LOGINPagi Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Brindil AnakPapua atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Tuan Muhd Saiful Tuan Man, Kak Famida, dan Kak Pengunjung1341 atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada bab bonus setelah ini(≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Beberapa detik setelah Rowena menyebut nama Ryan Hartono, bisik-bisik akhirnya pecah di ruang tamu Keluarga Ashford.Beberapa orang saling mencondongkan tubuh, seolah takut percakapan mereka terdengar terlalu jelas.“Jadi dia Kaisar Iblis Gila dari Selatan?”“Orang yang membunuh Yorick Sinclair dan yang lain?”“Dari penampilannya, tidak kelihatan istimewa.”“Orang dari dunia biasa berani menyebut dirinya nomor satu di Garudapolis?”Mendengar nada bicara yang semakin tidak bersahabat, wajah cantik Rowena sedikit berubah. Tanpa sadar ia maju setengah langkah, seolah berdiri di antara Ryan dan orang-orang di ruangan.“Ryan, biar kuperkenalkan satu per satu.”Ia menunjuk perempuan bergaun ungu yang duduk di kursi utama. “Ini Selena Tanjaya dari Keluarga Tanjaya di Tiga Alam Tertinggi.”Kemudian ia melanjutkan, “Yang ini Roderick Sterling dari Keluarga Sterling.” “Di sana Vincent Lowell dari Keluarga Lowell, dan yang lain juga berasal dari keluarga-keluarga sekutu kami.”Seiring perkenal
Reyner mengemudi dengan kecepatan tinggi, menyalip satu demi satu kendaraan di jalan tol tanpa banyak mengurangi laju. Mesin Lamborghini Veneno meraung rendah setiap kali mobil itu berpindah jalur, sementara Rowena duduk tenang seolah sudah terbiasa dengan cara mengemudi seperti itu.Lebih dari setengah jam kemudian, rombongan mereka akhirnya tiba di luar sebuah vila yang terletak di kawasan lingkar ketiga Metropolitan Alexandris.Bahkan sebelum mobil benar-benar mendekat, Ryan Hartono sudah melihat seseorang berdiri di depan gerbang vila.Seorang pemuda berjubah ungu berdiri dengan punggung tegak lurus. Auranya bergolak seperti bara yang terus ditiup angin, tenang di permukaan tetapi menyimpan tekanan yang sulit diabaikan.Kalau ada praktisi Garudapolis lain melihatnya, hampir pasti mereka langsung mengenali sosok tersebut.Raymond Ashford.Dewa Perang Garudapolis.Sebelum kemunculan Ryan, Raymond sudah bertahan di puncak Daftar Langit selama hampir sepuluh tahun. Baru setelah nam
Bagaimanapun, kedua orang tua Ryan Hartono sudah mendekati usia enam puluh tahun. Waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Meski selama ini mereka sudah meminum berbagai pil racikannya hingga kondisi tubuh jauh lebih baik daripada orang biasa, batas usia tetap tidak bisa diabaikan.Paling jauh, mereka mungkin hanya mampu hidup sampai sekitar seratus tahun.Sementara itu, kapal hantu hanya muncul sekali setiap dua puluh tahun.Kalau kesempatan kali ini dilewatkan, saat kapal itu muncul lagi kedua orang tuanya sudah berusia sekitar delapan puluh tahun. Pada usia seperti itu, tubuh sudah menua, daya ingat menurun, dan memulai jalan kultivasi hampir mustahil. Bahkan Pil Penambal Langit pun tidak mampu mengembalikan usia yang sudah berlalu.'Kesempatan ini tidak boleh kulewatkan.'Tatapan Ryan menjadi dalam.'Apa pun yang menunggu di atas kapal itu.'Melihat bahwa Ryan benar-benar berniat naik ke kapal hantu
“Formasi ini benar-benar kuat.”Reyner masih tampak menyimpan sisa ketegangan setelah kejadian barusan. Ia melirik permukaan Danau Sembilan Naga, lalu berkata dengan nada serius, “Kalau Ranah Maestro biasa menerobos masuk, hampir pasti binasa. Untung tadi aku belum masuk terlalu dalam dan masih sempat mundur.”Tepat ketika suaranya jatuh, suara tipis terdengar dari seberang danau.“Kalian berdua, sekarang boleh masuk.”Rowena sempat ragu beberapa saat. Namun setelah memastikan suara itu memang milik Ryan Hartono, ia akhirnya melangkah maju dan melesat menyeberangi danau. Reyner segera mengikuti rapat di belakangnya.Kali ini tidak ada serangan sedikit pun.Keempat patung batu yang berdiri di empat penjuru tepian tetap diam seperti benda mati. Tidak ada bayangan Harimau Putih, tidak ada tekanan mengerikan, seolah formasi itu benar-benar tahu bahwa kedua orang tersebut sudah mendapat izin untuk masuk.
