تسجيل الدخولAku menarik napas panjang, puas. Nafas Nadia di dalam monitor itu tersengal, tubuhnya melengkung, dan desahannya yang putus-putus seolah merambat ke telingaku.
Dia kembali berteriak namaku, mencapai puncak untuk kesekian kalinya, sementara tanganku masih menjelajahi setiap inci tubuhnya yang virtual, namun terasa begitu nyata. Aku tahu dia sudah sepenuhnya takluk, bahkan di alam bawah sadarnya sekalipun.
Setelah yakin Nadia tak akan bisa bangkit
Uap air masih menyelimuti cermin kamar mandi yang buram saat Sari melangkah keluar dengan tubuh yang masih lembap. Aku menyesuaikan fokus kacamata emasku, memperhatikan bagaimana jemarinya yang gemetar menarik kain denim biru pudar itu melewati paha mulusnya yang kini dipenuhi memar kemerahan. Kain itu bergesekan kasar dengan kulitnya yang sensitif, membuatnya sedikit meringis."Sialan, lihat cara dia memakai celana itu. Masih saja menantang."Herman menyulut rokok barunya, mengembuskan asap pekat ke arah Sari yang sedang berjuang menarik resleting jaket kulit hitamnya. Dua gundukan payudaranya yang montok terhimpit hebat, nyaris meluap dari balik potongan jaket yang terlalu pendek itu."Bang Bokir, mau kau bawa ke mana bini si Tarman ini? Jangan sampai hilang, bisa berabe urusannya."Pria botak bertato itu—Bokir—menyeringai lebar sambil melangkah mendekati Sari. Tanpa aba-aba, tangan kasarnya melingka
Sari tergeletak tak berdaya di atas seprai yang kini berubah warna menjadi abu-abu kusam, penuh noda dan bau amis yang menyengat. Napasnya tersengal, dadanya yang montok naik-turun dengan cepat seolah baru saja berlari maraton. Aku mengatur fokus kacamata emasku, memperbesar gambar tepat ke arah wajahnya. Tidak ada gurat penyesalan di sana. Yang kulihat hanyalah binar kepuasan yang menjijikkan namun menggairahkan. Jemari telunjuk dan jari tengah Sari bergerak perlahan, mengusap perutnya yang putih mulus. Di sana, cairan kental milik para preman itu menggenang, berkilau di bawah lampu kamar yang temaram. Dia mengumpulkan cairan itu di ujung jarinya, lalu dengan gerakan sensual yang disengaja, dia memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut, menjilatnya habis sambil menatap sayu ke arah para pria yang masih mengatur napas di sekelilingnya. "Gila, lihat pecun ini. Masih belum puas juga dia rupanya." Seorang preman
Sari menarik napas panjang, membiarkan bahunya merosot lemas. Tatapan matanya yang tadi sempat menyalang, kini meredup, menyisakan kepasrahan yang pekat."Lakukan apa saja yang Pak Herman mau. Aku tidak akan melawan lagi."Herman menyeringai lebar, menampakkan deretan giginya yang kuning karena asap rokok. Dia mendorong bahu Sari dengan kasar hingga wanita itu terjerembap ke atas kasur hotel yang berderit."Bagus. Begitu dong jadi perempuan. Harus tahu diri siapa yang berkuasa di sini."Herman berbalik, melambaikan tangan ke arah pintu yang masih terbuka lebar. Empat orang pria berbadan besar lainnya masuk, memenuhi ruangan sempit itu dengan aroma keringat dan bir murahan. Aku menyesuaikan letak kacamata emasku di atas sofa penthouse, menghitung jumlah mereka. Delapan orang. Delapan serigala lapar mengelilingi satu domba binal."Silakan, Bapak-bapak. Ini bonus dari saya karena kalian sudah setia menjaga saya dan Tarman
Pintu kamar hotel yang ringkih itu berderit terbuka, menghantam dinding dengan dentuman yang memuakkan. Aku menyesuaikan posisi kacamata emasku, menikmati visual tiga dimensi yang begitu jernih seolah-olah aku berdiri tepat di samping tempat tidur.Herman masuk lebih dulu, aromanya yang campuran antara keringat dan tembakau murah seakan menembus sistem sensorik kacamata. Di belakangnya, tiga orang preman berbadan kotak dengan tato yang mencuat dari balik kaos singlet mereka mengekor, mata mereka langsung terkunci pada tubuh Sari.Sari segera bangkit dari tepi ranjang. Dia memaksakan sebuah senyum binal, mendekati Herman dan melingkarkan lengannya ke leher pria itu dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat."Mas Tarman sudah bilang kalau Mas Herman bakal datang berkunjung malam ini. Kok lama sekali? Aku sudah menunggu sampai lumayan bosan."Herman tidak langsung menjawab. Matanya menyisir tubuh Sari dari atas ke bawah, berhenti lama pada belahan da
Lampu kristal di lobi penthouse milikku memantulkan cahaya yang menyilaukan saat aku melangkah masuk. Seragam OB biru kusam yang masih melekat di tubuhku terasa sangat kontras dengan kemewahan marmer Italia di bawah sepatuku. Aku baru saja akan menekan tombol lift pribadi ketika ponsel di saku bergetar pendek. Satu pesan dari Sari. "Tuan, malam ini aku harus menemui Herman lagi. Katanya ini perintah langsung dari Mas Tarman." Aku mendengus, sudut bibirku terangkat membentuk seringai sinis. Jempolku bergerak lincah di atas layar retak ponsel murah yang kugunakan untuk penyamaran. "Sepertinya kau akan dikerjai lagi, Sari. Sudah siap jadi piala bergilir untuk teman-teman premannya?" Balasannya muncul hanya dalam hitungan detik. Sepertinya dia memang sedang memegang ponselnya, menunggu instruksiku dengan napas tertahan. "Sepertinya begitu, Tuan Bejo. Apakah Tuan mau menonton pertunjukannya malam ini?" Aku melangkah masuk ke dalam lift, membiarkan pintu baja itu tertutup perlahan,
Langkahku terasa ringan saat menyusuri lantai marmer lobi apartemen yang dingin. Seringai lebar tidak bisa lepas dari wajahku; memori tentang Citra yang terengah-engah di atas meja pantry bersama Hardi masih terputar jelas di balik lensa kacamata emas ini. Aku memegang kendali penuh sekarang. Satu unggahan video, dan dunia putri kecil pemegang saham itu akan hancur berkeping-keping.Sebelum naik ke unitku, aku membelokkan langkah menuju area komersial. Lampu neon minimarket yang benderang menarik perhatianku. Di balik kaca transparan, aku melihat Mila. Pelayanku yang satu ini tampak sangat berbeda sore ini.Aku berhenti sejenak, memperhatikan pemandangan di depannya dari balik rak pajangan majalah. Mila mengenakan kemeja seragam yang ukurannya jelas dua nomor terlalu kecil. Kain sintetis itu meregang hingga batas maksimal, memperlihatkan tarikan benang yang nyaris putus di sekitar kancingnya. Dua kancing teratas sengaja dibuka, memamerkan belahan dadanya yang tertekan hebat hingga ta







