Share

Bab 6

Auteur: Lilian
Kata-kata perawat belum sepenuhnya hilang ketika teriakan riuh terdengar di ujung koridor.

"Minggir! Pasien kehilangan darah semakin parah!" Jantung Naomi menegang. Dia refleks bergegas keluar dari bangsal.

Tandu itu dengan cepat didorong melewatinya dan meninggalkan jejak darah di lantai. Pemandangan yang minyilaukan sekaligus menusuk mata.

Arthur berlari di samping tandu. Seluruh ketenangan yang dimilikinya lenyap seketika. Suaranya bergetar,

"Nadine, bertahanlah! Tolong buka matamu dan lihat aku, oke? Aku akan mendengarkan semua perkataanmu mulai sekarang. Kumohon jangan menakutiku ...." Pintu ruang gawat darurat tertutup rapat.

Arthur berdiri di sana seolah kehilangan jiwanya. Napasnya terengah-engah.

Sesaat kemudian, dia tiba-tiba membenturkan kepalanya ke dinding, seolah kehilangan kendali, "Jika sesuatu terjadi pada Nadine, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri!"

Benturan itu bergema, hingga muncul bercak bengkak di dahinya.

Refleks dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon sambil berteriak, "Cepat panggil ahli bedah terbaik, ahli anestesi terbaik, dan bank darah terbaik di negara ini untuk menyiapkan semuanya! Semuanya!" Setelah itu dia menekan nomor lain dan menampilkkan nama Lucas Cendrawan di layar ponselnya.

Lucas Cendrawan, seorang ahli bedah trauma ternama di seluruh negeri. Beliau selalu sibuk melakukan operasi dan menghadiri konferensi internasional. Bagi orang biasa, daftar tunggu operasinya bisa mencapai tiga tahun.

Bahkan sebelum panggilan terhubung sepenuhnya, dia sudah berbicara dengan tergesa-gesa, "Profesor Lucas, ini Arthur. Nadine sedang dalam bahaya. Anda perlu datang dan segera mengoperasinya. Sebutkan berapa harga yang Anda mau."

Seseorang di seberang telepon terdiam sesaat, "Saya ada jadwal demonstrasi operasi di Kota Dekasi. Tidak bisa keburu kalau ke sana malam ini."

Mata Arthur langsung memerah, "Saya akan memberikan Sistem Pemodelan Saraf Tersembunyi C193 untuk Anda! Asalkan Anda datang."

Jantung Naomi berdebar kencang.

Itu merupakan teknologi inti Pradana Group yang dikembangkan dengan biaya 1 triliun, tetapi belum diproduksi massal. Bahkan sebagian kecilnya pun akan sangat dicari oleh komunitas medis internasional.

Seseorang di ujung telepon akhirnya mengalah, "Baik, saya akan segera ke sana." Arthur berterima kasih dengan lembut. Lampu putih dingin rumah sakit menerangi wajahnya yang hampir tak terkendali.

Naomi tertegun.

Dia belum pernah melihat Arthur seperti ini sebelumnya.

Sikapnya yang asing ini membuatnya hampir tidak mengenalinya.

Pada saat ini, kepala departemen administrasi rumah sakit berlari mendekat. Sambil terengah-engah dengan dahi yang dipenuhi keringat berkata, "Pak Arthur, ada kamera pengawas di dekat lokasi kejadian. Kami sudah mengambil rekamannya dan perlu Anda untuk memasitkan."

Arthur bahkan tidak mendongak, "Tidak, Nadine masih di ruang operasi. Saya harus tetap bersamanya!"

"Operasinya tidak akan selesai dalam waktu singkat, jadi itu tidak akan memengaruhi waktu Anda untuk tetap bersama Nona Nadine. Tapi kecelakaan ini terjadi di rumah sakit, jadi rumah sakit harus memastikan tanggung jawabnya."

"Sudah kubilang, aku tidak akan meninggalkan tempat ini!"

Suara Arthur tiba-tiba meninggi, setiap kata dipenuhi dengan kepanikan dan kemarahan yang terpendam, "Nadine masih dalam proses penyelamatan! Segala hal lain bisa menunggu sampai Nadine dinyatakan baik-baik saja!"

Kepala departemen administrasi terkejut mendengar teriakan itu. Dia membuka mulutnya, tetapi tidak berani mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap Naomi dengan mata memohon.

Naomi terdiam selama dua detik sebelum dengan lembut berkata, "Aku akan ikut melihat rekaman kamera pengawas bersamamu."

