Share

BAB 8

Author: NawankWulan
last update publish date: 2026-02-08 00:11:41

"Apa kita ke rumah Bi Ambar dulu, Bu? Malam ini saja. Besok pagi kita cari kontrakan sekitar sini. Gimana?" tanyaku pada ibu yang masih berpikir. 

Bi Ambar adalah adik Bi Siti. Mereka masih satu ayah dengan ibu. Meski kutahu perangai Bi Ambar tak jauh beda dengan kakaknya, tapi aku berharap dia masih mau menerima kami malam ini saja. 

Tak enak jika harus menumpang di rumah tetangga, pasti mereka akan berpikir macam-macam tentang bapak dan ibu. Meski lambat lain mereka pun tahu keadaannya, tapi setidaknya bukan sekarang di saat batin ibu masih terguncang. 

"Mana mungkin Bibi Ambar mau menerima kita, Mbak. Dia sama saja kaya Bi Siti," lirih Amy sembari mengerucutkan bibir mungilnya. 

"Usaha dulu, Dek. Kalau nggak di sana, kita nginap di mana coba?" 

"Rumah kakek saja, Bu." Amy menimpali.

"Rumah kakek pasti dikunci Bi Siti, Dek. Kita mana bisa masuk sana. Masih ada kakek saja Bi Siti sering melarang kita ke sana, apalagi setelah kakek pergi." 

"Kan memang begitu rencana Bi Siti. Supaya kakek lebih menyayanginya dan memberikan apapun yang dia punya buat bibi, termasuk rumah itu." Amy yang masih berusia dua belas tahun itupun mulai memahami bagaimana karakter Bi Siti yang sebenarnya. Dia memang cukup peka. 

"Sudah, sudah. Kita coba ke rumah Bi Ambar dulu, barang kali mau menampung kita semalam. Besok kita cari kontrakan," ujar ibu menengahi. Aku dan Amy pun mengangguk. 

Nyaris jam sepuluh malam kami benar-benar keluar dari rumah sederhana itu. Rumah penuh kenangan sejak masa kecilku dulu. Kami kembali terhenti di tepi jalan, menengok rumah bercat abu muda dengan beberapa tanaman di halaman. Rumah sederhana yang dulu menjadi tempat kami berpulang, kini mau tak mau harus dilepaskan meski dengan berat hati. 

"Bu, suatu saat nanti Zizi akan belikan rumah yang lebih megah daripada ini buat ibu," ujarku pada ibu sembari memeluknya. 

Amy pun ikut mendekat minta pelukan. Lagi dan lagi kami berpelukan bersama, berusaha ikhlas meski terlampau berat. Sakit hati dan kecewa ini seolah terlalu berkarat. 

Saat masih saling peluk, kulihat Bi Siti keluar pintu. Dengan angkuhnya menatap kami yang masih di tepi jalan. Kedua tangannya berkacak pinggang lalu mengomel entah apa ke arah kami yang masih sesenggukan. 

"Kita pergi sekarang. Jangan sampai tetangga pada keluar," titah ibu. 

"Bi Marni mungkin juga dengar pertengkaran tadi, Bu. Secara rumahnya paling dekat dengan kita," balasku sembari melangkah pelan. 

"Bi Marni ke rumah anaknya tadi pagi. Ada acara aqiqah di sana, katanya. Semoga saja nggak ada yang mendengar dan nggak ada yang curiga tentang kepergian kita." 

"Kalaupun nggak curiga, mungkin sehari dua hari, Bu. Kalau Bi Siti di rumah kita setiap hari, sementara kita nggak tinggal di sana lagi tentu banyak yang curiga." Aku kembali membalas. 

"Iya, Bu. Bukannya bapak bilang besok akan menikah dengan Bi Siti? Berarti besok tetangga juga tahu kalau bapak sudah menceraikan ibu dan mengusir kita dari rumah." Amy ikut menimpali. 

"Benar juga, tapi sudahlah. Kita tak perlu lagi mencampuri urusan bapak. Yang penting sekarang kita cari tempat tidur dulu. Besok kalian juga masih sekolah, jangan sampai tidur telat." 

