Share

100. Samoa Dengan Segala Rasanya

last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-20 14:56:13

Pagi berikutnya.

Udara Apia terasa lebih sejuk dari biasanya. Langit bersih tanpa awan, dan cahaya matahari menembus celah-celah dedaunan dengan lembut. William dan Amelia sudah bersiap sejak pukul tujuh, mengenakan pakaian hiking ringan, sepatu yang nyaman, serta membawa ransel kecil berisi air, camilan, dan kamera.

“Siap naik gunung?” tanya William sambil merapikan topi di kepalanya.

Amelia mengangguk antusias.

“Siap. Tapi janji ya, kamu nggak akan lomba lari ke puncak kayak kemarin di panta
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    160. Sore Yang Indah di San Mateo Viewpoints

    Setelah kembali ke vila dan istirahat sejenak, Amelia tertidur ringan di sofa panjang dekat jendela, sementara William duduk di tepinya sambil membaca buku tipis tentang pesisir Ekuador. Cahaya sore menembus tirai, membuat ruangan tampak hangat dan keemasan. Saat Amelia bergerak sedikit, William menutup bukunya dan menyelimuti istrinya dengan lembut.Beberapa menit kemudian, Amelia membuka mata dan melihat William memperhatikannya.“Sudah bangun?” tanya William dengan suara rendah, lembut.Amelia tersenyum tipis. “Aku ketiduran ya? Berapa lama?”“Hanya sekitar tiga puluh menit.” William mengusap rambut istrinya. “Kita masih punya cukup waktu untuk melihat sunset di San Mateo Viewpoints.”Mata Amelia berbinar. “Oh ya! Aku ingin sekali melihat pemandangan menarik dari sana.”William berdiri dan menawarkan tangannya. “Ayo, My Love. Sunset menunggu kita.”Jeep vila membawa mereka melewati jalanan dengan pemandangan tebing yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik. Langit sore berubah war

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    159. Pagi Hari Berikutnya ke Pacoche Wildlife Refuge

    Sinar matahari pagi menembus tirai tipis vila, memunculkan semburat emas yang hangat di dinding kamar. Amelia membuka mata perlahan, merasakan pelukan William yang masih melingkar di pinggangnya. Dari luar, suara burung tropis terdengar samar, seolah membangunkan mereka untuk petualangan baru.“Good morning, My Wife.” William membisik lembut di belakangnya sambil mengecup pelan bahu istrinya.Amelia tersenyum tipis. “Morning, My Love, kita jadi ke Pacoche hari ini, kan?”“Tentu, Sayang,” jawab William sambil mengusap rambut istrinya yang terurai. “Aku sudah minta staf vila menyiapkan sarapan ringan. Setelah itu kita langsung berangkat.”Mereka pun bangkit perlahan, mandi cepat, lalu menuju area makan vila. Meja kayu tropis telah tersaji dengan buah segar, roti panggang, omelet lembut, dan kopi panas khas Ekuador.“Ini kayak sarapan di taman surga,” ucap Amelia terkekeh sambil memotong buah mangga yang manis.William mengangguk sambil menatap istrinya penuh kasih. “Yang bikin sempurna

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    158. Kejutan Romantis William

    Kembali ke Vila.Sore mulai berubah menjadi senja ketika mobil vila membawa William dan Amelia kembali dari pelabuhan. Matahari yang tenggelam perlahan memberikan semburat jingga keemasan yang menempel di permukaan laut Manta, seperti lukisan yang bergerak lembut. Amelia menyandarkan kepala di bahu William sepanjang perjalanan, kelelahan setelah hiking, snorkeling, dan melihat satwa liar di Isla de la Plata, namun senyumnya tak pernah hilang.“Aku masih gak percaya hari ini nyata.” Amelia berbisik tanpa membuka mata.William membelai rambut istrinya lembut. “Ini baru setengahnya, Sayang. Malam ini masih ada kejutan untukmu.”Amelia membuka mata, menoleh cepat. “Kejutan apa lagi? Kamu sudah banyak banget bikin aku bahagia hari ini.”“Kalau aku bilang, namanya bukan kejutan lagi.”“Willy!” Amelia mencubit pinggang suaminya pelan.William tertawa. “Sabar, Sayang. Lima menit lagi kita sampai.”Tiba di Vila.Begitu mobil berhenti di depan vila pribadi mereka, Amelia langsung menyadari ada

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    157. Petualangan ke Isla de la Plata

