LOGINAsih menatap ke luar jendela. Baris pepohonan dan hamparan permadani hijau, semakin jauh dari pandangan. Aryo pergi, tepat setelah istrinya turun dari sepeda motor. Laki-laki itu seakan buta dan tuli, tak menghiraukan panggilan dan tatapan Asih yang memintanya tetap tinggal.
Beberapa orang di terminal, menatap mereka dengan raut penuh tanya. Ada yang terang-terangan memanggil Aryo untuk kembali, ada pula yang tetap diam dengan tatapan sinis. Bahkan, Aryo terus menjauh tanpa sedikit pun menoleh. Bus terus melaju, meninggalkan kampung A menuju tanah kelahirannya. Asih tersenyum getir, merasakan segala perih yang muncul di hatinya. Di rest area, bus berhenti. Asih turun bersama penumpang lain. Dia duduk menyendiri, sementara matanya mengitari seisi ruang, menatap orang yang berlalu lalang di sana. Tiba-tiba seorang anak kecil berpipi gembul mendekatinya. Menyerahkan sebuah mainan lalu tertawa. Jiwa keibuannya seakan tergelitik. Dengan penuh kasih, dia memindahkan tubuh itu ke pangkuannya. Asih merasa dia kembali menjadi seorang ibu, yang dapat bermain bersama anak dan memeluknya hangat. "Akhirnya ketemu juga," ucap seorang pria yang datang dengan tas kain berisi perlengkapan anak. Dia menatap anak di pangkuan Asih dengan senyum lega. Betapa terkejutnya Asih saat dia menoleh. "Mas Bayu? Ini anakmu?" Pria itu sedikit kaget, matanya lama menatap wajah perempuan di hadapannya. "Asih? Kamu Asih kan?" Asih mengangguk. Lalu menatap bangku kosong di sampingnya. Bayu menarik benda itu dan duduk di sana. "Kamu mau ke mana, As? Sendiri? Gimana kabar Aryo?" Bayu mencecar Asih dengan pertanyaan beruntun. Perempuan itu terdiam, tangannya masih melingkar, memeluk tubuh mungil di pangkuan. Sesekali, terdengar celotehan yang memecah keheningan. Dari pengeras suara, terdengar pengumuman atas keberangkatan salah satu bus. Asih pamit, memindahkan anak kecil itu ke pangkuan Bayu, dan bersiap kembali ke bus yang ditumpangi. Bayu mengejar, meraih tangan Asih dan berbisik. "As, ini kartu namaku. Hubungi aku kalau kamu butuh teman cerita." Wanita itu memaksa senyum, mengangguk dan masuk ke dalam bus. Perlahan, kendaraan itu bergerak meninggalkan parkiran. Sementara Bayu masih menatap kepergian Asih dengan perasaan bahagia. Pria itu kembali masuk ke restoran untuk mengambil tas yang tertinggal dan berlalu menuju mobil Avanza hitam yang terparkir di dekat pohon mangga. Sementara itu, di dalam bus. Asih mengamati secarik kartu nama dan tersenyum getir. Bus melaju mengikis jarak dan semakin mendekat ke tujuan. Setelah menempuh perjalanan panjang, sampailah dia di terminal akhir. Asih menghirup napas dalam, berusaha memenuhi setiap rongga di dadanya dengan udara pagi yang segar, lalu menghembuskan perlahan. Setelah bertahun-tahun hidup di rumah mertuanya, akhirnya Asih pulang. Ada rasa bahagia yang muncul karena rindunya terobati, namun di sisi lain, dirinya merasa kosong. Suaminya tak ikut serta, sementara anak yang telah ditunggu lama, kembali dipanggil oleh-Nya, tepat setelah dia lahir ke dunia. "Sudahlah, aku nggak boleh terus terpuruk seperti ini." Asih menguatkan hati, lalu melambai memanggil ojek dan berlalu menuju kampung halaman. "Depan belok kanan ya, Pak." Asih mulai merasakan debaran yang semakin kencang di hatinya. Terlebih saat pagar rumah bapak semakin dekat. Motor berhenti di halaman dan berlalu pergi setelah Asih membayarnya. Tak ada sambutan, tak ada siapa pun yang dia temui di rumah itu. Kosong. Hanya bangku kayu dan beberapa perlengkapan yang diselimuti debu. Asih menatap foto di dinding, lalu berbisik dengan isak tertahan. "Pak, Bu. Asih pulang. Asih rindu kalian." Wanita itu mulai merapikan rumah. Tak ada sedikit pun raut sedih terlihat di sana. Dia merasakan kenyamanan yang telah lama hilang. Setelah semua rapi dan bersih, Asih bersiap ke makam kedua orang tuanya. Dia kembali mengunci rumah dan berlalu pergi menuju pinggiran desa, tempat di mana bapak ibunya 'beristirahat'. Satu dua orang menyapa, bahkan banyak pula yang memeluknya penuh haru. Namun, baru beberapa langkah dia berlalu, telinganya menangkap obrolan dari orang-orang tersebut. "Pulang kok sendiri, anak sama suami nggak ikut." "Halah, palingan