Share

Kak, Aku Kedinginan
Kak, Aku Kedinginan
Author: Nani

Bab 1

Author: Nani
Karena hawa dingin yang ekstrem, aku membeku hingga tewas di ruang pendingin yang terbengkalai.

Baru setelah mati, aku mengetahui bahwa putri palsu itu telah mengubah suhu -10 derajat yang sudah diatur Kak Bobby menjadi -50 derajat, bahkan membekukan satu-satunya ponsel yang bisa kupakai untuk meminta pertolongan hingga rusak.

Setelah jiwaku terperangkap di sisi ketiga kakakku, selama tiga hari ini aku hanya bisa menyaksikan mereka terus mencurahkan perhatian kepada Nara.

Kak Bobby membatalkan kerja sama bernilai triliunan hanya demi memasakkan semangkuk wedang jahe untuknya.

Kak Eki menunda seminar medis internasional dan terus berjaga di sisi ranjang rumah sakit tanpa beranjak sedikit pun.

Kak Dimas bahkan membeli kembang api di seluruh kota hanya demi melihat senyumannya setelah pulih dari sakit.

Mereka diam-diam saling berkompetisi, seolah tidak ingin kalah dalam memanjakan Nara.

Namun, tidak seorang pun teringat bahwa aku masih dikurung di dalam ruang pendingin, bahkan jasadku sudah membeku bening bak kristal.

Baru tiga hari kemudian, setelah putri palsu itu pulang dari rumah sakit, mereka teringat padaku.

Sang kepala pelayan menyambut dengan wajah pucat pasi, lalu tidak kuasa untuk tidak angkat bicara, "Ketiga Tuan Muda, Nona Viona sudah berada di dalam ruang pendingin selama tiga hari, tapi nggak ada gerakan sama sekali ...."

Kupikir setidaknya mereka akan menunjukkan sedikit kekhawatiran.

Namun, wajah kakak sulung, Bobby Atmaja, langsung dingin. Dia segera memotong ucapan kepala pelayan, "Diam! Nara baru saja keluar dari rumah sakit. Untuk apa membicarakan si pembawa sial itu?"

Kepala pelayan masih ingin melanjutkan, tetapi tatapan dingin kakak kedua, Eki Atmaja, langsung menusuk ke arahnya.

"Seorang yang bahkan berani mendorong adiknya sendiri ke danau, memangnya kenapa kalau dibiarkan merenung beberapa hari di sana?"

Kakak ketiga, Dimas Atmaja, mendengus dingin.

"Dia tahu tubuh Nara lemah, tapi tetap mendorongnya ke danau. Jangan harap bisa keluar sebelum benar-benar merenung di sana."

"Tenang saja, suhu di sana sudah kuatur. Nggak bakal sampai membunuh orang, cuma memberinya sedikit pelajaran."

Saat membicarakan pelajaran, Kak Bobby teringat bagaimana sejak kecil hidupku selalu penuh penderitaan. Ada sedikit keraguan yang melintas di matanya.

Dia menoleh pada Kak Dimas. "Yakin suhunya -10 derajat? Bagaimana kalau kita pergi melihatnya?"

Namun, sesaat setelah kata-kata itu terlontar, Nara mengangkat pergelangan tangannya. Lengan bajunya tersingkap, memperlihatkan beberapa bekas kemerahan.

Kemudian, dia terbatuk pelan dengan lemah.

"Kakak ... jangan salahkan Kak Viona. Mungkin dia memang nggak sengaja. Bagaimana kalau kita keluarkan saja ...."

Namun, saat melihat bekas merah itu, pupil Kak Eki mendadak mengecil. Dia langsung mencengkeram pergelangan tangan Nara.

"Ini luka saat dia mendorongmu?"

Nara buru-buru menarik tangannya.

"Bukan, bukan. Aku sendiri yang terbentur ... Kak Viona cuma marah karena aku mengambil posisinya, jadi dia cuma menarikku pelan."

"Ini yang kau sebut menarik pelan? Jelas-jelas ada orang yang menarikmu dengan kasar!"

Melihat bekas merah itu, kemarahan juga langsung memenuhi mata Kak Bobby.

