Home / Fantasi / KUTUKAN DARAH EMAS / Bab 2: Bara di Puncak Es

Share

Bab 2: Bara di Puncak Es

Author: Bommz
last update Last Updated: 2025-10-26 20:30:21

Sensasi pertama yang dirasakan Rey, yang kini bernama Kael di dimensi baru ini, adalah kedinginan yang menusuk hingga sumsum—kedinginan yang melampaui konsep suhu di dunia manusia biasa. Setelah kilatan cahaya keemasan yang buta dari Liontin Emas Varthas, Lembah Naga yang lembab dan berasap segera digantikan oleh bau es murni dan ozon yang tajam, menusuk rongga hidung.

​Varthas ambruk ke atas permukaan salju yang tebal di puncak Gunung Es Abadi, Aethelgard. Napasnya terengah-engah, bunyi desahannya terdengar keras di keheningan gunung. Energi teleportasi Liontin itu telah menguras hampir seluruh sisa Ranahnya. Ia memeluk Kael, memastikan bayi itu terlindungi dari suhu yang mampu membekukan darah dalam hitungan menit. Rambut merah Kael yang menyala tampak kontras dan ganjil—seperti bara yang terperangkap di tengah putihnya bentangan es. Di atas mereka, langit musim dingin bersinar dengan cahaya utara yang kejam, memancarkan warna hijau dan ungu yang dingin.

​"Lompatan pertama berhasil," gumam Varthas, suaranya parau. Ia segera membangun perisai aura biru tua minimalis, yang memberikan sedikit kehangatan hampa di tengah badai salju tipis yang menyambut kedatangan mereka. Ia harus segera pergi, melaksanakan janji pada Jaron dan Alisa.

​Varthas membaringkan Kael di atas kulit beruang tebal, yang terasa kasar dan berminyak di jari-jarinya. Ia menatap wajah polos itu. Mata emas vertikalnya tertutup rapat, tetapi Varthas bisa merasakan Api Abadi berdenyut kuat di dalam dada bayi itu—sebuah denyutan panas yang melawan Kedinginan Aethelgard.

​"Kau harus kuat, Nak," bisik Varthas, tangannya gemetar saat mengusap pipi Kael. "Di sini, tidak ada air mata Ibu atau kehangatan Ayah. Hanya ada takdir dan latihan yang tak terhindarkan. Gunung Es ini akan menjadi penjara dan gurumu. Kau akan dipaksa menjadi Ranah Legenda—karena jika tidak, Magis Kerajaan akan menghancurkanmu."

​Ia tahu. Tugasnya adalah melakukan kekejaman yang diperlukan demi memenuhi Ramalan. Varthas merobek ujung jubahnya yang lusuh, melilitkannya dengan lembut namun tegas di sekitar mata Kael—sebuah penutup mata abadi. Sentuhan kain di mata itu adalah pengajaran pertama: mengajarinya melihat dunia Ranah tanpa menggunakan cahaya fisik, memaksa indra spiritualnya berkembang.

​Varthas mencium kening Kael, kemudian ia berdiri. Ia mengumpulkan sisa-sisa terakhir energi sihirnya yang tersimpan di Liontin Emas itu. Rasa lelahnya begitu pekat hingga ia merasakan darah mengalir deras di telinganya.

​"Aku akan kembali membawa orang tuamu ke tempat aman, dan kemudian aku akan kembali untukmu," janjinya pada salju yang berterbangan.

​Dalam kilatan cahaya emas yang jauh lebih redup dan singkat, Varthas melompat menjauh dari Aethelgard, meninggalkan Rey sendirian. Seketika, kedinginan segera menyerbu, mengikis perlindungan aura yang tersisa.

​Desisan halus, yang bukan tangisan bayi melainkan suara uap Ranah yang terperangkap, keluar dari bibir Rey/Kael. Ini adalah insting murni Darah Emas, secara otomatis memanggil Api Abadi untuk menjaga jantungnya tetap berdetak di tengah suhu yang mematikan. Anak itu kini merasakan panas membakar dari dalam, melawan beku yang mengancamnya dari luar.

