LOGINVarthas berdiri di depan Kael di Lembah Naga. Keheningan yang menggantikan raungan kekacauan ENS terasa berat. Kael, berusia delapan tahun, kini berdiri dengan keseimbangan sempurna, Pedang Besi di tangan kanannya. Lengan kirinya kini ditutupi lapisan kristal ungu samar di bawah kulitnya—bekas pemadatan Energi Naga Sisa—lambang Ranah Grand Master yang baru ia capai.
"Tiga Ranah pertama telah selesai, Kael," ujar Varthas, suaranya kembali parau, menahan beban usianya. "Kau menguasai Darah Emas, tetapi itu tidak akan cukup di antara manusia. Mereka tidak akan menyerang dengan aura, melainkan dengan tipu daya, intrik, dan perang. Ranah Keempat, Ranah Sage, menantimu. Kau harus menjadi Sword Sage—seorang ahli strategi yang mampu mengalahkan musuh sebelum mereka sempat mengangkat pedang." Varthas mengulurkan tangannya, dan sekejap, aura emas membungkus keduanya. Ini adalah lompatan terakhir. Kael merasakan pusaran energi membalikkan perutnya (Perabaan), diikuti rasa pahit logam di mulutnya (Pengecapan) yang selalu menyertai teleportasi jarak jauh. Lompatan berakhir dengan tiba-tiba. Kedinginan dan kelembaban Lembah Naga seketika digantikan oleh suhu yang hangat dan bau yang asing—aroma asap kayu bakar, tanah kering, dan bau kulit yang disamak (Penciuman). Ini adalah bau kehidupan manusia. Kael tahu mereka telah tiba. Varthas membimbing Kael berjalan di sepanjang jalan setapak yang ditutupi debu kering. Di depan mereka, menjulang tembok batu berwarna abu-abu yang menjulang tinggi, dihiasi lumut tipis di beberapa bagian. Ini adalah Kota Veridian, kota pelabuhan yang ramai, tempat di mana Jaron dan Alisa bersembunyi. "Penyamaran kita sempurna. Mata emas vertikalmu kini berbentuk normal, Darah Emasmu tersembunyi," Varthas berbisik. "Di sini, kau adalah anak yatim piatu yang kucari di hutan. Kau harus belajar, Kael. Belajar menjadi manusia, bukan hanya senjata." Saat mereka melewati gerbang kota, Pendengaran Kael dihantam oleh gelombang suara. Keriuhan. Suara roda gerobak berdecit, teriakan pedagang, tawa anak-anak, dan bisikan penjaga gerbang. Ini adalah kekacauan sensorik yang jauh berbeda dari desisan gurun atau lolongan es. Kael merasakan sedikit pusing, dan ototnya menegang; refleksnya sebagai Master dan Grand Master ingin bereaksi terhadap setiap gerakan yang tidak terduga. Varthas merasakan ketegangan Kael. Ia meletakkan tangan keriputnya di bahu Kael. "Kontrol, Kael. Inilah ujianmu. Ranah Sage bukan tentang kekuatan fisik. Ini tentang Persepsi Mental—membedakan niat, bukan hanya aura." Mereka bergerak melalui pasar yang padat. Kael, yang mata fisiknya ditutup sejak bayi, merasakan lingkungan ini dengan Perabaan Spiritual yang luar biasa detail. Ia bisa merasakan kehangatan orang yang lewat, getaran cemas di balik suara tawa, dan aura samar ketamakan dari pedagang. Namun, tidak ada aura yang murni busuk atau murni suci; semuanya bercampur, samar, dan rumit. Ini lebih sulit daripada melawan Cakar Besi. Varthas membawa Kael ke sebuah rumah kecil yang terbuat dari batu dan kayu tua. Di dalam, sebuah pedang baru tergeletak di atas meja. Pedang itu tampak sederhana, gagangnya dibungkus kulit. Pedang ini lebih ringan daripada Pedang Besi yang dibawa Kael selama bertahun-tahun, tetapi memancarkan aura dingin yang asing. "Pedang Besi yang kau bawa adalah disiplin, Kael. Pedang ini," Varthas menunjuk ke pedang baru, "adalah Cahaya Perunggu. Ini adalah alatmu di dunia manusia. Ringan, cepat, dan tersembunyi. Pelatihan Ranah