LOGINLampu-lampu kota Los Angeles mulai menyala ketika mobil William memasuki kawasan Century City. Setelah seharian menikmati udara laut, tawa, dan matahari terbenam, malam kini menyelimuti perjalanan mereka pulang.Amelia menyandarkan kepala ke sandaran kursi, masih membawa sisa senyum dari sore tadi.“Capek tapi bahagia,” gumamnya.William melirik istrinya sambil tersenyum.“Itu tujuan hari ini.”Begitu gerbang mansion terbuka perlahan, cahaya hangat dari taman depan menyambut mereka. Air mancur kecil berkilau, dan aroma bunga terasa lembut di udara.William memarkir mobil, lalu turun lebih dulu untuk membukakan pintu bagi Amelia.“Selamat datang kembali di rumah kita, Mrs. Danielson.”Amelia tertawa ringan sambil meraih tangan suaminya.“Terima kasih, Mr. CEO.”Keduanya masuk beriringan. Dua maid menyambut dengan senyum ramah.“Selamat malam, Tuan, Nyonya. Makan malam sudah hampir siap.”William mengangguk sopan.“Terima kasih. Kami akan berganti pakaian dulu.”Di kamar utama, Amelia
Langit sore di Los Angeles tampak cerah, dengan semburat jingga yang memantul di gedung-gedung tinggi kawasan Century City.Di balik pagar tinggi kawasan elit itu, sistem keamanan bekerja nyaris tanpa suara. Kamera berputar perlahan, petugas patroli bergantian, dan kendaraan asing langsung terdeteksi sejak memasuki radius tertentu.Namun dari seberang jalan utama, di dalam sebuah sedan hitam yang terparkir agak jauh, dua sosok memperhatikan satu mansion secara khusus.Julius duduk di kursi penumpang depan.Kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya, tapi rahangnya mengeras. Tatapannya tajam, menembus pagar besi hitam dan deretan pohon palem yang mengelilingi rumah megah itu.Martin, asistennya, berada di balik kemudi.Dia sudah gelisah sejak lima belas menit lalu.“Bos Julius …” Suara Martin akhirnya memecah keheningan. “Kita sudah hampir satu jam di sini.”Julius tidak menjawab.Matanya masih terpaku pada balkon lantai dua mansion itu.Beberapa menit kemudian, tirai kaca terbuka.Amel
Pagi pertama William dan Amelia sebagai pasangan suami istri di Los Angeles datang dengan cahaya matahari yang lembut, menembus tirai kamar utama.Burung-burung kecil bertengger di pepohonan halaman mansion, berkicau riang seolah-olah ikut merayakan hari baru William dan Amelia.Amelia terbangun lebih dulu. Dia membuka mata perlahan, mendapati dirinya masih berada dalam pelukan William. Lengan suaminya melingkar hangat di pinggangnya, napasnya teratur, wajahnya tampak damai.Amelia tersenyum penuh kehangatan.Dia mengusap pipi William dengan lembut.“Willy, Sayang. Bangun, Honey.”William bergumam pelan.“Hmmmm. Susah pagi rupanya? Aku nyenyak banget tidurnya.”William membuka mata perlahan.Sesaat dia terlihat bingung, lalu matanya fokus pada wajah Amelia yang tersenyum.“Oh hai, Sayang. Selamat pagi, Istriku.”Amelia terkekeh kecil.“Selamat datang di hari pertama kita di mansion.”William menarik Amelia lebih dekat.“Dan hari pertama aku bangun sebagai suami di rumah sendiri.”Amel
Malam pun tiba, langit Los Angeles berkilau oleh cahaya gedung-gedung tinggi dan lampu jalan yang memantul di kaca mobil hitam panjang yang sedang membawa William dan Amelia beserta kru kapal menuju restoran tujuan.William duduk di kursi depan bersama Amelia, sementara para kru kapal memenuhi barisan kursi belakang. Suasana di dalam mobil terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya di laut. Lebih formal, tapi juga sarat kegembiraan.Amelia menoleh ke belakang, tersenyum hangat.“Terima kasih sudah ikut merayakan malam ini bersama kami. Tanpa kalian, perjalanan ini tidak akan pernah sempurna.”Esther tertawa pelan sambil merapikan gaunnya.“Kami yang berterima kasih, Mrs. Amelia. Ini pertama kalinya aku makan di restoran Michelin.”Adam, sang kapten, ikut menimpali.“Biasanya aku cuma makan mie instan di ruang kemudi.”Semua langsung tertawa.Kapten David menggeleng.“Jangan merendahkan dirimu begitu, Kapten. Kamu adalah pahlawan laut.”Olin menyeringai.“Dan aku pahlawan peta.”Marsha d
