LOGINAsih melalui hari-hari di rumah neneknya dengan hati berdebar. Usia kandungan yang memasuki bulan ke-sembilan, membuatnya semakin tak leluasa untuk bergerak. Nek Ijah dan suaminya berulang kali mengingatkan agar Asih lebih banyak istirahat, namun sebagai orang yang dari kecil selalu mandiri bahkan hingga dia menikah pun, membuat Asih melakukan segala hal sendiri. Terlebih saat melihat kondisi kakek neneknya yang sudah renta.
Saat ini, Asih sudah berdiri di antara para ibu-ibu yang mSesuai janji, Aryo mendatangi tempat di mana Hendra sudah menunggunya bersama Rani. Dia tak lagi menyamar seperti kemarin, melainkan tampil sebagai Aryo dengan sebongkah api yang membara di hatinya. Semua sudah disiapkan, termasuk 'petugas kebersihan' yang bersiaga dan akan meluncur kapan saja. Aryo menghubungi Hendra, meminta maaf atas keterlambatannya. Dia sengaja memainkan emosi pria tersebut, yang dia tahu sangat membenci keterlambatan.Benar saja, tak lama dari pesan Aryo yang terkirim, panggilan masuk dari Hendra tertera di layar. Aryo tersenyum sinis, menggeser tombol hijau dan menatap layar dengan suara makian dan segala sumpah serapah yang meluncur bebas untuknya. "Kau sengaja, Aryo? Lima menit dari sekarang, jika tidak aku akan bunvh kau!" Klik. Panggilan terputus sepihak. Aryo tertawa, lalu menguhubungi Rani yang telah berbohong selama ini. Aryo meminta agar Rani alasan pergi atau apa, [Intinya kau menghindar dari sana. Ingat, jangan banyak tanya.]Meskipun benaknya penu
Gelapnya malam, tak membuat Aryo mengurungkan niatnya. Dia terus melangkah, mengikis jarak dengan orang yang membuat hatinya bergejolak, penuh bara api menyala. Pintu diketuk berulang, namun belum ada balasan apa pun dari dalam. "Masa iya udah tidur?" gumam Aryo yang berniat pergi, namun suara kasak-kusuk di dalam cukup membuatnya menahan diri untuk tidak pergi. Aryo kembali mengetuk pintu, hingga suara kunci terdengar diputar dari dalam. "Siap —" "Halo, Hendra. Masih ingat aku?" Aryo melirik seseorang di belakang tuan rumah -wanita dengan rambut berantakan dan gaun tidur yang cukup transparan. "Ke mana saja kau? Beraninya kabur bawa duitku puluhan juta!" Hendra maju dengan tangan siap meninju wajah sang tamu, namun Aryo cepat berkelit dan tersenyum menyentuh bahu lawannya."Sabar, aku ke sini mau bayar hutang. Boleh aku masuk? Atau aku ganggu acaramu?" Aryo melirik sekilas pada gerakan tangan tuan rumah, yang meminta si wanita untuk masuk kamar. Setelahnya, Aryo dipersilakan ma
Hari masih sore, senja baru saja muncul di ufuk barat, meski tak begitu terlihat karena tertutup gedung-gedung pencakar langit yang menjulang. Seperti biasa, Aryo menghubungi kawan dan tertegun melihat seseorang yang baru saja melewatinya sembari mengangguk. "Rani?" bisik Aryo saat wanita itu sudah berjalan semakin menjauh bersama seorang pria tambun dengan kepala plontos dan perut buncitnya. Aryo ingin memanggil, namun dia menyadari jika Rani tak mengenali dirinya yang kini masih dalam penyamaran. Aryo melanjutkan langkah menuju sebuah mobil hitam yang baru saja menepi. Sebelum masuk, kembali Aryo menoleh untuk memastikan jika wanita tadi benar adiknya. "Apa mungkin, yang dimaksud Mami itu dia?" gumam Aryo yang membuka pintu bagian belakang, membuat temannya menoleh heran. Aryo duduk di belakang sopir, menatap ke arah perginya Rani dan pria tambun tersebut. Setiap kata yang dia dengar tadi, membuat bara api di hatinya perlahan menyala. Terlebih saat nama Hendra disebut, Aryo tak
Rintik gerimis membasahi kota, termasuk di sebuah pelataran rumah sakit. Sementara dalam gedung dengan aroma khasnya itu, suasana hening dengan hawa dingin yang menggigit. Sama halnya dalam sebuah kamar rawat yang tenang, Mariana tergolek sendiri di atas ranjang. Tak ada orang di dalam ruangan itu selain dirinya, bahkan para pengawal pun tak terlihat di depan kamar. Detak jarum jam terdengar monoton, membuat si pasien gelisah. Sejak sore tadi, Mariana merasa ada sesuatu yang mengintai. Setiap gerak-geriknya seakan diawasi, namun dia sendiri belum tahu apa, siapa dan entah mengapa harus dirinya yang merasakan hal tersebut. Sumi diminta pulang, karena wanita itu merasa tak enak badan. Sebagai gantinya, dikirimlah pengawal yang justru kini tak terlihat di sana. "Ke mana mereka?"Mariana menghubungi satu per satu orang suruhannya, namun semua tak merespons. Menghubungi rumah, juga tak ada tanggapan dan itu membuat Mariana semakin cemas. Terlebih, ketika terdengar langkah kaki di luar r
Aryo semakin intens menghubungi Asih untuk meminta bantuan, dan Mariana kembali diteror dengan berbagai ancaman, termasuk saat sebuah insiden tabrak lari yang membuat dirinya harus dirawat di rumah sakit. Mariana tak berani melapor, karena itu justru akan menguak luka lama dan tentu saja, kesalahannya akan diadili. Dia tahu, seberapa besar pengaruh dirinya terhadap bisnis dan kehidupan saat ini. Orang-orang mengenalnya sebagai pemilik tunggal Wijaya Group, bisnis yang menggurita dengan berbagai anak cabangnya. Wajahnya terpampang di media cetak, juga media sosial sebagai wonder woman yang banyak membantu kaum papa. Termasuk donatur tetap di banyak yayasan. Kini, Mariana terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Selang infus menghiasi lengannya yang terlihat kurus dan mulai keriput. Asih hanya menatap wanita itu tanpa kata, seolah semua tanya hanya akan terulang dan Asih tak ingin itu. Seorang dokter bersama perawat masuk, memeriksa kondisi pasien dan berpesan agar Mariana tak ba
Asih memilih bungkam meskipun Mariana terus memaksanya bercerita tentang Arya. Dia hanya mengatakan, penculik meminta uang tebusan dan dia memberikannya. Setelah itu, semua selesai. Tanpa polisi, tanpa kekerasan lain. Mariana mengangguk, namun hatinya terus dipenuhi berbagai tanya. Arya sudah kembali sekolah. Bersama teman-temannya, sikap anak itu tak berubah, namun ketika berhadapan dengan Mariana, wajah ceria itu seketika beralih menjadi dingin dan menjauh. Sikap itu yang membuat Asih merasa sungkan dengan Mariana. Walaupun di lubuk hatinya, dia juga menyimpan perasaan yang sama, hanya saja dia lebih pandai berpura-pura dengan topengnya. Beberapa hari ini, Mariana merasa aman karena tak ada lagi teror yang mengganggu hidupnya. Wanita itu berpikir, semua telah berakhir dan dia bisa hidup bebas tanpa dibayangi kejadian masa lalu. Mariana sering datang ke rumah Asih, juga ke restonya. Di sana, dia tak lagi mendapati wajah yang membuat dirinya ketakutan, dan ekspresi itu ditangkap jel







