Share

Bab 2

Author: Nani
Beberapa jam berikutnya, demi menghukumku sepenuhnya, ketiga kakakku sengaja membiarkan seluruh vila Keluarga Atmaja dipenuhi tawa dan keceriaan.

"Kak Bobby sudah bekerja keras. Kak Eki dan Kak Dimas juga cepat cicipi."

Nara memanggang kukis, lalu dengan patuh memijat bahu Kak Bobby.

Tiga pria yang disegani di bidang masing-masing itu, kini menatapnya dengan kelembutan penuh.

Jiwaku melayang kembali ke balik pintu besi yang dipenuhi lapisan es.

Di sudut ruangan, kulihat jasadku meringkuk dalam posisi yang ganjil.

Kulitku berubah menjadi biru keunguan yang mengerikan. Bulu mata dan rambutku tertutup lapisan es tebal.

Sepuluh jariku terluka karena mati-matian mencakar pintu besi. Semua kukuku terkelupas dan patah, sementara darah yang mengalir membeku menjadi serpihan es merah kehitaman.

Sungguh mengenaskan.

Saat pikiranku masih mati rasa, aku melihat kepala pelayan tua datang membawa teh, lalu tiba-tiba berlutut dengan keras di ruang tamu.

Ini sudah ketiga kalinya dia datang untuk memohon.

"Tuan Muda Bobby, sudah tiga hari! Nona Viona sejak kecil tumbuh besar di desa dan kondisi tubuhnya lemah. Kalau nggak segera dikeluarkan, dia benar-benar bisa kehilangan nyawanya!"

Tangan Kak Bobby yang memegang cangkir teh sedikit terhenti, alisnya berkerut.

Kak Eki juga menurunkan korannya, secercah keraguan melintas di matanya.

Namun, tepat saat itu, mata Nara memerah dan air mata jatuh membasahi pipinya.

"Ini semua salahku ... kalau bukan karena aku membuat Kak Viona marah, dia nggak bakal menderita seperti ini."

"Aku bakal bersujud meminta maaf pada Kak Viona. Aku bakal menggantikannya di sana!"

Nara berpura-pura hendak berlari keluar, tubuhnya yang kurus tampak limbung seolah akan roboh.

Dalam sekejap, kakak-kakakku yang tadi sempat melunak kembali berubah.

Kak Bobby langsung menariknya kembali dan membentak kepala pelayan dengan keras, "Diam! Sebenarnya kau kepala pelayan Keluarga Atmaja atau antek wanita jalang itu?" Kak Dimas bahkan mencibir tanpa henti.

"Paman Rian, ingat baik-baik. Wanita jahat kayak dia, yang sudah dirusak sama kehidupan di desa, sama sekali nggak pantas menjadi putri Keluarga Atmaja. Nara adalah satu-satunya adik kami!"

Mendengar kata satu-satunya, jiwaku bergetar hebat.

Saat aku baru kembali dulu, kakak-kakakku juga pernah berkata bahwa akulah satu-satunya keluarga yang ditinggalkan ayah dan ibu untuk mereka, dan mereka tidak akan pernah memihak Nara.

Namun, tiga hari lalu, setelah begadang selama tiga malam sampai telapak tanganku melepuh, akhirnya aku berhasil mengukir jimat keselamatan dari kayu cendana merah untuk Kak Bobby.

Begitu Nara merebutnya dariku, aku hanya berusaha mengambilnya kembali. Namun, dia malah melompat ke danau dan berteriak sambil menangis bahwa akulah yang mendorongnya.

Ketiga kakakku bahkan tidak repot-repot menyelidikinya. Mereka langsung menyeretku ke ruang pendingin.

Benar saja, sejak awal, satu-satunya adik perempuan yang mereka akui hanyalah Nara.

Tiba-tiba aku merasa semuanya begitu menggelikan.

Keluarga seperti ini, lebih baik tidak usah punya.

