LOGIN"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke Aira."
"Dia bilang pada kami untuk menjaga Aira baik-baik. Dia berjanji akan kembali begitu ada kesempatan. Lalu... lalu mereka membawanya pergi dengan paksa, menyeretnya ke dalam mobil. Aira menjerit memanggil ibunya, tapi..."
Hendrik tidak bisa melanjutkan. Dia menunduk, bahunya bergetar.
Suasana hening. Hanya terdengar isak tangis Wulan.
Ryan duduk terdiam, tangannya mencengkeram ujung meja hingga kayu itu berderit.
Setelah beberapa saat, Hendrik melanjutkan..."Beberapa bulan kemudian, setelah kami sudah sedikit punya uang dari menabung, ayahmu mencoba pergi ke Alexandris untuk menemui Elena. Ayah naik bus 5 jam, lalu jalan kaki 2 jam untuk sampai ke kediaman Keluarga Surya. Tapi..."
Wulan melanjutkan dengan pahit..."Penjaga mereka mengusir ayahmu seperti menganggap ayahmu pengemis. Bahkan... bahkan mereka memukuli ayahmu hingga kakinya patah dan tiga tulang rusuk retak."
Ryan menatap ayahnya, baru menyadari bahwa Hendrik berjalan sedikit pincang tadi. Dan cara ayahnya duduk sedikit miring, mungkin untuk menghindari tekanan di tulang rusuk yang pernah patah.
Amarah Ryan mencapai titik didih. Tangannya yang mencengkeram gelas plastik di tangannya mulai bergetar. Kekuatan spiritual di tubuhnya bergejolak liar.
KREK! KREK!
Gelas itu hancur menjadi serpihan kecil-kecil, seolah diremas oleh kekuatan tak terlihat.
Hendrik dan Wulan terlonjak, menatap pecahan gelas dengan mata terbelalak.
"Ryan..."
"Keluarga Surya," gumam Ryan, suaranya dingin seperti es neraka yang membeku selama ribuan tahun. Matanya menyala dengan kilatan berbahaya, cahaya merah samar berkedip di pupilnya. "Mereka akan membayar untuk ini. Aku bersumpah."
Niat membunuh yang padat, niat membunuh yang telah mengintimidasi ribuan kultivator, mengalir dari tubuhnya, membuat suhu ruangan turun drastis dalam sekejap. Napas mereka terlihat membentuk uap putih.
Hendrik dan Wulan merinding, bulu kuduk mereka berdiri. Mereka merasakan sesuatu yang sangat menakutkan dari anak mereka. Sesuatu yang sangat... tidak manusiawi.
'Siapa... siapa anak ini sebenarnya?' pikir Hendrik, menatap Ryan dengan was-was dan sedikit ketakutan. 'Ini bukan Ryan yang dulu. Ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang sangat besar.'
Ryan menyadari auranya bocor dan menakuti orang tuanya. Dia segera menarik semua energi spiritualnya kembali ke dalam, menyegelnya dengan kuat. Suhu ruangan perlahan kembali normal.
Dia mengambil napas dalam, lalu tersenyum, senyum yang terlihat dipaksakan, untuk menenangkan orang tuanya. "Maaf, aku terlalu emosi mendengar apa yang mereka lakukan pada kalian. Tapi aku berjanji, aku akan membawa Elena pulang. Tidak peduli apa yang harus kulakukan."
"Ryan, jangan gegabah!" Hendrik segera memegang lengan anaknya dengan erat, wajahnya penuh kekhawatiran. "Keluarga Surya itu sangat kuat! Mereka salah satu keluarga konglomerat terkaya di negara ini! Mereka punya pengaruh ke mana-mana, polisi, pengadilan, pemerintahan. Kita rakyat kecil tidak bisa melawan mereka. Itu sama saja bunuh diri..."
"Ayah salah," potong Ryan dengan tegas, suaranya penuh keyakinan absolut. Dia menatap mata ayahnya dengan tatapan yang sangat tenang, terlalu tenang. "Bukan kita yang tidak bisa melawan mereka. Tapi mereka yang tidak bisa melawan aku."
Ada kepastian absolut dalam suaranya, kepercayaan diri yang melampaui akal sehat, yang membuat Hendrik terdiam. Untuk sesaat, Hendrik seolah melihat sosok raksasa berdiri di belakang anaknya.
