Share

Bab 3 - Penagih Hutang

Auteur: Rianoir
last update Dernière mise à jour: 2026-01-19 12:33:42

Wulan yang baru keluar dari dapur langsung pucat pasi. Tangannya yang memegang spatula gemetar hebat. Dia menatap Ryan dengan panik, bibirnya bergetar tapi tidak ada kata yang keluar.

Ryan bangkit dari sofa, menatap ibunya dengan tatapan tenang. "Ibu, siapa mereka?"

"Ryan..." Wulan berbisik, suaranya hampir tidak terdengar. "Itu... itu orang-orang dari Tuan Budi. Mereka... mereka datang menagih utang."

"Utang?" Ryan mengerutkan kening. Sebelum dia bisa bertanya lebih lanjut, 

TOK TOK TOK!

"Nenek tua! Jangan berpura-pura tidak ada orang! Kalau tidak buka pintu, kami masuk paksa!"

Aira yang duduk di pojok ruangan tiba-tiba menutup bonekanya dengan erat. Wajah kecilnya pucat, tubuhnya gemetar ketakutan. Dia berlari ke belakang Wulan, bersembunyi di balik rok neneknya.

"Nenek... aku takut," bisik Aira, suaranya bergetar.

Melihat ketakutan di wajah putrinya, sesuatu di dalam diri Ryan bergejolak. Amarahnya mulai muncul ke permukaan seperti magma yang siap meletus, tapi dia menahannya dengan kuat. Lima ribu tahun kultivasi memberinya kontrol diri yang sempurna. Dia tidak ingin menakuti Aira lebih dari ini.

Ryan berjalan ke pintu dengan langkah tenang namun tegas.

Wulan segera menarik lengannya, wajahnya penuh kekhawatiran. "Ryan, jangan! Mereka orang-orang Tuan Budi! Mereka berbahaya! Mereka punya koneksi dengan..."

"Ibu," Ryan memotong lembut, menatap mata ibunya dengan tatapan menenangkan. "Percayalah padaku. Aku akan menangani ini."

Dia melepaskan pegangan ibunya dengan lembut, lalu membuka pintu.

**

Di luar berdiri tiga pria berbadan besar mengenakan pakaian serba hitam. Pemimpinnya adalah pria bertubuh kekar dengan rambut disisir rapi ke belakang, wajahnya penuh bekas luka. Matanya tajam dan penuh dengan kekerasan. Sebuah rantai perak tebal melingkar di lehernya, dan tato harimau terlihat di lengannya.

Pria itu, Gunawan, menatap Ryan dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. Senyum sinis perlahan muncul di bibirnya saat dia melihat penampilan Ryan yang compang-camping.

"Hoo? Ada wajah baru." Gunawan mengunyah permen karetnya dengan kasar. "Siapa kau? Pengemis yang nyasar?"

Ryan tidak menjawab. Dia hanya berdiri di ambang pintu, menatap ketiga pria itu dengan tatapan datar tanpa ekspresi.

Gunawan mengerutkan kening, tidak suka diabaikan. "Hei, aku bertanya! Kau tuli atau bodoh?"

Salah satu anak buah Gunawan, pria botak dengan tato ular di lehernya, tertawa mengejek. "Lihat penampilannya, Kak Gun. Compang-camping seperti gembel. Pasti baru keluar dari penjara."

"Atau baru lari dari rumah sakit jiwa," timpal yang satunya lagi, pria gemuk dengan wajah berminyak dan nafas tersengal-sengal.

Ketiganya tertawa keras, suara mereka bergema di gang sempit kompleks perumahan.

Ryan tetap diam, tidak bergeming. Tapi auranya perlahan berubah. Udara di sekitar pintu terasa sedikit lebih berat, seperti ada tekanan tak terlihat yang mulai menekan.

Gunawan berhenti tertawa. Entah kenapa, dia merasa sedikit tidak nyaman dengan tatapan pria di hadapannya. Mata itu... terlalu tenang. Terlalu tajam. Seperti mata predator yang sedang mengamati mangsanya.

