LOGIN
"Kemasi semua barangmu, aku akan antar kau pulang."
Aryo beranjak dari pintu kamar menuju ruang tengah. Dia duduk, menaikkan satu kaki ke kursi. Tangannya meraih cangkir kopi dan mulai menyesap perlahan. "Mas, apa maksudmu?" sahut Asih dari kamarnya. Aryo tetap pada posisi awal, tanpa sedikit pun menoleh. Matanya sesekali terpejam, mencoba meredam bising di kepala. Asih menghentikan aktivitasnya membungkus barang. Dia keluar kamar, mendekati suaminya dan kembali mengulang tanya. Namun lagi-lagi, Aryo tetap bergeming dan terkesan tak peduli. "Mas, kamu kenapa? Ada apa, Mas? Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?" Brak! Aryo berdiri, memukul meja dengan kedua tangannya lalu menatap sang istri dengan mata berapi. Namun itu hanya terjadi beberapa saat, karena detik berikutnya, dia kembali duduk dan menatap Asih di kursi samping. "Besok pagi, aku akan antar kau pulang. Tetaplah di sana sampai semua membaik." Aryo menurunkan nada suaranya saat tatapan mereka bertemu. Asih menggeleng pelan dengan genangan air di pelupuk mata. Dia menyentuh tangan suaminya, menggenggam tangan yang dulu mengikat janji dengan mendiang bapak. "Memang ada apa, Mas? Tolong jangan seperti ini," rintih Asih yang tak kuasa menahan tanggul di matanya. Wanita itu menunduk dengan tangan Aryo dalam genggaman. Aryo masih diam. Pikirannya kalut. Percakapan semalam dengan bapak dan ibu, membuatnya semakin bimbang. Dia tak ingin meninggalkan kedua orang tuanya, namun di satu sisi, dia pun tak bisa melihat sang istri terus menjadi bulan-bulanan mereka, bahkan para tetangga. Meskipun Asih senantiasa bersikap biasa tanpa pernah membalas. Aryo paham dan sering mendapati istrinya menangis dalam diam. Sebagai suami, dia tak bisa melihat wanita yang dia cintai selalu direndahkan, tepat di depan mata. "Tidurlah, istirahat. Aku ada urusan sebentar." Aryo melepas genggaman tangan istrinya dan melangkah ke arah pintu. Dia keluar, meninggalkan Asih yang duduk sendiri dalam keheningan. Dia mengedarkan pandangan, menatap sendu pada barang-barang di sekitarnya. Rumah itu kosong, kedua mertuanya pergi entah ke mana, mereka sama sekali tak pernah menganggap Asih ada di sana. Kecuali jika dia memang dibutuhkan, baru semua mendekat, menunaikan hajat dan pergi tanpa berniat mempererat hubungan dengan Asih, yang sudah di sana sejak awal menikah. Asih bangkit, berjalan ke arah dapur untuk mencuci gelas bekas kopi dan piring kotor yang menumpuk sejak pagi. Dia menghela napas, mulai menyingsingkan lengan bajunya dan menuang cairan pembersih. Asih menghentikan gerakan tangan saat kata-kata Aryo kembali terngiang dalam benak. "Sampai semua membaik? Apa yang terjadi?" Dengan cepat, Asih merampungkan pekerjaannya, kemudian mulai membersihkan rumah yang berantakan. Setelah semua selesai, Asih beranjak ke dalam kamar, menghapus peluh yang membasahi kening dan kembali berkutat dengan tumpukan barang yang belum selesai dibungkus. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Rumah masih sepi, belum terdengar suara motor suaminya. Asih terus saja membungkus dan merapikan barang-barang pesanan itu, kemudian menyusunnya di sudut kamar. Setelahnya, dia memadamkan lampu kamar dan merebahkan diri di atas kasur kapuk usang yang penuh tambalan di sana sini. Pikirannya masih diliputi tanda tanya besar yang belum juga mendapat jawab. Tak lama berselang, pintu kamar terbuka dan ruangan kembali terang. Aryo melirik ke arah istrinya yang tidur menghadap dinding, kemudian mengalihkan pandangannya ke sudut kamar, di mana bertumpuk barang yang menjadi kesibukan Asih selama ini. Dia mengganti pakaian lalu kembali memadamkan lampu dan tidur di sisi istrinya. Sepanjang malam, Asih tak dapat tidur. Kepalanya terasa berat, berisik, penuh tanya yang menuntut jawab. Sementara dia sendiri tak tahu, apa dan bagaimana menjelaskan semua yang terjadi, yang dia rasakan. Asih bangkit, perlahan membuka pintu kamar, menuju kamar mandi di bagian belakang rumah. Air dingin membasuh wajah yang lelah, memberi rasa segar yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Setelah bersuci, dia keluar. Berjalan mengendap melewati ruang demi ruang di rumah itu. Dia kembali ke dalam kamar, meraih alat salat dan mendirikan sunah tahajud. Di atas sajadah, Asih bercerita, menuturkan