Dia mengambil ponselnya dan membuka riwayat percakapannya denganku.

Percakapan itu berhenti tiga hari lalu.

Karena ponselku sudah rusak akibat suhu dingin, di layarnya hanya tampak satu pesan baru yang belum terkirim dan satu panggilan masuk.

Wajah Kak Bobby berubah muram. Dia membanting ponsel ke atas meja.

"Sudah tiga hari, tapi nggak ada satu pun pesan minta maaf. Apa dia benar-benar merasa nggak bersalah?"

"Mungkin ... Kak Viona merasa aku nggak pantas menjadi adik kalian. Sebaiknya aku pindah saja ... dengan begitu Kak Nara nggak bakal terus marah."

Nara menundukkan kepala. Suaranya begitu pelan, seolah akan hancur kapan saja. Kak Bobby langsung berdiri. Wajahnya dipenuhi amarah.

"Omong kosong apa itu! Memangnya dia punya hak buat mengusirmu? Kaulah adik yang kami besarkan sejak kecil! Selama Kak Bobby ada, lihat saja apa dia berani menindasmu!"

Kak Eki dan Kak Dimas ikut bersuara bersamaan, nada mereka dingin menusuk.

"Benar! Tadi kami bahkan sempat mengasihaninya! Memangnya dia pantas?"

"Sudah, lupakan dia. Ayo! Kakak bakal mengajakmu makan enak supaya tubuhmu cepat pulih."

Melihat itu, tubuh kepala pelayan gemetar. Dengan suara bergetar karena cemas, dia berkata lagi, "Tapi para tuan muda, Nona Viona benar-benar nggak menunjukkan tanda-tanda pergerakan apa pun selama tiga hari ini ...."

"Memangnya orang bisa mati cuma karena dikurung beberapa hari di ruang pendingin?"

Kak Dimas melambaikan tangan dengan tidak sabar.

"Selama lima belas tahun di desa, penderitaan apa yang belum pernah dia alami? Paman Rian, jangan membesar-besarkan masalah! Nanti Nara malah ketakutan."

Aku melayang di udara, mendengarkan cacian kakak-kakakku. Yang tersisa dalam hatiku hanyalah senyum getir.

Benar. Lima belas tahun di desa.

Demi membantu orang tua angkat mencari uang, aku mengangkut batu bata, memulung sampah, serta mencuci piring di tengah hujan dan udara dingin. Di usia yang masih sangat muda, tubuhku sudah dipenuhi penyakit akibat hawa dingin.

Kupikir setelah menemukan orang tua kandungku, hidupku akhirnya akan membaik. Namun, di perjalanan pulang, mereka justru mengalami kecelakaan mobil.

Ketiga kakakku bersusah payah menjemputku pulang. Sesaat sebelumnya, mereka bahkan memelukku sambil menangis, berjanji akan mengganti seluruh kasih sayang yang hilang selama lima belas tahun itu.

Namun, setiap kali mata Nara memerah dan menangis, berkata bahwa orang tua kandungnya telah berbuat dosa dan dia rela berkorban apa pun untuk menebusnya, ketiga kakakku selalu segera mengerubunginya untuk menenangkannya.

"Nara, mereka dan kau itu beda. Kau nggak bersalah. Kami bakal selalu menganggapmu adik kami!"

Setelah itu mereka berbalik dan dengan dingin memperingatkan, "Mulai sekarang, bertemanlah baik-baik dengan Nara. Jangan bawa kebiasaan burukmu dari desa ke rumah ini."

Demi tiga anggota keluarga yang tersisa, aku menahan sakit dan memilih patuh.

Namun, yang kuterima hanyalah fitnah dan jebakan Nara yang datang berulang kali. Sementara setiap penjelasanku, tidak pernah sekali pun dipercaya oleh kakak-kakakku.

Mereka hanya melemparkan satu kalimat. "Nara kami besarkan sejak kecil. Mana mungkin kami nggak tahu seperti apa sifatnya?"

Sampai tiga hari lalu, Nara sengaja menyuruh semua pelayan pergi, lalu menjatuhkan dirinya sendiri ke danau tepat di depan mereka.