Wulan menyeka air matanya dengan ujung baju yang sudah basah. "Setidaknya tunggu sampai situasinya lebih baik dulu, Ryan. Sekarang masih ada masalah dengan Tuan Budi dan utangnya. Lima puluh juta itu..."
"Masalah itu akan aku selesaikan besok," kata Ryan santai, seolah berbicara tentang membeli sayuran di pasar, bukan menyelesaikan utang puluhan juta.
"Besok?" Hendrik menatap anaknya tidak percaya, hampir ingin tertawa kalau situasinya tidak seserius ini. "Ryan, kau tahu berapa utang kita? Lima puluh juta GDP! Itu bukan jumlah kecil! Itu bukan uang jajan! Ayah harus bekerja 15 tahun tanpa makan dan minum untuk bisa mengumpulkan uang sebanyak itu..."
"Aku tahu, Ayah. Dan aku akan menyelesaikannya. Percayalah."
Hendrik hendak membantah lagi, tapi melihat tatapan mantap dan tenang di mata Ryan, tatapan yang sama sekali tidak menunjukkan keraguan, dia akhirnya menghela napas panjang dan tidak berkata apa-apa lagi. Entah kenapa, dia merasa anaknya benar-benar bisa melakukannya.
**
Tanpa terasa, hari sudah menjadi malam. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Hendrik yang kelelahan setelah sebelumnya mengambil shift malam, akhirnya tidak bisa menahan kantuk dan pergi tidur. Wulan masih sibuk membereskan rumah, membersihkan piring dengan gerakan pelan.
Ryan duduk sendirian di sofa lusuh, menatap pintu kamar Aira yang masih tertutup rapat. Tidak ada cahaya yang keluar dari bawah pintu. Putrinya sudah tidur.
Dia bangkit perlahan dan berjalan mendekati pintu kamar. Tangannya terangkat, hampir mengetuk, tapi kemudian berhenti di udara.
Tidak. Tidak sekarang. Dia tidak ingin menakuti Aira lebih dari ini.
Ryan menurunkan tangannya, lalu berbisik sangat pelan..."Putri kecilku... tunggu sebentar lagi. Ayah akan memperbaiki semuanya. Ayah akan membawa Ibu pulang. Ayah akan menyembuhkan penyakitmu. Ayah berjanji."
Dia berdiri di sana selama beberapa menit, hanya menatap pintu kamar itu, sebelum akhirnya berbalik dan kembali ke sofa.
Malam ini, dia tidak akan tidur. Ada terlalu banyak yang harus dipikirkan. Ada terlalu banyak rencana yang harus dibuat.
Keluarga Surya. Tuan Budi. Penyakit Aira.
Satu per satu, dia akan menyelesaikan semuanya.
Dan siapapun yang menghalanginya... akan menyesali keputusan itu.
"KURANG AJAR!" teriak Master Willem, suaranya bergema di seluruh ruangan. Dia melompat maju dengan kecepatan penuh, Qi-nya meledak dari seluruh tubuhnya. Tinjunya melesat cepat ke arah wajah Ryan dengan kekuatan yang bisa memecahkan tengkorak manusia biasa. Kecepatan dan kekuatan pukulan itu membuat udara berdengung keras, menciptakan tekanan angin yang membuat rambut para penonton berayun. Ini adalah serangan andalannya, Tinju Naga Menghancurkan Gunung! Para penonton menutup mata mereka, tidak sanggup melihat wajah Ryan hancur berantakan. "Mati kau!" PLAK! Suara tamparan keras terdengar, sangat keras hingga bergema seperti petir kecil. Ketika mereka membuka mata, pemandangan yang mereka lihat membuat rahang mereka terjatuh, mata terbelalak lebar. Ryan masih berdiri di tempatnya seperti patung, bahkan tidak bergerak satu milimeter pun. Bahkan tidak berkedip. Tangannya menangkap tinju Master Willem dengan mudah, seolah menangkap bola yang dilempar anak TK. Jari-jarinya b
