공유

BAB 6

작가: NawankWulan
last update 게시일: 2026-02-06 23:59:45

"Apa kubilang, Mbak? Mas Ridwan pasti lebih memilih aku dibandingkan kamu dan dua anak pembangkangmu itu," ujar Bi Siti sembari membusungkan dada.

Tampak jelas raut bangga dan bahagia di wajah cantiknya. Kecantikan yang sia-sia karena hanya dipakai untuk menjerat lelaki orang.

"Ambil saja bapakku, Bi. Kami butuh lelaki yang tanggungjawab lahir batin, bukan lelaki yang gemar berbagi hati dengan perempuan lain." Aku membalas santai di saat ibu masih menghela napas panjang, berusaha menenangkan batinnya yang terguncang.

"Apa maksudmu ngomong begitu, heh?! Dasar anak ingusan, sok ikut campur urusan orang tua. Kamu tahu apa soal tanggungjawab!" Bibi tak mau kalah.

"Tanggungjawab seorang suami itu menafkahi istrinya, bukan adik iparnya. Tanggungjawab seorang bapak itu menafkahi anaknya, bukan anak adik iparnya!" sahutku menggebu.

"Sudah, sudah, Zi. Kali ini ibu juga sudah angkat tangan. Biar saja bapak menikah dengan bibi. Lebih baik ibu mengalah. Kamu nggak apa-apa kan?" Ibu mengusap lenganku pelan.

"Nggak apa-apa banget, Bu. Bukannya sejak dulu Zizi minta ibu mengambil sikap tegas? Zizi justru lebih senang kalian berpisah daripada terus menerus lihat ibu menangis sendirian saat tengah malam."

Ibu cukup kaget mendengar ucapanku. Mungkin selama ini ibu pikir aku tak tahu tentang isak tangisnya di sepertiga malam, padahal aku sering kali terjaga tiap kali dia mulai keluar kamar dan mengambil wudhu untuk shalat malam. Begitulah ibu, selalu berusaha baik-baik saja di depan anak-anaknya dan di depan banyak orang, padahal dalam hatinya nelangsa karena ulah bapak.

"Belagu banget jadi anak. Kamu itu nggak punya apa-apa, sekolah saja belum lulus sudah sok-sok an mau jaga ibumu. Makan sendiri saja nggak becus kok berlagak nggak butuh sosok bapak!" Bapak meradang mendengar keputusanku yang mendukung ibu sepenuhnya.

"Buat apa ada sosok bapak, toh selama ini bapak nggak pernah mengharapkan kehadiranku dan Amy. Bapak tak menginginkan anak perempuan, makanya jadi semena-mena begini. Iya kan?" Aku menimpali.

Jujur selama ini aku tak pernah berani membantah apalagi menyangkal titah bapak, tapi rasa kesal dan kecewa ini makin lama semakin bertambah. Aku emosi tiap kali melihat ibuku menangis lagi dan lagi.

Aku kecewa, sakit hati dan nelangsa tiap melihat Amy iri dengan teman-temannya, apalagi dengan Mira yang begitu disayang bapak. Mira dan Amy sebaya, makanya wajar jika kadang Amy tak terima melihat bapak kandungnya lebih menyayangi orang lain dibandingkan anak kandungnya sendiri.

"Kalau memang itu keputusanmu, kita cerai sekarang juga," ujar bapak lagi.

"Silakan ceraikan aku, Pak. Aku sudah ikhlas sekarang. Semoga bapak ridho dengan kesabaran dan kesetiaanku selama ini. Maaf kalau belum bisa menjadi istri yang baik, tapi aku benar-benar sudah berusaha. Semoga bapak lebih bahagia bersama Siti nantinya," ujar ibu dengan berurai air mata.

Meski ibu sudah berusaha mengikhlaskan, tapi rasa sakitnya tentu tak mudah begitu saja terlupakan. Apalagi saat dia tahu siapa yang menjadi selingkuhan bapak selama ini.

"Jangan menyesal jika nanti kita sudah cerai, Sri. Jangan salahkan aku, kamu sendiri yang minta pisah!"

"InsyaAllah ini keputusan terbaik, Pak. Aku akan lebih ikhlas menerima semuanya. Tenang saja, aku tak akan terus menyalahkanmu. Mungkin memang aku belum bisa menjadi yang terbaik, makanya kamu berpaling ke lain hati."

"Baguslah kalau kamu tahu diri!" Bapak merasa di atas awan karena ibu selalu menyalahkan dirinya sendiri. Bapak tak pernah introspeksi, sementara ibu selalu berusaha mengontrol emosinya sendiri.