Langit Los Angeles pagi itu tampak cerah, biru bersih tanpa awan tebal. Angin laut berhembus lembut ketika kapal pesiar mini milik William perlahan mendekati dermaga. Mesin kapal diperlambat, tali-tali mulai disiapkan. Di kejauhan, garis pantai kota terlihat jelas. Gedung-gedung tinggi, jalan raya yang ramai, dan siluet khas kota yang selama ini hanya mereka lihat di artikel online.Akhirnya, kapal itu bertengger dengan anggun di dermaga Port of Los Angeles.Amelia berdiri di dek, tangannya menggenggam pagar kapal, matanya berbinar.“Willy, kita benar-benar sampai di LA,” ucapnya pelan.William berdiri di sampingnya, meraih tangan istrinya.“Iya. Ini tujuan terakhir perjalanan bulan madu kita, Sayang.”Para kru kapal mulai turun satu per satu. Kapten David lebih dulu menghampiri mereka, diikuti Kapten Adam dan beberapa kru lainnya. Wajah-wajah mereka tampak lega sekaligus bahagia.“Selamat, Tuan William, Nyonya Amelia,” ujar Kapten David formal, sambil menjabat tangan William erat.“K
Hari terakhir di Puerto Vallarta datang dengan cahaya pagi yang lembut, seolah kota itu sendiri ingin memberi perpisahan yang indah bagi William dan Amelia.Angin laut menyelinap melalui jendela vila, membawa aroma asin yang segar. Amelia berdiri di balkon, rambutnya digerakkan angin, sementara William menghampirinya dengan dua cangkir kopi hangat.“Untuk hari terakhir kita di sini, Sayang,” seru William sambil menyerahkan cangkir.Amelia tersenyum, menerima kopi itu dengan kedua tangan. “Aku ingin hari ini kita pelan-pelan saja. Menikmati semuanya.”Matahari belum terlalu tinggi saat mereka tiba di Malecon. Promenade tepi laut itu terlihat lebih hidup. Ada patung-patung modern berdiri anggun di sepanjang jalur, musisi jalanan memainkan gitar dan biola, pelukis melukis dengan sapuan warna berani. Ombak ikut berdebur lembut di kejauhan.William menggenggam tangan Amelia. “Aku suka tempat ini. Rasanya kota ini seperti sedang bernapas.”Amelia mengangguk. “Dan kita bisa ikut bernapas be
Acara terus berlanjut,“Hadirin dan tamu undangan sekalian. Kini tiba saatnya kedua mempelai akan melakukan pemotongan kue pernikahan,” seru sang MC dengan sangat antusias.Acara potong kue di pernikahan antara William Danielson dan Amelia Joanna Lewis, tiba juga. Semua mata tertuju pada kue yang d
William dan Amelia, dua jiwa yang telah lama saling mencintai, kini telah berdiri di altar pernikahan, di depan para tamu undangan yang memenuhi ballroom hotel bintang lima yang sungguh mewah. Wajah mereka berdua sungguh memancarkan kebahagiaan yang tak terhingga, seolah-olah keduanya sudah tidak s
“William! Tunggu sebentar, Mommy akan memperbaiki dasimu,” tutur Nyonya Martha Danielson kepada putra tunggalnya. Saat ini mereka sedang berada di ruang tunggu hotel tempat William dan Amelia akan mengikat janji suci pernikahan mereka.“Iya, Mommy.” jawab William Danielson, lalu membiarkan sang ibu
Acara pernikahan William dan Amelia masih berlangsung dengan begitu meriah dan megah. Tenda-tenda berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga yang beraneka ragam menambah keindahan suasana. Cahaya lampu yang berpendar lembut menambah suasana menjadi semakin hangat dan romantis.Setelah acara makan yan