Brak!

Pintu utama mendadak didobrak hingga terbuka.

Pelayan yang berjaga di ruang pendingin berlari masuk dengan panik, wajahnya begitu pucat.

"Tuan Muda Bobby! Gawat!"

Tubuhnya gemetar hebat. "Di ruang pendingin ... sejak tadi nggak ada gerakan sama sekali. Saya memberanikan diri mengintip lewat ventilasi ...."

"Nona ... Nona Viona sepertinya sudah nggak bernapas! Seluruh tubuhnya membeku kaku!"

Udara di ruang tamu seolah membeku sesaat.

Kak Bobby mendadak berdiri. Pupil matanya mengecil, kepanikan luar biasa melintas di sorot matanya.

Kak Eki dan Kak Dimas saling berpandangan. Ekspresi mereka berubah drastis, dan refleks hendak berlari keluar.

"Ah ...."

Nara tiba-tiba menjerit pelan dan jatuh terduduk di lantai, mencengkeram erat ujung pakaian Kak Bobby.

"Kak Bobby, apa Kak Viona masih marah padaku?"

Dia menekan dadanya kuat-kuat. Sekilas ketakutan luar biasa melintas di matanya.

Kali ini, bukan pura-pura. Karena memang dialah yang telah mengubah suhu ruang pendingin menjadi -50 derajat. Nara takut aku benar-benar mati, dan lebih takut lagi rahasianya terbongkar.

"Aku pernah mendengar dari orang tua kandungku. Dulu, saat di desa, Kak Viona sering pura-pura pingsan buat menghindari pekerjaan di ladang ...."

"Apa kali ini dia juga mau memakai cara seperti ini buat memaksa kalian mengusirku?"

"Bagaimana kalau aku pergi saja? Bagaimanapun, kalian adalah saudara kandung, sedangkan aku cuma anak yang dilahirkan oleh seorang pedagang manusia."

Ucapan itu bagaikan seember air es yang seketika memadamkan kepanikan di hati ketiga pria itu.

Pada saat yang sama, rasa kasih sayang mereka terhadap Nara kembali terusik dan makin menguat.

Tidak lama kemudian, Kak Bobby mendengus dingin dengan nada penuh penghinaan.

"Omong kosong. Ketagihan pura-pura mati, ya?"

Kak Eki mendorong kacamatanya, sorot matanya dipenuhi rasa muak.

"Trik menahan napas dan berpura-pura pingsan seperti itu, cuma bisa menipu orang-orang bodoh seperti kalian."

Wajah Kak Dimas bahkan tampak makin muram.

"Dia memang nggak tahan melihat Nara bahagia. Harus sekali membuat masalah di saat seperti ini!"

"Karena dia pura-pura mati, ayo kita lihat bagaimana dia bakal melanjutkan sandiwara ini!"

Wajah Nara langsung memucat.

Tujuan awalnya adalah menjelek-jelekkanku dan membuat mereka mengurungkan niat untuk pergi ke ruang pendingin.

Namun, saat melihat mereka benar-benar hendak bertindak, Nara segera menekan dadanya dan mulai batuk hebat dengan wajah pucat.

"Kakak, dadaku sakit sekali .... Jangan pedulikan Kak Viona lagi, temani aku, ya?"

Namun, dia meremehkan betapa berharganya dirinya di hati ketiga kakaknya.

Nara juga meremehkan seberapa dalam kebencian mereka terhadapku karena dirinya.

Melihat Nara kambuh, Kak Bobby langsung membanting cangkir teh di tangannya hingga hancur berkeping-keping.

Pecahan kaca beterbangan ke segala arah.

"Nara, jangan takut. Sebaiknya kau istirahat dulu."

Bobby mengatupkan giginya erat-erat.

"Wanita kejam itu sudah membuatmu seperti ini. Hari ini juga dia harus berlutut meminta maaf padamu!"