​Di sana, di puncak gunung yang beku, di bawah langit berwarna abu-abu gelap yang sunyi, Rey memulai hidup barunya. Tidak ada kehangatan, hanya angin yang melolong seperti serigala kelaparan, mengukir salju menjadi bentuk-bentuk tajam. Kutukan seekor naga telah jatuh ke darah ini, sebuah takdir yang menuntutnya untuk tumbuh di antara Manusia Biasa dan Es. Sepotong kecil bara api—anak yang ditutup matanya dan terbungkus kulit—kini berjuang sendirian di atas panggung dunia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KUTUKAN DARAH EMAS   Bab 21: Kekebalan Cinta, Aura Pakaian, dan Panggung Ujian

    Mentari merekah di ufuk timur, namun kediaman orang tua Rey diselimuti aura tebal dan berkilauan. Udara terasa berat, diisi energi yang nyaris kasat mata. Rey baru saja kembali, menuntaskan ritual penyembuhan terakhir untuk Lyli. Tubuhnya kini memancarkan keagungan, terbungkus aura lembut dari Alam Spiritual yang baru diraihnya. Kulitnya seputih porselen, bersinar dengan kehangatan yang aneh, berpadu kontras dengan tatapan mata naga emasnya yang tajam dan penuh perhitungan. Di punggungnya, Cakram Dewa yang dulu ditakuti dunia kini tampak nyata—lingkaran emas cemerlang yang berdenyut merah—walaupun dalam mode Tembus. Rey memusatkan seluruh fokusnya, mengerahkan setiap kemauannya. Ia harus terus-menerus mengendalikan Cakram itu agar tetap tak berwujud, mencegahnya menghancurkan segala sesuatu hanya dengan sentuhan ringan. Kekuatan di dalamnya begitu besar, bahkan gesekan kecil pun bisa berakibat fatal. "Tenanglah," bisik Rey pada Cakram itu, merasakan denyutannya yang liar. "Kita harus

  • KUTUKAN DARAH EMAS   Bab 20: Kebangkitan Sang Naga: Sembilan Tahun di Bawah Veridian

    Rey mengunjungi orang tuanya, menjelaskan keputusannya untuk menjalani latihan tertutup selama sembilan tahun. Mereka memberikan restu dengan berat hati, berpesan agar Rey selalu berhati-hati. "Nak, latihan macam ini bukan main-main. Jangan sampai kenapa-kenapa di sana," pesan Ayahnya dengan suara berat, namun tersirat kekhawatiran. "Ibu khawatir sekali, Rey. Sembilan tahun itu lama sekali. Tapi kalau itu yang terbaik untukmu, Ibu bisa apa," timpal Ibunya, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Rey mengangguk, menggenggam tangan mereka erat-erat. "Aku janji akan baik-baik saja. Aku akan kembali," janjinya dengan nada meyakinkan. Rey mengantar Lyli ke gerbang Akademi Veridian. Ia memberikan jimat Angelica, simbol cintanya dan janji untuk selalu melindungi Lyli. "Lyli, latihan yang benar, ya? Jangan malas-malasan," pesan Rey, matanya menatap dalam mata gadis itu, menyembunyikan kekhawatiran yang sama. Lyli membalas tatapannya, air mata berlinang di pipinya. "Aku akan merindukanmu,

  • KUTUKAN DARAH EMAS   Bab 19: Pilihan dan Pembuktian

    Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, menari-nari di wajah Lyli. Aroma telur dadar dan roti panggang memenuhi udara, membuatnya menggeliat nyaman di balik selimut. Hari ini, tepat seminggu sudah ia terdaftar di Akademi Veridian. Di dapur, Rey dengan cekatan membalikkan telur dadar di atas teflon. Aroma harum masakannya selalu berhasil membangkitkan semangat Lyli. Di rumah ini, tidak ada pelayan. Keluarga Rey terbiasa melakukan segala pekerjaan rumah tangga sendiri, sebuah tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Alissa, ibunda Rey, memasuki dapur dengan senyum hangat. "Lyli sudah bangun?" tanyanya lembut. Rey mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari masakan. "Sebentar lagi turun, Ibu." Alissa mendekat dan mengusap rambut Rey dengan sayang. "Kau ini terlalu memanjakannya, Rey. Biarkan dia melakukan semuanya sendiri." "Tidak apa-apa, Ibu. Aku senang bisa membantunya," jawab Rey tulus. Alissa kemudian menoleh ke arah meja makan, tempat beberapa potong

