MasukRyan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.
Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya yang sedang tidur.
Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, wajah Aira terlihat sangat damai. Bulu matanya yang panjang bergetar sedikit, hidung kecilnya, pipi chubby yang masih basah oleh air mata, semuanya sangat sempurna.
'Dia mirip Elena,' pikir Ryan, tersenyum lembut. Bentuk wajahnya, lengkungan alisnya yang halus.
Dia mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi Aira, tapi tangannya berhenti di udara. Dia tidak berani. Takut membangunkannya. Takut putrinya akan menatapnya dengan kebencian lagi.
Ryan duduk di tepi tempat tidur, hanya menatap Aira dalam diam.
"Maafkan Ayah, Aira," bisiknya sangat pelan, hampir tidak terdengar. "Ayah tahu Ayah tidak berhak meminta maaf. Lima tahun... lima tahun Ayah tidak ada untukmu. Tidak ada untuk Ibu. Ayah tidak melihatmu lahir, tidak mendengar tangisan pertamamu, tidak melihat langkah pertamamu."
Air mata mengalir di pipinya. Seorang Kaisar Iblis yang telah menaklukkan dunia Zhentian, yang namanya ditakuti oleh triliunan makhluk, kini menangis di hadapan putrinya yang masih kecil.
"Tapi Ayah berjanji, mulai sekarang, Ayah tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Ayah akan melindungimu. Ayah akan membawa Ibu pulang. Dan kita akan menjadi keluarga yang utuh."
Aira bergerak sedikit dalam tidurnya, bergumam tidak jelas. "Ibu... Aira rindu Ibu..."
Kata-kata itu menusuk jantung Ryan lebih dalam dari pedang apa pun yang pernah menikamnya di medan perang.
Dia membungkuk dan mencium kening Aira dengan sangat lembut. "Tunggu sebentar lagi, sayang. Ayah berjanji."
Ryan duduk di sana hingga larut malam, hanya menatap putrinya tidur, menjaganya seperti penjaga terbaik di dunia.
Pikirannya melayang ke Elena. Wanita yang telah melahirkan putrinya. Wanita yang telah menderita selama lima tahun ini, sendirian.
'Elena, bertahanlah. Aku akan datang menjemputmu. Dan siapa pun yang telah membuatmu menderita...'
Matanya berkilat dingin di dalam kegelapan.
'...akan membayar dengan darah.'
**
Keesokan paginya.
Ryan terbangun saat fajar baru menyingsing. Dia tidak tidur di tempat tidur, dia duduk bersila di lantai ruang tamu, bermeditasi untuk memulihkan kekuatannya yang terkuras saat perjalanan melintasi dimensi.
Energi spiritual di Bumi sangat tipis dibandingkan dengan dunia kultivasi, seperti membandingkan tetesan air dengan samudra. Tapi dengan Batu Giok Abadi yang menyatu dalam dantiannya, dia bisa menyerap sedikit demi sedikit.
Saat membuka mata, dia mendengar suara langkah kaki kecil. Aira keluar dari kamar, mengusap matanya yang masih mengantuk, rambutnya acak-acakan.
Begitu melihat Ryan, ekspresi Aira langsung berubah. Wajahnya cemberut, dan dia berbalik hendak kembali ke kamar.
"Aira," panggil Ryan lembut.
Aira berhenti, tapi tidak menoleh. Tubuhnya menegang.
"Selamat pagi."
"Hmph!" Aira mendengus keras, lalu berlari ke kamar mandi dengan langkah menghentak.
Ryan tersenyum getir. Setidaknya dia tidak berteriak atau menangis kali ini. Itu sudah kemajuan kecil.
Wulan keluar dari kamar, sudah berpakaian rapi untuk aktivitas pagi. "Oh, kau sudah bangun? Ibu akan masak sarapan."
"Bu, biar aku yang masak," kata Ryan, bangkit dari posisi meditasinya.
"Kau bisa masak?" Wulan terkejut, matanya melebar.
Ryan tersenyum. Di dunia kultivasi, dia tidak hanya belajar bertarung. Dia juga belajar banyak hal lain, termasuk memasak. Bahkan dia pernah menjadi chef di sebuah kota kultivasi untuk beberapa dekade, mempelajari ribuan resep dari berbagai ras.
