu akan benar-benar mengambil keputusan ini. Sejak dulu, apapun yang dilakukan bapak, ibu akan tetap sabar dan mengalah. Ibu lebih memilih mendoakan bapak dia sepertiga malam daripada harus berdebat panjang lebar. 

Mungkin sikap ibu yang sabar dan lebih memilih mengalah itulah yang membuat bapak semakin semena-mena. Mengira ibu akan tetap tunduk dan patuh seperti biasanya sekalipun bapak telah mengkhianatinya. Bapak lupa jika kesabaran setiap orang ada batasnya. Mungkin detik ini adalah titik lelah ibu. Bisa jadi ibu merasa jika cinta dan kepatuhan yang selama ini dia lakukan terasa sia-sia saat bapak menduakannya. 

"Ceraikan aku sekarang biar kami bisa berkemas. Aku akan berusaha ikhlas, Pak. Tapi ingat, apapun yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasan karena Allah nggak pernah tidur." Ibu kembali berujar lebih tegas, membuat kedua mata bapak membulat seketika. 

"Apa maksudmu ngomong begitu, Sri? Kamu mengancamku?" sentak bapak. 

"Ini bukan sebuah ancaman, tapi sekadar mengingatkan." 

"Mengingatkan atau mengancam apa bedanya?! Katanya ikhlas, tapi masih sibuk mengungkit ini itu," ujar Bi Siti sembari memutar bola matanya, malas. 

"Terserah kalian saja. Nikmati sehat dan senangnya sebelum ajal menjemput," tekan ibu lagi. 

Tak pernah kudengar kata-kata ibu setajam ini sebelumnya. Mungkin sakitnya memang terlalu dalam sampai akhirnya ibu benar-benar menyerah dan memilih mengikhlaskan. 

"Keterlaluan kamu, Sri. Bisa-bisanya bicara seperti itu. Kalau memang itu maumu, baiklah. Mulai saat ini, kamu Sri Lestari binti Kasino bukanlah istriku lagi. Silakan kemasi barangmu dan bawa anak-anak itu pergi. Aku juga sudah muak melihat wajah-wajah pembangkang seperti mereka!" sentak bapak dengan lantangnya. 

Air mataku menetes ke pipi. Tak kusangka akhirnya kapal itu karam juga. Sekuat apapun penumpangnya bertahan, jika nahkoda tak ada maka badai bisa dengan mudah menghempaskannya. 

"Maafkan ibu, Zi, My. Ibu menyerah," lirih ibu sembari memelukku dan Amy. 

Kami berpelukan dalam tangis. Entah tangis apa. Yang jelas aku kecewa, marah, sedih, tapi ada kelegaan dalam dada. Setidaknya aku berharap tak lagi melihat ibu meratapi nasibnya di tiap malam. Aku tak lagi melihatnya pura-pura bertahan dan berlagak baik-baik saja, padahal ada luka yang menganga dalam tubuhnya. Setidaknya aku tak lagi menyaksikan bentakan-bentakan bapak dan ketidakpekaan laki-laki itu padanya. 

"Kita akan raih kebahagiaan itu tanpanya, Bu. Percayalah," bisikku, sementara Amy dan ibu mengaminkannya. 

"Suatu saat nanti bapak pasti akan menyesal memperlakukan kita seperti ini, Bu," sahut Amy sedikit terbata karena tangisnya. Ibu mengangguk lalu mengusap kepala kami dengan kedua telapak tangannya. 

"Bapak nggak akan menyesal hanya karena mengusir kalian pergi. Memangnya selama ini hal baik apa yang sudah kalian lakukan?! Yang ada kalian justru terus menyusahkan!" 

Kata-kata bapak benar-benar menyakitkan, namun kali ini tak ada lagi tenagaku untuk membalasnya. Aku lelah. Lebih lelah menyaksikan tangis ibu dan adikku yang bersahutan. 

"Bu, tunggu Zizi di teras. Biar Zizi yang tata pakaian kita ke tas. Jangan menyesal karena ibu sudah berusaha yang terbaik. Namun, mungkin memang inilah yang terbaik untuk kita bersama. InsyaAllah kita akan baik-baik saja karena Allah yang menjamin hidup dan mati seseorang." 

