Share

Bab 8

Auteur: Lilian
Di layar ponsel, informasi penerbangan tertera jelas: [Keberangkatan besok.]

Malam itu, Naomi kembali ke tempat yang pernah dia sebut sebagai “rumah”, untuk merapikan barang-barang terakhir yang tersisa.

Sebagian besar koper sudah tertata rapi. Yang tersisa hanyalah beberapa benda kecil dan kini semuanya sudah dikumpulkan ke sudut koper.

Adapun foto pernikahan, cincin kawin yang berkilau menyilaukan, bahkan gaun pengantin putih nan rumit yang hanya dia kenakan sekali, semua sudah dibuang olehnya.

Terakhir, Naomi berdiri di tengah ruang tamu untuk menatap sekeliling.

Inilah rumah yang ditata sedikit demi sedikit dengan penuh harapan, setelah Arthur melamarnya.

Cat dinding abu-abu hangat dipilihnya dengan cermat dari toko ke toko. Lebar sofa yang dipilihnya itu bertujuan agar mereka bisa bersandar ketika menonton film bersama. Penataan peralatan makan mencerminkan kehidupan sehari-hari yang hangat di masa depan, semua sesuai dengan bayangannya.

Tempat ini pernah memuat seluruh imajinasinya yang murni dan membara tentang pernikahan dan rumah.

Namun sekarang, dia tak membutuhkannya lagi.

Keesokan hari, ketika fajar mulai menyingsing.

Naomi menarik koper terakhirnya. Mobil yang dipesan telah tiba tepat waktu dan sedang menunggu di luar.

Ponselnya bergetar. Muncul nama Arthur di layar ponselnya.

“Naomi.” suaranya serak, tetaapi dingin, “Datanglah ke rumah sakit.”

“Semalam karena ulahmu, luka Nadine kembali terbuka. Dia demam ringan semalaman dan emosinya sangat tidak stabil. Kamu harus datang dan meminta maaf langsung, sampai dia benar-benar memaafkanmu.”

Dari seberang, samar terdengar tangisan Nadine yang terisak.

Jari Naomi mengepal tanpa sadar. Namun di hatinya hampa, tanpa rasa.

“Baik.”

Toh ini yang terakhir. Anggap saja sebagai permintaan maaf atas nama dirinya yang pernah mencintai Arthur diam-diam.

“Pak, kita ke rumah sakit dulu, ya.”

Di ruang rawat, lengan Nadine sudah dibalut ulang. Wajahnya pucat pasi.

Lucas dan perawat berdiri di samping. Semua pandangan tertuju pada Naomi.

Pandangan menghakimi, menunggu, terselip celaan.

Naomi berkata datar, “Nadine, saya mohon maaf atas perilaku saya semalam yang tidak pantas dan sudah membuat Anda ketakutan dan menderita.”

Tanpa peringatan, Arthur mengangkat kaki dan menendang ringan ke lipatan lututnya.

Naomi tak sempat menghindar. Tubuhnya terhuyung ke depan, kedua lutut menghantam lantai keramik dengan keras.

Rasa nyeri tumpul menyeruak. Dia menggertakkan gigi.

“Berlutut. Permintaan maaf harus terlihat seperti permintaan maaf.” Suara Arthur menghantam gendang telinganya yang berdengung.

Jantung Naomi serasa diremas, membuatnya sulit bernapas.

“Nadine, atas tindakan gegabah saya semalam yang menyebabkan penderitaan fisik dan mental bagi Anda, saya menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya. Ini sepenuhnya kesalahan saya, tanpa alasan pembelaan apa pun. Mohon maafkan saya.”

Usai berkata demikian, dia tetap berlutut dan membungkukkan badan sedikit.

Nadine menatapnya. Kilatan puas melintas di matanya.

“Aku menerima permintaan maafmu. Nanti ke depannya jangan diulangi lagi.”

“Tidak akan.”

Tak akan ada kata nanti.

Naomi berdiri dan langsung berbalik pergi.

“Kamu mau ke mana?”