"Percayalah pada putramu, Bu."
Ryan masuk ke dapur sederhana itu. Dengan bahan-bahan seadanya, telur, sayuran hijau, beras sisa kemarin, dia membuat sarapan sederhana tapi istimewa. Tangannya bergerak dengan mahir, setiap gerakan efisien dan penuh perhitungan.
Aroma masakan menyebar ke seluruh rumah kecil itu, harum dan menggugah selera.
Aira keluar dari kamar mandi, hidungnya mengendus-endus. Matanya melebar saat mencium aroma itu.
"Wangi..." gumamnya tanpa sadar.
Tapi begitu melihat Ryan di dapur dengan apron lusuh, dia cepat-cepat menutup mulutnya dan cemberut lagi, seolah malu ketahuan.
Saat sarapan disajikan di meja makan yang sempit, Hendrik yang baru bangun menatap hidangan dengan terkejut.
"Kau yang masak ini, Ryan?"
"Ya, Ayah."
Hendrik mencicipi dan matanya melebar. "Astaga... ini sangat enak! Lebih enak dari restoran!"
Wulan juga mencicipi, dan wajahnya berbinar senang. "Ryan, kapan kau belajar masak? Ini lebih enak dari masakan ibu!"
Ryan tersenyum hangat. "Aku belajar saat... saat pelatihan."
Aira duduk di kursinya dengan wajah cemberut, menatap makanan dengan tatapan lapar yang jelas terlihat. Tapi dia masih bersikukuh tidak mau makan.
"Aku tidak mau makan masakan dia," gumamnya keras, meskipun perutnya berbunyi nyaring.
Wulan menghela napas. "Aira, jangan kekanak-kanakan. Ini enak, lho. Coba satu suap saja..."
"Tidak apa, Bu," Ryan mengangkat tangannya, menghentikan ibunya. Dia menatap Aira dengan lembut, tanpa paksaan. "Aira tidak perlu makan kalau tidak mau. Nanti kalau lapar, ada di kulkas."
Aira melirik Ryan, sedikit terkejut dengan respon itu. Dia mengira Ryan akan memaksanya atau memarahinya.
Tapi perutnya berbunyi lagi, jauh lebih keras.
KRUYUUUK~
Wajah Aira memerah padam. Dia menatap makanan itu dengan tatapan bimbang, lalu melirik Ryan yang sedang makan dengan tenang tanpa menatapnya. Akhirnya, dengan gerakan cepat dan wajah masih cemberut, dia meraih piring dan mulai makan dengan lahap.
Tapi dia tidak mau menatap Ryan sama sekali, seolah dengan begitu dia tidak mengakui bahwa masakan Ryan enak.
Ryan tersenyum dalam hati sambil terus makan. 'Setidaknya dia mau makan masakanku. Itu sudah kemajuan besar.'
**
Setelah sarapan, Hendrik bersiap untuk pergi bekerja seperti biasa. Ryan menghentikannya.
"Ayah, hari ini istirahat saja di rumah."
"Tidak bisa, nak. Aku harus bekerja. Proyek gedung sedang..."
"Ayah," Ryan menatap ayahnya dengan serius. "Hari ini aku akan menyelesaikan masalah dengan Tuan Budi. Aku ingin Ayah di rumah untuk menjaga Ibu dan Aira. Berjaga-jaga kalau mereka mengirim orang lain."
Hendrik menatap anaknya ragu-ragu. "Ryan, apa kau yakin bisa..."
"Aku yakin, Ayah. Sangat yakin."
Nada suara Ryan yang tenang tapi penuh keyakinan tidak menyisakan ruang untuk berdebat.
Hendrik akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi hati-hati, nak. Orang-orang Tuan Budi itu berbahaya. Mereka tidak segan menggunakan kekerasan."
Ryan tersenyum tipis. "Jangan khawatir, Ayah. Mereka tidak seberbahaya yang Ayah kira."
Setelah berganti pakaian, masih pakaian sederhana tapi setidaknya bersih, Ryan bersiap keluar. Dia hendak membuka pintu ketika mendengar suara kecil di belakangnya.
"Kamu... kamu benar-benar akan pergi?"
