Legenda Pendekar Dewa

Legenda Pendekar Dewa

last updateLast Updated : 2026-10-29
By:  Boqin ChangingUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
11views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Desanya dihancurkan dan dirinya diculik oleh kelompok pendekar aliran hitam, hanya karena Zhi Shen memiliki sepasang mata misterius berwarna ungu dan emas! Setelah diselamatkan oleh seorang pendekar legendaris, Zhi Shen memulai perjalanan untuk menguasai ilmu bela diri dan menjadi yang terkuat di dunia persilatan. Namun, mampukah dia mencapai puncak kekuatan ketika rahasia di balik kedua matanya masih menjadi misteri?

View More

Chapter 1

Bab 1. Bocah Bermata Dua Warna

“Malam ini kita hancurkan desa ini. Jangan biarkan seorang pun lolos!” Seorang pria nampak berbicara dengan rekannya yang ada di sampingnya.

Sementara itu, Zhi Shen, bocah delapan tahun yang kelelahan setelah bekerja seharian itu tengah terlelap di tempat tidurnya. Sementara di luar rumah, beberapa pria berpakaian hitam mulai menyerbu Desa Jianlu entah dengan tujuan apa.

Hingga tiba-tiba sesuatu terjadi.

Brak!

Pintu kayu rumah Zhi Shen jebol dihantam tendangan.

Bocah berusia delapan tahun itu terbangun dari tidurnya. Ia berusaha mendengarkan, tetapi belum sempat memastikan asal suara tersebut, terdengar bunyi benda pecah.

Zhi Shen bangkit dan keluar dari kamarnya. Namun, tubuhnya langsung terhuyung ke belakang ketika beberapa pria berpakaian hitam menerobos masuk sambil menghunus pedang.

Zhi Shen mundur dengan wajah pucat. Punggungnya membentur dinding. Ia benar-benar tidak menyangka suara tadi adalah suara orang-orang yang mendobrak paksa rumahnya.

Sementara di luar, suara jeritan dan kobaran api terdengar semakin dekat.

"A-apa yang kalian inginkan?" tanyanya dengan suara bergetar.

Tak seorang pun menjawab. Namun, salah satu pria justru melangkah mendekat sambil mengangkat pedangnya. Darah masih menetes dari ujung senjata itu.

Zhi Shen menelan ludah. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

"Bunuh saja. Jangan buang waktu untuk bocah ini!"

Mendengar perkataan itu, jantung Zhi Shen seakan berhenti berdetak. Mereka benar-benar ingin membunuhnya?

"T-tolong, jangan bunuh aku!" Zhi Shen mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepala. "Aku tidak punya uang! Tidak ada barang berharga di sini!"

Pria itu sama sekali tidak peduli dengan ucapan Zhi Shen. Ia malah mengangkat pedangnya lebih tinggi.

Zhi Shen menatap pria itu, bersiap menerima tebasan yang mungkin akan mengakhiri hidupnya. Namun, sebelum pedang itu diayunkan, sebuah tangan mendadak mencengkeram lengan pria yang hendak menebas Zhi Shen.

"Tunggu! Lihat matanya!"

Pria yang menghentikan rekannya itu mendekat, lalu menunjuk ke arah mata Zhi Shen.

"Bola mata kirinya berwarna ungu dan bola mata kanannya berwarna emas? Aneh sekali!"

Zhi Shen menatap orang-orang itu dengan tajam.

Sejak lahir, warna matanya memang berbeda dari orang kebanyakan. Bahkan, tak seorang pun di Desa Jianlu pernah melihat bola mata seperti miliknya. Oleh karena keanehan itu, Zhi Shen kerap diejek sebagai manusia siluman oleh anak-anak seusianya. Beberapa bahkan menjulukinya sebagai anak iblis.

Setelah ibunya meninggal saat melahirkannya dan ayahnya menyusul setahun lalu, ia pun harus hidup sendirian, mengandalkan pekerjaan serabutan untuk bertahan hidup. Namun, Zhi Shen tak pernah menyangka bahwa sepasang mata yang selama ini membuatnya dikucilkan justru akan menarik perhatian para penjahat.

"Memangnya kenapa dengan matanya?" tanya pria yang memegang pedang.

Rekannya nampak menghela napas panjang.

"Bodoh! Pernahkah kau melihat mata seperti itu? Kalau kita menjualnya di pasar budak, pasti ada orang kaya yang mau membayar mahal!"

Zhi Shen membelalak.

“Pasar budak?!”

Zhi Shen terdiam. Ia pernah mendengar penduduk desa membicarakan pasar budak di kota-kota besar. Orang yang dijual di sana bisa kehilangan kebebasannya seumur hidup.

“Di sana akan ada banyak orang yang ingin membelimu ....” Pria yang baru saja menahan rekannya membunuh Zhi Shen mengangguk. “Kalau harganya cukup tinggi, hasil penjualannya mungkin lebih besar daripada harta yang kita rampas malam ini.”

“Hahaha! Kali ini kita benar-benar beruntung!” sahut pria lain dengan rasa penuh kemenangan.

Mereka tertawa puas, seolah sudah membayangkan tumpukan uang yang akan mereka dapatkan. Bagi mereka, bocah di depan mereka bukan lagi sekadar bocah biasa. Ia sudah menjadi barang dagangan yang bernilai mahal.