belum punya anak, nikah mah udah tahunan. Tapi masih kosong." "Mandul kali." Suara itu menjadi semakin ramai, tatkala tetangga yang lain mulai berdatangan. Asih mempercepat langkah, tak ingin terbawa suasana dan merusak moodnya yang sudah membaik. Asih berhenti sejenak di gerbang makam, dia kembali mengusap air matanya lalu melangkah perlahan, melewati nisan demi nisan menuju tempat orang tuanya. "Bapak, Ibu, Asih datang," bisiknya saat dua batu nisan yang dicari, telah ditemukan. Asih berjongkok, mencabuti rumput liar yang tumbuh di sekitar nisan itu, lalu menabur bunga yang dia petik dari pekarangan rumahnya sendiri. "Pak, Bu. Maaf, Asih datang sendiri, tanpa Mas Aryo. Dia ... dia sibuk bekerja, jadi belum bisa kemari," bisik Asih dengan suara tercekat, setelah dia selesai merapalkan do'a. Wanita itu membersihkan tanah yang menempel di batu nisan dan kembali terisak saat tangannya menyentuh susunan huruf yang timbul di sana. "Bapak, Ibu. Apa benar Asih nggak berguna sebagai istri? Mereka terus memojokkan Asih, Bu. Mereka bilang, Asih bukan istri yang baik untuk Mas Aryo hanya karena aku belum menjadi seorang ibu. Selama ini, aku hanya diam. InsyaAllah aku ikhlas. Asih tahu, Allah SWT punya rencana yang jauh lebih indah dari ini semua, ya kan, Pak, Bu?" Asih tersenyum getir, lalu bangkit dan kembali pulang. Sesampai di rumah, Asih merebahkan diri di tempat tidur. Tubuh lelahnya membuat kedua mata terpejam. Dia tertidur untuk beberapa saat dan terbangun kala ponselnya berdering. Asih melihat layar dan mengurungkan diri untuk menerima panggilan itu. Setelah panggilan berakhir, Asih cepat-cepat memblokir nomor tersebut. Tak hanya itu, semua nomor dari orang-orang tertentu, dia blokir juga. "Maaf, Mas. Tapi aku ingin sembuh." Asih menatap foto suaminya, lalu kembali berbisik. "Suatu saat aku akan pulang, Mas. Tapi bukan sekarang." Asih membuka sosial medianya, lalu menemukan sebuah lowongan pekerjaan di Ibu kota. Dia menghubungi nomor yang tertera di sana, lalu mulai bersiap untuk berangkat, esok hari. Ya, dia ingin pergi. Bukan untuk melarikan diri, namun untuk kesembuhan hatinya sendiri. Menjauh dari orang-orang yang membuatnya terus merasa hina. "Nak, Ibu janji akan datang menjengukmu. Tunggu Ibu ya, Sayang." Asih mendekap sebuah gambar bayi mungil berwajah pucat, beserta selembar foto USG yang senantiasa ada di dalam tasnya. ***Sementara itu, kabar tentang kematian Mariana juga sampai ke telinga Aryo di kampung. Tanpa pikir panjang, pria itu justru menghubungi Asih dan mengatakan hal yang memang sudah Asih prediksikan sejak awal. "Kau tega, As. Kau jahat! Tak punya hati. Kau tak lebih dari kacang yang melupakan kulitnya. Dia yang menjadikanmu seperti sekarang, justru kau habisi juga. Kukira kau hanya bermain, nyatanya tidak. Kau jahat, As!" Setelah mengatakan demikian, Aryo menutup panggilan dan Asih menatap kosong pada kerumunan orang yang turut mengantar ke pemakaman. Satu per satu dari mereka mulai pergi meninggalkan lokasi, menyisakan Asih, Sumi dan beberapa pria berpakaian hitam yang berjaga di sekitar mereka. Sumi tak henti menangis, sementara Asih masih terdiam dengan wajah sembab. Wajah Mariana seakan hadir di dekatnya dengan senyum menenangkan. "Maafkan aku, Ma —" gumam Asih yang kini bangkit bersama Sumi untuk kembali pulang. "Bi, aku pulang dulu. Nanti kuajak Arya ke sini juga ya," bisik Asih
Setelah beberapa saat menunggu dalam ruangan, akhirnya pintu diketuk perlahan dan Asih langsung membentak tamunya tanpa peduli pada karyawan yang masih berdiri di ambang pintu. "Maaf, Tuan. Saya pergi dulu," bisik wanita dengan apron di tubuhnya. Pria yang menjadi tamu tersebut, melangkah masuk lalu duduk santai di depan Asih. Kakinya disilangkan, dengan tatapan lurus pada wanita yang kini terlihat siap meledakkan amarah. "Apa maksudmu mengatakannya pada Arya? Dia hanya anak kecil yang tak perlu kita bawa dalam masalah ini!" bentak Asih dengan tangan terkepal kuat di atas meja. "Kenapa? Bukankah yang dia katakan benar adanya? Lagi pula, kau mendekat hanya untuk menutupi kasus kemarin, bukan?" balas si pria yang kini tersenyum kecil. Dia membuka ponselnya dan memperlihatkan adegan yang Asih pikir, hanya dia dan 'orang-orangnya' saja yang tahu. Wajahnya semakin merah, karena baru menyadari ada penghianat di antara mereka. Si tamu menarik kembali lengannya dan meletakkan ponsel di