Tapi dia segera mengabaikan perasaan itu. Dia sudah terlalu lama di jalanan untuk takut pada satu orang compang-camping.

"Sudahlah, tidak usah buang waktu dengan orang gila ini." Gunawan meludahkan permen karetnya ke samping, nyaris mengenai sepatu Ryan. Lalu dia menatap ke dalam rumah dengan tatapan menuntut. "Nenek Wulan! Aku tahu kau di dalam! Keluar sekarang!"

Wulan perlahan muncul dari balik Ryan, wajahnya pucat seperti mayat hidup. Tangannya masih gemetar memegang spatula. "Pak Gunawan, kumohon... beri kami waktu sedikit lagi. Anakku baru pulang, kami akan..."

"Waktu? WAKTU?" Gunawan memotong dengan suara keras yang membuat beberapa tetangga mengintip dari jendela. "Sudah berapa kali kau minta waktu? Dua bulan! Tiga bulan! Utang kalian sudah menumpuk sampai ke langit! Kalian pikir kami ini lembaga sosial? Yayasan amal?"

"Tapi kami sudah membayar dua kali..." Wulan mencoba membela diri dengan suara bergetar.

"Itu cuma bayar bunga!" teriak Gunawan, ludahnya menyembur. "Cuma BUNGA, mengerti? Pokoknya utang pokok harus dilunasi! Sekarang total utang kalian lima puluh juta GDP! Bayar sekarang atau..."

"Lima puluh juta?" Wulan hampir pingsan mendengar angka itu. Kakinya oleng, hampir terjatuh kalau Ryan tidak menopangnya. "Tapi kami cuma pinjam sepuluh juta!"

Gunawan menyeringai lebar, memamerkan gigi emasnya. "Bunga, Nenek. Bunga dan denda keterlambatan. Sudah tertulis jelas di kontrak yang kau tanda tangani. Ini bisnis, bukan sedekah."

"Itu tidak adil! Bunga kalian terlalu tinggi! Itu rentenir!"

"Hei, jaga bicaramu!" Pria gemuk melangkah maju dengan wajah mengancam, dadanya membentur bahu Ryan. "Kami ini bisnis legal! Ada izin resmi dari pemerintah! Kalau kau tidak senang, laporkan saja ke polisi!"

Dia tertawa sinis. Mereka semua tahu tidak ada gunanya melapor ke polisi. Tuan Budi punya koneksi di mana-mana.

"Legal atau tidak, itu bukan urusanku," kata Ryan tiba-tiba, suaranya dingin dan tajam seperti pedang es yang baru diasah. Setiap kata keluar dengan jelas, tenang, tapi penuh tekanan tersembunyi. "Yang jelas, kalian sedang mengancam keluargaku."

Ketiga preman itu terdiam sejenak, menatap Ryan dengan tatapan bingung.

Lalu Gunawan tertawa keras, lebih keras dari sebelumnya. "Oohh, jadi kau mau jadi pahlawan sekarang? Kau pikir kau siapa? Superman? Batman? Atau Gundala?"

Kedua anak buahnya ikut terbahak, memukul paha mereka sendiri.

"Aku Ryan Hartono," jawab Ryan datar, tanpa emosi. "Putra Wulan. Dan mulai sekarang, semua urusan keluarga ini adalah urusanku."

Gunawan menatapnya selama beberapa detik, lalu tertawa lebih keras lagi. Dia bahkan harus mengelap air matanya. 

"Dengar ya, Ryan Siapa Kau Tadi," dia maju selangkah, wajahnya sekarang sangat dekat dengan Ryan, jarak mereka hanya beberapa sentimeter. 

Napasnya yang bau tembakau dan alkohol menyeruak. "Aku tidak peduli kau siapa. Aku tidak peduli kau baru pulang dari mana. Yang aku tahu, keluargamu berhutang lima puluh juta pada Tuan Budi. Dan kalau tidak bisa bayar dalam tiga hari..."

