Partager

Malaikat Penolong

Auteur: Rizka Fhaqot
last update Date de publication: 2023-01-31 09:39:03

Rumi kembali melangkah. Air matanya seolah tak ingin surut hingga detik ini. Hatinya terlalu berat untuk pergi karena cinta yang masih tertinggal di rumah itu.

'Entah siapa dalang dari semua ini?' Batih Rumi menebak-nebak siapa yang membencinya di rumah ini. Namun ia tak menemukan alasan. Di rumah ini hanya ada mereka bertiga. Akbar, dirinya, dan Astuti—ibu mertuanya.

Apakah ini ulah Astuti? Rumi menggeleng cepat. Perempuan paruh baya itu begitu menyayanginya. Tak pernah ia dapati mertua satu-satunya itu berlaku tak pantas terhadapnya.

'Mungkinkah ini ulah Laras?' batinnya kembali berbisik. Nama yang timbul di kepalanya saat ini membuatnya tak mampu untuk menepisnya.

Laras adalah mantan istri suaminya, dan satu-satunya orang yang begitu membenci Rumi yang Rumi tahu. Namun, bagaimana Laras bisa melakukannya, sedangkan kunci rumah hanya ada pada Akbar, mertuanya, serta dirinya sendiri.

'Rasanya Mama tak mungkin bersekongkol dengan Laras?'

Rumi menepis dugaannya. Ia sangat paham jika Astuti tidak begitu menyukai Laras bahkan sejak Laras masih sah berstatus istri Akbar. Yang Rumi tau, Laras istri yang kurang menghargai suami, lebih lagi ia pernah ketahuan berselingkuh saat masih bersama Akbar.

Sebaliknya, mertuanya itu begitu menyayangi Rumi. Astuti dan Rumi tak ubah ibu dan anak. Jika orang tidak mengenali mereka, pasti akan mengira Astuti dan Rumi adalah anak dan ibu kandung.

Bergegas Rumi mengusir bayangan Laras, khawatir jatuhnya fitnah seandainya Laras sama sekali tak melakukan apa yang ia pikirkan.

'Kalau bukan Laras siapa lagi?'

Lagi dan lagi, Rumi kesulitan mengenyahkan bayangan perempuan berambut sebahu itu..

Sejak awal ia menikah dengan Akbar, Laras sudah menampakkan rasa benci pada Rumi karena Laras masih sangat mencintai Akbar.

Mendung bergelayut manja. Rintik hujan perlahan mulai turun, menciptakan malam yang kian terasa suram. Rumi kini mulai melangkah pergi, meninggalkan sejuta kenangan indah yang enam bulan terakhir ia rasakan.

*

Malam kian beranjak ke tengah. Rintik gerimis mulai turun ke bumi. Desau angin malam berbisik lirih di telinga Rumi, menyapu kerudung lebar pembungkus kepalanya. Wajah Rumi masih sembab, seiring air mata yang sulit untuk bisa ia hentikan.

Kakinya terus melangkah menjauh dari kenangan manis yang kini membuat sesak dadanya. Entah ke mana ia akan pergi. Rumi tak tahu pasti. Terbersit ingin kembali ke rumah di mana ia dibesarkan dulu. Namun, ia sadar jika telah melupakan sesuatu.

Rumi terdiam ketika melewati deretan ruko penjual makanan yang masih terbuka. Memorinya berputar mengingat ponsel miliknya yang tengah mengisi daya di atas meja TV, lalu beralih pada dompet yang ia letakkan di lemari pakaian bagian atas. Ia menyadari jika dua benda penting itu kini tak satu pun ia bawa.

Tanpa benda itu ia merasakan langkahnya semakin tak terarah.

Terniat ingin kembali, sekedar mengambil benda penting itu. Namun, ia kembali mengurungkan niatnya. Kembali bertemu Akbar hanya akan membuat hatinya akan semakin luka.

Hilangnya kepercayaan di hati laki-laki itu terhadapnya, membuat Rumi tak ingin terlihat seperti pengemis yang mengharapkan belas kasih mantan suaminya itu.

Jika saja Akbar tak mengusirnya malam ini, Rumi akan memilih tetap tinggal sampai Akbar sedikit lebih sabar dan bisa memutuskan semuanya dengan kepala dingin. Namun, semua berbeda ketika Akbar mengusirnya dengan tanpa rasa iba.

Cukup lama ia mematung di sisi jalan. Memikirkan ke mana kakinya akan melangkah. Rumi ingin pergi sejauh mungkin dari kehidupan Akbar, hingga seumur hidup ia tak pernah lagi bertemu mantan suaminya itu.