Ryan menoleh. Aira berdiri di belakangnya dengan jarak beberapa meter, kedua tangannya meremas ujung bajunya. Matanya menatap Ryan dengan tatapan yang sulit dibaca, ada kekhawatiran, ketakutan, dan kebencian yang bercampur aduk.
"Ya, Ayah harus menyelesaikan sesuatu yang penting," kata Ryan lembut, berlutut agar sejajar dengan putrinya.
"Kamu... kamu akan kembali?" tanya Aira pelan, suaranya gemetar sedikit. "Atau... atau kamu akan pergi lagi seperti dulu dan tidak pernah kembali?"
Jantung Ryan mencelos mendengar pertanyaan itu. Dia berlutut lebih dekat, menyamakan tinggi matanya dengan Aira.
"Ayah berjanji akan kembali. Ayah tidak akan meninggalkanmu lagi. Tidak pernah."
Aira menatapnya dengan mata berkaca-kaca, air mata sudah mengumpul di pelupuknya. "Bohong! Kamu pasti akan pergi lagi seperti dulu! Semua orang selalu pergi! Ibu juga pergi dan tidak kembali!"
Suaranya meninggi, penuh dengan luka dan ketakutan seorang anak kecil yang sudah terlalu sering ditinggalkan.
"Tidak," kata Ryan tegas, suaranya penuh keyakinan. "Ayah bersumpah dengan nyawaku. Ayah akan kembali, dan kita akan makan malam bersama. Ayah janji. Dan Ayah akan membawa Ibu pulang."
Aira masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Tapi ada sedikit, sangat sedikit, harapan yang mulai bersinar di matanya yang berkaca-kaca.
Ryan tersenyum hangat, lalu tanpa berpikir, dia mengulurkan tangan dan mengacak-acak rambut Aira dengan lembut.
Aira terkejut, tubuhnya menegang. Wajahnya langsung memerah padam, dan dia segera menepis tangan Ryan dengan kedua tangannya.
"Ja... jangan sentuh aku!" teriaknya, tapi suaranya tidak sekeras biasanya. Lalu dia berlari kembali ke kamar dengan langkah tergesa.
Tapi Ryan melihatnya, senyum kecil yang sempat muncul di wajah Aira, sekilas tapi jelas, sebelum dia berbalik dan berlari.
'Lambat tapi pasti,' pikir Ryan, tersenyum lega. 'Hati putri kecilku akan terbuka. Aku hanya perlu sabar.'
Dengan tekad yang mengeras seperti baja, Ryan keluar dari rumah. Langit pagi cerah, tapi di matanya sudah ada badai yang siap melanda.
Hari ini dia akan menyelesaikan masalah pertamanya di dunia ini.
Dan Tuan Budi akan belajar apa artinya mengancam keluarga seorang Kaisar Iblis.
"KURANG AJAR!" teriak Master Willem, suaranya bergema di seluruh ruangan. Dia melompat maju dengan kecepatan penuh, Qi-nya meledak dari seluruh tubuhnya. Tinjunya melesat cepat ke arah wajah Ryan dengan kekuatan yang bisa memecahkan tengkorak manusia biasa. Kecepatan dan kekuatan pukulan itu membuat udara berdengung keras, menciptakan tekanan angin yang membuat rambut para penonton berayun. Ini adalah serangan andalannya, Tinju Naga Menghancurkan Gunung! Para penonton menutup mata mereka, tidak sanggup melihat wajah Ryan hancur berantakan. "Mati kau!" PLAK! Suara tamparan keras terdengar, sangat keras hingga bergema seperti petir kecil. Ketika mereka membuka mata, pemandangan yang mereka lihat membuat rahang mereka terjatuh, mata terbelalak lebar. Ryan masih berdiri di tempatnya seperti patung, bahkan tidak bergerak satu milimeter pun. Bahkan tidak berkedip. Tangannya menangkap tinju Master Willem dengan mudah, seolah menangkap bola yang dilempar anak TK. Jari-jarinya b