Dengan gerakan cekatan, Kak Eki mengeluarkan suntikan penguat jantung dari kotak obat, tatapannya sedingin es.

"Pura-pura mati, ya? Hari ini, bakal kubuat dia tahu seperti apa rasanya hidup yang lebih buruk daripada kematian!"

Kak Dimas menarik dasinya, lalu berjalan paling depan dengan wajah penuh amarah.

"Ayo! Dobrak pintunya!"

"Aku ingin lihat, saat dia diseret keluar, apa dia masih bisa terus berpura-pura!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 9

    Kasus Nara diputus dengan sangat cepat.Bukti-bukti yang memberatkannya lengkap dan membentuk rangkaian yang utuh, sengaja menurunkan suhu ruang pendingin, menutup ventilasi, serta merusak alat darurat untuk meminta pertolongan.Pada hari putusan sidang pertama dibacakan, Kak Dimas berdiri di depan gedung pengadilan, mendongak menatap langit kelabu.Seorang wartawan berlari menghampirinya dan menyodorkan mikrofon tepat ke depan wajahnya."Pengacara Dimas, maaf, Pak Dimas, apa pendapat Anda tentang hasil putusan ini?"Dia menundukkan kepala, menatap wartawan itu sekilas."Terlalu ringan."Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.Setelahnya, jiwaku tetap berada di vila Keluarga Atmaja untuk waktu yang sangat lama.Begitu lama hingga aku melihat musim berganti dari akhir musim panas menuju puncak musim hujan.Kak Bobby mengunci kamar lamaku.Tidak seorang pun diizinkan masuk.Namun, setiap akhir pekan, dia sendiri akan membuka pintu kamar itu dan duduk

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 8

    Saat Nara dibawa pergi, seluruh lampu di sepanjang jalan sudah menyala.Kilatan lampu merah dan biru dari mobil polisi memantul di dinding putih vila, berkedip tanpa henti.Dua polisi wanita menopang tubuh Nara saat membawanya keluar. Rambutnya berantakan, jejak air mata di wajahnya belum mengering, dan dari bibirnya hanya satu kalimat yang terus terucap berulang kali."Kak Bobby, tolong aku ... Kak Eki ... Kak Dimas ... aku nggak sengaja ...."Tidak seorang pun menanggapinya.Tiga bersaudara itu berdiri di depan jendela kaca besar ruang tamu, tidak satu pun menoleh ke arah luar.Mobil polisi pun melaju, lampu belakangnya perlahan menghilang ditelan malam.Vila kembali sunyi.Kepala pelayan turun ke ruang bawah tanah bersama petugas rumah duka.Aku mengikuti mereka, melayang masuk ke ruang pendingin.Para petugas rumah duka sudah terbiasa menghadapi kematian, tetapi saat pintu ruang pendingin dibuka, pria paruh baya yang memimpin rombongan itu tetap tertegun sejenak.Dia melirik tubuh

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 7

    Kepala pelayan bergerak cepat memeriksa rekaman CCTV.Sistem keamanan vila dirancang khusus atas permintaan Kak Bobby, diklaim mampu mengawasi segala arah tanpa ada titik buta. Bahkan sudut-sudut taman pun dipasangi kamera inframerah dengan mode penglihatan malam.Apalagi lorong menuju ruang pendingin di ruang bawah tanah.Layar proyektor terbentang di ruang tamu, sementara kepala pelayan menyambungkan perangkat dengan tangan gemetar.Nara berlutut di lantai, wajahnya yang semula pucat pasi kini kehilangan seluruh warna.Bibirnya bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tenggorokannya terasa seperti tersumpal kapas.Rekaman CCTV mulai diputar.Waktu, tiga hari lalu, 19:47:23.Di layar, tiga bersaudara itu sedang menyeret Viona menuju ruang pendingin.Kak Eki dan Kak Dimas mencengkeram masing-masing satu lengan Viona, menyeretnya hingga ujung sepatunya meninggalkan jejak terputus-putus di lantai.Viona meronta.Namun, bagaimana mungkin gadis 17 tahun dengan kondisi persendian s