Keempat Bendera Formasi perlahan turun menuju empat penjuru Danau Sembilan Naga. Masing-masing membawa tekanan yang pekat, lalu berhenti di arah timur, selatan, barat, dan utara. Dalam sekejap cahaya, keempat bendera itu berubah bentuk. Di timur berdiri patung Naga Biru. Di selatan berdiri patung Burung Merah. Di barat berdiri patung Harimau Putih. Sedangkan di utara berdiri patung Kura-Kura Hitam. Keempat patung batu itu tampak tua dan sederhana, seolah sudah berdiri di sana selama ratusan tahun. Tidak ada sedikit pun kesan bahwa mereka baru saja terbentuk dari Bendera Formasi. Ryan Hartono berdiri di atas permukaan danau dengan kedua tangan di belakang punggung. Tekanan agung menyelimuti sekelilingnya. “Mulai hari ini, kalian adalah Roh Formasi dari Formasi Transformasi Naga Sembilan Langit.” Tatapannya menyapu keempat patung tersebut. “Serap Qi spiritual pada siang hari, dan hirup sari cahaya bulan pada malam hari. Selama kalian menjaga kediaman ini dengan sepenuh hati
Pagi-pagi keesokan harinya, kabut tipis masih menggantung di atas Danau Sembilan Naga. Di luar vila Keluarga Hartono, Ryan Hartono berdiri tenang di atas permukaan air dengan kedua tangan berada di belakang punggung. Tatapannya menyapu seluruh kawasan danau, dari tepian sampai bagian terdalam, sementara wajahnya menunjukkan seseorang yang sedang mempertimbangkan sesuatu dengan serius. Musim dingin sudah benar-benar tiba di Kota Sentralis. Suhu bahkan turun hingga sekitar minus sepuluh derajat. Sebagian besar tepian sungai dan kolam di kota sudah membeku, tetapi kawasan Teluk Sembilan Naga tetap berbeda. Air danau masih mengalir seperti biasa. Pohon-pohon di sekitarnya juga tetap hijau dan rimbun, seolah tidak tersentuh hawa musim dingin. Qi spiritual memenuhi udara, membuat seluruh kawasan itu tampak seperti potongan musim semi yang terselip di tengah dunia yang membeku. 'Formasi Transformasi Naga Sembilan Langit memang punya daya bertahan yang cukup kuat.' Ryan menggeleng
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke A
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik m
Gunawan merasakan sesuatu yang sangat menakutkan dari tatapan Ryan. Ini bukan tatapan manusia biasa. Ini tatapan seseorang yang pernah melihat kematian, yang pernah membawa kematian, berkali-kali lipat. Tatapan predator puncak yang tidak mengenal belas kasihan."L... lepaskan aku!" Gunawan mencoba
Wulan mempersilakan Ryan duduk di sofa lusuh yang pegas-pegasnya sudah nyungsep di beberapa bagian. Lalu dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, dia mulai menceritakan semuanya.Ayahnya, Hendrik Hartono, bekerja sebagai buruh bangunan. Gajinya tidak besar, tiga juta GDP per bulan kalau lagi be