Sekali lagi, aku dilempar tanpa belas kasihan ke ruang pendingin terbengkalai.

Berlutut di depan pintu besi yang diselimuti lapisan es, aku mati-matian bersujud memohon, mengatakan bahwa aku takut dingin, aku akan mati kedinginan di dalam sana.

Namun, yang kudapat hanyalah ejekan dingin dari Kak Eki.

"Kedinginan apanya! Gara-gara ulahmu Nara sampai demam. Semua ini memang akibat perbuatanmu sendiri. Membuatmu kedinginan sebentar justru bagus, biar kau sadar. Kau nggak bakal mati!"

Kak Dimas bahkan langsung mencabut satu-satunya sakelar darurat di dalam ruang pendingin, memutus seluruh jalan hidupku.

Saat ini, melihat bagaimana mereka begitu melindungi Nara, aku tidak kuasa menahan senyum sinis.

Kakak-kakakku, bukalah mata kalian. Nara yang kalian anggap paling baik hati itu telah membunuh adik kandung kalian sendiri dengan tangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 9

    Kasus Nara diputus dengan sangat cepat.Bukti-bukti yang memberatkannya lengkap dan membentuk rangkaian yang utuh, sengaja menurunkan suhu ruang pendingin, menutup ventilasi, serta merusak alat darurat untuk meminta pertolongan.Pada hari putusan sidang pertama dibacakan, Kak Dimas berdiri di depan gedung pengadilan, mendongak menatap langit kelabu.Seorang wartawan berlari menghampirinya dan menyodorkan mikrofon tepat ke depan wajahnya."Pengacara Dimas, maaf, Pak Dimas, apa pendapat Anda tentang hasil putusan ini?"Dia menundukkan kepala, menatap wartawan itu sekilas."Terlalu ringan."Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.Setelahnya, jiwaku tetap berada di vila Keluarga Atmaja untuk waktu yang sangat lama.Begitu lama hingga aku melihat musim berganti dari akhir musim panas menuju puncak musim hujan.Kak Bobby mengunci kamar lamaku.Tidak seorang pun diizinkan masuk.Namun, setiap akhir pekan, dia sendiri akan membuka pintu kamar itu dan duduk

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 8

    Saat Nara dibawa pergi, seluruh lampu di sepanjang jalan sudah menyala.Kilatan lampu merah dan biru dari mobil polisi memantul di dinding putih vila, berkedip tanpa henti.Dua polisi wanita menopang tubuh Nara saat membawanya keluar. Rambutnya berantakan, jejak air mata di wajahnya belum mengering, dan dari bibirnya hanya satu kalimat yang terus terucap berulang kali."Kak Bobby, tolong aku ... Kak Eki ... Kak Dimas ... aku nggak sengaja ...."Tidak seorang pun menanggapinya.Tiga bersaudara itu berdiri di depan jendela kaca besar ruang tamu, tidak satu pun menoleh ke arah luar.Mobil polisi pun melaju, lampu belakangnya perlahan menghilang ditelan malam.Vila kembali sunyi.Kepala pelayan turun ke ruang bawah tanah bersama petugas rumah duka.Aku mengikuti mereka, melayang masuk ke ruang pendingin.Para petugas rumah duka sudah terbiasa menghadapi kematian, tetapi saat pintu ruang pendingin dibuka, pria paruh baya yang memimpin rombongan itu tetap tertegun sejenak.Dia melirik tubuh

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 7

    Kepala pelayan bergerak cepat memeriksa rekaman CCTV.Sistem keamanan vila dirancang khusus atas permintaan Kak Bobby, diklaim mampu mengawasi segala arah tanpa ada titik buta. Bahkan sudut-sudut taman pun dipasangi kamera inframerah dengan mode penglihatan malam.Apalagi lorong menuju ruang pendingin di ruang bawah tanah.Layar proyektor terbentang di ruang tamu, sementara kepala pelayan menyambungkan perangkat dengan tangan gemetar.Nara berlutut di lantai, wajahnya yang semula pucat pasi kini kehilangan seluruh warna.Bibirnya bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tenggorokannya terasa seperti tersumpal kapas.Rekaman CCTV mulai diputar.Waktu, tiga hari lalu, 19:47:23.Di layar, tiga bersaudara itu sedang menyeret Viona menuju ruang pendingin.Kak Eki dan Kak Dimas mencengkeram masing-masing satu lengan Viona, menyeretnya hingga ujung sepatunya meninggalkan jejak terputus-putus di lantai.Viona meronta.Namun, bagaimana mungkin gadis 17 tahun dengan kondisi persendian s