"Mau ke mana, Dek?" tanya seorang laki-laki bertampang sangar yang kini duduk di atas motor, di parkiran sebuah ruko yang sudah tutup. Rumi bergidik ngeri, sedetik setelahnya segera berlalu. Ia melangkah tak tentu arah sambil menenteng tas berisi pakaian seadanya, yang terpenting sekarang adalah terbebas dari tatapan menyeringai laki-laki itu.

Rintik hujan kini berubah menjadi tetesan-tetesan berukuran besar, hingga menciptakan suara yang memekakkan telinga. Rumi menghambur ke teras salah satu ruko yang sudah tertutup di sisi jalan, berlindung agar tak basah. Di sampingnya terdapat sebuah apotik yang memang buka 24 jam.

Bermenit-menit menunggu, hujan tak kunjung reda. Namun, malam kian berjalan ke tengah, membuat Rumi tak bisa berdiam diri di tempat ini.

Baru saja ia akan melangkah, ketika suara yang sama kembali terdengar dari arah belakang.

"Mau ke mana, Nona Cantik?"

Laki-laki yang tadi ternyata masih mengikutinya dengan menggunakan motor.

Rumi menoleh dengan tubuh menggigil, dingin malam di bawah guyuran hujan kini menyatu dengan rasa getir.

Rumi berusaha menghindar dengan berjalan setengah berlari untuk menjauh, tatapannya fokus ke depan dengan napas memburu.

Suara deru motor terus mengejarnya, menambah rasa takut yang sedari tadi menyiksanya. Saat memasuki tempat yang lebih sepi mesin motor terhenti, berganti langkah kaki yang terdengar terburu-buru.

Detik selanjutnya dengan cepat tubuh Rumi ditarik ke belakang. Sedang sebelah tangan kekar membekap mulutnya dengan kuat.

Tenaga yang kian terkuras karena lelah dan takut, membuat Rumi tak mampu memberikan perlawanan berarti. Berpuluh menit menghabiskan tenaga dengan berjalan kaki membuat tubuhnya kian lemah.

Susah payah Rumi melakukan perlawanan ketika tubuhnya diseret memasuki sebuah lorong kecil. Namun, hasilnya ia semakin kehabisan tenaga.

Buk! Buk!

Entah dari mana suara itu berasal, yang pasti Rumi tak merasakan tubuhnya membentur sesuatu. Yang ia rasakan bekapan di mulutnya terlepas, serta cekalan tangan kekar itu melonggar.

Pukulan tangan di bagian tengkuk, membuat laki-laki itu terjengkang. Pegangan tangannya pada lengan Rumi ikut terlepas. Dalam hitungan detik kemudian pingsan. Rumi terjerembab ke tanah.

Perempuan yang hanya memiliki tinggi nadan kurang dari 155 senti meter itu berusaha bangkit untuk duduk dengan sisa tenaga yang ia punya. Melihat ke arah sosok laki-laki yang kini berdiri di bawah sinar temaram lampu jalanan.

"Pergi secepatnya dari sini!" seru laki-laki bertubuh jangkung itu pada Rumi.

Susah payah Rumi bangkit. Tubuhnya kian gemetar karena dingin dan takut masih menguasai dalam waktu bersamaan. Ia beringsut meraih tasnya.

Dalam keremangan sinar temaram, serta rinai hujan yang terus turun, Rumi berusaha mencari tahu seperti apa wajah laki-laki itu. Terlalu gelap hingga hanya bentuk hidung lancip dengan tubuh kurus tinggi saja yang dapat ia tangkap.

"Terima kasih," lirihnya dengan suara bergetar. Air matanya kembali tumpah. Ia tak tahu seperti apa bentuk wajah laki-laki itu. Yang ia tahu, ia tak ubah bak seorang malaikat penolong. Tanpa kehadirannya, Rumi tak tahu akan seperti apa sekarang, mungkin saat ini sedang menjadi pemuas nafsu laki-laki bajingan itu dan setelahnya ia akan dibuang, atau mungkin alan dilenyapkan dan esok hari akan hadir berita penemuan mayat.

"Jangan keluyuran di malam buta seperti ini, banyak mata laki-laki bajingan yang tengah mengintai," ucap laki-laki itu sambil berbalik dan melangkah pergi.

Bersambung ....

