LOGINGunawan merasakan sesuatu yang sangat menakutkan dari tatapan Ryan. Ini bukan tatapan manusia biasa. Ini tatapan seseorang yang pernah melihat kematian, yang pernah membawa kematian, berkali-kali lipat. Tatapan predator puncak yang tidak mengenal belas kasihan.
"L... lepaskan aku!" Gunawan mencoba terdengar mengancam, tapi suaranya gemetar seperti anak kecil yang ketakutan.
"Kak Gun!"
Kedua anak buah Gunawan akhirnya tersadar dari kejutan. Pria botak dengan cepat mengeluarkan tongkat besi dari balik jaketnya, sementara pria gemuk mengeluarkan pisau lipat dengan tangan gemetar.
"Lepaskan bos kami atau kau akan menyesal!" teriak pria botak, mengayunkan tongkat besinya ke arah kepala Ryan.
Ryan bahkan tidak melirik ke arahnya.
WUSSH! BRAK!
Dengan satu gerakan yang hampir santai, Ryan melempar Gunawan seperti melempar karung beras.
Tubuh besar pria itu melayang di udara dan menghantam kedua anak buahnya dengan kekuatan yang mengerikan. Ketiganya terjatuh berguling-guling di tanah, tongkat besi dan pisau lipat terpental ke berbagai arah.
Gunawan terbatuk-batuk keras, memegangi dadanya yang terasa remuk. Dia menatap Ryan dengan mata terbelalak, tidak percaya dengan apa yang baru terjadi.
Dia sudah bertahun-tahun di jalanan, sudah berkelahi dengan puluhan orang, tapi tidak pernah… tidak pernah, dia merasakan kekuatan seperti ini.
'Kuat... dia sangat kuat! Ini tidak mungkin... tidak ada manusia yang sekuat ini!'
Ryan melangkah keluar dari rumah dengan tenang, berdiri di hadapan ketiga preman yang masih tergeletak kesakitan. Lalu sesuatu berubah.
Auranya meledak, aura seorang Kaisar Iblis yang telah membantai ribuan musuh dalam lima ribu tahun perang.
Suhu di halaman tiba-tiba turun drastis. Udara terasa berat, menekan, seperti ada beban tak terlihat yang menindih dada setiap orang di sana.
Gunawan merasakan napasnya tercekat. Dadanya sesak. Penglihatannya berkunang-kunang.
Untuk sesaat, hanya sesaat, dia seolah melihat bayangan raksasa berwarna merah gelap di belakang Ryan, dengan sepasang mata yang menyala seperti api neraka.
Ini bukan manusia biasa. Ini... ini monster!
"Aku akan memberimu satu kesempatan," kata Ryan, suaranya tanpa emosi, datar seperti air yang membeku. "Pergi sekarang. Dan katakan pada bosmu, Tuan Budi, untuk datang sendiri dalam tiga hari kalau dia berani. Bawa uang tebusan."
Gunawan menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya kering. Instingnya, instingnya yang sudah terasah selama bertahun-tahun di jalanan, berteriak untuk lari. Lari sejauh mungkin dari pria ini. Tapi harga dirinya sebagai kepala penagih utang, reputasinya yang dibangun selama sepuluh tahun, tidak mengizinkannya mundur begitu saja.
"Kau... kau pikir kau bisa mengancam kami?" Gunawan memaksa dirinya untuk berdiri, meskipun kakinya gemetar dan lututnya hampir menyentuh tanah. "Tuan Budi punya ratusan orang! Koneksi di polisi, di pemerintahan! Kalau dia tahu kau berani..."
"Tiga hari," potong Ryan dingin, suaranya seperti pedang es yang memotong kegelapan. "Atau aku yang akan datang menemuinya. Dan percayalah..."
Ryan melangkah maju satu langkah. Hanya satu langkah. Tapi Gunawan seketika mundur tiga langkah, hampir tersandung kakinya sendiri.
"...dia tidak akan suka caraku menagih."
Nada suara Ryan, penuh tekanan tersembunyi, penuh janji akan kekerasan yang belum pernah Gunawan bayangkan, membuat bulu kuduk Gunawan berdiri. Tubuhnya menggigil meski cuaca panas.