    Matahari baru saja terbit ketika sinarnya yang keemasan menyinari vila William dan Amelia di Manta. Laut tampak tenang, permukaannya memantulkan warna oranye muda seperti lembaran sutra yang dilemparkan ke atas air. William sudah bangun lebih dulu dan duduk di tepi balkon kamar, memandang laut sambil meminum kopi hitam panas.Tak lama, Amelia keluar dengan rambut masih sedikit kusut, mata masih setengah mengantuk. “Kamu bangun lebih pagi dari biasanya.”William tersenyum sambil menoleh. “Pagi, Sayang. Mau kubuatkan teh? Atau kamu mau peluk dulu baru minum?”Amelia langsung duduk di pangkuannya dan melingkarkan tangan di leher suaminya. “Pelukan dulu. Baru apa pun.”William memeluknya erat. “Hari ini kita ke Isla de la Plata. Aku janji, kamu bakal suka banget.”“Galapagos mini, kan?” Amelia mengedip.“Ya. Kita hiking, lihat blue-footed boobies, snorkeling, makan siang enak. Kombo yang sungguh sempurna.”“Sounds perfect. Let's go then.”Setelah sarapan cepat di vila, mobil vila menganta

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    156. Sore Yang Menakjubkan

    Setelah kembali dari Santa Marianita dan beristirahat sejenak di vila, William dan Amelia memutuskan untuk menghabiskan sore mereka di salah satu pantai paling terkenal dan hidup di Manta yaitu Playa Murcielago. Matahari sudah miring ke barat ketika mobil mereka tiba di area boulevard tepi pantai. Deretan restoran, kafe dengan lampu-lampu gantung, dan penjual kelapa muda berjejer memenuhi pandangan. Suara tawa wisatawan bercampur dengan deru ombak yang memecah lembut di pantai.Amelia turun dari mobil dan memandang ke arah pantai yang luas. “Willy, tempat ini lebih hidup dari yang kubayangkan.”William menatap pantai yang dipenuhi cahaya keemasan. “Aku tahu kamu akan suka. Murcielago memang pusatnya kehidupan Manta.”“Kita datang di waktu yang pas,” Amelia tersenyum sambil menunjuk langit jingga. “Sunset-nya mulai terlihat.”Tanpa ragu, William meraih tangan Amelia. “Ayo, kita jalan.”Amelia meremas tangan suaminya lembut. “Dengan senang hati.”Mereka berjalan menyusuri promenade, pas

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    155. Pagi Pertama di Manta

    Matahari baru saja muncul dari balik garis laut ketika Amelia membuka mata. Cahaya keemasan pagi menyeruak melalui tirai tipis kamar vila, memantulkan kilau lembut di permukaan infinity pool yang masih tenang. Angin laut membawa aroma asin yang segar, bercampur dengan wangi bunga tropis dari taman kecil di luar.Amelia meregangkan tubuh pelan, membiarkan tubuhnya menikmati sensasi baru, hari baru di Manta, hari pertama mereka bangun di vila Manta Azul. Dia kemudian menoleh ke samping William yang sudah duduk di tepi tempat tidur, mengenakan kemeja linen putih dengan lengan digulung setengah.“Kamu sudah bangun duluan?” Amelia bertanya sambil mengusap matanya.William tersenyum. “Aku tidak ingin melewatkan bagaimana kamu terlihat pertama kali membuka mata di Manta.”Amelia menutup wajah dengan bantal. “Willy, jangan mulai ngegombal pagi-pagi begini.”William menarik bantal istrinya dengan lembut. “Kalau bukan pagi hari, lalu kapan, Sayang?”Amelia tertawa pelan dan duduk. “Ada apa nih?

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    3. Pemotongan Kue Pernikahan

    Acara terus berlanjut,“Hadirin dan tamu undangan sekalian. Kini tiba saatnya kedua mempelai akan melakukan pemotongan kue pernikahan,” seru sang MC dengan sangat antusias.Acara potong kue di pernikahan antara William Danielson dan Amelia Joanna Lewis, tiba juga. Semua mata tertuju pada kue yang d

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    6. Penyesalan Para Mantan

    Alex, teman kuliah Amelia, duduk di sebuah bangku dalam ruangan ballroom hotel bintang lima itu. Dia sedang menatap Amelia yang sedang duduk di pelaminan bersama William. Dengan gaun pengantin putih yang memukau, Amelia tampak seperti malaikat yang turun dari surga.“Amelia … kamu sungguh sangat ca

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    5. Dendam Julius

    Di tengah hingar bingar pesta,Julius duduk di sudut sebuah meja makan, menatap gelas anggurnya yang berisi setengah penuh. Di sekelilingnya, suara tawa dan canda tawa bergema, namun Julius merasa seolah-olah dia berada di dunia yang berbeda. Pesta pernikahan William dan Amelia sedang berlangsung

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    4. Jamuan Makan Yang Sungguh Lezat

    Acara makan pun tiba,Pesta pernikahan William dan Amelia adalah perayaan yang meriah dan hangat, dihiasi dengan berbagai hidangan mewah yang mencerminkan kekayaan dan variasi kuliner Indonesia dan hidangan western. Tidak ada satupun tamu yang tidak terpesona dengan pemandangan meja yang dipenuhi d

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status