  • KUTUKAN DARAH EMAS   Bab 18: Jarum Takdir: Kisah Kael di Balik Jahitan

    Aroma manis roti bakar dan telur orak-arik perlahan merayap ke dalam mimpi Lyli, membangunkannya dari tidurnya yang nyenyak. Matanya mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang lembut yang menyelinap melalui celah-celah tirai. Sebuah senyuman merekah di bibirnya. Aroma itu... itu pasti Papa. Dengan langkah riang, Lyli menuruni tangga menuju dapur kecil yang terhubung dengan toko jahit. Pemandangan yang menyambutnya menghangatkan hatinya. Kael, dengan apron kebesaran yang melilit tubuhnya, berdiri di depan kompor, tampak sangat fokus saat membalik roti di atas wajan. Rambut merahnya yang biasanya tertata rapi sedikit berantakan, dan ada sedikit noda tepung di pipinya. Di ruang makan, Alissa dan Jaron saling bertukar pandang dengan ekspresi terkejut. Mereka mengenal Kael sebagai sosok yang dingin dan jarang menunjukkan emosi. Pemandangan ini benar-benar di luar dugaan mereka. "Apa yang sedang terjadi?" bisik Alissa, matanya membulat. "Sejak kapan Kael memasak? Dan sejak kapa

  • KUTUKAN DARAH EMAS   Bab 17: Kehangatan Keluarga, Kebahagiaan Lyli, dan Kejutan di Rumah

    Kael dan Lyli dihadang oleh sekumpulan Pemburu Elit dari Kekaisaran Regnum. Jumlah mereka lebih dari 20 orang, tubuh mereka kekar dalam balutan baju zirah hitam legam. Para Pemburu Elit ini memancarkan aura dingin dan mengancam, mata mereka menyipit penuh perhitungan. Mereka menggenggam artefak yang bernama Segel Perunggu Naga, yang memancarkan cahaya redup namun terasa menyesakkan, seolah mampu menghisap kekuatan sihir.Rey merasa kerepotan melawan mereka. Biasanya, dia bisa memanggil api abadinya, merasakan panasnya membakar kulit dan mendengar deru nyala yang dahsyat, untuk melenyapkan musuh dalam sekejap. Namun, sekarang kekuatannya terasa tumpul, seolah terikat oleh rantai tak kasat mata, karena efek Segel Perunggu Naga.Rey memutar otak mencari cara untuk melawan mereka, keringat dingin membasahi pelipisnya. Sementara Lyli, yang bersembunyi di belakangnya, mencengkeram erat ujung jubahnya, tubuhnya bergetar seperti daun tertiup angin.Dengan fokus yang sangat tinggi, Rey memfoku

  • KUTUKAN DARAH EMAS   Bab 16: Jejak Darah Emas

    (Setelah pertarungan dengan Sage Tombak)Pertarungan dengan Sage Tombak bahkan tidak bisa disebut sebagai pertarungan. Bagi Kael, atau Rey, seperti yang dulu ibunya memanggilnya, itu lebih seperti menginjak seekor semut yang mengganggu. Setiap gerakan Sage Tombak terasa lambat dan lemah, setiap serangannya mudah dihindari. Kael bahkan tidak perlu mengeluarkan seluruh kekuatannya.Dengan gerakan anggun, Kael mengalirkan auranya. Di hadapan Sage Tombak, perlahan-lahan terbentuklah sekuntum mawar yang berwarna merah pekat keemasan. Bukan tangkai berduri yang berbahaya, melainkan hanya kelopak bunga yang memancarkan aura mematikan, membuat Sage Tombak gemetar ketakutan.Mawar itu tampak kecil dan tidak berbahaya, namun Sage Tombak merasakan firasat buruk yang menusuk jantungnya. Dia ingin melarikan diri, namun kakinya terasa terpaku di tanah.Tiba-tiba, mawar itu berteleportasi, muncul tepat di depan dada Sage Tombak. Dalam sekejap mata, mawar itu membesar, ukurannya melampaui pepohonan d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status