Ryan berdiri di tengah kehancuran dengan napas yang masih teratur, bahkan tidak berkeringat. Pakaiannya masih rapi, tidak berantakan. Dia bahkan tidak menggunakan sepuluh persen kekuatannya. Manajer keamanan itu terpaku di tangga, wajahnya pucat seperti kertas. Tangannya gemetar hebat. "Tidak... tidak mungkin... ini tidak nyata..." Seluruh lobi terdiam dalam shock yang mencekam. Tidak ada yang menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Seorang pria, seorang pria biasa dengan pakaian sederhana, baru saja mengalahkan belasan penjaga terlatih dalam hitungan detik tanpa terluka sedikitpun. Ryan perlahan mengangkat kepalanya, menatap ke arah tangga merah karpet. Matanya fokus pada sosok yang berdiri di balkon lantai dua, seorang pria gemuk berusia pertengahan empat puluhan dengan wajah berminyak dan ekspresi yang tadinya arogan kini mulai luntur. Tuan Budi, bos klub ini sekaligus kepala geng terbesar di Kota Sentralis. Di sampingnya berdiri seorang lelaki tua kurus berusi
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan topi pet lusuh."Klub Puncak Emas," jawab Ryan datar.Sopir taksi tersentak, nyaris menginjak rem. Dia menatap Ryan melalui kaca spion dengan tatapan terkejut dan was-was. "Klub Puncak Emas? Anda yakin, Pak?""Ya, kenapa?"Sopir itu ragu-ragu, tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Eh... tidak apa-apa, Pak. Hanya saja tempat itu... yah, tempat itu cukup terkenal. Bukan tempat untuk orang... eh, maksud saya, tempat itu eksklusif sekali. Orang biasa seperti kita jarang ke sana."Ryan tersenyum tipis. "Aku tahu. Antarkan saja.""Baik, Pak." Sopir itu masih terlihat ragu, tapi akhirnya menjalankan taksinya.Taksi melaju menembus jalanan kota. Ryan menat
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya yang sedang tidur.Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, wajah Aira terlihat sangat damai. Bulu matanya yang panjang bergetar sedikit, hidung kecilnya, pipi chubby yang masih basah oleh air mata, semuanya sangat sempurna.'Dia mirip Elena,' pikir Ryan, tersenyum lembut. Bentuk wajahnya, lengkungan alisnya yang halus.Dia mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi Aira, tapi tangannya berhenti di udara. Dia tidak berani. Takut membangunkannya. Takut putrinya akan menatapnya dengan kebencian lagi.Ryan duduk di tepi tempat tidur, hanya menatap Aira dalam diam."Maafkan Ayah, Aira," bisiknya sangat pelan, hampir tidak terdengar. "Ayah tahu Ayah tidak berhak meminta maaf. Lima tahun... lima tahu
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke Aira.""Dia bilang pada kami untuk menjaga Aira baik-baik. Dia berjanji akan kembali begitu ada kesempatan. Lalu... lalu mereka membawanya pergi dengan paksa, menyeretnya ke dalam mobil. Aira menjerit memanggil ibunya, tapi..."Hendrik tidak bisa melanjutkan. Dia menunduk, bahunya bergetar.Suasana hening. Hanya terdengar isak tangis Wulan.Ryan duduk terdiam, tangannya mencengkeram ujung meja hingga kayu itu berderit.Setelah beberapa saat, Hendrik melanjutkan..."Beberapa bulan kemudian, setelah kami sudah sedikit punya uang dari menabung, ayahmu mencoba pergi ke Alexandris untuk menemui Elena. Ayah naik bus 5 jam, lalu jalan kaki 2 jam untuk sampai ke kediaman Keluarga Surya. Tapi..."Wulan
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik menatap Ryan dengan mata berkaca-kaca, tangannya yang kasar dan penuh kapalan, tanda bertahun-tahun bekerja keras, memegang tangan anaknya erat-erat, seolah takut Ryan akan menghilang lagi seperti lima tahun yang lalu."Ke mana saja kau selama ini, nak? Lima tahun... lima tahun kami mencarimu ke mana-mana," kata Hendrik, suaranya serak penuh emosi. "Polisi, rumah sakit, bahkan... bahkan kami cek ke kamar mayat."Ryan merasakan dadanya sesak mendengar itu. Dia menarik napas dalam. Dia tidak bisa menceritakan kebenaran, bahwa dia terjebat di dunia kultivasi selama lima ribu tahun, bertarung melawan iblis dan kultivator, menjadi Kaisar Iblis yang ditakuti. Itu terlalu mustahil untuk dipercaya. M







