Beranda / Thriller / Kacamata Penakluk / 12. Bendahara desa

Share

12. Bendahara desa

Penulis: Lincooln
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-20 19:30:57

Sinar matahari menyengat mataku melalui celah dinding kayu yang mulai lapuk. Aku mengerang, meregangkan otot-otot yang terasa segar sekaligus ringan. Harum sisa keringat dan parfum melati milik Sari masih tertinggal di bantal lusuh ini, menjadi bukti bisu betapa liar wanita itu melayaniku hingga menjelang subuh.

Dia sudah menghilang sebelum fajar menyingsing, kembali ke rumah Tarman untuk menjalankan perannya sebagai istri muda yang patuh. Aku menyentuh pe

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kacamata Penakluk   18. Aksi di gudang herman

    Aku kembali mengenakan kacamata dan mengaktifkan mode monitor. Layar hologram biru di kornea mataku berkedip, menampilkan jalan setapak yang remang-remang di tepi hutan.Sosok Sari berjalan sendirian, langkahnya anggun, dengan jeans ketat dan jaket denim lusuh yang tidak dikancingkan sepenuhnya. Malam mulai merayap, menyelimuti desa dengan keheningan.Kilatan cahaya di kacamata ini berkedip, menandai lokasi gudang. Tidak jauh dari sana, cahaya lampu sorot yang remang-remang memecah kegelapan. Sebuah truk kontainer besar terparkir di halaman.Sepuluh pria berbadan kekar, dengan otot-otot menonjol di balik kaus lusuh mereka, tampak sibuk memindahkan karung-karung pupuk ke dalam truk. Mereka bukan wajah-wajah desa yang kukenal. Sepertinya mereka preman bayaran dari luar yang biasa digunakan untuk pekerjaan kotor.Sari semakin mendekat. Setiap langkah kakinya yang jenjang, setiap ayunan pinggulnya, adalah magnet yang

  • Kacamata Penakluk   17. Merasa dikhianati

    Layar hologram di sudut mataku kembali berpijar, menampilkan interior rumah mewah Tarman yang pengap oleh hawa ketegangan. Sari melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu, jejak-jejak pertemuanku dengannya tadi masih membekas di rona merah pipinya.Tarman sedang mondar-mandir di ruang tengah, puntung rokok berserakan di asbak kristal."Dari mana saja kamu? Bu RT bicara apa sampai lama sekali?"Sari meletakkan tasnya dengan dentum pelan di meja marmer, matanya menatap lurus ke arah suaminya yang tampak rapuh."Soal program desa, Mas. Tapi lupakan dulu. Aku baru saja berpikir, sebaiknya malam ini biar aku saja yang mengawasi pemindahan barang di gudang."Tarman menghentikan langkahnya, keningnya berkerut dalam. "Kamu? Sendirian? Sari, di sana itu cuma ada kuli-kuli bayaran dari luar desa. Mereka itu kasar, tidak kenal siapa kamu.""Justru itu, Mas. Kalau Kades baru itu atau intelny

  • Kacamata Penakluk   16. Menjadi umpan

    Aku harus segera menyiapkan rencana karena nanti malam mereka akan beraksi. Jemariku menari di atas layar ponsel, mengetik pesan singkat kepada Sari."Ke rumah Nenek. Sekarang. Aku tidak suka menunggu."Di monitor, aku melihat ponsel Sari yang tergeletak di samping paha Tarman bergetar. Wanita itu menyambarnya dengan gerakan kilat. Matanya membelalak, binar kegembiraan yang liar terpancar dari pupilnya yang melebar.Dia mencoba menahan senyum, tapi napasnya yang tiba-tiba memburu tidak bisa membohongi suaminya. Melihat Sari yang tiba-tiba bersemangat mendapatkan pesan, Tarman sepertinya curiga. Dia menyipitkan mata, tangannya berhenti meremas paha Sari."Siapa itu, sayang? Kok wajahmu sampai merah begitu?""Ini... ini Bu RT, Mas. Katanya ada urusan mendesak soal bantuan sosial untuk ibu-ibu di blok sebelah. Dia minta aku datang sekarang juga."Sari menjawab tanpa ragu, suaranya ter

  • Kacamata Penakluk   15. Menyembunyikan bukti

    Sari mencapai televisi, jari-jari tangannya menyentuh dudukan TV yang rendah. Punggungnya melengkung indah, bokongnya menungging penuh tantangan ke arah para pekerja yang kini terdiam mematung.Tangan kanannya terulur meraih tombol fisik di sisi bawah tv led besar itu, sementara tangan kirinya bertumpu pada lututnya yang berlipat. Posisi itu semakin menonjolkan lekukan pinggangnya, membuat daster tipisnya melar menampakkan celana dalam yang tipis.Dia menekan tombol berkali-kali, seolah sungguh-sungguh mencari saluran. Setiap penekanan, tubuhnya sedikit berguncang, membuat pinggulnya ikut bergoyang pelan.Goyangan kecil itu, meskipun sepele, mengirimkan gelombang sensasi ke tubuhnya yang sensitif maksimal, membuat napasnya sedikit memberat."Aduh, kok enggak bisa diganti-ganti sih?" Sari menggumam, suaranya sedikit sengau.Dia menyandarkan tubuhnya lebih jauh ke depan, membuat bokongnya semakin terangka

  • Kacamata Penakluk   14. Komplotan pencuri

    Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang berdebu, membiarkan pikiranku berputar liar memproses informasi di gudang tersembunyi itu. Bau korupsi ini jauh lebih menyengat daripada aroma bangkai tikus busuk yang tersembunyi di balik lemari.Di persimpangan dekat balai desa, sosok Pak RT muncul dengan bahu merosot dan langkah gontai. Wajahnya yang keriput terlihat lebih tua sepuluh tahun di bawah terik matahari siang ini. Aku langsung menghampiri dan mengiringi langkahnya dari samping."Lagi mikirin apa Pak RT? Sepertinya masalahnya berat."Sambil terus berjalan, Pak RT menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang gemetar. Ia menghela napas berat, asap dari rokok lintingannya mengepul pelan."Berat banget, Jo. Ini masalah perut warga desa.""Ada masalah apa sebenarnya?""Jadi, beberapa hari lalu gudang desa dicuri. Semua alat pertanian dan pupuk subsidi yang baru datang untuk musim tanam

  • Kacamata Penakluk   13. Aroma korupsi

    Aku menghela napas, menyandarkan punggung ke tiang kayu teras yang kasar. Sari dan Herman sudah cukup membuat perutku mual dengan kemurahan mereka. Kini, aku butuh tontonan yang lebih berkelas.Aku beralih ke menu monitor Nadia. Layar monitor di kornea mataku berkedip, beralih dari pemandangan kumuh di kantor bendahara desa menuju kemewahan dingin sebuah gedung perkantoran di pusat kota.Nadia duduk di balik meja mahoni besarnya yang mengilap. Wajah oriental itu tampak sangat gelisah. Blazer hitam yang tadi pagi ia kenakan kini tersampir di sandaran kursi, meninggalkan tubuh bagian atasnya hanya dibalut blouse tanpa lengan setelan crop top yang tipis.Karena sensitivitas tubuhnya yang masih kusetting maksimal, aku bisa melihat bagaimana ia terus bergeser di kursi empuknya, seolah permukaan kulitnya terbakar oleh udara AC yang dingin.Setiap gerakan kecil membuat kain blouse itu menggesek ujung dadanya. Nadia memej

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status