"Ibu sudah berusaha yang terbaik, bapak saja yang kurang peka dan tak pernah mau introspeksi." Aku menyahut. Tak tega melihat ibu selalu disalahkan dan merasa bersalah seperti ini.

"Didik anakmu dengan baik supaya jadi anak yang benar. Jangan bikin malu keluarga, apalagi orang tua!" tunjuk bapak persis ke wajahku.

"Zizi dan Amy adalah anak-anak yang shalihah, andai kamu memahami bagaimana sikap mereka sehari-hari. Sayangnya selama ini kamu yang tak peka dan tak peduli keadaan mereka, Pak. Di matamu mereka selalu buruk dan keliru," lirih ibu membuat kedua mataku kembali mengembun.

"Bela saja terus! Makanya jadi anak pembangkang karena ibunya selalu memanjakan mereka. Bener nggak, Mas?" Kali ini Bi Siti ikut menimpali.

"Kami nggak pernah minta ini dan itu, apalagi manja. Mana pernah kami main-main sesuka hati seperti anak-anak lain. Kami sibuk jualan tiap pulang sekolah. Kami juga bantu ibu mengolah singkong saat libur tiba. Mungkin justru bibi yang sering memanjakan anak. Hati-hati nanti kualat sendiri, Bu," ujar Amy yang sedari tadi menangis dalam diam.

Aku tahu rasa kecewa dan sakit hatinya teramat dalam saat dia melihat bagaimana sikap bapak pada Mira, bahkan saat gadis kecil itu dibelikan handphone dan sepeda oleh bapak. Dua benda berharga yang selama ini diidamkan Amy, tapi belum pernah didapatkannya.

"Lihat mereka, Mas! Anak-anakmu memang kurang ajar. Nggak tahu sopan santun. Lekas ceraikan Mbak Sri supaya mereka cepat pergi dari sini!" Bi Siti mendengkus kesal.

"Ini rumah bapak dan ibuku. Kalau memang kalian mau menikah, kalian yang pergi dari sini. Bukankah bibi sudah merebut rumah peninggalan kakek? Masa iya mau merampas rumah ini juga. Jangan serakah, takutnya bumi pun nggak mau menerima saat akan dikubur di liang lahat."

"Azizah!" Bapak menggebrak meja, membuat Amy terlonjak lalu memelukku seketika.

"Semakin nggak waras kamu ya! Anak durhaka!" Bibi tak mau kalah. Wajahnya merah padam menahan amarah. Kalau nggak ada ibu, kuyakin tangannya sudah meluncur ke pipiku.

"Ini memang rumah kami, tapi sudah bapak ganti dengan nama bibimu. Jadi, kalian yang pergi dari sini."

"Astaghfirullah, Pak." Ibu shock. Air matanya menetes seketika saat mendengar ucapan bapak.

"Makanya jangan pada belagu. Kalau kalian memang nggak mau diatur, lekas pergi dari sini! Satu lagi, jangan pernah menyesal dengan keputusan yang kalian buat sendiri." Bapak melipat tangannya ke dada seolah bangga dengan kemenangannya detik ini.

"Kalau memang nggak mau jadi gelandangan, silakan numpang di sini. Aku nggak masalah asalkan kalian mau bantu-bantu urus rumah."

"Maksud bibi apa? Mana mungkin ibuku menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Jangan mimpi!" sentakku tak terima.

"Gimana ini, Mbak? Apa yang harus kita lakukan? Apa benar kita akan jadi gelandangan seperti yang dikatakan bibi barusan?" Amy merengek takut, sementara ibu menatapku dan Amy bergantian.

Apa ibu akan menarik ucapannya kembali dan lebih memilih menjadi pembantu di rumahnya sendiri agar kami tak diusir dari rumah ini?

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   TAMAT

    "Ibu merestui hubunganmu dengan Zaki, Zi. Ibu tahu Zaki anak yang baik, tulus, pengertian dan pekerja keras. InsyaAllah kelak dia akan membuatmu bahagia. Tapi, kalau kedua orang tuanya tak merestui, sebaiknya kamu berhenti sampai di sini. Walau bagaimanapun, ridho orang tua adalah ridhoNya. Yakin saja jika kalian memang berjodoh, kelak pasti akan dipersatukan juga. Kalau berpisah, berarti kalian memang tak ditakdirkan bersama dan kelak akan dipertemukan dengan jodoh kalian masing-masing. Jodoh yang terbaik menurutNya."Pesan Sri waktu itu kembali terngiang di benak Zizi. Kedua matanya berkaca tiap kali mengingat momen itu. Di saat orang tua Zaki berusaha menjauhkannya bahkan sengaja mengirim Zaki ke luar negeri dengan alasan study. Namun, kini semua kesakitan itu dibayar lunas.Senyum dan tawa terlihat begitu jelas di wajah kedua orang tua Zaki detik ini. Pun senyum tulus ibunya bahkan kini lengkap dengan bapak dan bibinya. Tak ketinggalan celoteh riang Amy dan Mira, sepupunya.Merek