Dia melirik kedua anak buahnya yang masih terbaring kesakitan, lalu dengan terpaksa mengangguk cepat.
"B... baiklah. Aku akan sampaikan pesanmu." Gunawan mundur perlahan, tidak berani membelakangi Ryan. "Tapi ingat, kalau kau tidak datang dalam tiga hari dengan uangnya, kami akan kembali. Dan saat itu, tidak akan ada belas kasihan lagi."
Ryan tidak menjawab. Dia hanya menatap dingin dengan tangan terlipat di depan dada, seperti raja yang menatap serangga kecil yang tidak layak diperhatikan.
Gunawan dan kedua anak buahnya, yang akhirnya berhasil berdiri dengan tertatih-tatih, berjalan mundur hingga ujung koridor, lalu berbalik dan berlari terbirit-birit seperti anjing yang dikejar setan.
**
Baru setelah suara langkah kaki mereka hilang sepenuhnya, Ryan menghela napas panjang. Auranya perlahan memudar, kembali normal seperti manusia biasa. Bahunya sedikit merosot, seolah beban berat baru saja diturunkan.
Dia berbalik dan melihat Wulan berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat seperti kertas, tangannya menutupi mulutnya yang terbuka lebar.
"Ryan... kau..." Wulan tergagap, suaranya bergetar. "Bagaimana kau bisa... apa yang terjadi padamu?"
"Ibu, nanti aku jelaskan semuanya," kata Ryan lembut, nada suaranya kembali hangat seperti anak yang berbicara pada ibunya. "Sekarang, bisakah Ibu ceritakan soal utang ini dari awal?"
Wulan mengangguk lemah, masih terlihat shock, lalu mereka masuk ke dalam. Ryan menutup pintu yang engselnya sudah rusak karena ketukan keras tadi. Dia akan memperbaikinya nanti.
**
Di dalam ruang tamu, Aira masih berdiri di sudut ruangan seperti patung kecil. Mata besarnya menatap Ryan dengan tatapan yang rumit, penuh dengan berbagai emosi yang bertabrakan.
Bukan lagi kebencian murni seperti tadi, ada sesuatu yang lain di sana.
Kagum? Takut? Atau mungkin... rasa aman karena pertama kalinya dalam hidupnya dia melihat seseorang melindungi keluarganya?
Tapi begitu tatapan mereka bertemu, Aira cepat-cepat mengalihkan pandangan, wajahnya cemberut, dan dia berlari ke kamarnya dengan langkah kecil yang tergesa.
BRAK!
Pintu kamar tertutup keras, bergema di ruang tamu yang sunyi.
Ryan tersenyum getir. Masih panjang jalan untuk mendapatkan hati putrinya. Lima tahun ketidakhadiran tidak bisa ditebus dalam satu hari.
"KURANG AJAR!" teriak Master Willem, suaranya bergema di seluruh ruangan. Dia melompat maju dengan kecepatan penuh, Qi-nya meledak dari seluruh tubuhnya. Tinjunya melesat cepat ke arah wajah Ryan dengan kekuatan yang bisa memecahkan tengkorak manusia biasa. Kecepatan dan kekuatan pukulan itu membuat udara berdengung keras, menciptakan tekanan angin yang membuat rambut para penonton berayun. Ini adalah serangan andalannya, Tinju Naga Menghancurkan Gunung! Para penonton menutup mata mereka, tidak sanggup melihat wajah Ryan hancur berantakan. "Mati kau!" PLAK! Suara tamparan keras terdengar, sangat keras hingga bergema seperti petir kecil. Ketika mereka membuka mata, pemandangan yang mereka lihat membuat rahang mereka terjatuh, mata terbelalak lebar. Ryan masih berdiri di tempatnya seperti patung, bahkan tidak bergerak satu milimeter pun. Bahkan tidak berkedip. Tangannya menangkap tinju Master Willem dengan mudah, seolah menangkap bola yang dilempar anak TK. Jari-jarinya b
