MasukSetelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.
Hendrik menatap Ryan dengan mata berkaca-kaca, tangannya yang kasar dan penuh kapalan, tanda bertahun-tahun bekerja keras, memegang tangan anaknya erat-erat, seolah takut Ryan akan menghilang lagi seperti lima tahun yang lalu.
"Ke mana saja kau selama ini, nak? Lima tahun... lima tahun kami mencarimu ke mana-mana," kata Hendrik, suaranya serak penuh emosi. "Polisi, rumah sakit, bahkan... bahkan kami cek ke kamar mayat."
Ryan merasakan dadanya sesak mendengar itu. Dia menarik napas dalam. Dia tidak bisa menceritakan kebenaran, bahwa dia terjebat di dunia kultivasi selama lima ribu tahun, bertarung melawan iblis dan kultivator, menjadi Kaisar Iblis yang ditakuti. Itu terlalu mustahil untuk dipercaya. Mereka akan menganggapnya gila.
"Ayah, aku..." Ryan memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Aku terpilih untuk program khusus pemerintah. Pelatihan rahasia di lokasi terpencil tanpa kontak dengan dunia luar. Aku tidak diizinkan menghubungi siapapun. Bahkan... bahkan aku tidak tahu kalau Elena hamil."
Suaranya bergetar di kalimat terakhir. Penyesalan yang tulus.
Hendrik mengangguk perlahan, meskipun masih ada keraguan di matanya. Cerita itu terdengar aneh, terlalu misterius.
Tapi melihat kondisi fisik Ryan, luka-luka, pakaian robek, dan sesuatu yang berbeda di matanya, Hendrik memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh. Yang penting anaknya sudah kembali. Itu sudah cukup.
**
Wulan menyajikan makanan sederhana, mi goreng dengan telur mata sapi dan irisan sawi. Bukan hidangan mewah, bahkan terlihat sangat sederhana. Tapi Ryan memakannya dengan lahap, seolah itu adalah makanan terenak di dunia.
Setelah lima ribu tahun memakan pil kultivasi, daging hewan spiritual, dan makanan dunia Zhentian yang penuh energi spiritual, hidangan sederhana dari rumah yang dimasak dengan tangan ibunya sendiri, terasa seperti surga. Ada kehangatan di dalamnya yang tidak bisa digantikan oleh makanan mewah manapun.
"Enak sekali, Bu," kata Ryan dengan senyum tulus. "Aku sangat merindukan masakan Ibu."
Wulan tersenyum senang meski matanya masih berkaca-kaca. "Kalau suka, Ibu akan masak setiap hari untukmu."
Saat mereka makan dalam keheningan yang nyaman, Ryan diam-diam melirik pintu kamar Aira yang masih tertutup rapat. Tidak ada suara dari dalam. Putrinya tidak keluar sejak tadi.
'Dia pasti masih takut,' pikir Ryan, hatinya terasa dicubit. 'Atau mungkin masih membenciku. Aku tidak bisa menyalahkannya.'
Hendrik mengikuti arah tatapan Ryan. Dia menghela napas pelan. "Aira itu keras kepala, persis sepertimu dulu waktu kecil," katanya sambil tersenyum getir, mencoba mencairkan suasana. "Tapi dia anak yang baik. Pintar juga. Cuma... cuma dia sangat merindukan ibunya. Setiap malam dia menangis memanggil Elena."
Hati Ryan terasa diperas mendengar itu.
"Elena," gumam Ryan, suaranya turun menjadi bisikan. "Ibu tadi bilang dia diculik... diambil paksa oleh Keluarga Surya?"
Suasana langsung berubah tegang. Kehangatan yang baru muncul seketika menguap. Hendrik dan Wulan saling melirik dengan tatapan tidak nyaman, seolah mengingat trauma yang menyakitkan.
"Ayah, ceritakan padaku," desak Ryan dengan lembut tapi tegas. "Aku berhak tahu. Elena adalah... adalah pacarku. Ibu dari anakku."
Hendrik meletakkan garpunya. Tangannya sedikit gemetar. Dia menghela napas panjang, sangat panjang, lalu mulai bercerita dengan suara berat.
Setelah Ryan hilang, Elena yang mengetahui dirinya hamil satu bulan tetap bertahan.
Dia menolak keras kembali ke keluarganya yang kaya raya di Kota Alexandris, kota metropolitan yang berjarak lima jam dari Kota Sentralis.
