Beranda / Fantasi / KUTUKAN DARAH EMAS / Bab 8: Bayangan di Bawah Veridian

Share

Bab 8: Bayangan di Bawah Veridian

Penulis: Bommz
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-26 20:30:18

​Di bawah rumah kecil yang baru mereka tempati, Varthas telah membuka jalan rahasia, sebuah tangga spiral gelap yang memimpin ke jaringan terowongan kuno. Udara di bawah sana dingin dan lembab, berbeda dengan kehangatan kota di atas. Penciuman Kael segera menangkap bau yang asing: campuran lumut tua, tanah basah, dan aroma manis samar dari sisa-sisa sihir yang sudah lama mati—bukti bahwa terowongan ini dulunya adalah tempat Magis.

​"Kota Veridian dibangun di atas kota tua, dan kota tua dibangun di atas rahasia," jelas Varthas, menyalakan lentera minyak kecil yang cahayanya berkedip, memantul di dinding batu yang basah. "Ranah Sage dimulai di sini, Kael. Kau akan meninggalkan Pedang Besi. Senjatamu sekarang adalah Pedang Cahaya Perunggu, dan yang lebih penting, akalmu."

​Pedang Cahaya Perunggu terasa ringan dan hampir tidak nyata di tangan Kael. "Ranah Sage," lanjut Varthas, suaranya dipenuhi ketegasan, "adalah tingkatan yang hampir tidak pernah disentuh manusia biasa. Ia sangat langka. Ini bukan tentang kekuatan Magis, melainkan tentang menguasai pola pikir manusia—karena mereka jauh lebih rumit daripada badai es."

​Varthas menunjuk ke dinding terowongan. Dinding itu ditutupi ukiran-ukiran kuno yang nyaris tidak terlihat. "Musuhmu di Ranah ini adalah manusia dengan konflik, politik, dan ketamakan. Mereka bergerak seperti Bayangan Veridian—tidak terlihat, tetapi nyata."

​Pelatihan pertama Kael di sini jauh berbeda dari pertarungan aura. Varthas memaksa Kael untuk duduk di persimpangan terowongan selama berhari-hari. Kael harus menggunakan Pendengaran dan Penglihatan Spiritual-nya untuk memetakan setiap pergerakan yang terjadi di atas kota, di dalam dinding, dan di bawah tanah.

​Setiap gerakan di atas memiliki Frekuensi Niat. Kael harus memisahkan frekuensi-frekuensi tersebut: suara roda gerobak dan tawa anak-anak (gerakan acak), bisikan di malam hari atau langkah kaki yang disamarkan (intrik kecil), dan fluktuasi aura tipis atau denyutan energi tersembunyi (ancaman Magis Kerajaan). Memproses ribuan data sensorik secara simultan jauh lebih melelahkan daripada menangkis Cakar Besi. Kael merasakan Pengecapan Rasa Sakit mental yang berdenyut di dahinya, tetapi ia menolak menyerah.

​Suatu malam, Kael melaporkan. "Di sektor utara, terdengar langkah kaki tiga orang. Mereka bergerak lambat, menyebar, dan suara mereka merangkak rendah di dinding. Mereka bukan pedagang."

​"Niat mereka?" tanya Varthas.

​"Mereka mencari sesuatu. Niat mereka tidak membunuh, tetapi mencari kelemahan. Frekuensi getaran di kaki mereka menunjukkan mereka membawa beban ringan dan bergerak dengan perhitungan," Kael menjawab. Ia menggunakan Perabaan Spiritual untuk memvisualisasikan langkah kaki tersebut di benaknya.

​Varthas tersenyum dalam kegelapan. "Benar. Mereka adalah mata-mata dari Serikat Pedagang yang mencoba menemukan harta karun tersembunyi. Kau mulai membaca manusia, Kael. Itulah Taktik. Sekarang, saatnya mengubah persepsimu menjadi aksi."

​Varthas memberikan Kael latihan kedua: Ujian Jejak Bayangan. Kael harus menyelinap melalui jaringan terowongan yang telah dipasang dengan jebakan aura kecil oleh Varthas. Kael tidak boleh memicu satu pun jebakan. Namun, ia juga harus meletakkan jejak aura palsu—seolah-olah ada orang lain yang lewat.

​"Kau harus bergerak seperti angin, tetapi meninggalkan bukti seperti batu. Musuh harus yakin mereka mengejar bayangan yang salah, Kael," perintah Varthas.