Dalam rekaman itu, terlihat wajah Nadine berlinang air mata, "Aku tahu seharusnya aku tidak kembali ... aku memang terlalu berlebihan."

"Cepat kembali dan jaga Naomi. Dialah yang seharusnya kau rawat."

Detik berikutnya, dia tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau. Cahaya ujung pisau yang dingin tampak berkilau. Kemudian tanpa ragu, dia mengiris pergelangan tangannya.

Saat darah menyembur keluar, Arthur dalam rekaman pengawas benar-benar langsung kehilangan kendali dan bergegas memeluknya.

...

Ketika Naomi kembali ke ruang operasi, dia melihat Arthur berlutut di lantai. Tangannya terkatup tampak sedang berdoa dengan khusyuk.

"Ya Tuhan, lindungi Nadine, semoga dia bisa melewati masa kritis ini."

Arthur yang biasanya angkuh dan tenang kini hanya dipenuhi permohonan dalam keputusasaan.

Naomi tercengang.

Dia teringat ketika pertama kali bersama Arthur. Dia berlutut di sebuah kuil dekat kaki pegunungan sampai kakinya mati rasa, hanya berdoa agar mereka bersama selamanya.

Arthur hanya meliriknya dengan acuh tak acuh, lalu melemparkan jimat itu ke atas meja, "Takhayul."

"Aku tidak butuh ini."

Kehangatan jimat itu masih terasa di tangannya. Naomi tiba-tiba mengerti.

Yang disebut "bersama selamanya" hanyalah angan-angan belaka.

Doa dan harapan tulus Arthur, sejak awal, tak pernah ada hubungannya dengan dirinya.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 24

    Dua tahun kemudian, pada suatu senja musim kemarau.Naomi berdiri di balkon rumah barunya, kedua tangannya sedang memegang secangkir teh bunga yang masih hangat.Apartemen itu tidak terlalu besar, tetapi pencahayaannya sangat baik. Saat ini, cahaya matahari senja menembus pintu kaca, mewarnai interior dengan rona keemasan yang hangat.Di taman kecil di bawah, pohon-pohon yang baru ditanam mulai bermekaran jarang-jarang. Setiap kali angin berembus, aroma samar yang lembut ikut terangkat ke udara.Rio memeluk pinggangnya dari belakang dengan lembut, dagunya bertumpu di puncak kepalanya.“Sedang melihat apa sampai melamun begitu?”“Tidak apa-apa,” Naomi sedikit menyandarkan tubuhnya ke belakang, menyerap kehangatan yang menenangkan dari tubuhnya. “Hanya merasa ... Musim ini benar-benar sudah tiba.”Suara Naomi terdengar tenang dan lembut.Namun Rio tahu, di balik ketenangan itu, ada proses pemulihan yang berjalan perlahan selama dua tahun penuh.Beberapa bulan pertama adalah masa yang pal

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 23

    Arthur dilarikan ke ruang gawat darurat.Peluru menembus sisi kiri dadanya, dengan presisi merobek organ vital dan pembuluh darah utama. Meski dokter dan perawat bergerak cepat melakukan penyelamatan, angka-angka di monitor tetap merosot tajam.Saat Arthur didorong keluar dari ruang operasi, pada detik terakhir sebelum kesadarannya tenggelam ke dalam kegelapan tak bertepi, penglihatannya yang kabur justru menembus bayangan ganda dan terfokus dengan susah payah.Dia melihat sosok yang tidak jauh darinya, Naomi yang dipeluk erat oleh Rio.Wajah Naomi pucat pasi. Air mata mengalir tak terkendali, meluruhkan debu dan noda darah di pipinya. Tubuhnya gemetar hebat, tetapi pandangannya terpaku ke arahnya. Tak bergeser sedikit pun.Sepasang mata yang begitu dikenalnya, kini penuh cahaya air mata yang membasahi wajahnya. Menjadi secercah cahaya terakhir yang bergetar di dunia Arthur yang kian meredup.Bibirnya yang pecah-pecah bergerak tipis tanpa disadari orang-orang, seolah ingin memeras sisa