Dengan perut yang semakin membuncit, dia bekerja apa saja. Pelayan toko, kasir minimarket, bahkan membersihkan rumah orang.
Pekerjaan-pekerjaan kasar yang tidak pernah dia lakukan seumur hidupnya sebagai putri keluarga konglomerat.
Keluarga Hartono mencoba membujuknya untuk menggugurkan kandungan, bukan karena mereka tidak mau punya cucu, tapi karena khawatir dengan kondisi Elena. Atau setidaknya kembali ke keluarganya yang kaya agar bisa mendapat perawatan lebih baik.
Tapi Elena keras kepala, sangat keras kepala. Dia bilang akan menunggu Ryan kembali, tidak peduli berapa lama. Dia yakin bahwa Ryan masih hidup.
Setelah Aira lahir, Elena merawat bayinya sendiri hingga usia dua tahun. Hidupnya sangat berat, bekerja sambil merawat bayi, tidur hanya tiga sampai empat jam sehari, tapi dia tidak pernah mengeluh. Tidak sekalipun.
"Dia wanita yang sangat kuat," kata Wulan dengan suara bergetar, mengusap matanya. "Aku tidak pernah melihat wanita sekuat Elena. Dia dicaci maki tetangga, dipandang rendah karena hamil di luar nikah, tapi dia tetap tegar."
Hingga suatu hari, enam bulan yang lalu, orang-orang dari Keluarga Surya datang.
"Mereka datang dengan lima mobil mewah," cerita Hendrik, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. "Mercy hitam semua. Pemimpinnya adalah saudara laki-laki Elena, namanya Darius Surya. Pria arogan dengan setelan mahal dan tatapan meremehkan."
"Dia bilang Elena sudah cukup lama main-main di dunia orang miskin. Sudah waktunya dia kembali ke tempatnya yang sebenarnya, sebagai putri Keluarga Surya."
"Elena menolak?" tanya Ryan, meskipun dia sudah bisa menebak jawabannya. Dia kenal Elena. Dia wanita yang sangat keras kepala kalau sudah memutuskan sesuatu.
"Tentu saja dia menolak!" Wulan menyela, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang keriput. "Dia tidak mau meninggalkan Aira. Dia berteriak, dia melawan, tapi Darius... Darius mengancam akan menyakiti kami. Dia bilang kalau Elena tidak ikut dengan baik-baik, mereka akan membakar rumah kami beserta isinya. Dia bilang..."
Wulan tercekat, suaranya terputus.
"Dia bilang membunuh rakyat kecil seperti kami tidak ada bedanya dengan membuang sampah," Hendrik melanjutkan dengan suara gemetar penuh amarah yang tertahan. "Tidak akan ada yang peduli. Tidak akan ada yang mencari."
Ryan tidak berkata apa-apa, tapi auranya mulai bocor lagi. Udara di ruangan terasa semakin berat.
"KURANG AJAR!" teriak Master Willem, suaranya bergema di seluruh ruangan. Dia melompat maju dengan kecepatan penuh, Qi-nya meledak dari seluruh tubuhnya. Tinjunya melesat cepat ke arah wajah Ryan dengan kekuatan yang bisa memecahkan tengkorak manusia biasa. Kecepatan dan kekuatan pukulan itu membuat udara berdengung keras, menciptakan tekanan angin yang membuat rambut para penonton berayun. Ini adalah serangan andalannya, Tinju Naga Menghancurkan Gunung! Para penonton menutup mata mereka, tidak sanggup melihat wajah Ryan hancur berantakan. "Mati kau!" PLAK! Suara tamparan keras terdengar, sangat keras hingga bergema seperti petir kecil. Ketika mereka membuka mata, pemandangan yang mereka lihat membuat rahang mereka terjatuh, mata terbelalak lebar. Ryan masih berdiri di tempatnya seperti patung, bahkan tidak bergerak satu milimeter pun. Bahkan tidak berkedip. Tangannya menangkap tinju Master Willem dengan mudah, seolah menangkap bola yang dilempar anak TK. Jari-jarinya b