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 6

    Di ruang tamu, Nara meringkuk di sofa, tubuhnya terselimuti selimut kasmir, sementara kedua tangannya menggenggam secangkir cokelat panas.Di permukaan, dia tampak sedang memainkan ponselnya, sudut bibirnya bahkan masih menyunggingkan senyum samar.Padahal, setiap beberapa detik, matanya melirik ke arah tangga.Mereka sudah terlalu lama berada di bawah.Awalnya, Nara mengira kakak-kakaknya hanya akan turun untuk memarahi Viona, lalu kembali dengan kesal. Setelah itu, dia tinggal bermanja sedikit pada saat yang tepat, dan masalah ini pun akan berlalu begitu saja.Namun, hampir 40 menit telah berlalu.Dia meletakkan ponselnya, lalu menggigit bibir bawahnya.Minus lima puluh derajat, selama tiga hari.Bukan berarti Nara tidak pernah memikirkan kemungkinan Viona benar-benar celaka.Namun, menurutnya, orang yang tumbuh besar di desa pasti lebih tahan dingin.Lagi pula, Nara hanya mengubah suhu, bukan turun tangan sendiri.Kalaupun sesuatu benar-benar terjadi, itu karena kakak-kakaknya yang

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 5

    Ponsel itu terlepas dari tangan Eki, lalu jatuh membentur lantai ruang pendingin dengan bunyi nyaring.Kak Bobby mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Gerakannya begitu lambat, sama sekali tidak seperti biasanya.Dia menatap enam kata itu cukup lama.Kemudian, tangannya mulai gemetar, dari ujung jari menjalar ke lengan, hingga seluruh tubuhnya.[Kak, aku kedinginan. Tolong selamatkan aku.]Gagal dikirim.Di samping kotak pesan, tanda seru merah berdiri diam.Dia mengirimnya.Dia meminta pertolongan.Dia sama sekali tidak mengirim pesan permintaan maaf.Di dalam ruang sedingin ini, dengan jari-jari yang hampir beku, dia mengetik enam kata itu.Tapi pesan itu tidak terkirim.Karena ponselnya sudah rusak akibat membeku.Kak Bobby teringat beberapa jam sebelumnya, saat dia membanting ponselnya ke meja dan berkata, "Sudah tiga hari, tapi nggak ada satu pun pesan minta maaf. Apa dia benar-benar merasa nggak bersalah?"Tiba-tiba dia membungkuk dan menghantamkan tinjunya ke lantai.Permukaan

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 4

    Dinding bagian dalam ruang pendingin dipenuhi lapisan es yang tebal, sementara kabut putih memenuhi ruangan.Langkah ketiga bersaudara itu serempak terhenti.Di sudut ruangan, sesosok tubuh meringkuk bersandar di dinding.Kedua lengannya memeluk lutut erat-erat, kepalanya tertunduk di antara kedua lutut, seolah berusaha mengecilkan tubuhnya sekecil mungkin demi mempertahankan sisa kehangatan terakhir di dalam dadanya.Kulitnya telah berubah menjadi ungu tua, tertutup lapisan es yang tipis.Kesepuluh jarinya terulur ke arah pintu besi. Semua kukunya patah dan terkelupas, sementara darah merah gelap telah membeku menjadi serpihan es, membentuk jejak yang memanjang dari ujung jari hingga tiga meter ke daun pintu.Jejak itu adalah jejak saat dia merangkak.Pada detik-detik terakhir hidupnya, Viona mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk merangkak sedikit demi sedikit menuju pintu.Pupil mata Kak Bobby membesar seketika. Bibirnya bergetar hebat, tetapi tidak satu kata pun mampu keluar."Mi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status