Sage akan dimulai di bawah tanah kota ini, di mana konflik manusia membusuk. Kau akan belajar merancang konflik, bukan menghadapinya." Kael mengangguk, mengambil Pedang Cahaya Perunggu itu. Perabaan-nya mencatat: logam yang tajam, dingin, dan terasa rapuh dibandingkan Pedang Besi yang berat. Ia merasakan janji baru: menggunakan kekuatan dengan kecerdasan, bukan hanya kekuatan murni. Varthas tersenyum singkat, senyum yang jarang. "Di sinilah orang tuamu bersembunyi, Kael. Jaron dan Alisa. Mereka aman, tetapi mereka tidak akan tahu kau ada di dekat mereka. Kau harus melatih taktikmu di antara orang-orang yang mereka cintai." Kael menatap keheningan di balik pintu rumah. Ia bisa merasakan kehangatan emosi manusia biasa, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan di gurun atau di es. Kehendak Murni Kael, yang selama ini hanya fokus pada bertahan hidup, kini mendapatkan fokus baru: melindungi. Ranah Sage telah dimulai.Mentari merekah di ufuk timur, namun kediaman orang tua Rey diselimuti aura tebal dan berkilauan. Udara terasa berat, diisi energi yang nyaris kasat mata. Rey baru saja kembali, menuntaskan ritual penyembuhan terakhir untuk Lyli. Tubuhnya kini memancarkan keagungan, terbungkus aura lembut dari Alam Spiritual yang baru diraihnya. Kulitnya seputih porselen, bersinar dengan kehangatan yang aneh, berpadu kontras dengan tatapan mata naga emasnya yang tajam dan penuh perhitungan. Di punggungnya, Cakram Dewa yang dulu ditakuti dunia kini tampak nyata—lingkaran emas cemerlang yang berdenyut merah—walaupun dalam mode Tembus. Rey memusatkan seluruh fokusnya, mengerahkan setiap kemauannya. Ia harus terus-menerus mengendalikan Cakram itu agar tetap tak berwujud, mencegahnya menghancurkan segala sesuatu hanya dengan sentuhan ringan. Kekuatan di dalamnya begitu besar, bahkan gesekan kecil pun bisa berakibat fatal. "Tenanglah," bisik Rey pada Cakram itu, merasakan denyutannya yang liar. "Kita harus
Rey mengunjungi orang tuanya, menjelaskan keputusannya untuk menjalani latihan tertutup selama sembilan tahun. Mereka memberikan restu dengan berat hati, berpesan agar Rey selalu berhati-hati. "Nak, latihan macam ini bukan main-main. Jangan sampai kenapa-kenapa di sana," pesan Ayahnya dengan suara berat, namun tersirat kekhawatiran. "Ibu khawatir sekali, Rey. Sembilan tahun itu lama sekali. Tapi kalau itu yang terbaik untukmu, Ibu bisa apa," timpal Ibunya, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Rey mengangguk, menggenggam tangan mereka erat-erat. "Aku janji akan baik-baik saja. Aku akan kembali," janjinya dengan nada meyakinkan. Rey mengantar Lyli ke gerbang Akademi Veridian. Ia memberikan jimat Angelica, simbol cintanya dan janji untuk selalu melindungi Lyli. "Lyli, latihan yang benar, ya? Jangan malas-malasan," pesan Rey, matanya menatap dalam mata gadis itu, menyembunyikan kekhawatiran yang sama. Lyli membalas tatapannya, air mata berlinang di pipinya. "Aku akan merindukanmu,
Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, menari-nari di wajah Lyli. Aroma telur dadar dan roti panggang memenuhi udara, membuatnya menggeliat nyaman di balik selimut. Hari ini, tepat seminggu sudah ia terdaftar di Akademi Veridian. Di dapur, Rey dengan cekatan membalikkan telur dadar di atas teflon. Aroma harum masakannya selalu berhasil membangkitkan semangat Lyli. Di rumah ini, tidak ada pelayan. Keluarga Rey terbiasa melakukan segala pekerjaan rumah tangga sendiri, sebuah tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Alissa, ibunda Rey, memasuki dapur dengan senyum hangat. "Lyli sudah bangun?" tanyanya lembut. Rey mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari masakan. "Sebentar lagi turun, Ibu." Alissa mendekat dan mengusap rambut Rey dengan sayang. "Kau ini terlalu memanjakannya, Rey. Biarkan dia melakukan semuanya sendiri." "Tidak apa-apa, Ibu. Aku senang bisa membantunya," jawab Rey tulus. Alissa kemudian menoleh ke arah meja makan, tempat beberapa potong