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
g sekalian aja kau mati rumi. kayak dilahirkan g punya otak kau
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Luka Terpendam

    “Nggak mungkin apanya? Dia cantik, keliatan adem juga diliat. Karena nggak sebanding status sosial?” Hakim memastikan. Kali ini laki-laki itu melipat kaki kirinya di atas kursi dan duduk menghadap Firdaus. Matanya menelisik, berusaha mencari tahu alasan Firdaus yang bisa diterimanya. Firdaus menghela napas. Ia paham jika hingga detik ini status Rumi masih belum jelas. Rumi masih sah berstatus istri orang dalam pencacatan sipil, lebih lagi masa iddah Rumi masih cukup lama. “Nggak gitu juga, tapi ….”Pintu ruang praktek Ghina terbuka, membuat Firdaus tak melanjutkan ucapannya. Ghina tampak melangkah ke luar. Dalam diam Firdaus berusaha mencari keberadaan Rumi dengan ekor mata, tapi perempuan itu tak ikut keluar hingga Ghina kembali menutup pintu ruangannya. “Dia masih di dalam,” ucap Ghina dengan senyum kecil, seolah paham dengan gerak-gerik sahabat sang suami. “Nah, apa kataku juga, kamu naksir dia,” goda Hakim sambil menepuk cukup keras pahanya sendiri sambil terkekeh. Firdaus ter

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Maukah Kau Menikah Denganku?

    Bergegas Rumi meneguk minumannya. Jujur saja, kalimat Firdaus barusan mampu membuatnya tersentak. Hati Rumi tergelitik untuk bertanya, apa yang diketahui laki-laki itu tentangnya lewat Mbok Sumi, hanya saja ia terlalu sungkan, hingga akhirnya Firdaus kembali bersuara. "Jangan banyak pikiran, supaya bayimu sehat. Jangan khawatirkan tentang tempat tinggal dan kehidupanmu selanjutnya. Jika kau bersedia, tetaplah tinggal di rumah itu dan menganggap Asya seperti anak kandungmu sendiri, meski kelak setelah kamu memiliki anak dari rahimmu sendiri." Suara Firdaus terdengar sedikit serak. Hatinya berdesir hebat setiap berada di dekat Rumi, meski sebenarnya jarak pemisah antara mereka berneter-meter. "Kurasa tidak terlalu baik jika kamu memilih untuk tinggal sendiri dalam kondisi seperti sekarang ini. Lebih lagi aku tak tega melihat Asya kembali p atah hati untuk kesekian kalinya." Rumi hanya membeku. Tatapannya jatuh pada jemari yang melingkar di pinggang botol plastik di tangannya. Fird

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Rasa yang Mulai Berkecambah

    "Apa maksudmu?" Firdaus bertanya dengan kepala setengah tertunduk. Rumi tak langsung menjawab, memilih diam beberapa saat. "Beristirahatlah di rumah, Pak. Bapak sudah sangat lelah setelah seharian bekerja, lebih lagi dalam keadaan berpuasa." Rumi berucap sepelan mungkin, berharap kalimatnya tak menyinggung perasaan Firdaus. Firdaus terdengar mendesah pelan. "Tolong jangan memintaku untuk pulang malam ini. Keadaanmu masih belum pulih, dan di sini tak ada siapapun yang menemanimu." Firdaus berucap dengan tatapan luruh di atas lantai berkeramik senada dengan warna dinding ruangan. "Maaf sebelumnya jika perkataanku membuat Bapak tak nyaman, tapi inilah adanya, kita adalah dua orang asing yang tak seharusnya berada dalam ruangan yang sama sepanjang malam, ucap Rumi dengan kepala kian tertunduk. Jujur lidahnya begitu berat untuk mengucapkan kalimat barusan, hanya saja hatinya mengatakan jika ia harus berani. "Jika memang kamu keberatan aku berada di sini, aku akan tidur di mushola

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Asya Ingin Menemani Rumi

    Suasana canggung di ruang rawat Rumi terus saja terasa semenjak pertemuan Asya dan Firdaus sejak satu jam lalu. Bahkan hingga kini, saat Firdaus mengajak Asya untuk kembali ke rumah, gadis kecil itu kembali melayangkan protesnya terhadap sang ayah. "Abi kenapa pulang? Siapa yang nungguin Ummi kalau kita pulang?" Asya menatap ke arah Firdaus dengan mata menyipit, merasa tak terima dengan ajakan sang ayah. Firdaus berjongkok di depan sang anak, dua tangannya menyentuh bahu Asya pelan. "Sayang, Abi butuh istirahat karena besok harus kerja. Ummi di sini sama Mbok Sumi. Asya juga besok harus sekolah, jadi sekarang kita pulang dulu, ya. Kan, besok sepulang sekolah masih bisa jenguk Ummi ke sini." Firdaus berusaha membujuk sang anak, meski hasilnya masih sama. "Nggak mau, Asya mau nemenin Ummi di sini. Asya nggak mau nanti Ummi pergi lagi." Asya mengerucutkan bibirnya, kali ini matanya tampak berkaca-kaca dengan kedua tangan saling meremas satu sama lain. Firdaus terdengar me