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 22

    Gudang nomor 3 di area pertambangan tua tampak gelap dan rusak.Di tengah gudang, Naomi terikat pada sebuah kursi besi. Nadine menggenggam pistol tua, menunggu dengan gelisah kedatangan Arthur dan Rio.Di sudut gudang, dua preman saling bertukar pandang cemas. Telapak tangan mereka sudah basah oleh keringat.Mereka menunduk menatap layar ponsel, berniat menghubungi orang di luar saat situasi kacau. Namun ketika Arthur dan Rio muncul bergantian di pintu masuk gudang bagian bawah, gerakan mereka seketika membeku.Salah satu preman bergumam pelan, “Sial … ini jadi masalah besar.”“Kita cuma mau cari uang, bukan bikin perkara ....”Preman lainnya meraih ponsel di pinggang untuk meminta bantuan, tetapi di detik berikutnya suara jerit Nadine yang tajam membuatnya terpaku di tempat.“Jangan bergerak!”Nadine sepenuhnya kehilangan kendali. Kedua preman mundur beberapa langkah, tak berani bergerak lagi.Udara seperti tong mesiu yang terbakar. Ketegangan meledak seketika.Salah satu preman tanpa

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 21

    “Kenapa pria seperti Arthur yang bahkan tak kuinginkan, justru berputar-putar mengelilingimu?!”“Karena kamu, Arthur sampai membatalkan kerja sama antara Keluarga Pradana dan keluargaku!”Suara Nadine makin melengking, nyaris merobek udara.“Kamulah yang merampas segalanya dariku! Kalau bukan karena kamu, Arthur tidak akan berubah! Aku masih akan menjadi putri Keluarga Ravelly, masih menjadi Nadine yang dikagumi semua orang! Semua ini karena kamu! Kamu pembawa sial!”“Kamu gila!” Naomi menatap wajahnya tajam. Rasa dingin menjalar dari telapak kaki ke sekujur tubuh.“Apa pun yang dilakukan Arthur adalah pilihan mereka sendiri. Apa hubungannya denganku? Itu karena kamu sendiri ....”“Diam!!”Nadine menjerit, lalu tiba-tiba meraih sesuatu di sampingnya.Jantung Naomi seakan berhenti berdetak.Itu sebuah pistol model lama!Meski moncongnya belum tepat mengarah padanya, lubang hitam itu sudah cukup untuk membekukan darah siapa pun.“Berani bicara satu kata lagi,” suara Nadine merendah, namu

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 20

    Di sebuah sore yang tampak biasa.Toko bunga menerima pesanan mendesak untuk rangkaian bunga pernikahan, namun mendadak kekurangan beberapa jenis bunga pendamping khusus.Kebetulan, toko buku Rio sedang melakukan inventaris bulanan sehingga dia tidak bisa membantu.Setelah mengecek peta di ponselnya, Naomi pun pergi sendiri dengan sepeda motor listrik menuju pasar grosir bunga di pinggiran kota.Pasar itu ternyata lebih jauh dari perkiraannya. Saat perjalanan pulang, langit sudah gelap, dan keranjang motornya berisi beberapa kotak bahan bunga.Ketika melewati ruas jalan yang sepi, sebuah van tua berwarna abu-abu tiba-tiba mempercepat laju dari belakang, hampir menempel pada motornya.Hati Naomi menegang. Dia refleks menghindar ke kanan.Namun mobil van itu justru memotong ke arah yang sama dengan kasar.Motor listriknya terjepit dan terdorong ke tepi jalan, oleng hebat beberapa kali. Nyaris menabrak pembatas jalan barulah akhirnya berhenti.Belum sempat Naomi menarik napas, pintu depan

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 19

    Senja tiba, lampu-lampu kota mulai menyala.Naomi dan Rio baru saja keluar dari toko buku. Masing-masing menenteng beberapa buku pilihan baru, bersiap menuju sebuah rumah makan rumahan yang terkenal enak di ujung jalan.Tepat ketika mereka hendak berbelok ke lorong menuju restoran itu, sebuah sosok melangkah keluar dari bayang-bayang pohon di tepi jalan, menghadang langkah mereka.Itu Arthur.Tampaknya dia baru keluar dari rumah sakit. Wajahnya masih pucat di bawah cahaya lampu jalan, tubuhnya pun terlihat lebih kurus dibanding sebelumnya.Tatapan Arthur terpaku lurus pada wajah Naomi, lalu menyapu Rio di sampingnya, sebelum akhirnya berhenti pada jarak dekat yang begitu alami di antara mereka. Seluruh tubuhnya memancarkan ketegangan dan kegigihan yang terasa asing di tengah suasana jalan yang hangat dan membumi.“Naomi.”Dia membuka mulut dengan suaranya yang serak.“Kita perlu bicara.”Langkah Naomi terhenti. Senyum ringan di wajahnya memudar seketika. Alisnya berkerut, dan tanpa sad

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status