Aroma manis roti bakar dan telur orak-arik perlahan merayap ke dalam mimpi Lyli, membangunkannya dari tidurnya yang nyenyak. Matanya mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang lembut yang menyelinap melalui celah-celah tirai. Sebuah senyuman merekah di bibirnya. Aroma itu... itu pasti Papa. Dengan langkah riang, Lyli menuruni tangga menuju dapur kecil yang terhubung dengan toko jahit. Pemandangan yang menyambutnya menghangatkan hatinya. Kael, dengan apron kebesaran yang melilit tubuhnya, berdiri di depan kompor, tampak sangat fokus saat membalik roti di atas wajan. Rambut merahnya yang biasanya tertata rapi sedikit berantakan, dan ada sedikit noda tepung di pipinya. Di ruang makan, Alissa dan Jaron saling bertukar pandang dengan ekspresi terkejut. Mereka mengenal Kael sebagai sosok yang dingin dan jarang menunjukkan emosi. Pemandangan ini benar-benar di luar dugaan mereka. "Apa yang sedang terjadi?" bisik Alissa, matanya membulat. "Sejak kapan Kael memasak? Dan sejak kapa
Kael dan Lyli dihadang oleh sekumpulan Pemburu Elit dari Kekaisaran Regnum. Jumlah mereka lebih dari 20 orang, tubuh mereka kekar dalam balutan baju zirah hitam legam. Para Pemburu Elit ini memancarkan aura dingin dan mengancam, mata mereka menyipit penuh perhitungan. Mereka menggenggam artefak yang bernama Segel Perunggu Naga, yang memancarkan cahaya redup namun terasa menyesakkan, seolah mampu menghisap kekuatan sihir.Rey merasa kerepotan melawan mereka. Biasanya, dia bisa memanggil api abadinya, merasakan panasnya membakar kulit dan mendengar deru nyala yang dahsyat, untuk melenyapkan musuh dalam sekejap. Namun, sekarang kekuatannya terasa tumpul, seolah terikat oleh rantai tak kasat mata, karena efek Segel Perunggu Naga.Rey memutar otak mencari cara untuk melawan mereka, keringat dingin membasahi pelipisnya. Sementara Lyli, yang bersembunyi di belakangnya, mencengkeram erat ujung jubahnya, tubuhnya bergetar seperti daun tertiup angin.Dengan fokus yang sangat tinggi, Rey memfoku
(Setelah pertarungan dengan Sage Tombak)Pertarungan dengan Sage Tombak bahkan tidak bisa disebut sebagai pertarungan. Bagi Kael, atau Rey, seperti yang dulu ibunya memanggilnya, itu lebih seperti menginjak seekor semut yang mengganggu. Setiap gerakan Sage Tombak terasa lambat dan lemah, setiap serangannya mudah dihindari. Kael bahkan tidak perlu mengeluarkan seluruh kekuatannya.Dengan gerakan anggun, Kael mengalirkan auranya. Di hadapan Sage Tombak, perlahan-lahan terbentuklah sekuntum mawar yang berwarna merah pekat keemasan. Bukan tangkai berduri yang berbahaya, melainkan hanya kelopak bunga yang memancarkan aura mematikan, membuat Sage Tombak gemetar ketakutan.Mawar itu tampak kecil dan tidak berbahaya, namun Sage Tombak merasakan firasat buruk yang menusuk jantungnya. Dia ingin melarikan diri, namun kakinya terasa terpaku di tanah.Tiba-tiba, mawar itu berteleportasi, muncul tepat di depan dada Sage Tombak. Dalam sekejap mata, mawar itu membesar, ukurannya melampaui pepohonan d