"Besok kita libur dulu saja, Bu. Kita cari kontrakan sama-sama. Apa ibu masih punya simpanan uang?" tanyaku kemudian. 

"Nggak ada, Zi. Tadi masih lima puluh ribu, tapi sudah habis buat belanja singkong dan bumbu balado. Mana singkongnya nggak kamu bawa kan?" Ibu menatapku tak bersemangat. 

"Maaf tadi nggak sempat mikirin singkong, Bu. Besok kita belanja lagi saja. Kebetulan Zizi ada sedikit tabungan sama uang jualan siang tadi. Jadi, kita masih punya bekal." 

"Jadi, Mbak Zizi mau bongkar celengannya? Nggak jadi buat beli handphone?" tanya Amy polos.

"Nggak, Dek. Kondisi kita sekarang sedang tak memungkinkan, jadi kita pakai dulu uang ini. Nanti kalau ada rezeki lagi kita pasti bisa beli handphone kok. Kamu yang sabar ya? Jangan lupa doa biar Allah senantiasa memperlancar rezeki kita." 

Kuusap pelan pipi Amy yang gembul. Adik semata wayangku itupun mengangguk seraya mengaminkan doaku. Tak hanya Amy, ibu pun melakukan hal yang sama. 

Beban yang kami pikul saat ini memang terlampau berat, tapi saat dipikul bersama InsyaAllah akan jauh lebih ringan. Beruntung Amy cukup dewasa dan memahami masalah ini. Dia tak merajuk, tak pula banyak drama saat ibu memilih berpisah dan pergi dari rumah. 

"Kita jalan kaki saja ya, biar lebih hemat karena nggak perlu pesen ojek. Lagipula rumah Bi Ambar cuma beda desa, tak terlalu jauh. Paling setengah jam sampai sana. Kalau kalian capek, kita bisa istirahat dulu," ujar ibu sambil menghela napas panjang. 

"Tenaga kami masih cukup banyak dan kuat, Bu. Ibu tenang saja. Kami justru mengkhawatirkan ibu karena ibu jarang jalan kaki sejauh ini. Biasanya kan naik sepeda," balas Amy dengan terus melangkahkan kakinya. 

"Ibu kuat kok. Anggap saja olah raga malam. Ibu kan jarang olah raga." 

"Ibu selalu masak, beberes rumah, mencuci dan menyetrika baju, mengolah singkong jadi keripik, membersihkan halaman dan menyiram tanaman tiap hari. Itu juga disebut olah raga, Bu. Kan mengeluarkan keringat, bahkan lebih capek. Jadi, ibu yang paling rajin olah raga dibandingkan Amy dan Mbak Zizi. Iya kan, Mbak?" Ibu tersenyum mendengar penjelasan Amy, begitu pula denganku. 

Perjalanan malam ke rumah Bi Ambar tak terlalu melelahkan karena Amy cerita banyak hal tentang Nayla yang lucu dan baik hati, katanya. Sesekali kulirik ibu yang tersenyum tipis mendengar cerita anak bungsunya. Kadang ibu juga sedih saat Amy dibully teman-temannya di sekolah. 

"Akhirnya sampai juga," ucap ibu saat kami sudah berdiri di depan gerbang rumah Bi Ambar. 

Pintunya tertutup rapat. Wajar, ini sudah terlalu malam, tapi masih terdengar suara televisi di ruang tengah mereka. 

"Sepertinya ada yang belum tidur, Bu. Apa kita tekan belnya saja?" tanyaku minta persetujuan ibu. Ada bel rumah yang menempel di tembok gerbang. Amy sudah tak sabar ingin menekannya karena ibu masih berpikir lagi. 

"Kenapa, Bu?" tanyaku lagi. Ibu mendongak lalu menggeleng pelan. 

"Tekan saja belnya. Semoga malam ini Bi Ambar bisa menampung kita." 

