LOGINRyan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.
Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang.
"Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan topi pet lusuh.
"Klub Puncak Emas," jawab Ryan datar.
Sopir taksi tersentak, nyaris menginjak rem. Dia menatap Ryan melalui kaca spion dengan tatapan terkejut dan was-was. "Klub Puncak Emas? Anda yakin, Pak?"
"Ya, kenapa?"
Sopir itu ragu-ragu, tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Eh... tidak apa-apa, Pak. Hanya saja tempat itu... yah, tempat itu cukup terkenal. Bukan tempat untuk orang... eh, maksud saya, tempat itu eksklusif sekali. Orang biasa seperti kita jarang ke sana."
Ryan tersenyum tipis. "Aku tahu. Antarkan saja."
"Baik, Pak." Sopir itu masih terlihat ragu, tapi akhirnya menjalankan taksinya.
Taksi melaju menembus jalanan kota. Ryan menatap keluar jendela, mengamati perubahan yang terjadi selama lima tahun. Gedung-gedung baru bermunculan, jalan-jalan diperlebar, teknologi sedikit lebih maju, tapi esensi dunia ini tetap sama.
'Dunia ini tidak berubah banyak,' pikirnya sambil melihat orang-orang berlalu lalang. 'Tapi aku sudah berubah sangat banyak.'
**
Sekitar setengah jam kemudian, taksi berhenti di depan sebuah bangunan megah di distrik elite kota. Klub Puncak Emas, salah satu klub malam paling eksklusif di Kota Sentralis, tempat berkumpulnya para konglomerat dan pejabat tinggi.
Bangunannya mewah dengan fasad marmer putih dan lampu-lampu neon emas yang menyala bahkan di siang hari, memamerkan kemewahan vulgar. Di depan pintu masuk berdiri dua penjaga keamanan berbadan besar mengenakan jas hitam dengan earpiece di telinga mereka.
Ryan membayar sopir taksi, memberikan uang pas, dan turun.
"Pak," sopir itu memanggilnya sebelum pergi, suaranya pelan dan khawatir. "Hati-hati di sana. Tempat itu milik orang-orang besar. Sangat berbahaya untuk orang kecil seperti kita."
Ryan mengangguk singkat, lalu berjalan menuju pintu masuk dengan langkah mantap.
Kedua penjaga langsung menghadangnya, tubuh mereka membentuk tembok manusia. Yang di sebelah kiri, pria botak dengan bekas luka memanjang di wajahnya, menatap Ryan dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang jelas.
"Berhenti. Siapa kau?" tanyanya kasar, suaranya seperti geraman.
"Aku mencari Tuan Budi," jawab Ryan tenang, tanpa intonasi berlebihan.
Penjaga yang satunya, pria tinggi dengan rambut gondrong dan tato naga di lehernya, tertawa mengejek, suaranya lantang. "Tuan Budi? Kau pikir kau bisa bertemu Tuan Budi sesuka hatimu? Ini bukan warung kopi!"
"Punya kartu VIP?" tanya penjaga botak dengan nada menantang.
"Tidak."
"Kalau begitu, pergi." Penjaga gondrong menunjuk ke arah jalan dengan jarinya yang tebal. "Ini klub pribadi. Anjing kampung tidak boleh masuk. Kau salah alamat, Bung."
Ryan menatap mereka dengan tatapan datar, tidak terpengaruh oleh hinaan itu. "Aku memberi kalian pilihan. Biarkan aku masuk dengan baik-baik, atau aku masuk dengan caraku sendiri."
"Atau apa?" Penjaga botak menyeringai, melangkah maju dengan intimidasi. "Kau mau mengancam kami? Dasar orang..."
Dia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
WUSSH!
Ryan melangkah maju dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap mata biasa. Tubuhnya bergerak seperti blur, satu pukulan presisi ke solar plexus penjaga botak, satu tendangan berputar ke dada penjaga gondrong.
BRAK! BRAK!
Kedua penjaga itu terlempar masuk ke dalam lobi klub dengan kekuatan mengerikan, tubuh mereka menembus pintu kaca tebal dengan suara dentuman keras yang membuat seluruh bangunan bergetar.
PRANG!
Pecahan kaca beterbangan seperti hujan kristal. Alarm keamanan berbunyi nyaring, meraung-raung memekakkan telinga.
Ryan melangkah masuk melalui pintu yang hancur itu dengan tenang, sepatu kulitnya menginjak pecahan kaca tanpa suara, seolah tidak terjadi apa-apa.
**
Di dalam lobi yang luas dan mewah, puluhan orang, tamu-tamu klub yang sedang bersantai di sofa kulit, pelayan berseragam rapi, dan beberapa penjaga lainnya, terkejut melihat pemandangan itu. Mereka menatap Ryan dengan mata terbelalak, mulut terbuka.
Lobi itu sangat mewah, lantai marmer mengkilap, lampu kristal bergelantungan, lukisan mahal di dinding. Tapi sekarang suasananya berubah menjadi mencekam.