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Tak Disangka

    "Bibi? Mira?" pekik Amy saat akan keluar kontrakan. Gadis kecil itu teramat kaget melihat bibi dan sepupunya datang. Amy juga tak menyangka jika akhirnya kembali bertemu dengan mereka detik ini setelah sekian lama tak bersua. "Ibu ada, My?" tanya Siti dengan senyum tipis. Tak seperti sebelumnya yang selalu terlihat sinis, saat ini Siti terlihat lebih santun dan manis. "Ada, Bi. Ibu masih di dapur," ujar Amy sembari mempersilakan dua tamunya itu masuk ke kontrakan. Keduanya duduk lesehan di karpet yang memang sudah disediakan untuk para tamu di ruangan paling depan. Amy buru-buru melangkah ke ruangan terakhir di kontrakan itu yang dijadikan dapur dan kamar mandi. "Bu, ada Bi Siti sama Mira," ujar Amy lirih pada ibunya yang masih membuat pisang goreng. Hari ini mereka memang tak berjualan. Zizi masih sibuk di kampus karena mulai mengurus skripsinya. Sri tak tega melihat Amy yang kelelahan karena baru saja pulang dari kegiatan campingnya di sekolah. "Mbak ...." Tiba-tiba Siti jongk

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Pesan Istimewa

    Hari terus bergulir. Semakin berjalannya waktu, Zizi terlihat semakin bersemangat dan bahagia menjalani hari-harinya. Berkali-kali istikharah, akhirnya dia memantapkan hati untuk memilih Zaki. Zaki emang cinta pertamanya dan mungkin karena itu pula sulit terhapus dalam ingatan. Zizi tak tahu apakah jawaban istikharahnya kali ini benar-benar tepat atau semua itu karena hatinya memang lebih condong ke Zaki, tapi dia memasrahkan semua padaNya. Entah bagaimana nanti endingnya, dia tetap yakin jika semua itu akan indah di saat yang tepat. "Zi, mau kemana?" Zayyan membuka kaca mobil sebelum masuk ke halaman rumahnya. Dia tersenyum tipis saat melihat Zizi keluar dari kontrakan dengan motor maticnya. "Mau jalan-jalan sama Aina, Mas. Baru pulang dari cafe?" tanya Zizi begitu sopan. "Iya, Zi. Kebetulan cafe disewa teman untuk acara spesial istrinya nanti malam. Jadi, setelah bantu-bantu beresin ini itu usai, aku pulang dulu." Zizi manggut-manggut mendengar balasan Zayyan. Hubungannya denga

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Saatnya Memilih

    Dokter yang menangani Delima keluar dari UGD. Dia memanggil Bima lalu menjelaskan kondisi Delima yang kini sudah melewati masa kritisnya. "Alhamdulillah, Dok. Bersyukur sekali istri saya sudah melewati masa kritis itu. Saya benar-benar lega mendengarnya." Bima tersenyum tipis. Kedua matanya berkaca saking bahagianya. "Alhamdulillah." Tiga anak muda.di samping Bima itupun mengucap Hamdallah bersama. "Sekarang Ibu Delima masih istirahat. Mohon jangan diganggu dulu ya, Pak. Kalau mau jenguk silakan, sebaiknya bergantian supaya tak mengganggu istirahat pasien." Dokter mengingatkan. Mereka pun kompak mengangguk. "Mau ikut jenguk mamanya Zaki bareng Om, Zi?" "Memangnya boleh, Om?" tanya Zizi dengan wajah polosnya. "Boleh dong. Kamu pasti juga pengin tahu keadaan mamanya Zaki sekarang kan?" Zizi mengangguk cepat. "Ayo." Bima kembali mengajak Zizi, Zayyan pun mengangguk pelan. "Na, aku masuk dulu ya?" Aina mengangguk lalu kembali duduk di kursi tunggu, sementara Zayyan memilih berdiri