Aku dan Amy mengaminkan harapan ibu, meski rasanya kami sama-sama meragu. Aku yakin Bi Siti sudah menceritakan banyak hal tentang masalah ini pada adik perempuannya itu. Seperti biasa dengan bumbu-bumbu merasa paling menderita dan terdzalimi. Bi Siti memang pakar sandiwara, bisa dengan mudah memutar balikkan fakta. 

"Siapa sih Malam-malam begini bertamu? Kaya nggak ada waktu besok pagi aja!" 

Suara itu tiba-tiba terdengar di teras rumah. Bi Ambar keluar memakai piyama coklat muda sembari membenarkan rambut panjangnya. Dia melangkah tergesa ke arah gerbang, membuat Amy mundur seketika. Seperti biasa saat ketakutan dia bersembunyi di balik punggungku. 

"Assalamualaikum, Bi. Maaf kalau kami mengganggu," ujarku saat gerbang yang cukup tinggi itu terbuka sebagian. 

Seperti yang kuduga, tak tampak keterkejutan di wajah cantiknya. Aku yakin Bi Siti pasti sudah cerita banyak hal padanya. 

"Benar yang dikatakan Siti. Kalian pasti ke sini. Mau numpang tidur?" tanya Bi Ambar sembari melipat tangannya ke dada. 

Ibu menghela napas panjang lalu menarik lenganku ke belakang. 

"Maafkan kami, Mbar. Tolong, malam ini saja. Biarkan kami menginap di rumahmu. Besok pagi saat subuh tiba kami akan pergi dari sini. Percayalah," ucap ibu sedikit mengiba, namun Bi Ambar memang tak peka. Dia justru menepis tangan ibu saat akan menyalaminya. 

"Maaf ya, Mbak. Aku nggak mau ikut campur masalahmu dengan Siti ataupun Mas Ridwan. Bukannya apa, aku malas ribut. Jadi, aku nggak mau menampung kalian malam ini. Cari tempat lain sajalah. Jangan cari aku lagi!" ucap Bi Ambar buru-buru menutup gerbang dan menguncinya kembali. Langkahnya terdengar tergesa menuju pintu utama lalu menutupnya keras. 

Kuhela napas panjang. Ibu dan Amy pun melakukan hal yang sama. Seperti yang kupikirkan sebelumnya, mana mungkin Bi Ambar peka dan mau memberikan tumpangan untuk kami meski hanya semalam saja. Sejak dulu sikapnya tak jauh berbeda dengan Bi Siti. Egois dan licik. 

"Ikut ibu. Kita akan menginap di sana malam ini," ujar ibu memecah keheningan yang sempat terjadi. Aku dan Amy saling tatap lalu sama-sama mengangkat bahu. Kami tak tahu akan dibawa ibu kemana dan ke rumah siapa. Yang jelas, kami sama-sama mengikuti langkah ibu yang sedikit tergesa. 

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Happy Adriana
lanjut kak... terimakasih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   TAMAT

    "Ibu merestui hubunganmu dengan Zaki, Zi. Ibu tahu Zaki anak yang baik, tulus, pengertian dan pekerja keras. InsyaAllah kelak dia akan membuatmu bahagia. Tapi, kalau kedua orang tuanya tak merestui, sebaiknya kamu berhenti sampai di sini. Walau bagaimanapun, ridho orang tua adalah ridhoNya. Yakin saja jika kalian memang berjodoh, kelak pasti akan dipersatukan juga. Kalau berpisah, berarti kalian memang tak ditakdirkan bersama dan kelak akan dipertemukan dengan jodoh kalian masing-masing. Jodoh yang terbaik menurutNya."Pesan Sri waktu itu kembali terngiang di benak Zizi. Kedua matanya berkaca tiap kali mengingat momen itu. Di saat orang tua Zaki berusaha menjauhkannya bahkan sengaja mengirim Zaki ke luar negeri dengan alasan study. Namun, kini semua kesakitan itu dibayar lunas.Senyum dan tawa terlihat begitu jelas di wajah kedua orang tua Zaki detik ini. Pun senyum tulus ibunya bahkan kini lengkap dengan bapak dan bibinya. Tak ketinggalan celoteh riang Amy dan Mira, sepupunya.Merek