Ibu mendongak, mencoba tersenyum lalu mengusap kedua pipiku yang basah air mata. 

"Anak ibu sudah besar. Sudah dewasa," ujarnya dengan berlinang air mata. 

Kuantar ibu dan adikku ke teras, sementara bapak mengajak bibi ke ruang tengah di mana Mira masih tetap asyik dengan dunianya sendiri meski ada kehebohan sedari tadi. Dia sempat melihat pertengkaran kami beberapa saat, tapi memilih kembali rebahan di kursi panjang depan tivi tanpa peduli dengan keadaannya di ruang tamu. Kepekaannya seolah mati hanya karena gadget. 

"Kemasi semua. Kalau nggak, nanti mau bapak bakar!" ujar laki-laki yang harus kupanggil bapak itu dari ruang tivi. 

Aku tak tahu kenapa hati bapak benar-benar mati. Jikalaupun dia menginginkan anak laki-laki, tak seharusnya pula menyimpan kebencian yang begitu dalam pada anak kandungnya sendiri bukan? 

Ah entahlah. Aku tak paham kenapa dia begitu membenciku dan Amy hanya karena kami terlahir perempuan, sementara pada Mira sikapnya terlalu berbeda sejak dulu. Apa jangan-jangan bapak memang sudah memiliki rasa yang berbeda pada Bi Siti sebelum dia berstatus sebagai janda? 

"Sudah?" tanya bapak saat melihatku keluar kamar dengan dua tas besar. Tas yang dulu kujadikan tempat menyimpan pakaian sebelum ibu mampu membelikanku lemari. 

"Kami pergi, Pak." 

Kuulurkan tangan untuk meminta izin, tapi bapak mengacuhkannya. Semati itukah perasaan bapak sampai tak peduli dengan rasa sakitku saat ini? Bahkan seolah tanpa dosa dia justru mengalihkan pandangannya pada benda pipih kecil yang dipegang Mira. 

Aku masih bisa menerima dengan segala perlakuan bapak padaku detik ini, tapi rasanya terlalu sulit menerima pengkhianatan dan kedzalimannya pada Amy dan ibu. Aku tak tega melihat mereka sesakit ini, sementara bapak terlihat baik-baik saja. 

"Kenapa bengong?! Sana pergi! Jangan pernah mengemis maaf dan menyesal setelah kamu keluar dari rumah ini. Mengerti!" 

Tak kubalas ucapan bapak, aku memilih buru-buru keluar pintu dan menyambut ibu. Aku yakin ibu mendengar semua ucapan bapak dari ruang tengah, tapi seperti biasa ibu memilih diam lalu mengusap punggungku perlahan. 

"Sudah izin bapak kan?" tanyanya lirih. Aku hanya mengangguk. 

"Ya sudah, ayo kita pergi. Bapak sudah ada yang urus. Dia tak membutuhkan kita lagi," ujar ibu dengan senyum tipisnya. Senyum yang tampak jelas penuh luka. 

"Kita mau pergi kemana, Bu?" Pertanyaan Amy membuatku tersentak seketika. 

Dia benar, kemana kita pergi sementara tak punya sanak saudara di sini, bahkan rumah peninggalan kakek pun sudah dirampas oleh bibi. 

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   TAMAT

    "Ibu merestui hubunganmu dengan Zaki, Zi. Ibu tahu Zaki anak yang baik, tulus, pengertian dan pekerja keras. InsyaAllah kelak dia akan membuatmu bahagia. Tapi, kalau kedua orang tuanya tak merestui, sebaiknya kamu berhenti sampai di sini. Walau bagaimanapun, ridho orang tua adalah ridhoNya. Yakin saja jika kalian memang berjodoh, kelak pasti akan dipersatukan juga. Kalau berpisah, berarti kalian memang tak ditakdirkan bersama dan kelak akan dipertemukan dengan jodoh kalian masing-masing. Jodoh yang terbaik menurutNya."Pesan Sri waktu itu kembali terngiang di benak Zizi. Kedua matanya berkaca tiap kali mengingat momen itu. Di saat orang tua Zaki berusaha menjauhkannya bahkan sengaja mengirim Zaki ke luar negeri dengan alasan study. Namun, kini semua kesakitan itu dibayar lunas.Senyum dan tawa terlihat begitu jelas di wajah kedua orang tua Zaki detik ini. Pun senyum tulus ibunya bahkan kini lengkap dengan bapak dan bibinya. Tak ketinggalan celoteh riang Amy dan Mira, sepupunya.Merek