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Minta Maaf dan Memaafkan

    "Zi, are you okay?" lirih Zayyan saat melihat Zizi begitu lemas setelah mendonorkan darahnya untuk Delima. Zizi hanya mengangguk pelan lalu mengikuti Zayyan dan Aina yang membantunya duduk di kursi tunggu. "Minum susunya, Zi. Biskuit sama telur rebusnya juga habiskan biar nggak lemas," pinta Zayyan sembari membuka biskuit keju itu. Tak banyak bicara, Zizi mengikuti perintah Zayyan dan Aina. Dia mulai minum susu dan sebutir telur rebus yang dibeli oleh Zayyan tadi. "Aku kupasin yang ini mau?" ujar Zayyan menunjuk telur rebus yang tersisa. Zizi menggeleng pelan. "Sudah kenyang, Mas. Buat nanti aja. Makasih ya.""Sama-sama, Zi. Justru aku yang makasih karena kamu sudah menyelamatkan Tante Delima. Benar kan, Om?" Zayyan sengaja minta pendapat Bima yang sedari tadi masih terdiam memperhatikan Zizi. "Iya, Zay. Alhamdulillah ada Zizi, kalau nggak entah gimana nasib tantemu. Mana hujan masih deras mengguyur.""Saya hanya membantu sedikit, Om. Selebihnya karena Allah.""Iya, tapi kamu pe

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Menyadari Kesalahan

    "Kenapa bingung begitu?" tanya Aina lagi. Sebagai seorang sahabat, Aina paham betul perasaan Zizi saat ini. Hanya saja, dia mencoba mencairkan keheningan yang ada, meminta Zizi agar mau menceritakan kegelisahannya. Mungkin dengan bercerita, Zizi akan jauh lebih tenang dibandingkan sekarang. "Aku masih bingung bagaimana caranya menghadapi papa dan mamanya Zaki nanti, Na. Kamu tahulah gimana posisiku saat ini. Meski sudah lama tak berhubungan dengan Zaki, tapi-- Zizi menjeda kalimatnya. Dia kembali menghela napas panjang lalu memejamkan mata beberapa saat. "Jika jodoh tak akan kemana, Zi. Yakinlah." Aina mengusap lengan sahabatnya untuk menenangkan. Zizi tersenyum lalu mengangguk pelan. Sejak Zaki memergokinya jalan dengan Zayyan di mall waktu itu, Zaki memang benar-benar menghilang. Zaki tak menghubunginya via email beberapa minggu, sampai akhirnya Zizi memilih tak lagi membuka email-nya karena takut kecewa. Bahkan dia membuat email untuk keperluan kuliahnya. Zizi merasa bersalah

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Sebuah Janji

    "Pagi, Zi." Nyaris setiap pagi aku mendengar sapaan itu darinya. Meski berusaha menghindar, tetap saja akan bertemu karena aku dan Zaki memang sekelas. "Pagi," balasku singkat. "Sarah bilang kamu mau ketemu denganku. Benar?" Aku mengangguk lalu memintanya sedikit bersembunyi di belakang laborato

    last update최신 업데이트 : 2026-03-18
  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Membalas Tukang Fitnah

    "Ibu mana, Dek? Kok nggak ada di kontrakan?" tanyaku pada Amy yang masih menyetrika baju di lantai. "Amy juga nggak tahu, Mbak. Ibu sudah nggak di kontrakan saat Amy pulang. Kunci kontrakannya saja dititip ke Bu Santi." Aku bergeming lalu duduk di samping Amy. Keringat lelah mulai muncul di dahi

    last update최신 업데이트 : 2026-03-19
  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Kembali Berulah

    "Seharusnya kita yang tanya apa dia baik-baik saja, kenapa justru dia yang tanya keadaan kamu sih, Zi?" omel Sarah. "Mana kutahu. Tanya saja sama dia," sambungku sembari melanjutkan langkah menuju gerbang sekolah. "Kira-kira dia sakit apa ya? Kemarin masih terlihat biasa saja." "Nggak tahu, Sar.

    last update최신 업데이트 : 2026-03-19
  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Perempuan Tak Punya Hati

    "Mbak Zizi nggak apa-apa?" tanya Amy tiba-tiba setelah kami nyaris sampai depan sekolah. Sekolah SMAku yang katanya favorit itu. "Nggak apa-apa, Dek. Bukannya kamu sudah tahu dari dulu kalau teman sekolah Mbak itu memang begitu?" lirihku dengan senyum tipis. Meski gemuruh dalam dada masih terasa,

    last update최신 업데이트 : 2026-03-20
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status