​Kael mulai menyelinap. Ia menggunakan kecepatan Ranah Master dan kontrol aura Ranah Grand Master untuk bergerak di antara jebakan. Ia menyadari, taktik bukan tentang bergerak cepat, melainkan bergerak tepat waktu—menggunakan suara kota di atas sebagai penyamaran bagi langkahnya sendiri.

​Saat ia berhasil menghindari semua jebakan, Kael memancarkan gelombang kecil Api Abadi-nya ke dinding basah, tetapi ia segera menarik energinya kembali, meninggalkan sisa panas (Perabaan) yang samar. Bau belerang dari Api Abadinya menghilang hampir seketika (Penciuman), tetapi jejak panasnya akan meyakinkan siapa pun yang menyelidiki bahwa seseorang baru saja melewati tempat itu dengan kecepatan tinggi—tetapi ke arah yang salah.

​Kael kembali, napasnya tersengal. "Selesai. Jejak mengarah ke barat, padahal aku ke timur."

​Varthas mengangguk. "Taktik bukan hanya tentang pedang, Kael. Ini tentang memanipulasi persepsi musuh. Kau mulai menguasai Ranah Sage. Dan kita harus menjaga rahasia ini. Jika ada yang tahu Darah Emas mencapai Ranah Sage, seluruh Kerajaan akan tahu Rey telah kembali."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • KUTUKAN DARAH EMAS   Bab 21: Kekebalan Cinta, Aura Pakaian, dan Panggung Ujian

    Mentari merekah di ufuk timur, namun kediaman orang tua Rey diselimuti aura tebal dan berkilauan. Udara terasa berat, diisi energi yang nyaris kasat mata. Rey baru saja kembali, menuntaskan ritual penyembuhan terakhir untuk Lyli. Tubuhnya kini memancarkan keagungan, terbungkus aura lembut dari Alam Spiritual yang baru diraihnya. Kulitnya seputih porselen, bersinar dengan kehangatan yang aneh, berpadu kontras dengan tatapan mata naga emasnya yang tajam dan penuh perhitungan. Di punggungnya, Cakram Dewa yang dulu ditakuti dunia kini tampak nyata—lingkaran emas cemerlang yang berdenyut merah—walaupun dalam mode Tembus. Rey memusatkan seluruh fokusnya, mengerahkan setiap kemauannya. Ia harus terus-menerus mengendalikan Cakram itu agar tetap tak berwujud, mencegahnya menghancurkan segala sesuatu hanya dengan sentuhan ringan. Kekuatan di dalamnya begitu besar, bahkan gesekan kecil pun bisa berakibat fatal. "Tenanglah," bisik Rey pada Cakram itu, merasakan denyutannya yang liar. "Kita harus

  • KUTUKAN DARAH EMAS   Bab 20: Kebangkitan Sang Naga: Sembilan Tahun di Bawah Veridian

    Rey mengunjungi orang tuanya, menjelaskan keputusannya untuk menjalani latihan tertutup selama sembilan tahun. Mereka memberikan restu dengan berat hati, berpesan agar Rey selalu berhati-hati. "Nak, latihan macam ini bukan main-main. Jangan sampai kenapa-kenapa di sana," pesan Ayahnya dengan suara berat, namun tersirat kekhawatiran. "Ibu khawatir sekali, Rey. Sembilan tahun itu lama sekali. Tapi kalau itu yang terbaik untukmu, Ibu bisa apa," timpal Ibunya, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Rey mengangguk, menggenggam tangan mereka erat-erat. "Aku janji akan baik-baik saja. Aku akan kembali," janjinya dengan nada meyakinkan. Rey mengantar Lyli ke gerbang Akademi Veridian. Ia memberikan jimat Angelica, simbol cintanya dan janji untuk selalu melindungi Lyli. "Lyli, latihan yang benar, ya? Jangan malas-malasan," pesan Rey, matanya menatap dalam mata gadis itu, menyembunyikan kekhawatiran yang sama. Lyli membalas tatapannya, air mata berlinang di pipinya. "Aku akan merindukanmu,

  • KUTUKAN DARAH EMAS   Bab 19: Pilihan dan Pembuktian

    Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, menari-nari di wajah Lyli. Aroma telur dadar dan roti panggang memenuhi udara, membuatnya menggeliat nyaman di balik selimut. Hari ini, tepat seminggu sudah ia terdaftar di Akademi Veridian. Di dapur, Rey dengan cekatan membalikkan telur dadar di atas teflon. Aroma harum masakannya selalu berhasil membangkitkan semangat Lyli. Di rumah ini, tidak ada pelayan. Keluarga Rey terbiasa melakukan segala pekerjaan rumah tangga sendiri, sebuah tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Alissa, ibunda Rey, memasuki dapur dengan senyum hangat. "Lyli sudah bangun?" tanyanya lembut. Rey mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari masakan. "Sebentar lagi turun, Ibu." Alissa mendekat dan mengusap rambut Rey dengan sayang. "Kau ini terlalu memanjakannya, Rey. Biarkan dia melakukan semuanya sendiri." "Tidak apa-apa, Ibu. Aku senang bisa membantunya," jawab Rey tulus. Alissa kemudian menoleh ke arah meja makan, tempat beberapa potong