Ryan berdiri di tengah kehancuran dengan napas yang masih teratur, bahkan tidak berkeringat. Pakaiannya masih rapi, tidak berantakan. Dia bahkan tidak menggunakan sepuluh persen kekuatannya. Manajer keamanan itu terpaku di tangga, wajahnya pucat seperti kertas. Tangannya gemetar hebat. "Tidak... tidak mungkin... ini tidak nyata..." Seluruh lobi terdiam dalam shock yang mencekam. Tidak ada yang menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Seorang pria, seorang pria biasa dengan pakaian sederhana, baru saja mengalahkan belasan penjaga terlatih dalam hitungan detik tanpa terluka sedikitpun. Ryan perlahan mengangkat kepalanya, menatap ke arah tangga merah karpet. Matanya fokus pada sosok yang berdiri di balkon lantai dua, seorang pria gemuk berusia pertengahan empat puluhan dengan wajah berminyak dan ekspresi yang tadinya arogan kini mulai luntur. Tuan Budi, bos klub ini sekaligus kepala geng terbesar di Kota Sentralis. Di sampingnya berdiri seorang lelaki tua kurus berusi
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan topi pet lusuh."Klub Puncak Emas," jawab Ryan datar.Sopir taksi tersentak, nyaris menginjak rem. Dia menatap Ryan melalui kaca spion dengan tatapan terkejut dan was-was. "Klub Puncak Emas? Anda yakin, Pak?""Ya, kenapa?"Sopir itu ragu-ragu, tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Eh... tidak apa-apa, Pak. Hanya saja tempat itu... yah, tempat itu cukup terkenal. Bukan tempat untuk orang... eh, maksud saya, tempat itu eksklusif sekali. Orang biasa seperti kita jarang ke sana."Ryan tersenyum tipis. "Aku tahu. Antarkan saja.""Baik, Pak." Sopir itu masih terlihat ragu, tapi akhirnya menjalankan taksinya.Taksi melaju menembus jalanan kota. Ryan menat
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya yang sedang tidur.Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, wajah Aira terlihat sangat damai. Bulu matanya yang panjang bergetar sedikit, hidung kecilnya, pipi chubby yang masih basah oleh air mata, semuanya sangat sempurna.'Dia mirip Elena,' pikir Ryan, tersenyum lembut. Bentuk wajahnya, lengkungan alisnya yang halus.Dia mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi Aira, tapi tangannya berhenti di udara. Dia tidak berani. Takut membangunkannya. Takut putrinya akan menatapnya dengan kebencian lagi.Ryan duduk di tepi tempat tidur, hanya menatap Aira dalam diam."Maafkan Ayah, Aira," bisiknya sangat pelan, hampir tidak terdengar. "Ayah tahu Ayah tidak berhak meminta maaf. Lima tahun... lima tahu
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke Aira.""Dia bilang pada kami untuk menjaga Aira baik-baik. Dia berjanji akan kembali begitu ada kesempatan. Lalu... lalu mereka membawanya pergi dengan paksa, menyeretnya ke dalam mobil. Aira menjerit memanggil ibunya, tapi..."Hendrik tidak bisa melanjutkan. Dia menunduk, bahunya bergetar.Suasana hening. Hanya terdengar isak tangis Wulan.Ryan duduk terdiam, tangannya mencengkeram ujung meja hingga kayu itu berderit.Setelah beberapa saat, Hendrik melanjutkan..."Beberapa bulan kemudian, setelah kami sudah sedikit punya uang dari menabung, ayahmu mencoba pergi ke Alexandris untuk menemui Elena. Ayah naik bus 5 jam, lalu jalan kaki 2 jam untuk sampai ke kediaman Keluarga Surya. Tapi..."Wulan
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik menatap Ryan dengan mata berkaca-kaca, tangannya yang kasar dan penuh kapalan, tanda bertahun-tahun bekerja keras, memegang tangan anaknya erat-erat, seolah takut Ryan akan menghilang lagi seperti lima tahun yang lalu."Ke mana saja kau selama ini, nak? Lima tahun... lima tahun kami mencarimu ke mana-mana," kata Hendrik, suaranya serak penuh emosi. "Polisi, rumah sakit, bahkan... bahkan kami cek ke kamar mayat."Ryan merasakan dadanya sesak mendengar itu. Dia menarik napas dalam. Dia tidak bisa menceritakan kebenaran, bahwa dia terjebat di dunia kultivasi selama lima ribu tahun, bertarung melawan iblis dan kultivator, menjadi Kaisar Iblis yang ditakuti. Itu terlalu mustahil untuk dipercaya. M







