LOGINTidak lama setelah ratusan ribu keluarga dari kalangan biasa berkumpul —
Layar proyeksi LED khusus selebar tiga puluh meter di Cloud Square mulai menayangkan berita yang cukup untuk mengguncang seluruh Shujun hingga ke akar-akarnya.Sosok yang selama beberapa tahun terakhir telah menopang tulang punggung kekaisaran — Panglima Muda perbatasan utara, Orang Suci Kekaisaran, seorang pria yang berada di puncak kejayaannya — memimpin pasukan paling elite kekaisaran untuk muncul diTubuh Nangong Xinyu masih hangat ketika pengawal istana menerobos masuk.Mereka berhenti di ambang pintu. Tiga puluh orang, senjata terhunus, mata membelalak menatap darah yang menyebar di lantai marmer putih. Darah itu mengalir pelan, seperti sungai kecil yang mencari jalan ke selokan.Lu Xiao berdiri di tengah kekacauan itu, pedang kaisar masih di tangan. Bilahnya berkilau, bersih, tidak setitik pun darah menempel. Seolah pedang itu menolak kotor."Jangan bergerak!" teriak komandan pengawal. Suaranya pecah, nyaris histeris. "Kau... kau baru saja membunuh putra mahkota!""Benar." Lu Xiao menurunkan pedang. "Dan aku tidak menyesal.""Kau gila!" Komandan itu melangkah maju, tapi langkahnya goyah. "Kau tahu apa yang akan terjadi? Seluruh kerajaan akan mengejarmu! Kau akan mati dengan cara yang paling kejam!""Kematianku bukan urusanmu." Lu Xiao menatapnya datar. "Pergi. Atau kau jadi yang berikutnya."Komandan itu menelan ludah. Dia melirik mayat Nangong Xinyu, lalu kembali ke Lu Xiao.
Kaisar Hong Wu tidak terlihat seperti kaisar.Dia tidak memakai mahkota. Tidak ada pengawal di belakangnya. Hanya seorang pria tua dengan wajah lelah dan punggung sedikit bungkuk. Tapi matanya—matanya masih tajam. Masih menyimpan kekuatan yang membuat Lu Xiao merasa seperti sedang ditatap oleh elang.“Yang Mulia.” Lu Xiao tidak berlutut. Tidak membungkuk.Kaisar Hong Wu tidak memarahinya. Dia hanya melangkah masuk, menatap putranya yang masih menempel di dinding, lalu menatap Lu Xiao.“Aku sudah mendengar banyak tentangmu,” kata kaisar. Suaranya pelan, tapi bergema di seluruh ruangan. “Kau membunuh delapan ratus orang di Shujun. Kau membuat kekacauan di Jinling. Kau mengalahkan Wang Tianzong dan Chen Changsheng dalam satu pagi. Dan sekarang kau berdiri di istanaku, mengancam putra mahkota.”“Aku tidak mengancam.” Lu Xiao menurunkan tangannya. “Aku menuntut keadilan.”“Keadilan.” Kaisar Hong Wu mengucapkan kata itu seperti kata asing. “Kau tahu apa itu keadilan?”“Keadilan adalah ketik
"Aku sudah menghadapi tiga puluh penjaga di Kediaman Muye.”"Wang Fu tertawa kering. “Kau benar-benar gila.”Malam itu, Lu Xiao pergi sendirian.Mu Qingning ingin ikut, tapi Lu Xiao menolak. “Kau harus tetap di sini. Kalau aku tidak kembali dalam tiga jam, Shen Tianlang akan membawamu keluar dari kota.”“Aku tidak mau pergi.”“Aku tahu. Tapi aku tidak akan membiarkan kau masuk ke sarang Nangong Xinyu.”Mu Qingning ingin berdebat, tapi dia tahu Lu Xiao benar. Dia hanya bisa menatap pria itu menghilang ke dalam kegelapan.Istana Timur ternyata lebih megah dari yang dibayangkan Lu Xiao. Bangunannya tidak sebesar istana utama, tapi lebih... berkelas. Dinding-dindingnya dihiasi ukiran emas, dan tamannya dipenuhi pohon-pohon langka yang hanya tumbuh di wilayah selatan. Di setiap sudut, ada penjaga—persis seperti yang dikatakan Wang Fu.Lu Xiao masuk lewat terowongan. Seperti yang diperkirakan, ada dua puluh penjaga di ujung terowongan. Mereka tidak menyadari kedatangannya sampai Lu Xiao sud
