Mag-log inPagi Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Brindil AnakPapua atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Tuan Muhd Saiful Tuan Man, Kak Famida, dan Kak Pengunjung1341 atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada bab bonus setelah ini(≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Wajah Reinhart Mulvane langsung berubah setelah mendengar laporan Paman Haris. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan keras, lalu mendengus marah."Calista, lihatlah! Apa yang kita khawatirkan akhirnya terjadi. Mortimer mulai menggunakan ajang adu bela diri untuk mengancamku!"Reinhart tentu tidak percaya Tetua Agung dan Marcel tiba-tiba jatuh sakit secara bersamaan, terlebih hanya beberapa hari sebelum pertandingan memperebutkan Pulau Kabut Roh.Ini jelas merupakan cara Mortimer menekan kedudukan Penguasa Benteng.Wajah Calista sedikit memucat. Jemarinya mencengkeram ujung lengan bajunya, tetapi ia segera menenangkan diri."Ayah tidak perlu khawatir. Tiga hari lagi, aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku untuk merebut kembali hak pengelolaan Pulau Kabut Roh!"Nada suara Calista terdengar tegas, meskipun ia sendiri memahami betapa sulitnya menghadapi para peserta dari kekuatan besar lainnya.**Selama hari-hari b
Setelah seluruh pengawal meninggalkan kediaman pengantin, suasana beranda akhirnya kembali tenang.Calista menoleh kepada Ryan. Tatapannya yang sebelumnya sedingin es kini sedikit melembut."Untuk beberapa hari ke depan, sebaiknya kau tetap berada di dalam benteng. Jangan pergi ke mana-mana tanpa alasan penting."Setelah memberikan peringatan itu, Calista langsung berbalik dan pergi. Ujung gaun pengantin merahnya bergoyang mengikuti langkah, tanpa memberikan Ryan kesempatan untuk menjawab.Ryan hanya tersenyum sambil memandangi punggung perempuan itu hingga menghilang di ujung lorong.Di sampingnya, Juwita masih berdiri kaku. Gadis itu rupanya belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan setelah menyaksikan Damian dihukum seberat itu.Selama beberapa hari mengenal Calista, Ryan mulai memahami sifat perempuan tersebut. Seperti yang pernah diceritakan Juwita, Calista memang terlihat dingin dan sulit didekati, tetapi
Plak! Tamparan Calista begitu keras hingga tubuh Damian langsung terlempar keluar kamar seperti karung yang dilempar sembarangan. Tubuhnya menghantam pagar beranda sampai beberapa batang kayu patah dan berserakan di lantai. Suasana mendadak sunyi. Hanya terdengar derak kayu yang patah dan erangan tertahan dari Damian. Para pengawal yang tadi mengikuti Marcel berdiri terpaku, tidak menyangka Calista akan bertindak tanpa memberikan peringatan sedikit pun. "Uhuk!" Damian berusaha bangkit, tetapi malah memuntahkan seteguk darah. Separuh wajahnya sudah membengkak dan membiru. Dua giginya terlepas akibat tamparan tersebut. "Nona, kau..." Damian memandang Calista dengan mata membelalak. "Lancang!" bentak Calista. "Seorang bawahan rendahan berani melanggar tata krama terhadap atasannya! Sepertinya selama ini aku terlalu membiarkan kalian bertindak sesuka hati!" Calista menyapu para pengawal dengan tatapan dingin, lalu memberikan perintah. "Patahkan kedua kaki orang ini, kemudian