Ryan berdiri di tengah kehancuran dengan napas yang masih teratur, bahkan tidak berkeringat. Pakaiannya masih rapi, tidak berantakan. Dia bahkan tidak menggunakan sepuluh persen kekuatannya. Manajer keamanan itu terpaku di tangga, wajahnya pucat seperti kertas. Tangannya gemetar hebat. "Tidak... tidak mungkin... ini tidak nyata..." Seluruh lobi terdiam dalam shock yang mencekam. Tidak ada yang menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Seorang pria, seorang pria biasa dengan pakaian sederhana, baru saja mengalahkan belasan penjaga terlatih dalam hitungan detik tanpa terluka sedikitpun. Ryan perlahan mengangkat kepalanya, menatap ke arah tangga merah karpet. Matanya fokus pada sosok yang berdiri di balkon lantai dua, seorang pria gemuk berusia pertengahan empat puluhan dengan wajah berminyak dan ekspresi yang tadinya arogan kini mulai luntur. Tuan Budi, bos klub ini sekaligus kepala geng terbesar di Kota Sentralis. Di sampingnya berdiri seorang lelaki tua kurus berusi
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan topi pet lusuh."Klub Puncak Emas," jawab Ryan datar.Sopir taksi tersentak, nyaris menginjak rem. Dia menatap Ryan melalui kaca spion dengan tatapan terkejut dan was-was. "Klub Puncak Emas? Anda yakin, Pak?""Ya, kenapa?"Sopir itu ragu-ragu, tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Eh... tidak apa-apa, Pak. Hanya saja tempat itu... yah, tempat itu cukup terkenal. Bukan tempat untuk orang... eh, maksud saya, tempat itu eksklusif sekali. Orang biasa seperti kita jarang ke sana."Ryan tersenyum tipis. "Aku tahu. Antarkan saja.""Baik, Pak." Sopir itu masih terlihat ragu, tapi akhirnya menjalankan taksinya.Taksi melaju menembus jalanan kota. Ryan menat
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya yang sedang tidur.Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, wajah Aira terlihat sangat damai. Bulu matanya yang panjang bergetar sedikit, hidung kecilnya, pipi chubby yang masih basah oleh air mata, semuanya sangat sempurna.'Dia mirip Elena,' pikir Ryan, tersenyum lembut. Bentuk wajahnya, lengkungan alisnya yang halus.Dia mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi Aira, tapi tangannya berhenti di udara. Dia tidak berani. Takut membangunkannya. Takut putrinya akan menatapnya dengan kebencian lagi.Ryan duduk di tepi tempat tidur, hanya menatap Aira dalam diam."Maafkan Ayah, Aira," bisiknya sangat pelan, hampir tidak terdengar. "Ayah tahu Ayah tidak berhak meminta maaf. Lima tahun... lima tahu
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke Aira.""Dia bilang pada kami untuk menjaga Aira baik-baik. Dia berjanji akan kembali begitu ada kesempatan. Lalu... lalu mereka membawanya pergi dengan paksa, menyeretnya ke dalam mobil. Aira menjerit memanggil ibunya, tapi..."Hendrik tidak bisa melanjutkan. Dia menunduk, bahunya bergetar.Suasana hening. Hanya terdengar isak tangis Wulan.Ryan duduk terdiam, tangannya mencengkeram ujung meja hingga kayu itu berderit.Setelah beberapa saat, Hendrik melanjutkan..."Beberapa bulan kemudian, setelah kami sudah sedikit punya uang dari menabung, ayahmu mencoba pergi ke Alexandris untuk menemui Elena. Ayah naik bus 5 jam, lalu jalan kaki 2 jam untuk sampai ke kediaman Keluarga Surya. Tapi..."Wulan
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik menatap Ryan dengan mata berkaca-kaca, tangannya yang kasar dan penuh kapalan, tanda bertahun-tahun bekerja keras, memegang tangan anaknya erat-erat, seolah takut Ryan akan menghilang lagi seperti lima tahun yang lalu."Ke mana saja kau selama ini, nak? Lima tahun... lima tahun kami mencarimu ke mana-mana," kata Hendrik, suaranya serak penuh emosi. "Polisi, rumah sakit, bahkan... bahkan kami cek ke kamar mayat."Ryan merasakan dadanya sesak mendengar itu. Dia menarik napas dalam. Dia tidak bisa menceritakan kebenaran, bahwa dia terjebat di dunia kultivasi selama lima ribu tahun, bertarung melawan iblis dan kultivator, menjadi Kaisar Iblis yang ditakuti. Itu terlalu mustahil untuk dipercaya. M