Ryan berdiri di tengah kehancuran dengan napas yang masih teratur, bahkan tidak berkeringat. Pakaiannya masih rapi, tidak berantakan. Dia bahkan tidak menggunakan sepuluh persen kekuatannya. Manajer keamanan itu terpaku di tangga, wajahnya pucat seperti kertas. Tangannya gemetar hebat. "Tidak... tidak mungkin... ini tidak nyata..." Seluruh lobi terdiam dalam shock yang mencekam. Tidak ada yang menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Seorang pria, seorang pria biasa dengan pakaian sederhana, baru saja mengalahkan belasan penjaga terlatih dalam hitungan detik tanpa terluka sedikitpun. Ryan perlahan mengangkat kepalanya, menatap ke arah tangga merah karpet. Matanya fokus pada sosok yang berdiri di balkon lantai dua, seorang pria gemuk berusia pertengahan empat puluhan dengan wajah berminyak dan ekspresi yang tadinya arogan kini mulai luntur. Tuan Budi, bos klub ini sekaligus kepala geng terbesar di Kota Sentralis. Di sampingnya berdiri seorang lelaki tua kurus berusi
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan topi pet lusuh."Klub Puncak Emas," jawab Ryan datar.Sopir taksi tersentak, nyaris menginjak rem. Dia menatap Ryan melalui kaca spion dengan tatapan terkejut dan was-was. "Klub Puncak Emas? Anda yakin, Pak?""Ya, kenapa?"Sopir itu ragu-ragu, tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Eh... tidak apa-apa, Pak. Hanya saja tempat itu... yah, tempat itu cukup terkenal. Bukan tempat untuk orang... eh, maksud saya, tempat itu eksklusif sekali. Orang biasa seperti kita jarang ke sana."Ryan tersenyum tipis. "Aku tahu. Antarkan saja.""Baik, Pak." Sopir itu masih terlihat ragu, tapi akhirnya menjalankan taksinya.Taksi melaju menembus jalanan kota. Ryan menat
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya yang sedang tidur.Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, wajah Aira terlihat sangat damai. Bulu matanya yang panjang bergetar sedikit, hidung kecilnya, pipi chubby yang masih basah oleh air mata, semuanya sangat sempurna.'Dia mirip Elena,' pikir Ryan, tersenyum lembut. Bentuk wajahnya, lengkungan alisnya yang halus.Dia mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi Aira, tapi tangannya berhenti di udara. Dia tidak berani. Takut membangunkannya. Takut putrinya akan menatapnya dengan kebencian lagi.Ryan duduk di tepi tempat tidur, hanya menatap Aira dalam diam."Maafkan Ayah, Aira," bisiknya sangat pelan, hampir tidak terdengar. "Ayah tahu Ayah tidak berhak meminta maaf. Lima tahun... lima tahu
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke Aira.""Dia bilang pada kami untuk menjaga Aira baik-baik. Dia berjanji akan kembali begitu ada kesempatan. Lalu... lalu mereka membawanya pergi dengan paksa, menyeretnya ke dalam mobil. Aira menjerit memanggil ibunya, tapi..."Hendrik tidak bisa melanjutkan. Dia menunduk, bahunya bergetar.Suasana hening. Hanya terdengar isak tangis Wulan.Ryan duduk terdiam, tangannya mencengkeram ujung meja hingga kayu itu berderit.Setelah beberapa saat, Hendrik melanjutkan..."Beberapa bulan kemudian, setelah kami sudah sedikit punya uang dari menabung, ayahmu mencoba pergi ke Alexandris untuk menemui Elena. Ayah naik bus 5 jam, lalu jalan kaki 2 jam untuk sampai ke kediaman Keluarga Surya. Tapi..."Wulan
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik menatap Ryan dengan mata berkaca-kaca, tangannya yang kasar dan penuh kapalan, tanda bertahun-tahun bekerja keras, memegang tangan anaknya erat-erat, seolah takut Ryan akan menghilang lagi seperti lima tahun yang lalu."Ke mana saja kau selama ini, nak? Lima tahun... lima tahun kami mencarimu ke mana-mana," kata Hendrik, suaranya serak penuh emosi. "Polisi, rumah sakit, bahkan... bahkan kami cek ke kamar mayat."Ryan merasakan dadanya sesak mendengar itu. Dia menarik napas dalam. Dia tidak bisa menceritakan kebenaran, bahwa dia terjebat di dunia kultivasi selama lima ribu tahun, bertarung melawan iblis dan kultivator, menjadi Kaisar Iblis yang ditakuti. Itu terlalu mustahil untuk dipercaya. M