Ryan berdiri di tengah lobi, di antara pecahan kaca dan dua penjaga yang mengerang kesakitan. Matanya menyapu seluruh ruangan dengan tatapan dingin yang membuat siapa pun yang menatapnya merasa seperti ditatap predator. Suaranya menggema keras, penuh otoritas yang tidak bisa dibantah.
"TUAN BUDI! KELUAR DAN HADAPI AKU!"
Suasana menjadi hening mencekam. Bahkan musik yang tadinya mengalun pelan dari speaker berhenti. Tidak ada yang berani bergerak. Napas mereka tertahan.
Seorang wanita muda berpakaian mewah yang duduk di sofa kulit menjatuhkan gelas wine kristalnya, cairan merah menyebar di karpet mahal. Wajahnya pucat pasi. Seorang pria berbaju jas Armani terkejut hingga rokok impor di mulutnya jatuh dan membakar celananya, tapi dia bahkan tidak menyadarinya.
"Sialan... siapa orang gila ini?" bisik seseorang dengan suara gemetar.
"Dia berani menantang Tuan Budi? Dia mencari mati! Kematian yang sangat menyakitkan!"
Langkah kaki berat terdengar dari tangga merah karpet. Seorang pemuda berjas mahal turun dari lantai dua dengan wajah menyeramkan penuh kemarahan. Dia adalah salah satu manajer keamanan klub, terkenal sadis dan kejam. Cincin emas di jari-jarinya berkilau.
"Siapa yang berani membuat keributan di sini..." Pemuda itu terhenti melihat Ryan berdiri di tengah kehancuran. Ekspresinya berubah dari marah menjadi terkejut, lalu menjadi murka. "Kau! Dasar kurang ajar!"
Ryan meliriknya sekilas, tatapannya datar tanpa minat. "Panggil bosmu. Sekarang."
"Bajingan!" Manajer itu melambaikan tangannya dengan ganas, urat-urat di lehernya menonjol. "Tangkap dia! Hajar sampai mati! Patahkan semua tulangnya!"
Dari berbagai sudut lobi, dari balik pilar marmer, dari ruangan samping, dari lantai dua, belasan penjaga keamanan muncul seperti semut yang keluar dari sarang. Mereka semua berbadan besar, berotot seperti bodybuilder, membawa tongkat pemukul besi dan ada yang membawa rantai tebal.
Para tamu yang ada di lobi segera berhamburan ke sudut-sudut ruangan, bersembunyi di balik sofa dan pilar, takut terkena imbas. Beberapa berlari keluar dari pintu samping dengan panik.
"Gila! Akan ada pertarungan!"
"Orang itu mati! Tidak ada yang bisa melawan segitu banyak penjaga sekaligus!"
"Panggil ambulans!"
Belasan penjaga itu menyerbu Ryan dari segala arah dengan teriakan mengancam, tongkat dan rantai mereka mengayun dengan ganas, berkilau di bawah lampu kristal. Udara dipenuhi dengan suara derap kaki dan teriakan marah.
Ryan berdiri tenang di tempatnya, tidak bergerak sedikitpun. Matanya menyipit sedikit, mengamati pergerakan mereka dengan presisi seorang veteran perang.
Tepat ketika serangan pertama, sebuah tongkat besi yang dihantamkan ke kepalanya dengan kekuatan penuh, hampir menghantamnya, dia bergerak.
WUSSH!
Tubuhnya bergerak seperti bayangan hantu, seperti asap yang tertiup angin. Dalam sekejap mata, dia sudah berada di tengah-tengah kerumunan penjaga itu. Tangannya bergerak cepat dengan gerakan yang indah namun mematikan, setiap pukulan adalah serangan yang presisi, dihitung sempurna, tidak ada gerakan sia-sia.
TAK! BRAK! DUG! PRANG!
Satu per satu penjaga itu terjatuh seperti domino. Beberapa terlempar hingga menabrak meja kayu jati yang langsung hancur berkeping-keping. Yang lain jatuh terguling-guling sambil memegangi bagian tubuh yang terluka, pergelangan tangan patah, tulang rusuk retak, rahang remuk.
Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, belasan penjaga itu sudah tergeletak di lantai marmer yang kini retak-retak, mengerang kesakitan seperti kawanan yang kalah perang.