Arthur mengulurkan tangan menghalanginya. Entah mengapa, ada kegelisahan di dadanya. Namun yang dia sentuh hanyalah lengan Naomi yang kurus.

“Bukan urusanmu.”

Naomi menghindarinya. Dia melangkah tegas tanpa menoleh sekali pun.

Di dalam mobil menuju bandara, Naomi memblokir dan menghapus semua kontak Arthur termasuk orang-orang terkait Keluarga Pradana dan nomor Nadine.

Setelah itu, dia mematikan ponselnya.

Pesawat melesat menembus awan. Di luar jendela, matahari bersinar terang di atas langit biru tak bertepi.

Selamat tinggal, Arthur.

Selamat tinggal, lima tahun kepahitan dan kebodohan.

Pesawat membawanya menuju pagi yang baru.

Pagi tanpa Arthur.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 24

    Dua tahun kemudian, pada suatu senja musim kemarau.Naomi berdiri di balkon rumah barunya, kedua tangannya sedang memegang secangkir teh bunga yang masih hangat.Apartemen itu tidak terlalu besar, tetapi pencahayaannya sangat baik. Saat ini, cahaya matahari senja menembus pintu kaca, mewarnai interior dengan rona keemasan yang hangat.Di taman kecil di bawah, pohon-pohon yang baru ditanam mulai bermekaran jarang-jarang. Setiap kali angin berembus, aroma samar yang lembut ikut terangkat ke udara.Rio memeluk pinggangnya dari belakang dengan lembut, dagunya bertumpu di puncak kepalanya.“Sedang melihat apa sampai melamun begitu?”“Tidak apa-apa,” Naomi sedikit menyandarkan tubuhnya ke belakang, menyerap kehangatan yang menenangkan dari tubuhnya. “Hanya merasa ... Musim ini benar-benar sudah tiba.”Suara Naomi terdengar tenang dan lembut.Namun Rio tahu, di balik ketenangan itu, ada proses pemulihan yang berjalan perlahan selama dua tahun penuh.Beberapa bulan pertama adalah masa yang pal

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 23

    Arthur dilarikan ke ruang gawat darurat.Peluru menembus sisi kiri dadanya, dengan presisi merobek organ vital dan pembuluh darah utama. Meski dokter dan perawat bergerak cepat melakukan penyelamatan, angka-angka di monitor tetap merosot tajam.Saat Arthur didorong keluar dari ruang operasi, pada detik terakhir sebelum kesadarannya tenggelam ke dalam kegelapan tak bertepi, penglihatannya yang kabur justru menembus bayangan ganda dan terfokus dengan susah payah.Dia melihat sosok yang tidak jauh darinya, Naomi yang dipeluk erat oleh Rio.Wajah Naomi pucat pasi. Air mata mengalir tak terkendali, meluruhkan debu dan noda darah di pipinya. Tubuhnya gemetar hebat, tetapi pandangannya terpaku ke arahnya. Tak bergeser sedikit pun.Sepasang mata yang begitu dikenalnya, kini penuh cahaya air mata yang membasahi wajahnya. Menjadi secercah cahaya terakhir yang bergetar di dunia Arthur yang kian meredup.Bibirnya yang pecah-pecah bergerak tipis tanpa disadari orang-orang, seolah ingin memeras sisa

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 22

    Gudang nomor 3 di area pertambangan tua tampak gelap dan rusak.Di tengah gudang, Naomi terikat pada sebuah kursi besi. Nadine menggenggam pistol tua, menunggu dengan gelisah kedatangan Arthur dan Rio.Di sudut gudang, dua preman saling bertukar pandang cemas. Telapak tangan mereka sudah basah oleh keringat.Mereka menunduk menatap layar ponsel, berniat menghubungi orang di luar saat situasi kacau. Namun ketika Arthur dan Rio muncul bergantian di pintu masuk gudang bagian bawah, gerakan mereka seketika membeku.Salah satu preman bergumam pelan, “Sial … ini jadi masalah besar.”“Kita cuma mau cari uang, bukan bikin perkara ....”Preman lainnya meraih ponsel di pinggang untuk meminta bantuan, tetapi di detik berikutnya suara jerit Nadine yang tajam membuatnya terpaku di tempat.“Jangan bergerak!”Nadine sepenuhnya kehilangan kendali. Kedua preman mundur beberapa langkah, tak berani bergerak lagi.Udara seperti tong mesiu yang terbakar. Ketegangan meledak seketika.Salah satu preman tanpa