Pria yang tadi hendak membunuh Zhi Shen akhirnya menurunkan pedang. Ia menyarungkan senjatanya, lalu menatap bocah di depannya dengan senyum licik.

“Bocah, kau cukup beruntung. Kami sedang membutuhkan uang.” Pria itu mulai mendekat, lalu kembali bicara dengan nada penuh kemenangan. “Ikutlah bersama kami. Kalau kau menurut, kami tidak perlu menyakitimu.”

Zhi Shen menelan ludahnya. Ia tidak ingin nasibnya berakhir di tempat itu. Namun, apa yang bisa dilakukan seorang bocah berusia delapan tahun ketika berhadapan dengan sekelompok pendekar bersenjata?

“Tidak... aku tidak boleh menyerah begitu saja!” Tekad Zhi Shen dalam hati.

Entah dari mana keberanian itu muncul. Apa pun alasannya, Zhi Shen memutuskan untuk melawan daripada membiarkan dirinya dibawa pergi begitu saja.

Pria itu mengulurkan tangan untuk meraih lengannya. Tepat saat itulah, sesuatu yang aneh terjadi.

Kedua mata Zhi Shen tiba-tiba terasa berdenyut. Sensasi aneh menjalar ke kepalanya, disertai perasaan seolah sesuatu di dalam dirinya baru saja terbangun.

Pandangan Zhi Shen mendadak berubah. Gerakan pria yang hendak menangkapnya terlihat melambat. Ia bahkan bisa melihat jari-jari pria itu terbuka dan tangannya bergerak menuju lengannya.

Tubuh Zhi Shen bergerak mengikuti nalurinya. Saat tangan pria itu hampir menyentuh lengannya, ia segera bergeser ke samping.

Srak!

Akhirnya, tangan itu hanya menyambar udara kosong.

Pria tersebut langsung tertegun., lalu langsung menoleh dan mendapati Zhi Shen sudah berada di sampingnya.

“Hah? Kenapa bisa seperti ini?” Zhi Shen ikut terkejut. Ia belum pernah belajar bela diri, tetapi tangkapan cepat pria itu berhasil dihindarinya dengan mudah.

“Apa-apaan ini?!” Wajah pria itu mengeras. Ia tidak habis pikir bagaimana seorang bocah bisa menghindari tangkapannya. “Berhenti bergerak, bocah sialan!”

Pria itu menggeram dan mencoba meraih Zhi Shen kembali.

Sementara itu, Zhi Shen mundur dengan jantung berdegup kencang. Sensasi aneh di matanya belum menghilang. Ia tidak mengerti kemampuan apa yang sedang muncul, tetapi selama masih bisa menghindari lawannya, ia akan terus melawan.

Ketika pria itu kembali mengulurkan tangan, Zhi Shen segera merunduk. Tangannya kemudian bergerak ke arah meja di dekatnya dan mengambil pisau yang kebetulan ada di sana.

Begitu pria itu kembali mendekat, Zhi Shen mengayunkan pisau kecilnya.

Sret!

Ujung pisau menggores lengan pria tersebut. Garis merah langsung muncul di kulitnya.

Pria itu menunduk menatap goresan di lengannya. Untuk sesaat, ia hanya terdiam, tidak percaya seorang bocah berani melukainya.

Sesaat kemudian, wajahnya memerah karena amarah.

“Bajingan kecil!” Pria itu mengangkat kepala dan menatap Zhi Shen dengan mata melotot. “Kau berani melukaiku?!”

Zhi Shen mundur dengan napas memburu. Ia masih terkejut karena berhasil melukai lawannya, tetapi pria itu tidak memberinya waktu untuk berpikir.

Pria itu mencabut pedangnya kembali. Kilatan dingin memantul pada bilah senjata tersebut.

“Aku akan membunuhmu!”

Rekan pria itu segera mengerutkan kening dan mengingatkan. “Hei! Jangan keterlaluan. Kita sudah sepakat membawanya hidup-hidup!”

Pria yang terluka itu membentak. “Diam! Dia hanya bocah! Apa kau pikir aku tidak sanggup mengendalikannya?”

Zhi Shen mulai panik. Menghindari tangan kosong saja sudah sulit, apalagi menghadapi pedang yang bisa menebas tubuhnya dalam sekejap.

“Aku tidak ingin mati.” Zhi Shen mengertakkan gigi dan memusatkan pandangan pada pria yang mendekat. Ia berharap kemampuan matanya yang terasa aneh itu kembali membantunya menghindari serangan berikutnya.

Pria itu mengangkat pedangnya. Namun, sebelum sempat mengayunkannya, seseorang bergerak dari belakang dengan kecepatan tinggi melewatinya.

Zhi Shen melihat bayangan itu dan berusaha memiringkan tubuh. Sayangnya, kali ini gerakannya terlambat.

Buk!

Sebuah pukulan keras menghantam tubuh kecil Zhi Shen.

“Ugh!”

Brak!

Rasa sakit menjalar ke sekujur tubuh Zhi Shen. Pisau kecilnya terlepas dari genggaman, sementara tubuhnya terlempar hingga menghantam dinding kayu. Ia jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status