semua yang menjadi beban di hatinya. Tanpa peduli mukena yang basah, mata yang sembab dan isak tangis yang tetap tertahan. Hingga tibalah azan subuh berkumandang. Kokok ayam jantan terdengar bersahutan, deru kendaraan pengangkut sayur dan para pedagang pasar, mulai terdengar. Setelah menjalani kewajiban dua rakaat, Asih melipat dan menyimpan kembali alat salatnya. Dia bangkit, membuka jendela, merasakan hembusan angin segar menerpa wajah. Membiarkan helaian anak rambut menari di kening dan sesekali membelai pipi dan kedua mata yang sembab. Selang beberapa menit, wanita itu beranjak keluar kamar, setelah melirik sekejap pada sosok yang pulas di atas ranjang. Langkahnya ragu, namun dengan hati yang mulai tenang, dia mendekati suaminya. Dengan sedikit membungkuk, Asih menyentuh wajah laki-laki itu dan berkata pelan. "Mas, bangun. Subuhan." Lagi dan lagi, hanya suara erangan yang didapat. Pria itu menggeliat, lalu kembali bergeming dan lelap dalam alam mimpi. Asih menghela napas, ada rasa sesak yang kembali hadir. Namun, dia menggeleng dan melangkah keluar kamar, menuju dapur. Wanita itu mulai menyalakan tungku, merebus air dan meracik sayuran. "Kau sudah bereskan semua barangmu? Nanti jam enam, kuantar ke terminal." Asih menoleh saat mendengar suara suaminya. Kayu bakar di tangan hampir saja terjatuh karena terkejut. Dia tak menjawab dan membiarkan Aryo melangkah pergi begitu saja. Setelah selesai di dapur, Asih beranjak ke kamarnya. Mengambil pakaian kotor dan membawanya ke belakang. Pintu pagar dibuka, Asih menghela napas saat matanya menatap pakaian kotor berserakan di sana sini. Dengan hati teriris, Asih mengumpulkannya di ember besar dan mencuci semua. Tak lupa.dia menimba air, mengisi semua ember dan bak mandi sampai penuh, agar mertuanya tak lagi marah seperti kemarin. Aryo muncul di ambang pintu belakang, dia menatap Asih yang sibuk menyikat pakaian. "As, maafkan aku telah membuatmu sengsara seperti ini. Aku tak pernah menyangka, mereka akan berlaku semena-mena padamu." Aryo cepat-cepat menutup pintu, saat Asih berjalan ke arahnya. "Mas, Mas mau mandi? Aku sudah selesai nyucinya," tutur Asih sembari membuka pintu dan tak mendapati siapa pun di sana. Dia justru berpapasan dengan ibu mertuanya di dapur. Asih hanya mengangguk dan melanjutkan langkah meninggalkan bapak dan ibu mertuanya yang tengah sarapan. "Sudah kubilang. Tepat jam enam, kita berangkat," ucap Aryo setelah Asih masuk kamar. Dia menyerahkan tas besar yang selama ini tersimpan di atas lemari. "Mas, kamu yakin kita pisah?" Suara Asih tercekat oleh perasaannya sendiri. ***Sementara itu, kabar tentang kematian Mariana juga sampai ke telinga Aryo di kampung. Tanpa pikir panjang, pria itu justru menghubungi Asih dan mengatakan hal yang memang sudah Asih prediksikan sejak awal. "Kau tega, As. Kau jahat! Tak punya hati. Kau tak lebih dari kacang yang melupakan kulitnya. Dia yang menjadikanmu seperti sekarang, justru kau habisi juga. Kukira kau hanya bermain, nyatanya tidak. Kau jahat, As!" Setelah mengatakan demikian, Aryo menutup panggilan dan Asih menatap kosong pada kerumunan orang yang turut mengantar ke pemakaman. Satu per satu dari mereka mulai pergi meninggalkan lokasi, menyisakan Asih, Sumi dan beberapa pria berpakaian hitam yang berjaga di sekitar mereka. Sumi tak henti menangis, sementara Asih masih terdiam dengan wajah sembab. Wajah Mariana seakan hadir di dekatnya dengan senyum menenangkan. "Maafkan aku, Ma —" gumam Asih yang kini bangkit bersama Sumi untuk kembali pulang. "Bi, aku pulang dulu. Nanti kuajak Arya ke sini juga ya," bisik Asih
Setelah beberapa saat menunggu dalam ruangan, akhirnya pintu diketuk perlahan dan Asih langsung membentak tamunya tanpa peduli pada karyawan yang masih berdiri di ambang pintu. "Maaf, Tuan. Saya pergi dulu," bisik wanita dengan apron di tubuhnya. Pria yang menjadi tamu tersebut, melangkah masuk lalu duduk santai di depan Asih. Kakinya disilangkan, dengan tatapan lurus pada wanita yang kini terlihat siap meledakkan amarah. "Apa maksudmu mengatakannya pada Arya? Dia hanya anak kecil yang tak perlu kita bawa dalam masalah ini!" bentak Asih dengan tangan terkepal kuat di atas meja. "Kenapa? Bukankah yang dia katakan benar adanya? Lagi pula, kau mendekat hanya untuk menutupi kasus kemarin, bukan?" balas si pria yang kini tersenyum kecil. Dia membuka ponselnya dan memperlihatkan adegan yang Asih pikir, hanya dia dan 'orang-orangnya' saja yang tahu. Wajahnya semakin merah, karena baru menyadari ada penghianat di antara mereka. Si tamu menarik kembali lengannya dan meletakkan ponsel di