Di dalam kamar pengantin Benteng Mulvane, wajah Damian Walden memerah karena menahan amarah. Napasnya tersengal, sementara kedua matanya terus menatap Ryan. Kata-kata lelaki itu masih terngiang di telinganya. 'Dasar rendahan! Kau pantas mati!' Damian merasa harga dirinya diinjak-injak. Lebih menyebalkan lagi, wibawa Ryan tadi sempat membuatnya ketakutan, seolah dirinya memang telah melakukan kesalahan besar. Namun rasa takut itu segera berubah menjadi kebencian. Damian adalah kapten pengawal Benteng Mulvane yang telah memimpin para penjaga selama bertahun-tahun. Dengan kultivasi Grandmaster Tingkat Transenden, ia terbiasa dihormati oleh bawahannya. Kapan dirinya pernah dipermalukan seperti ini? Terlebih lagi, orang yang mempermalukannya justru lelaki yang dianggap sudah kehilangan seluruh kultivasinya! "Kau... kau sampah..." Damian menunjuk Ryan dengan tangan gemetar. Ryan sama sekali tidak menanggapi makian tersebut. Ia justru menoleh kepada Juwita yang berdiri di belakangnya
Ryan dan Juwita terus mengobrol hingga larut malam.Setelah mendengar cerita tentang kampung halaman Ryan, Juwita semakin penasaran. Gadis itu terus mengajukan pertanyaan, mulai dari kereta besi yang bisa berjalan tanpa ditarik kuda hingga kotak kecil yang memungkinkan orang berbicara dengan seseorang yang berada sangat jauh.Setiap kali Ryan menjelaskan sesuatu, mata Juwita langsung berbinar. Baginya, kehidupan di kampung halaman Ryan terdengar seperti dunia dalam dongeng.Tanpa terasa, malam pun semakin larut.Juwita mulai mengantuk. Kepalanya sesekali mengangguk, sementara sebelah tangannya menopang dagu agar tidak tertidur di depan Ryan.Namun tepat ketika matanya hampir terpejam, suara pertengkaran mendadak terdengar dari luar kamar.Juwita langsung tersentak. Cangkir teh di tangannya nyaris terlepas."Ada apa di luar?"Gadis itu buru-buru meletakkan cangkir dan keluar untuk memeriksa ke
"Masuklah!" jawab Ryan.Pintu kamar pengantin perlahan terbuka. Juwita melangkah masuk dengan kepala tertunduk, sementara kedua tangannya terus meremas ujung lengan baju.Gadis itu berhenti tidak jauh dari pintu. Setelah beberapa saat, ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian."Tuan Menantu, Nona bilang dia sedang tidak enak badan malam ini. Jadi, Nona menyuruhku... menyuruhku tinggal di sini untuk melayani Tuan Menantu."Wajah Juwita memerah setelah mengucapkan kalimat terakhir. Meski begitu, ia tetap memberanikan diri melangkah mendekati Ryan."Kau keluar saja," kata Ryan.Juwita langsung berhenti. "Hah?"Gadis itu mengangkat kepala dengan bingung. Namun sesaat kemudian, wajahnya berubah pucat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, lalu mengalir deras sebelum ia sempat menahannya."Tuan Menantu, apa Juwita melakukan kesalahan? Apa aku membuat Tuan Menantu tida
Wulan yang baru keluar dari dapur langsung pucat pasi. Tangannya yang memegang spatula gemetar hebat. Dia menatap Ryan dengan panik, bibirnya bergetar tapi tidak ada kata yang keluar.Ryan bangkit dari sofa, menatap ibunya dengan tatapan tenang. "Ibu, siapa mereka?""Ryan..." Wulan berbisik, suaran
Ryan awalnya terkejut, lalu menatap gadis kecil itu dengan tak percaya.Nenek... Dia... dia adalah...Gadis kecil itu akhirnya menyadari kehadiran Ryan. Tangisannya berhenti seketika, dan secara naluriah dia bersembunyi di belakang Wulan, mengintip Ryan dengan mata penuh curiga.Ryan segera menatap
Wulan mempersilakan Ryan duduk di sofa lusuh yang pegas-pegasnya sudah nyungsep di beberapa bagian. Lalu dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, dia mulai menceritakan semuanya.Ayahnya, Hendrik Hartono, bekerja sebagai buruh bangunan. Gajinya tidak besar, tiga juta GDP per bulan kalau lagi be
Gunawan merasakan sesuatu yang sangat menakutkan dari tatapan Ryan. Ini bukan tatapan manusia biasa. Ini tatapan seseorang yang pernah melihat kematian, yang pernah membawa kematian, berkali-kali lipat. Tatapan predator puncak yang tidak mengenal belas kasihan."L... lepaskan aku!" Gunawan mencoba