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 21

    “Kenapa pria seperti Arthur yang bahkan tak kuinginkan, justru berputar-putar mengelilingimu?!”“Karena kamu, Arthur sampai membatalkan kerja sama antara Keluarga Pradana dan keluargaku!”Suara Nadine makin melengking, nyaris merobek udara.“Kamulah yang merampas segalanya dariku! Kalau bukan karena kamu, Arthur tidak akan berubah! Aku masih akan menjadi putri Keluarga Ravelly, masih menjadi Nadine yang dikagumi semua orang! Semua ini karena kamu! Kamu pembawa sial!”“Kamu gila!” Naomi menatap wajahnya tajam. Rasa dingin menjalar dari telapak kaki ke sekujur tubuh.“Apa pun yang dilakukan Arthur adalah pilihan mereka sendiri. Apa hubungannya denganku? Itu karena kamu sendiri ....”“Diam!!”Nadine menjerit, lalu tiba-tiba meraih sesuatu di sampingnya.Jantung Naomi seakan berhenti berdetak.Itu sebuah pistol model lama!Meski moncongnya belum tepat mengarah padanya, lubang hitam itu sudah cukup untuk membekukan darah siapa pun.“Berani bicara satu kata lagi,” suara Nadine merendah, namu

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 20

    Di sebuah sore yang tampak biasa.Toko bunga menerima pesanan mendesak untuk rangkaian bunga pernikahan, namun mendadak kekurangan beberapa jenis bunga pendamping khusus.Kebetulan, toko buku Rio sedang melakukan inventaris bulanan sehingga dia tidak bisa membantu.Setelah mengecek peta di ponselnya, Naomi pun pergi sendiri dengan sepeda motor listrik menuju pasar grosir bunga di pinggiran kota.Pasar itu ternyata lebih jauh dari perkiraannya. Saat perjalanan pulang, langit sudah gelap, dan keranjang motornya berisi beberapa kotak bahan bunga.Ketika melewati ruas jalan yang sepi, sebuah van tua berwarna abu-abu tiba-tiba mempercepat laju dari belakang, hampir menempel pada motornya.Hati Naomi menegang. Dia refleks menghindar ke kanan.Namun mobil van itu justru memotong ke arah yang sama dengan kasar.Motor listriknya terjepit dan terdorong ke tepi jalan, oleng hebat beberapa kali. Nyaris menabrak pembatas jalan barulah akhirnya berhenti.Belum sempat Naomi menarik napas, pintu depan

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 19

    Senja tiba, lampu-lampu kota mulai menyala.Naomi dan Rio baru saja keluar dari toko buku. Masing-masing menenteng beberapa buku pilihan baru, bersiap menuju sebuah rumah makan rumahan yang terkenal enak di ujung jalan.Tepat ketika mereka hendak berbelok ke lorong menuju restoran itu, sebuah sosok melangkah keluar dari bayang-bayang pohon di tepi jalan, menghadang langkah mereka.Itu Arthur.Tampaknya dia baru keluar dari rumah sakit. Wajahnya masih pucat di bawah cahaya lampu jalan, tubuhnya pun terlihat lebih kurus dibanding sebelumnya.Tatapan Arthur terpaku lurus pada wajah Naomi, lalu menyapu Rio di sampingnya, sebelum akhirnya berhenti pada jarak dekat yang begitu alami di antara mereka. Seluruh tubuhnya memancarkan ketegangan dan kegigihan yang terasa asing di tengah suasana jalan yang hangat dan membumi.“Naomi.”Dia membuka mulut dengan suaranya yang serak.“Kita perlu bicara.”Langkah Naomi terhenti. Senyum ringan di wajahnya memudar seketika. Alisnya berkerut, dan tanpa sad

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status