Di kediamannya, Jatmiko sudah terlihat bugar kembali. Wajahnya cerah, tak ada lagi raut lesu dan pucat seperti beberapa waktu lalu. Yatmi tersenyum senang melihat perubahan tersebut, meski dirinya masih saja berada di atas kursi roda. "Mak, kenapa Asih belum juga datang?" Pertanyaan itu mendapat tatapan tajam istrinya, sementara Aryo yang kini berada di kamar, hanya mendengar tanpa berniat keluar. "Nggak usah ngomongin perempuan itu, Pak! Gara-gara dia, Bapak jadi sakit sampe masuk rumah sakit, kan?" timpal Yatmi dengan wajah kesal.Jatmiko siap menjawab, namun suara pintu terbuka membuat kedua orang tua itu menoleh."Mak, cukup! Kenapa Mamak jadi gini? Padahal di awal kalian begitu akur. Apa karena wanita ular itu? ... Ya, ya, pasti dia yang bikin ulah!" Aryo mendekati bapaknya yang duduk di tepi ranjang, lalu menjelaskan jika Asih tengah sibuk di kota sana dan belum sempat menjenguk lagi. "Tolong, Yo. Suruh dia datang ke sini, ajak Arya juga. Bapak ingin ketemu cucu," bisik Jat
Asih kembali mendapat teror dari nomor yang dia sendiri sudah mengetahui pemiliknya. Dia menerima panggilan itu dengan senyum kecil di sudut bibir, lalu mendengarkan segala sumpah serapah yang dilayangkan. "Temui aku di taman kota, tepat pukul tujuh," ucap Asih tenang dan memutus sambungan itu. Matahari mulai beranjak ke barat, sedangkan Arya tak kunjung pulang dari les yang diikuti. Berulang kali Asih menghubungi sopir, menanyakan keberadaan Arya dan seketika darahnya berdesir mendengar suara di seberang sana. "Siapa yang berani menyentuh anakku!" Asih membanting vas bunga di meja kerjanya, lalu bergegas keluar dengan kunci mobil di tangan. Dirinya melaju ke arah tempat les, yang kini telah kosong tak berpenghuni. Sementara ponselnya kembali berdering, menampilkan nomor yang sama. "Tak usah khawatir, aku akan datang bersama anakmu," tutur suara dingin di seberang sana. Belum juga Asih menjawab, sambungan terputus dan suaranya diterbangkan angin lalu. Asih marah besar, membanting
Bagai dejavu, Asih menapaki koridor panjang dengan orang-orang yang duduk juga berdiri di sekitarnya. Tawa, tangis, juga perkataan tak jelas, terdengar sepanjang kakinya melangkah. Tak jarang, Asih mendapat sambutan bak seorang artis yang datang menemui para fans-nya. Di sebuah ruangan tertutup dengan jeruji besi yang menjadi pintunya, Asih berhenti. Di dalam sana, seorang wanita dengan rambut berantakan dan tubuh yang kurus kering, duduk seorang diri sembari menekuri lantai putih, seolah ada sesuatu yang sangat penting di sana. Asih mendekat, menatap si perawat yang mengantarnya dan mengangguk. Wanita berseragam putih itu melangkah pergi, meninggalkan Asih yang masih berdiri di depan pintu. Perlahan, Asih mendorong pintu yang tak lagi terkunci dan mendekati wanita di sudut ruang. "Ma —" Asih menyapa lembut. Si wanita menoleh, menatap lama lalu berkata lirih dengan tangan direntangkan -memanggil pelukan. Dialah Mariana. Wanita karir pemilik Wijaya Group yang kini menjadi pasien d
Arya terus memeluk ibunya, seakan tak ingin lepas dari wanita tersebut. Sementara Asih kewalahan menjawab setiap tanya yang dilayangkan putranya tanpa henti. "Bu, Ibu ke mana saja? Kenapa nggak ajak aku?" tutur bibir pucat yang terus menggeleng saat si pengasuh memberinya makan. "Ibu ada pekerjaan, Sayang. Sekarang kamu makan dulu ya." Arya tetap menolak, bahkan menampik sendok yang disodorkan padanya, membuat nasi berantakan di lantai. Asih ingin marah, namun meredam semuanya agar sang anak tak semakin menjadi. Tangisan Arya melengking, anak itu menendang juga melempar segala sesuatu di dekatnya. Asih sendiri heran akan perubahan sikap tersebut, tak menyangka anak yang penurut itu kini seakan menjadi pribadi lain yang tak Asih kenal. Si pengasuh membersihkan lantai dan membawa keluar makanan Arya. Dia kembali dengan segelas susu untuk si anak yang tetap saja menolak. "Sudah, biar saya saja, Sus. Kamu istirahat atau makan sana, sudah hampir sore belum makan," titah Asih yang men