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Tak Disangka

    "Bibi? Mira?" pekik Amy saat akan keluar kontrakan. Gadis kecil itu teramat kaget melihat bibi dan sepupunya datang. Amy juga tak menyangka jika akhirnya kembali bertemu dengan mereka detik ini setelah sekian lama tak bersua. "Ibu ada, My?" tanya Siti dengan senyum tipis. Tak seperti sebelumnya yang selalu terlihat sinis, saat ini Siti terlihat lebih santun dan manis. "Ada, Bi. Ibu masih di dapur," ujar Amy sembari mempersilakan dua tamunya itu masuk ke kontrakan. Keduanya duduk lesehan di karpet yang memang sudah disediakan untuk para tamu di ruangan paling depan. Amy buru-buru melangkah ke ruangan terakhir di kontrakan itu yang dijadikan dapur dan kamar mandi. "Bu, ada Bi Siti sama Mira," ujar Amy lirih pada ibunya yang masih membuat pisang goreng. Hari ini mereka memang tak berjualan. Zizi masih sibuk di kampus karena mulai mengurus skripsinya. Sri tak tega melihat Amy yang kelelahan karena baru saja pulang dari kegiatan campingnya di sekolah. "Mbak ...." Tiba-tiba Siti jongk

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Pesan Istimewa

    Hari terus bergulir. Semakin berjalannya waktu, Zizi terlihat semakin bersemangat dan bahagia menjalani hari-harinya. Berkali-kali istikharah, akhirnya dia memantapkan hati untuk memilih Zaki. Zaki emang cinta pertamanya dan mungkin karena itu pula sulit terhapus dalam ingatan. Zizi tak tahu apakah jawaban istikharahnya kali ini benar-benar tepat atau semua itu karena hatinya memang lebih condong ke Zaki, tapi dia memasrahkan semua padaNya. Entah bagaimana nanti endingnya, dia tetap yakin jika semua itu akan indah di saat yang tepat. "Zi, mau kemana?" Zayyan membuka kaca mobil sebelum masuk ke halaman rumahnya. Dia tersenyum tipis saat melihat Zizi keluar dari kontrakan dengan motor maticnya. "Mau jalan-jalan sama Aina, Mas. Baru pulang dari cafe?" tanya Zizi begitu sopan. "Iya, Zi. Kebetulan cafe disewa teman untuk acara spesial istrinya nanti malam. Jadi, setelah bantu-bantu beresin ini itu usai, aku pulang dulu." Zizi manggut-manggut mendengar balasan Zayyan. Hubungannya denga

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Saatnya Memilih

    Dokter yang menangani Delima keluar dari UGD. Dia memanggil Bima lalu menjelaskan kondisi Delima yang kini sudah melewati masa kritisnya. "Alhamdulillah, Dok. Bersyukur sekali istri saya sudah melewati masa kritis itu. Saya benar-benar lega mendengarnya." Bima tersenyum tipis. Kedua matanya berkaca saking bahagianya. "Alhamdulillah." Tiga anak muda.di samping Bima itupun mengucap Hamdallah bersama. "Sekarang Ibu Delima masih istirahat. Mohon jangan diganggu dulu ya, Pak. Kalau mau jenguk silakan, sebaiknya bergantian supaya tak mengganggu istirahat pasien." Dokter mengingatkan. Mereka pun kompak mengangguk. "Mau ikut jenguk mamanya Zaki bareng Om, Zi?" "Memangnya boleh, Om?" tanya Zizi dengan wajah polosnya. "Boleh dong. Kamu pasti juga pengin tahu keadaan mamanya Zaki sekarang kan?" Zizi mengangguk cepat. "Ayo." Bima kembali mengajak Zizi, Zayyan pun mengangguk pelan. "Na, aku masuk dulu ya?" Aina mengangguk lalu kembali duduk di kursi tunggu, sementara Zayyan memilih berdiri