Dia berhenti sejenak, membiarkan ketegangan menggantung di udara. Lalu menyeringai kejam, menampilkan senyum yang membuat banyak orang di kompleks ini bermimpi buruk.

"Kami akan ambil jaminannya. Rumah ini, barang-barang di dalamnya, atau..." Matanya melirik ke dalam rumah dengan tatapan menjijikkan, menatap Aira yang bersembunyi dengan mata penuh nafsu serakah. "Atau anak kecil itu. Cantik sekali. Banyak orang yang mau bayar mahal untuk anak manis seperti dia. Terutama untuk pasar luar negeri."

Suasana berubah.

Dalam sekejap. Udara menjadi berat. Sangat berat. Seperti gravitasi tiba-tiba meningkat sepuluh kali lipat.

WUSSH!

Sebelum Gunawan bisa berkedip, Ryan sudah mencengkeram kerah kemejanya dengan satu tangan. Gerakannya begitu cepat hingga mata manusia normal tidak bisa menangkap. Satu detik Gunawan masih berdiri santai, detik berikutnya dia sudah terangkat sedikit dari tanah.

Gunawan terkejut. Matanya melebar seperti bola pingpong. Dia mencoba melepaskan cengkeraman Ryan, menarik pergelangan tangan pria itu dengan kedua tangannya, tapi tangan Ryan seperti catok besi yang dikunci, tidak bergerak sama sekali, tidak bergetar sedikit pun.

"Apa... apa yang kau..." Gunawan mencoba berbicara, tapi suaranya tercekat.

"Ulangi kata-katamu barusan," bisik Ryan, suaranya sangat pelan tapi setiap suku kata terasa seperti belati dingin yang menusuk jantung. Matanya menatap langsung ke dalam jiwa Gunawan. "Tentang anakku."

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun karirnya sebagai preman, Gunawan merasakan ketakutan yang sesungguhnya.

Ini bukan lagi berhadapan dengan orang biasa.

Ini seperti berhadapan dengan iblis.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 11: Satu Tamparan

    "KURANG AJAR!" teriak Master Willem, suaranya bergema di seluruh ruangan. Dia melompat maju dengan kecepatan penuh, Qi-nya meledak dari seluruh tubuhnya. Tinjunya melesat cepat ke arah wajah Ryan dengan kekuatan yang bisa memecahkan tengkorak manusia biasa. Kecepatan dan kekuatan pukulan itu membuat udara berdengung keras, menciptakan tekanan angin yang membuat rambut para penonton berayun. Ini adalah serangan andalannya, Tinju Naga Menghancurkan Gunung! Para penonton menutup mata mereka, tidak sanggup melihat wajah Ryan hancur berantakan. "Mati kau!" PLAK! Suara tamparan keras terdengar, sangat keras hingga bergema seperti petir kecil. Ketika mereka membuka mata, pemandangan yang mereka lihat membuat rahang mereka terjatuh, mata terbelalak lebar. Ryan masih berdiri di tempatnya seperti patung, bahkan tidak bergerak satu milimeter pun. Bahkan tidak berkedip. Tangannya menangkap tinju Master Willem dengan mudah, seolah menangkap bola yang dilempar anak TK. Jari-jarinya b

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 10 - Master Willem

    Ryan berdiri di tengah kehancuran dengan napas yang masih teratur, bahkan tidak berkeringat. Pakaiannya masih rapi, tidak berantakan. Dia bahkan tidak menggunakan sepuluh persen kekuatannya. Manajer keamanan itu terpaku di tangga, wajahnya pucat seperti kertas. Tangannya gemetar hebat. "Tidak... tidak mungkin... ini tidak nyata..." Seluruh lobi terdiam dalam shock yang mencekam. Tidak ada yang menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Seorang pria, seorang pria biasa dengan pakaian sederhana, baru saja mengalahkan belasan penjaga terlatih dalam hitungan detik tanpa terluka sedikitpun. Ryan perlahan mengangkat kepalanya, menatap ke arah tangga merah karpet. Matanya fokus pada sosok yang berdiri di balkon lantai dua, seorang pria gemuk berusia pertengahan empat puluhan dengan wajah berminyak dan ekspresi yang tadinya arogan kini mulai luntur. Tuan Budi, bos klub ini sekaligus kepala geng terbesar di Kota Sentralis. Di sampingnya berdiri seorang lelaki tua kurus berusi

