Se connecterSinar matahari menyengat mataku melalui celah dinding kayu yang mulai lapuk. Aku mengerang, meregangkan otot-otot yang terasa segar sekaligus ringan. Harum sisa keringat dan parfum melati milik Sari masih tertinggal di bantal lusuh ini, menjadi bukti bisu betapa liar wanita itu melayaniku hingga menjelang subuh.
Dia sudah menghilang sebelum fajar menyingsing, kembali ke rumah Tarman untuk menjalankan perannya sebagai istri muda yang patuh. Aku menyentuh pe
Pintu kamar hotel yang ringkih itu berderit terbuka, menghantam dinding dengan dentuman yang memuakkan. Aku menyesuaikan posisi kacamata emasku, menikmati visual tiga dimensi yang begitu jernih seolah-olah aku berdiri tepat di samping tempat tidur.Herman masuk lebih dulu, aromanya yang campuran antara keringat dan tembakau murah seakan menembus sistem sensorik kacamata. Di belakangnya, tiga orang preman berbadan kotak dengan tato yang mencuat dari balik kaos singlet mereka mengekor, mata mereka langsung terkunci pada tubuh Sari.Sari segera bangkit dari tepi ranjang. Dia memaksakan sebuah senyum binal, mendekati Herman dan melingkarkan lengannya ke leher pria itu dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat."Mas Tarman sudah bilang kalau Mas Herman bakal datang berkunjung malam ini. Kok lama sekali? Aku sudah menunggu sampai lumayan bosan."Herman tidak langsung menjawab. Matanya menyisir tubuh Sari dari atas ke bawah, berhenti lama pada belahan da
Lampu kristal di lobi penthouse milikku memantulkan cahaya yang menyilaukan saat aku melangkah masuk. Seragam OB biru kusam yang masih melekat di tubuhku terasa sangat kontras dengan kemewahan marmer Italia di bawah sepatuku. Aku baru saja akan menekan tombol lift pribadi ketika ponsel di saku bergetar pendek. Satu pesan dari Sari. "Tuan, malam ini aku harus menemui Herman lagi. Katanya ini perintah langsung dari Mas Tarman." Aku mendengus, sudut bibirku terangkat membentuk seringai sinis. Jempolku bergerak lincah di atas layar retak ponsel murah yang kugunakan untuk penyamaran. "Sepertinya kau akan dikerjai lagi, Sari. Sudah siap jadi piala bergilir untuk teman-teman premannya?" Balasannya muncul hanya dalam hitungan detik. Sepertinya dia memang sedang memegang ponselnya, menunggu instruksiku dengan napas tertahan. "Sepertinya begitu, Tuan Bejo. Apakah Tuan mau menonton pertunjukannya malam ini?" Aku melangkah masuk ke dalam lift, membiarkan pintu baja itu tertutup perlahan,
Langkahku terasa ringan saat menyusuri lantai marmer lobi apartemen yang dingin. Seringai lebar tidak bisa lepas dari wajahku; memori tentang Citra yang terengah-engah di atas meja pantry bersama Hardi masih terputar jelas di balik lensa kacamata emas ini. Aku memegang kendali penuh sekarang. Satu unggahan video, dan dunia putri kecil pemegang saham itu akan hancur berkeping-keping.Sebelum naik ke unitku, aku membelokkan langkah menuju area komersial. Lampu neon minimarket yang benderang menarik perhatianku. Di balik kaca transparan, aku melihat Mila. Pelayanku yang satu ini tampak sangat berbeda sore ini.Aku berhenti sejenak, memperhatikan pemandangan di depannya dari balik rak pajangan majalah. Mila mengenakan kemeja seragam yang ukurannya jelas dua nomor terlalu kecil. Kain sintetis itu meregang hingga batas maksimal, memperlihatkan tarikan benang yang nyaris putus di sekitar kancingnya. Dua kancing teratas sengaja dibuka, memamerkan belahan dadanya yang tertekan hebat hingga ta
Lantai koridor yang sepi memantulkan bunyi langkah kakiku yang sengaja kubuat seringan mungkin. Aku baru saja mengunci pintu gudang arsip, masih membawa aroma debu kertas tua di seragam OB-ku, ketika sosok mungil itu melintas di persimpangan menuju pantry. Citra. Rambut cokelat madunya bergoyang mengikuti langkahnya yang terburu-buru, matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan waspada.Ada apa dengan si anak manja ini? Bukannya dia tadi sudah mengancam akan memecatku dan pergi ke salon?Aku menempelkan jari ke bingkai kacamata emas ini, mengaktifkan mode siluman. Pandanganku sedikit menajam, kontras warna di sekitarku berubah saat sistem mulai memproses fokus maksimal. Aku membuntutinya, bersembunyi di balik bayangan pilar beton besar saat dia mendorong pintu pantry yang sedikit terbuka.Di dalam sana, bayangan seorang pria yang sangat kukenal berdiri membelakangi dispenser. Pak Hardi.Aku merapat ke dinding luar pantry, memiringkan kepala agar sensor kacamata bisa menangkap frekue
Lantai kantor terasa sunyi, hanya deru pendingin ruangan yang mengisi kekosongan koridor. Aku melirik jam dinding di atas meja resepsionis yang mulai sepi.Masih pukul empat sore, tapi kubikel Citra sudah melompong. Kursinya yang berwarna abu-abu itu tampak seperti ejekan setelah insiden tamparan tadi. Dia pasti sedang mengadu pada ayahnya, atau mungkin meratapi nasib rok putihnya yang kini bernoda lumpur."Lari saja yang jauh, Citra. Kau baru saja menandatangani kontrak nerakamu," gumamku sambil membenarkan letak kacamata emas yang masih dalam mode siluman.Aku melangkah pelan menuju bagian belakang gedung, tempat gudang arsip berada. Ini adalah benteng pribadiku, ruangan pengap penuh tumpukan kertas tua di mana aku sering mengurung diri dari dunia luar.Aku mengunci pintu kayu itu dari dalam, membiarkan bau apek dan debu menenangkan syarafku. Aku duduk di atas sebuah boks plastik besar, menarik napas dalam-dalam
Hardi masih tertawa terpingkal-pingkal sambil menggoyangkan ponsel di depan mataku ketika pintu ruangannya terdorong terbuka tanpa ketukan. Sosok mungil dengan langkah yang dibuat-buat anggun masuk begitu saja. Citra. Rambutnya yang dicat cokelat madu tergerai berantakan namun disengaja, membingkai wajahnya yang mungil dengan bibir yang selalu dipoles lipstik merah menyala.Hardi tersentak, jempolnya bergerak secepat kilat menyembunyikan layar ponsel ke dalam saku jas."Aduh, Om Hardi! Kok pintunya nggak dikunci sih? Kan aku jadi bisa masuk seenaknya."Citra melirikku sekilas, sudut bibirnya terangkat meremehkan seolah aku hanyalah seonggok sampah yang lupa dibuang. Dia berjalan mendekati meja Hardi, pinggulnya bergoyang berlebihan di balik rok kantor yang sangat ketat."Lagi asyik apa sih? Kok kayaknya serius banget sama... siapa tadi namanya? Oh, Bejo ya?"Hardi berdehem, mencoba mengatur kembali raut wajahnya yang sempat panik."Bukan apa-apa, Cit. Ini si Bejo cuma penasaran mau l