  • KUTUKAN DARAH EMAS   Bab 18: Jarum Takdir: Kisah Kael di Balik Jahitan

    Aroma manis roti bakar dan telur orak-arik perlahan merayap ke dalam mimpi Lyli, membangunkannya dari tidurnya yang nyenyak. Matanya mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang lembut yang menyelinap melalui celah-celah tirai. Sebuah senyuman merekah di bibirnya. Aroma itu... itu pasti Papa. Dengan langkah riang, Lyli menuruni tangga menuju dapur kecil yang terhubung dengan toko jahit. Pemandangan yang menyambutnya menghangatkan hatinya. Kael, dengan apron kebesaran yang melilit tubuhnya, berdiri di depan kompor, tampak sangat fokus saat membalik roti di atas wajan. Rambut merahnya yang biasanya tertata rapi sedikit berantakan, dan ada sedikit noda tepung di pipinya. Di ruang makan, Alissa dan Jaron saling bertukar pandang dengan ekspresi terkejut. Mereka mengenal Kael sebagai sosok yang dingin dan jarang menunjukkan emosi. Pemandangan ini benar-benar di luar dugaan mereka. "Apa yang sedang terjadi?" bisik Alissa, matanya membulat. "Sejak kapan Kael memasak? Dan sejak kapa

  • KUTUKAN DARAH EMAS   Bab 17: Kehangatan Keluarga, Kebahagiaan Lyli, dan Kejutan di Rumah

    Kael dan Lyli dihadang oleh sekumpulan Pemburu Elit dari Kekaisaran Regnum. Jumlah mereka lebih dari 20 orang, tubuh mereka kekar dalam balutan baju zirah hitam legam. Para Pemburu Elit ini memancarkan aura dingin dan mengancam, mata mereka menyipit penuh perhitungan. Mereka menggenggam artefak yang bernama Segel Perunggu Naga, yang memancarkan cahaya redup namun terasa menyesakkan, seolah mampu menghisap kekuatan sihir.Rey merasa kerepotan melawan mereka. Biasanya, dia bisa memanggil api abadinya, merasakan panasnya membakar kulit dan mendengar deru nyala yang dahsyat, untuk melenyapkan musuh dalam sekejap. Namun, sekarang kekuatannya terasa tumpul, seolah terikat oleh rantai tak kasat mata, karena efek Segel Perunggu Naga.Rey memutar otak mencari cara untuk melawan mereka, keringat dingin membasahi pelipisnya. Sementara Lyli, yang bersembunyi di belakangnya, mencengkeram erat ujung jubahnya, tubuhnya bergetar seperti daun tertiup angin.Dengan fokus yang sangat tinggi, Rey memfoku

  • KUTUKAN DARAH EMAS   Bab 16: Jejak Darah Emas

    (Setelah pertarungan dengan Sage Tombak)Pertarungan dengan Sage Tombak bahkan tidak bisa disebut sebagai pertarungan. Bagi Kael, atau Rey, seperti yang dulu ibunya memanggilnya, itu lebih seperti menginjak seekor semut yang mengganggu. Setiap gerakan Sage Tombak terasa lambat dan lemah, setiap serangannya mudah dihindari. Kael bahkan tidak perlu mengeluarkan seluruh kekuatannya.Dengan gerakan anggun, Kael mengalirkan auranya. Di hadapan Sage Tombak, perlahan-lahan terbentuklah sekuntum mawar yang berwarna merah pekat keemasan. Bukan tangkai berduri yang berbahaya, melainkan hanya kelopak bunga yang memancarkan aura mematikan, membuat Sage Tombak gemetar ketakutan.Mawar itu tampak kecil dan tidak berbahaya, namun Sage Tombak merasakan firasat buruk yang menusuk jantungnya. Dia ingin melarikan diri, namun kakinya terasa terpaku di tanah.Tiba-tiba, mawar itu berteleportasi, muncul tepat di depan dada Sage Tombak. Dalam sekejap mata, mawar itu membesar, ukurannya melampaui pepohonan d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status