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Rumi Masuk Rumah Sakit

    *** Penunjuk waktu di dinding kamar bercat putih itu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, ketika Rumi perlahan membuka matanya. Ia baru saja sadar dari pingsannya. Spontan tangan Rumi mengusap lembut perutnya, kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya. Rumi menghela napas berat ketika menyadari di mana ia berada. Kini tatapannya terhenti pada sosok yang tengah duduk di samping kiri ranjang, laki-laki yang kini fokus ke layar ponsel di tangan. Rumi merasakan lidahnya kelu untuk sekedar menyapa, hingga akhirnya ia lebih memilih berusaha bangkit meski dengan selang infus di tangan kirunya. "Udah bangun?" Firdaus segera mematikan ponselnya ketika sadar Rumi tengah susah payah untuk duduk. Rumi hanya menjawab dengan senyum di wajah pucatnya. Jujur, ia tak nyaman karena terus merasa merepotkan Firdaus. "Istirahat aja dulu. Sebentar lagi Asya mau datang," lanjut Firdaus sambil sibuk memutar crank untuk menaikkan bagian kepala ranjang pasien, berharap Rumi merasa lebih nyaman.

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Rumi Pingsan

    *** Rumi masih berkutat dengan pekerjaannya ketika ponsel berdering. Hari ini terasa begitu melelahkan baginya. "Assalamualaikum," ucapnya santun, terlebih setelah tahu siapa sang penelepon. "Maaf, siang ini saya banyak kerjaan. Kalau nggak keberatan nanti sore sepulang kantor saya tunggu di ruang kerja," ucap laki-laki dari seberang sana dengan suara pelan. Siapa lagi kalau bukan Firdaus, laki-laki yang akhir-akhir ini menunjukkan perhatian berbeda pada Rumi. "Baik, Pak," jawab rumit singkat. Ritme jantungnya berubah cepat setelah menerima telepon dari laki-laki itu. Bukan cinta, melainkan rasa gusar yang perlahan merayap di relung hati. *** Sepanjang siang hingga sore Rumi hampir tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Bayangan tentang pertemuannya dengan Firdaus sore nanti membuat pikirannya terganggu. Lebih lagi Kondisi tubuhnya yang sedang kurang nyaman, mengingat dirinya yang tetap memilih berpuasa. Sejak semalam Mbok Sumi sudah memberi saran agar dirinya m

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Saya Pamit

    Ruang kamar berukuran empat kali lima meter yang dihuni Saraswati itu tampak begitu rapi. Sirkulasi udara pun tampak baik. Kamar yang berbatasan langsung dengan teras samping rumah itu terasa begitu nyaman untuk digunakan sebagai tempat istirahat. Di atas kursi rodanya Saraswati duduk dengan ekspr

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Bertemu Firdaus

    Suasana berubah canggung, terlebih setelah Rumi menyadari jika ada orang lain selain mereka bertiga di ruangan ini. "Asya Sayang," ujar Rumi sambil mengusap lembut kepala Asya. Asya mendongak dengan bersimbah air mata. Ketakutannya akan kehilangan sosok ibu kembali menghantuinya setelah menyadari

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Takut Kehilangan

    "Mbok Sumi kenapa nangis, Mbok?" tanya Asya dengan muka muram. Perempuan paruh baya itu berjongkok, memeluk erat tubuh Asya, sedang tangan Asya menggenggam erat tangan Rumi."Syukurlah, Non, Ummi akhirnya kembali. Jadi anak baik, ya, biar Ummi makin sayang," bisik Mbok Sumi dengan air mata kian de

  • KAU SESALI USAI KU PERGI   Bertemu Asya

    Rumi menatap lekat wajah bocah perempuan itu. Hatinya terenyuh melihat wajah mungil itu menatapnya dengan raut wajah sendu berubah jadi tangis.Rumi bangkit dari ranjangnya. Berjalan perlahan mendekati bocah itu. Senyum menguar lembut dari wajah teduh itu. "Ummi?" tanya Rumi dengan dahi berkerut.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status