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Tak Disangka

    "Bibi? Mira?" pekik Amy saat akan keluar kontrakan. Gadis kecil itu teramat kaget melihat bibi dan sepupunya datang. Amy juga tak menyangka jika akhirnya kembali bertemu dengan mereka detik ini setelah sekian lama tak bersua. "Ibu ada, My?" tanya Siti dengan senyum tipis. Tak seperti sebelumnya yang selalu terlihat sinis, saat ini Siti terlihat lebih santun dan manis. "Ada, Bi. Ibu masih di dapur," ujar Amy sembari mempersilakan dua tamunya itu masuk ke kontrakan. Keduanya duduk lesehan di karpet yang memang sudah disediakan untuk para tamu di ruangan paling depan. Amy buru-buru melangkah ke ruangan terakhir di kontrakan itu yang dijadikan dapur dan kamar mandi. "Bu, ada Bi Siti sama Mira," ujar Amy lirih pada ibunya yang masih membuat pisang goreng. Hari ini mereka memang tak berjualan. Zizi masih sibuk di kampus karena mulai mengurus skripsinya. Sri tak tega melihat Amy yang kelelahan karena baru saja pulang dari kegiatan campingnya di sekolah. "Mbak ...." Tiba-tiba Siti jongk

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Pesan Istimewa

    Hari terus bergulir. Semakin berjalannya waktu, Zizi terlihat semakin bersemangat dan bahagia menjalani hari-harinya. Berkali-kali istikharah, akhirnya dia memantapkan hati untuk memilih Zaki. Zaki emang cinta pertamanya dan mungkin karena itu pula sulit terhapus dalam ingatan. Zizi tak tahu apakah jawaban istikharahnya kali ini benar-benar tepat atau semua itu karena hatinya memang lebih condong ke Zaki, tapi dia memasrahkan semua padaNya. Entah bagaimana nanti endingnya, dia tetap yakin jika semua itu akan indah di saat yang tepat. "Zi, mau kemana?" Zayyan membuka kaca mobil sebelum masuk ke halaman rumahnya. Dia tersenyum tipis saat melihat Zizi keluar dari kontrakan dengan motor maticnya. "Mau jalan-jalan sama Aina, Mas. Baru pulang dari cafe?" tanya Zizi begitu sopan. "Iya, Zi. Kebetulan cafe disewa teman untuk acara spesial istrinya nanti malam. Jadi, setelah bantu-bantu beresin ini itu usai, aku pulang dulu." Zizi manggut-manggut mendengar balasan Zayyan. Hubungannya denga

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Saatnya Memilih

    Dokter yang menangani Delima keluar dari UGD. Dia memanggil Bima lalu menjelaskan kondisi Delima yang kini sudah melewati masa kritisnya. "Alhamdulillah, Dok. Bersyukur sekali istri saya sudah melewati masa kritis itu. Saya benar-benar lega mendengarnya." Bima tersenyum tipis. Kedua matanya berkaca saking bahagianya. "Alhamdulillah." Tiga anak muda.di samping Bima itupun mengucap Hamdallah bersama. "Sekarang Ibu Delima masih istirahat. Mohon jangan diganggu dulu ya, Pak. Kalau mau jenguk silakan, sebaiknya bergantian supaya tak mengganggu istirahat pasien." Dokter mengingatkan. Mereka pun kompak mengangguk. "Mau ikut jenguk mamanya Zaki bareng Om, Zi?" "Memangnya boleh, Om?" tanya Zizi dengan wajah polosnya. "Boleh dong. Kamu pasti juga pengin tahu keadaan mamanya Zaki sekarang kan?" Zizi mengangguk cepat. "Ayo." Bima kembali mengajak Zizi, Zayyan pun mengangguk pelan. "Na, aku masuk dulu ya?" Aina mengangguk lalu kembali duduk di kursi tunggu, sementara Zayyan memilih berdiri