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 6

    Di ruang tamu, Nara meringkuk di sofa, tubuhnya terselimuti selimut kasmir, sementara kedua tangannya menggenggam secangkir cokelat panas.Di permukaan, dia tampak sedang memainkan ponselnya, sudut bibirnya bahkan masih menyunggingkan senyum samar.Padahal, setiap beberapa detik, matanya melirik ke arah tangga.Mereka sudah terlalu lama berada di bawah.Awalnya, Nara mengira kakak-kakaknya hanya akan turun untuk memarahi Viona, lalu kembali dengan kesal. Setelah itu, dia tinggal bermanja sedikit pada saat yang tepat, dan masalah ini pun akan berlalu begitu saja.Namun, hampir 40 menit telah berlalu.Dia meletakkan ponselnya, lalu menggigit bibir bawahnya.Minus lima puluh derajat, selama tiga hari.Bukan berarti Nara tidak pernah memikirkan kemungkinan Viona benar-benar celaka.Namun, menurutnya, orang yang tumbuh besar di desa pasti lebih tahan dingin.Lagi pula, Nara hanya mengubah suhu, bukan turun tangan sendiri.Kalaupun sesuatu benar-benar terjadi, itu karena kakak-kakaknya yang

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 5

    Ponsel itu terlepas dari tangan Eki, lalu jatuh membentur lantai ruang pendingin dengan bunyi nyaring.Kak Bobby mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Gerakannya begitu lambat, sama sekali tidak seperti biasanya.Dia menatap enam kata itu cukup lama.Kemudian, tangannya mulai gemetar, dari ujung jari menjalar ke lengan, hingga seluruh tubuhnya.[Kak, aku kedinginan. Tolong selamatkan aku.]Gagal dikirim.Di samping kotak pesan, tanda seru merah berdiri diam.Dia mengirimnya.Dia meminta pertolongan.Dia sama sekali tidak mengirim pesan permintaan maaf.Di dalam ruang sedingin ini, dengan jari-jari yang hampir beku, dia mengetik enam kata itu.Tapi pesan itu tidak terkirim.Karena ponselnya sudah rusak akibat membeku.Kak Bobby teringat beberapa jam sebelumnya, saat dia membanting ponselnya ke meja dan berkata, "Sudah tiga hari, tapi nggak ada satu pun pesan minta maaf. Apa dia benar-benar merasa nggak bersalah?"Tiba-tiba dia membungkuk dan menghantamkan tinjunya ke lantai.Permukaan

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 4

    Dinding bagian dalam ruang pendingin dipenuhi lapisan es yang tebal, sementara kabut putih memenuhi ruangan.Langkah ketiga bersaudara itu serempak terhenti.Di sudut ruangan, sesosok tubuh meringkuk bersandar di dinding.Kedua lengannya memeluk lutut erat-erat, kepalanya tertunduk di antara kedua lutut, seolah berusaha mengecilkan tubuhnya sekecil mungkin demi mempertahankan sisa kehangatan terakhir di dalam dadanya.Kulitnya telah berubah menjadi ungu tua, tertutup lapisan es yang tipis.Kesepuluh jarinya terulur ke arah pintu besi. Semua kukunya patah dan terkelupas, sementara darah merah gelap telah membeku menjadi serpihan es, membentuk jejak yang memanjang dari ujung jari hingga tiga meter ke daun pintu.Jejak itu adalah jejak saat dia merangkak.Pada detik-detik terakhir hidupnya, Viona mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk merangkak sedikit demi sedikit menuju pintu.Pupil mata Kak Bobby membesar seketika. Bibirnya bergetar hebat, tetapi tidak satu kata pun mampu keluar."Mi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status