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Minta Maaf dan Memaafkan

    "Zi, are you okay?" lirih Zayyan saat melihat Zizi begitu lemas setelah mendonorkan darahnya untuk Delima. Zizi hanya mengangguk pelan lalu mengikuti Zayyan dan Aina yang membantunya duduk di kursi tunggu. "Minum susunya, Zi. Biskuit sama telur rebusnya juga habiskan biar nggak lemas," pinta Zayyan sembari membuka biskuit keju itu. Tak banyak bicara, Zizi mengikuti perintah Zayyan dan Aina. Dia mulai minum susu dan sebutir telur rebus yang dibeli oleh Zayyan tadi. "Aku kupasin yang ini mau?" ujar Zayyan menunjuk telur rebus yang tersisa. Zizi menggeleng pelan. "Sudah kenyang, Mas. Buat nanti aja. Makasih ya.""Sama-sama, Zi. Justru aku yang makasih karena kamu sudah menyelamatkan Tante Delima. Benar kan, Om?" Zayyan sengaja minta pendapat Bima yang sedari tadi masih terdiam memperhatikan Zizi. "Iya, Zay. Alhamdulillah ada Zizi, kalau nggak entah gimana nasib tantemu. Mana hujan masih deras mengguyur.""Saya hanya membantu sedikit, Om. Selebihnya karena Allah.""Iya, tapi kamu pe

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Menyadari Kesalahan

    "Kenapa bingung begitu?" tanya Aina lagi. Sebagai seorang sahabat, Aina paham betul perasaan Zizi saat ini. Hanya saja, dia mencoba mencairkan keheningan yang ada, meminta Zizi agar mau menceritakan kegelisahannya. Mungkin dengan bercerita, Zizi akan jauh lebih tenang dibandingkan sekarang. "Aku masih bingung bagaimana caranya menghadapi papa dan mamanya Zaki nanti, Na. Kamu tahulah gimana posisiku saat ini. Meski sudah lama tak berhubungan dengan Zaki, tapi-- Zizi menjeda kalimatnya. Dia kembali menghela napas panjang lalu memejamkan mata beberapa saat. "Jika jodoh tak akan kemana, Zi. Yakinlah." Aina mengusap lengan sahabatnya untuk menenangkan. Zizi tersenyum lalu mengangguk pelan. Sejak Zaki memergokinya jalan dengan Zayyan di mall waktu itu, Zaki memang benar-benar menghilang. Zaki tak menghubunginya via email beberapa minggu, sampai akhirnya Zizi memilih tak lagi membuka email-nya karena takut kecewa. Bahkan dia membuat email untuk keperluan kuliahnya. Zizi merasa bersalah

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Duda Tampan Itu Bernama Zayyan

    "Saya yakin bukan karena nasi rames yang Bu Sri jual. Buktinya suami saya makan juga nggak ada masalah. Kalau memang beracun harusnya semua yang makan nasi itu ikut keracunan dong. Nyatanya apa? Cuma anak dan suami ibu ini saja. Iya kan?" Tetangga lain ikut berkomentar. Mereka saling mengiyakan, me

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Hadiah Spesial

    Di lain tempat, Ridwan menghela napas lega saat membaca balasan dari anak sulungnya. Kedua matanya berkaca saking bahagianya. Semangatnya membara untuk lebih dekat dengan kedua anak perempuannya itu. Meski kini tinggal sendirian di kontrakan, Ridwan merasa lebih tenang. Dia bisa fokus bekerja dan m

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Balasan Telak dari Amy

    "Anak sama suami saya muntah-muntah setelah makan nasi rames buatannya, Mas. Saya nggak mau tahu, dia harus tanggungjawab!" sentak wanita berhijab coklat itu lagi setelah duduk di ruang tamu Santi. Di sana sudah ada keluarga Zizi dan beberapa tetangga yang ingin tahu permasalahan mereka. "Ibu sud

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Kejutan dari Zaki

    Bulan telah berganti. Ujian sekolah pun sudah terlewati dengan baik. Semua siswa lulus dengan hasil yang pasti berbeda. Zizi masih menempati urutan pertama dengan nilai nyaris sempurna. Dia bahkan mendapatkan beasiswa untuk jenjang pendidikan berikutnya. Hari ini semua siswa saling bergerombol mem

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status