"KURANG AJAR!" teriak Master Willem, suaranya bergema di seluruh ruangan. Dia melompat maju dengan kecepatan penuh, Qi-nya meledak dari seluruh tubuhnya. Tinjunya melesat cepat ke arah wajah Ryan dengan kekuatan yang bisa memecahkan tengkorak manusia biasa. Kecepatan dan kekuatan pukulan itu membuat udara berdengung keras, menciptakan tekanan angin yang membuat rambut para penonton berayun. Ini adalah serangan andalannya, Tinju Naga Menghancurkan Gunung! Para penonton menutup mata mereka, tidak sanggup melihat wajah Ryan hancur berantakan. "Mati kau!" PLAK! Suara tamparan keras terdengar, sangat keras hingga bergema seperti petir kecil. Ketika mereka membuka mata, pemandangan yang mereka lihat membuat rahang mereka terjatuh, mata terbelalak lebar. Ryan masih berdiri di tempatnya seperti patung, bahkan tidak bergerak satu milimeter pun. Bahkan tidak berkedip. Tangannya menangkap tinju Master Willem dengan mudah, seolah menangkap bola yang dilempar anak TK. Jari-jarinya b
Ryan berdiri di tengah kehancuran dengan napas yang masih teratur, bahkan tidak berkeringat. Pakaiannya masih rapi, tidak berantakan. Dia bahkan tidak menggunakan sepuluh persen kekuatannya. Manajer keamanan itu terpaku di tangga, wajahnya pucat seperti kertas. Tangannya gemetar hebat. "Tidak... tidak mungkin... ini tidak nyata..." Seluruh lobi terdiam dalam shock yang mencekam. Tidak ada yang menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Seorang pria, seorang pria biasa dengan pakaian sederhana, baru saja mengalahkan belasan penjaga terlatih dalam hitungan detik tanpa terluka sedikitpun. Ryan perlahan mengangkat kepalanya, menatap ke arah tangga merah karpet. Matanya fokus pada sosok yang berdiri di balkon lantai dua, seorang pria gemuk berusia pertengahan empat puluhan dengan wajah berminyak dan ekspresi yang tadinya arogan kini mulai luntur. Tuan Budi, bos klub ini sekaligus kepala geng terbesar di Kota Sentralis. Di sampingnya berdiri seorang lelaki tua kurus berusi
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan topi pet lusuh."Klub Puncak Emas," jawab Ryan datar.Sopir taksi tersentak, nyaris menginjak rem. Dia menatap Ryan melalui kaca spion dengan tatapan terkejut dan was-was. "Klub Puncak Emas? Anda yakin, Pak?""Ya, kenapa?"Sopir itu ragu-ragu, tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Eh... tidak apa-apa, Pak. Hanya saja tempat itu... yah, tempat itu cukup terkenal. Bukan tempat untuk orang... eh, maksud saya, tempat itu eksklusif sekali. Orang biasa seperti kita jarang ke sana."Ryan tersenyum tipis. "Aku tahu. Antarkan saja.""Baik, Pak." Sopir itu masih terlihat ragu, tapi akhirnya menjalankan taksinya.Taksi melaju menembus jalanan kota. Ryan menat
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya yang sedang tidur.Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, wajah Aira terlihat sangat damai. Bulu matanya yang panjang bergetar sedikit, hidung kecilnya, pipi chubby yang masih basah oleh air mata, semuanya sangat sempurna.'Dia mirip Elena,' pikir Ryan, tersenyum lembut. Bentuk wajahnya, lengkungan alisnya yang halus.Dia mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi Aira, tapi tangannya berhenti di udara. Dia tidak berani. Takut membangunkannya. Takut putrinya akan menatapnya dengan kebencian lagi.Ryan duduk di tepi tempat tidur, hanya menatap Aira dalam diam."Maafkan Ayah, Aira," bisiknya sangat pelan, hampir tidak terdengar. "Ayah tahu Ayah tidak berhak meminta maaf. Lima tahun... lima tahu
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke Aira.""Dia bilang pada kami untuk menjaga Aira baik-baik. Dia berjanji akan kembali begitu ada kesempatan. Lalu... lalu mereka membawanya pergi dengan paksa, menyeretnya ke dalam mobil. Aira menjerit memanggil ibunya, tapi..."Hendrik tidak bisa melanjutkan. Dia menunduk, bahunya bergetar.Suasana hening. Hanya terdengar isak tangis Wulan.Ryan duduk terdiam, tangannya mencengkeram ujung meja hingga kayu itu berderit.Setelah beberapa saat, Hendrik melanjutkan..."Beberapa bulan kemudian, setelah kami sudah sedikit punya uang dari menabung, ayahmu mencoba pergi ke Alexandris untuk menemui Elena. Ayah naik bus 5 jam, lalu jalan kaki 2 jam untuk sampai ke kediaman Keluarga Surya. Tapi..."Wulan
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik menatap Ryan dengan mata berkaca-kaca, tangannya yang kasar dan penuh kapalan, tanda bertahun-tahun bekerja keras, memegang tangan anaknya erat-erat, seolah takut Ryan akan menghilang lagi seperti lima tahun yang lalu."Ke mana saja kau selama ini, nak? Lima tahun... lima tahun kami mencarimu ke mana-mana," kata Hendrik, suaranya serak penuh emosi. "Polisi, rumah sakit, bahkan... bahkan kami cek ke kamar mayat."Ryan merasakan dadanya sesak mendengar itu. Dia menarik napas dalam. Dia tidak bisa menceritakan kebenaran, bahwa dia terjebat di dunia kultivasi selama lima ribu tahun, bertarung melawan iblis dan kultivator, menjadi Kaisar Iblis yang ditakuti. Itu terlalu mustahil untuk dipercaya. M