Di kediamannya, Jatmiko sudah terlihat bugar kembali. Wajahnya cerah, tak ada lagi raut lesu dan pucat seperti beberapa waktu lalu. Yatmi tersenyum senang melihat perubahan tersebut, meski dirinya masih saja berada di atas kursi roda. "Mak, kenapa Asih belum juga datang?" Pertanyaan itu mendapat tatapan tajam istrinya, sementara Aryo yang kini berada di kamar, hanya mendengar tanpa berniat keluar. "Nggak usah ngomongin perempuan itu, Pak! Gara-gara dia, Bapak jadi sakit sampe masuk rumah sakit, kan?" timpal Yatmi dengan wajah kesal.Jatmiko siap menjawab, namun suara pintu terbuka membuat kedua orang tua itu menoleh."Mak, cukup! Kenapa Mamak jadi gini? Padahal di awal kalian begitu akur. Apa karena wanita ular itu? ... Ya, ya, pasti dia yang bikin ulah!" Aryo mendekati bapaknya yang duduk di tepi ranjang, lalu menjelaskan jika Asih tengah sibuk di kota sana dan belum sempat menjenguk lagi. "Tolong, Yo. Suruh dia datang ke sini, ajak Arya juga. Bapak ingin ketemu cucu," bisik Jat
Asih kembali mendapat teror dari nomor yang dia sendiri sudah mengetahui pemiliknya. Dia menerima panggilan itu dengan senyum kecil di sudut bibir, lalu mendengarkan segala sumpah serapah yang dilayangkan. "Temui aku di taman kota, tepat pukul tujuh," ucap Asih tenang dan memutus sambungan itu. Matahari mulai beranjak ke barat, sedangkan Arya tak kunjung pulang dari les yang diikuti. Berulang kali Asih menghubungi sopir, menanyakan keberadaan Arya dan seketika darahnya berdesir mendengar suara di seberang sana. "Siapa yang berani menyentuh anakku!" Asih membanting vas bunga di meja kerjanya, lalu bergegas keluar dengan kunci mobil di tangan. Dirinya melaju ke arah tempat les, yang kini telah kosong tak berpenghuni. Sementara ponselnya kembali berdering, menampilkan nomor yang sama. "Tak usah khawatir, aku akan datang bersama anakmu," tutur suara dingin di seberang sana. Belum juga Asih menjawab, sambungan terputus dan suaranya diterbangkan angin lalu. Asih marah besar, membanting
Bagai dejavu, Asih menapaki koridor panjang dengan orang-orang yang duduk juga berdiri di sekitarnya. Tawa, tangis, juga perkataan tak jelas, terdengar sepanjang kakinya melangkah. Tak jarang, Asih mendapat sambutan bak seorang artis yang datang menemui para fans-nya. Di sebuah ruangan tertutup dengan jeruji besi yang menjadi pintunya, Asih berhenti. Di dalam sana, seorang wanita dengan rambut berantakan dan tubuh yang kurus kering, duduk seorang diri sembari menekuri lantai putih, seolah ada sesuatu yang sangat penting di sana. Asih mendekat, menatap si perawat yang mengantarnya dan mengangguk. Wanita berseragam putih itu melangkah pergi, meninggalkan Asih yang masih berdiri di depan pintu. Perlahan, Asih mendorong pintu yang tak lagi terkunci dan mendekati wanita di sudut ruang. "Ma —" Asih menyapa lembut. Si wanita menoleh, menatap lama lalu berkata lirih dengan tangan direntangkan -memanggil pelukan. Dialah Mariana. Wanita karir pemilik Wijaya Group yang kini menjadi pasien d
Arya terus memeluk ibunya, seakan tak ingin lepas dari wanita tersebut. Sementara Asih kewalahan menjawab setiap tanya yang dilayangkan putranya tanpa henti. "Bu, Ibu ke mana saja? Kenapa nggak ajak aku?" tutur bibir pucat yang terus menggeleng saat si pengasuh memberinya makan. "Ibu ada pekerjaan, Sayang. Sekarang kamu makan dulu ya." Arya tetap menolak, bahkan menampik sendok yang disodorkan padanya, membuat nasi berantakan di lantai. Asih ingin marah, namun meredam semuanya agar sang anak tak semakin menjadi. Tangisan Arya melengking, anak itu menendang juga melempar segala sesuatu di dekatnya. Asih sendiri heran akan perubahan sikap tersebut, tak menyangka anak yang penurut itu kini seakan menjadi pribadi lain yang tak Asih kenal. Si pengasuh membersihkan lantai dan membawa keluar makanan Arya. Dia kembali dengan segelas susu untuk si anak yang tetap saja menolak. "Sudah, biar saya saja, Sus. Kamu istirahat atau makan sana, sudah hampir sore belum makan," titah Asih yang men