Gerbang ibu kota menjulang seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang berani masuk.Lu Xiao berdiri di depannya, menatap tembok batu yang sudah berdiri selama ratusan tahun. Di balik tembok itu, ada Nangong Xinyu. Ada Kaisar Hong Wu. Ada seluruh keluarga kerajaan yang selama ini melindungi putra mahkota itu dari keadilan.“Kita tidak bisa masuk lewat gerbang utama,” kata Shen Tianlang, memecah keheningan. “Pengawal di sini jauh lebih ketat daripada di Jinling. Setiap orang yang masuk diperiksa. Kalau mereka tahu siapa kita...”“Aku tahu.” Lu Xiao menarik napas. “Kita masuk lewat jalur lain.”“Jalur lain?” Mu Qingning mengerutkan dahi. “Kau punya kenalan di ibu kota?”Lu Xiao tersenyum tipis. “Dulu, saat aku masih di istana sebagai pengawal, aku punya beberapa teman. Sebagian masih di sana. Sebagian lagi sudah keluar dan membuka usaha kecil-kecilan. Salah satunya punya kedai minum di dekat Gerbang Barat. Dia bisa menyembunyikan kita sementara.”Mereka berbelok ke barat, men
Mereka meninggalkan Kediaman Muye malam itu.Tidak ada perayaan. Tidak ada perpisahan. Hanya tiga orang—Lu Xiao, Mu Qingning, dan Shen Tianlang—berjalan keluar dari gerbang besar yang semalam masih menjadi mimpi buruk.Lu Xiao masih terluka. Setiap langkahnya menyakitkan. Tapi dia tidak mengeluh. Dia hanya menggenggam tangan Mu Qingning erat-erat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika dia melepaskannya.Mu Qingning tidak bicara banyak. Dia hanya berjalan di samping Lu Xiao, matanya menatap lurus ke depan. Tapi kadang-kadang, dia melirik ke samping, memastikan pria itu masih ada.Shen Tianlang berjalan di belakang mereka. Untuk pertama kalinya sejak semalam, dia tersenyum. “Tuan… kita berhasil.”“Kita berhasil,” Lu Xiao mengoreksi.“Baik. Kita berhasil.” Shen Tianlang tertawa pelan. “Aku tidak percaya. Kita benar-benar berhasil.”“Jangan bicara terlalu cepat.” Mu Qingning akhirnya bersuara. “Kakek mungkin membiarka
“Bagus,” katanya, napasnya memburu. “Kau lebih kuat dari yang aku duga.”“Kau juga.”Mereka berdiri berhadapan. Dua orang yang sama-sama kelelahan. Dua orang yang sama-sama tahu bahwa pertarungan ini tidak akan berlangsung lama.Chen Changsheng mengangkat tangannya. “Satu serangan lagi. Siapa yang bertahan, dia yang menang.”“Setuju.”Mereka melesat pada saat yang sama.Pukulan Chen Changsheng menghantam bahu Lu Xiao. Pukulan Lu Xiao menghantam dada Chen Changsheng.Keduanya terlempar ke belakang. Keduanya jatuh.Tapi hanya satu yang bangkit.Lu Xiao berdiri. Perlahan. Tubuhnya gemetar. Darah menetes dari sudut mulutnya. Tapi dia berdiri.Chen Changsheng tidak bergerak. Matanya terbuka, menatap langit. Napasnya masih ada—tapi dia tidak bisa bangkit.“Aku… kalah,” bisiknya.Dongfang Shuo berdiri.“Pertarungan kedua. Lu Xiao menang.”---Lu Xiao tidak
Di aula jamuan Hotel Lanhai suasana bergemuruh; lampu kristal memantulkan kilau, gelas-gelas berdenting, dan percakapan berputar seperti arus yang tak pernah tenang. Begitu Lu Xiao melangkah melewati ambang pintu, wajahnya yang tegas dan proporsional segera menyita perhatian—seolah ada magnet halu
“Lu Xiao, berani-beraninya kau kembali ke sini?”Di gerbang Bandara Shujun, Lu Chaner berdiri tegak sambil menatap tajam pria yang dulu pernah dimanjakan sepenuh hati oleh seluruh keluarga Lu. Ada sorot rumit yang mendalam di matanya; sebuah kekecewaan yang besar dan amarah yang membara, tanpa se
Di saat suasana masih tegang, pria berjas yang tadi masuk bersama Lu Chaner berbicara, "Lu Xiao, apa kamu masih ingat aku? Aku Zhang Liang. Dulu kamu pernah pukul aku berkali-kali waktu kecil." Dia tersenyum lebar. Lu Chaner mengerutkan kening."Coba tebak? Sekarang aku pacarnya Chaner. Mulai sek
"Aku...Lu Xiao. Lu Fusheng ayah angkatku." Begitu dia berkata, ruangan yang tadinya ramai mendadak hening mencekam. Semua orang terdiam, seperti ada tangan tak kasat mata yang menekan paksa suara-suara mereka. Bahkan debu yang jatuh pun seakan terdengar. Lu Fusheng adalah legenda hidup di Shuju