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 9 - Klub Malam Puncak Emas

    Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan topi pet lusuh."Klub Puncak Emas," jawab Ryan datar.Sopir taksi tersentak, nyaris menginjak rem. Dia menatap Ryan melalui kaca spion dengan tatapan terkejut dan was-was. "Klub Puncak Emas? Anda yakin, Pak?""Ya, kenapa?"Sopir itu ragu-ragu, tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Eh... tidak apa-apa, Pak. Hanya saja tempat itu... yah, tempat itu cukup terkenal. Bukan tempat untuk orang... eh, maksud saya, tempat itu eksklusif sekali. Orang biasa seperti kita jarang ke sana."Ryan tersenyum tipis. "Aku tahu. Antarkan saja.""Baik, Pak." Sopir itu masih terlihat ragu, tapi akhirnya menjalankan taksinya.Taksi melaju menembus jalanan kota. Ryan menat

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 8 - Masakan Kaisar Iblis

    Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya yang sedang tidur.Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, wajah Aira terlihat sangat damai. Bulu matanya yang panjang bergetar sedikit, hidung kecilnya, pipi chubby yang masih basah oleh air mata, semuanya sangat sempurna.'Dia mirip Elena,' pikir Ryan, tersenyum lembut. Bentuk wajahnya, lengkungan alisnya yang halus.Dia mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi Aira, tapi tangannya berhenti di udara. Dia tidak berani. Takut membangunkannya. Takut putrinya akan menatapnya dengan kebencian lagi.Ryan duduk di tepi tempat tidur, hanya menatap Aira dalam diam."Maafkan Ayah, Aira," bisiknya sangat pelan, hampir tidak terdengar. "Ayah tahu Ayah tidak berhak meminta maaf. Lima tahun... lima tahu

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 7 - Janji Ryan

    "Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke Aira.""Dia bilang pada kami untuk menjaga Aira baik-baik. Dia berjanji akan kembali begitu ada kesempatan. Lalu... lalu mereka membawanya pergi dengan paksa, menyeretnya ke dalam mobil. Aira menjerit memanggil ibunya, tapi..."Hendrik tidak bisa melanjutkan. Dia menunduk, bahunya bergetar.Suasana hening. Hanya terdengar isak tangis Wulan.Ryan duduk terdiam, tangannya mencengkeram ujung meja hingga kayu itu berderit.Setelah beberapa saat, Hendrik melanjutkan..."Beberapa bulan kemudian, setelah kami sudah sedikit punya uang dari menabung, ayahmu mencoba pergi ke Alexandris untuk menemui Elena. Ayah naik bus 5 jam, lalu jalan kaki 2 jam untuk sampai ke kediaman Keluarga Surya. Tapi..."Wulan

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 6 - Keluarga Yang Hancur

    Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik menatap Ryan dengan mata berkaca-kaca, tangannya yang kasar dan penuh kapalan, tanda bertahun-tahun bekerja keras, memegang tangan anaknya erat-erat, seolah takut Ryan akan menghilang lagi seperti lima tahun yang lalu."Ke mana saja kau selama ini, nak? Lima tahun... lima tahun kami mencarimu ke mana-mana," kata Hendrik, suaranya serak penuh emosi. "Polisi, rumah sakit, bahkan... bahkan kami cek ke kamar mayat."Ryan merasakan dadanya sesak mendengar itu. Dia menarik napas dalam. Dia tidak bisa menceritakan kebenaran, bahwa dia terjebat di dunia kultivasi selama lima ribu tahun, bertarung melawan iblis dan kultivator, menjadi Kaisar Iblis yang ditakuti. Itu terlalu mustahil untuk dipercaya. M

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status