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Minta Maaf dan Memaafkan

    "Zi, are you okay?" lirih Zayyan saat melihat Zizi begitu lemas setelah mendonorkan darahnya untuk Delima. Zizi hanya mengangguk pelan lalu mengikuti Zayyan dan Aina yang membantunya duduk di kursi tunggu. "Minum susunya, Zi. Biskuit sama telur rebusnya juga habiskan biar nggak lemas," pinta Zayyan sembari membuka biskuit keju itu. Tak banyak bicara, Zizi mengikuti perintah Zayyan dan Aina. Dia mulai minum susu dan sebutir telur rebus yang dibeli oleh Zayyan tadi. "Aku kupasin yang ini mau?" ujar Zayyan menunjuk telur rebus yang tersisa. Zizi menggeleng pelan. "Sudah kenyang, Mas. Buat nanti aja. Makasih ya.""Sama-sama, Zi. Justru aku yang makasih karena kamu sudah menyelamatkan Tante Delima. Benar kan, Om?" Zayyan sengaja minta pendapat Bima yang sedari tadi masih terdiam memperhatikan Zizi. "Iya, Zay. Alhamdulillah ada Zizi, kalau nggak entah gimana nasib tantemu. Mana hujan masih deras mengguyur.""Saya hanya membantu sedikit, Om. Selebihnya karena Allah.""Iya, tapi kamu pe

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Menyadari Kesalahan

    "Kenapa bingung begitu?" tanya Aina lagi. Sebagai seorang sahabat, Aina paham betul perasaan Zizi saat ini. Hanya saja, dia mencoba mencairkan keheningan yang ada, meminta Zizi agar mau menceritakan kegelisahannya. Mungkin dengan bercerita, Zizi akan jauh lebih tenang dibandingkan sekarang. "Aku masih bingung bagaimana caranya menghadapi papa dan mamanya Zaki nanti, Na. Kamu tahulah gimana posisiku saat ini. Meski sudah lama tak berhubungan dengan Zaki, tapi-- Zizi menjeda kalimatnya. Dia kembali menghela napas panjang lalu memejamkan mata beberapa saat. "Jika jodoh tak akan kemana, Zi. Yakinlah." Aina mengusap lengan sahabatnya untuk menenangkan. Zizi tersenyum lalu mengangguk pelan. Sejak Zaki memergokinya jalan dengan Zayyan di mall waktu itu, Zaki memang benar-benar menghilang. Zaki tak menghubunginya via email beberapa minggu, sampai akhirnya Zizi memilih tak lagi membuka email-nya karena takut kecewa. Bahkan dia membuat email untuk keperluan kuliahnya. Zizi merasa bersalah

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Sebuah Janji

    "Pagi, Zi." Nyaris setiap pagi aku mendengar sapaan itu darinya. Meski berusaha menghindar, tetap saja akan bertemu karena aku dan Zaki memang sekelas. "Pagi," balasku singkat. "Sarah bilang kamu mau ketemu denganku. Benar?" Aku mengangguk lalu memintanya sedikit bersembunyi di belakang laborato

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Kembali Berulah

    "Seharusnya kita yang tanya apa dia baik-baik saja, kenapa justru dia yang tanya keadaan kamu sih, Zi?" omel Sarah. "Mana kutahu. Tanya saja sama dia," sambungku sembari melanjutkan langkah menuju gerbang sekolah. "Kira-kira dia sakit apa ya? Kemarin masih terlihat biasa saja." "Nggak tahu, Sar.

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 10

    "Pergi dari sini dan jangan sebut aku sebagai bapakmu lagi! Aku muak melihat anak durhaka sepertimu!" Kalimat panjang nan menyakitkan itu pernah terlontar di bibir bapak saat aku mengancam pergi saking kesalnya. Betapa tidak? Sudah capek jualan keliling sampai isya, bapak justru menuduhku pacaran

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Rencana Zizi

    "Bapak masuk rumah sakit, Zi. Apa kita nggak jenguk dia?" tanya ibu setelah makan siang dengan lauk tempe dan sayur bayam itu usai."Apa nanti ibu nggak sakit hati melihat Bi Siti di sana?" tanyaku lirih. "Tapi kasihan bapak, Zi. Gara-gara ibu dia dihajar banyak orang," balas ibu merasa begitu ber

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status