Share

Bab 377

Penulis: J.A
last update Tanggal publikasi: 2026-09-26 13:45:42

Tanggal dua puluh sembilan bulan dua belas kalender lunar, pagi hari.

Lu Xiao bangun lebih awal dari biasanya. Setelah sarapan sederhana, ia mulai merapikan tulisan-tulisan Ayah Angkatnya di ruang belajar. Ketika waktu hampir memasuki tengah hari, sebuah panggilan telepon tiba-tiba masuk.

Melihat nomor yang tertera di layar, Lu Xiao tidak bisa menahan kerutan di dahinya.

Panggilan itu berasal dari seorang kawan lama yang sudah lama tidak ada kabarnya —

Mo Sihai. Tuan Mo.

Lu Xiao sudah menelusur
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan   Bab 06 ( Bab Ekstra )

    Nangong Xinming tidak bodoh.Dia melihat tiga puluh prajurit Dongfang Shuo, melihat para pengawalnya yang tiba-tiba terlihat seperti anak-anak yang memegang pedang kayu. Dia melihat Lu Xiao yang masih berdiri—meski dengan susah payah—dan Mu Qingning yang masih terikat di kursi. Lalu dia tersenyum."Baiklah," katanya. "Aku menyerah.""Cerdas." Dongfang Shuo melangkah ke tengah aula. "Sekarang, lepaskan putriku.""Dia bukan putrimu.""Secara hukum, dia cucuku. Dan kau menculiknya. Itu sudah cukup untuk membuatku membunuhmu di tempat." Dongfang Shuo berhenti. "Kau beruntung aku sedang bermurah hati."Nangong Xinming memberi isyarat. Salah satu pengawalnya memotong ikatan Mu Qingning dan mencabut sumpalnya. Wanita itu langsung berlari ke arah Lu Xiao, memeluknya erat. Lu Xiao, yang sudah hampir kehabisan tenaga, hampir terjatuh. Tapi dia menahan diri. Untuk Mu Qingning."Kau bodoh," bisik Mu Qingning. "Kau benar-benar bodoh.

  • KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan   Bab 05 ( Bab Ekstra)

    "Ah, Lu Xiao." Nangong Xinming meletakkan cangkirnya. "Aku sudah menunggumu. Kau lebih cepat dari yang aku duga.""Lepaskan dia." Lu Xiao berdiri di ambang pintu, tangan di gagang pedang. "Atau aku akan membuatmu menyesal.""Menyesal?" Nangong Xinming tertawa. "Kau baru saja membunuh adikku. Kau pikir aku takut pada ancamanmu?""Kau seharusnya takut.""Aku tidak takut." Nangong Xinming bangkit. Dia melangkah ke arah Lu Xiao dengan santai, seperti sedang berjalan di taman. "Justru sebaliknya. Aku ingin berterima kasih."Lu Xiao mengerutkan dahi. "Berterima kasih?""Tentu saja." Nangong Xinming tersenyum lebar. "Kau baru saja menghilangkan penghalang terbesar dalam hidupku. Selama ini, Nangong Xinyu adalah putra mahkota. Selama ini, dia yang akan menjadi kaisar. Dan aku? Aku hanya pangeran pertama yang tidak dianggap. Tapi sekarang..." Dia mengangkat tangannya, seperti sedang memuji matahari. "Sekarang takhta itu kosong. Dan aku—pu

  • KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan   Bab 04 ( Bab Ekstra)

    Tubuh Nangong Xinyu masih hangat ketika pengawal istana menerobos masuk.Mereka berhenti di ambang pintu. Tiga puluh orang, senjata terhunus, mata membelalak menatap darah yang menyebar di lantai marmer putih. Darah itu mengalir pelan, seperti sungai kecil yang mencari jalan ke selokan.Lu Xiao berdiri di tengah kekacauan itu, pedang kaisar masih di tangan. Bilahnya berkilau, bersih, tidak setitik pun darah menempel. Seolah pedang itu menolak kotor."Jangan bergerak!" teriak komandan pengawal. Suaranya pecah, nyaris histeris. "Kau... kau baru saja membunuh putra mahkota!""Benar." Lu Xiao menurunkan pedang. "Dan aku tidak menyesal.""Kau gila!" Komandan itu melangkah maju, tapi langkahnya goyah. "Kau tahu apa yang akan terjadi? Seluruh kerajaan akan mengejarmu! Kau akan mati dengan cara yang paling kejam!""Kematianku bukan urusanmu." Lu Xiao menatapnya datar. "Pergi. Atau kau jadi yang berikutnya."Komandan itu menelan ludah. Dia melirik mayat Nangong Xinyu, lalu kembali ke Lu Xiao.

  • KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan   Bab 03 ( Bab Ekstra )

    Kaisar Hong Wu tidak terlihat seperti kaisar.Dia tidak memakai mahkota. Tidak ada pengawal di belakangnya. Hanya seorang pria tua dengan wajah lelah dan punggung sedikit bungkuk. Tapi matanya—matanya masih tajam. Masih menyimpan kekuatan yang membuat Lu Xiao merasa seperti sedang ditatap oleh elang.“Yang Mulia.” Lu Xiao tidak berlutut. Tidak membungkuk.Kaisar Hong Wu tidak memarahinya. Dia hanya melangkah masuk, menatap putranya yang masih menempel di dinding, lalu menatap Lu Xiao.“Aku sudah mendengar banyak tentangmu,” kata kaisar. Suaranya pelan, tapi bergema di seluruh ruangan. “Kau membunuh delapan ratus orang di Shujun. Kau membuat kekacauan di Jinling. Kau mengalahkan Wang Tianzong dan Chen Changsheng dalam satu pagi. Dan sekarang kau berdiri di istanaku, mengancam putra mahkota.”“Aku tidak mengancam.” Lu Xiao menurunkan tangannya. “Aku menuntut keadilan.”“Keadilan.” Kaisar Hong Wu mengucapkan kata itu seperti kata asing. “Kau tahu apa itu keadilan?”“Keadilan adalah ketik

  • KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan   Bab 02. (Bab Ekstra)

    "Aku sudah menghadapi tiga puluh penjaga di Kediaman Muye.”"Wang Fu tertawa kering. “Kau benar-benar gila.”Malam itu, Lu Xiao pergi sendirian.Mu Qingning ingin ikut, tapi Lu Xiao menolak. “Kau harus tetap di sini. Kalau aku tidak kembali dalam tiga jam, Shen Tianlang akan membawamu keluar dari kota.”“Aku tidak mau pergi.”“Aku tahu. Tapi aku tidak akan membiarkan kau masuk ke sarang Nangong Xinyu.”Mu Qingning ingin berdebat, tapi dia tahu Lu Xiao benar. Dia hanya bisa menatap pria itu menghilang ke dalam kegelapan.Istana Timur ternyata lebih megah dari yang dibayangkan Lu Xiao. Bangunannya tidak sebesar istana utama, tapi lebih... berkelas. Dinding-dindingnya dihiasi ukiran emas, dan tamannya dipenuhi pohon-pohon langka yang hanya tumbuh di wilayah selatan. Di setiap sudut, ada penjaga—persis seperti yang dikatakan Wang Fu.Lu Xiao masuk lewat terowongan. Seperti yang diperkirakan, ada dua puluh penjaga di ujung terowongan. Mereka tidak menyadari kedatangannya sampai Lu Xiao sud

  • KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan   Bab. 01 ( Bab Ekstra )

    Gerbang ibu kota menjulang seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang berani masuk.Lu Xiao berdiri di depannya, menatap tembok batu yang sudah berdiri selama ratusan tahun. Di balik tembok itu, ada Nangong Xinyu. Ada Kaisar Hong Wu. Ada seluruh keluarga kerajaan yang selama ini melindungi putra mahkota itu dari keadilan.“Kita tidak bisa masuk lewat gerbang utama,” kata Shen Tianlang, memecah keheningan. “Pengawal di sini jauh lebih ketat daripada di Jinling. Setiap orang yang masuk diperiksa. Kalau mereka tahu siapa kita...”“Aku tahu.” Lu Xiao menarik napas. “Kita masuk lewat jalur lain.”“Jalur lain?” Mu Qingning mengerutkan dahi. “Kau punya kenalan di ibu kota?”Lu Xiao tersenyum tipis. “Dulu, saat aku masih di istana sebagai pengawal, aku punya beberapa teman. Sebagian masih di sana. Sebagian lagi sudah keluar dan membuka usaha kecil-kecilan. Salah satunya punya kedai minum di dekat Gerbang Barat. Dia bisa menyembunyikan kita sementara.”Mereka berbelok ke barat, men

  • KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan   Bab 5.

    Di saat suasana masih tegang, pria berjas yang tadi masuk bersama Lu Chaner berbicara, "Lu Xiao, apa kamu masih ingat aku? Aku Zhang Liang. Dulu kamu pernah pukul aku berkali-kali waktu kecil." Dia tersenyum lebar. Lu Chaner mengerutkan kening."Coba tebak? Sekarang aku pacarnya Chaner. Mulai sek

  • KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan   Bab 4.

    Tiba-tiba, tanah berguncang. Saat semua orang menengok ke luar, mereka tercengang tak percaya. Di luar hotel benar-benar berdiri satu divisi pasukan. Hampir sepuluh ribu orang berbaris dan sepuluh meriam dipasang tepat di tengah jalan raya, moncongnya menganga seperti mulut naga siap menyemburkan

  • KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan   Bab 3.

    "Aku...Lu Xiao. Lu Fusheng ayah angkatku." Begitu dia berkata, ruangan yang tadinya ramai mendadak hening mencekam. Semua orang terdiam, seperti ada tangan tak kasat mata yang menekan paksa suara-suara mereka. Bahkan debu yang jatuh pun seakan terdengar. Lu Fusheng adalah legenda hidup di Shuju

  • KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan   Bab 2.

    Di aula jamuan Hotel Lanhai suasana bergemuruh; lampu kristal memantulkan kilau, gelas-gelas berdenting, dan percakapan berputar seperti arus yang tak pernah tenang. Begitu Lu Xiao melangkah melewati ambang pintu, wajahnya yang tegas dan proporsional segera menyita perhatian—seolah ada magnet halu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status