Short
Tak Lagi Punya Tempat Pulang

Tak Lagi Punya Tempat Pulang

Por:  Lapis KetanCompleto
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Capítulos
2visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Kakak sepupu, Irene Candra, menggunakan komputerku dan lupa keluar dari WhatsApp. Aku membantu mengeluarkan akun WhatsApp-nya. Sebuah pesan grup muncul di layar. [Demi merayakan nilai ujian Felix yang makin meningkat, malam ini kita makan malam sekeluarga.] Aku penasaran dan membuka pesan di grup itu. Di grup itu ada empat orang. Ayah, Ibu, adikku Felix, dan Irene. Felix membalas, [Cuma kita berempat, Clara nggak diajak?] [Siapa suruh dia terlalu pelit, nggak mau berbagi apel dengan kakak sepupunya sendiri.] Aku tertegun, ternyata sudah lama aku dianggap orang luar di keluarga ini.

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1

Tepat pada saat itu, Ibu meneleponku.

"Clara, malam ini Ayah dan Ibu masih ada urusan, jadi pulang agak malam."

"Ambil pakaian yang dijemur di balkon, lalu rapikan ya."

"Oh ya, Felix dan Irene juga ada urusan hari ini."

"Nggak perlu menunggu kami, masak saja sendiri ya."

Aku belum mengatakan apa-apa, Ibu sudah menutup telepon.

Aku naik ke balkon.

Melihat balkon yang penuh dengan pakaian Felix dan Irene yang tergantung, tiba-tiba aku melamun.

Ternyata, semua tanda-tandanya sudah kelihatan sejak awal.

Hanya aku yang pura-pura tidak tahu.

Entah sejak kapan, aku sudah tidak cocok dengan keluarga ini.

Aku mengambil apel terakhir di rumah dan memakannya.

Irene mengatakan ingin makan apel, seluruh keluarga menyuruhku memberikan apel padanya.

Aku pun memotong apel menjadi dua, kami berdua masing-masing dapat setengah.

Namun, Ibu justru menegurku, "Cuma dapat setengah ya nggak puas!"

Sambil berbicara, Ibu mengambil apel dari tangan Irene lalu membuangnya.

Ibu segera menarik Irene dan pergi keluar.

"Ayo ikut, Irene! Bibi belikan kamu apel!"

Felix juga menggertakkan gigi penuh amarah.

"Kamu pelit sekali, sih? Cuma apel saja nggak mau berbagi dengan Irene!"

Sedangkan Ayah juga terlihat tidak peduli.

Aku selalu mengira mereka menganggap Irene sebagai orang luar yang hanya menumpang di rumah kami, sehingga bersikap seperti itu.

Tapi ternyata aku salah!

Akulah yang dianggap orang luar oleh mereka!

Aku mengumpulkan pakaian satu per satu, melipatnya, lalu menaruh di kamar mereka masing-masing.

Di kamar Felix dan Irene, kasurnya sangat empuk.

Aku melirik kasur lipat di balkon, hatiku terasa pedih

Pada hari kedua ketika Irene datang ke rumah kami, lingkaran di bawah matanya hitam.

Ibu bertanya dengan penuh perhatian apakah tidurnya kurang nyenyak.

Irene menjawab dengan lembut bahwa biasanya dia tidur sendirian, jadi tidak terbiasa.

Jadi, aku disuruh pindah tidur di balkon

Bibi baru saja meninggal, aku merasa kasihan padanya karena emosinya tidak stabil.

Aku juga tidak ingin mempersulit ibuku, jadi aku pun menyetujuinya.

Namun, kebaikanku justru membuat mereka bertindak seenaknya

Karena aku mengalah, mereka memaksaku mengalah dalam segala hal!

Aku mengalah, Ibu hanya mencuci pakaian Irene dan Felix, sedangkan aku mencuci pakaianku sendiri!

Aku mengalah, mereka menyuruhku melakukan semua pekerjaan rumah, sedangkan Irene dan Felix hanya perlu bersantai di rumah

Sebelum Irene tinggal di rumahku, semua keluargaku menyayangi aku!

Begitu dia datang, kenapa sikap keluargaku langsung berubah?

Memikirkan hal itu, hatiku terasa sedih.

Aku duduk di tempat tidur sambil bermain ponsel tanpa tujuan yang jelas.

Irene memperbarui unggahan baru di akun Instagram keduanya.

Di dalam foto, Ayah, Ibu, Felix, dan Irene tampak tertawa bahagia.

Pemandangan yang terlihat sangat harmonis.

Dengan keterangan di bawah: [Sebutan "Ibu" memang terlambat, tapi akhirnya terucap juga.]

[Terima kasih kepada keluarga Bibi, telah memberiku keluarga kedua.]

Beberapa komentar dari netizen:

[Selamat, keluarga bibimu memang penyelamat.]

[Selamat, semoga kamu bahagia selamanya.]

Aku langsung menekan tombol suka di unggahan itu.

Dan, aku memberi komentar: [Semoga kalian sekeluarga bahagia selamanya.]

Tidak lama kemudian, unggahan di Instagram itu dihapus.

Sepertinya dia lupa pernah menggunakan ponselku untuk mengikuti akun kedua Instagramnya, lalu lupa untuk unfollow.

Kemudian, Irene meneleponku.

"Clara, jangan anggap serius unggahanku di Instagram, aku cuma iseng saja."

Aku tertawa.

Dia makin mahir bersandiwara.

Sejak dulu, dia selalu bersikap seperti anak baik di depan orang tuaku.

Namun di belakang, dia bertindak semena-mena karena merasa usianya lebih tua dariku.

Aku menoleransinya.

Kemudian, dia "merebut" barang-barangku dengan mudah, tapi keluargaku bilang aku pelit.

Aku mencoba menjelaskan, tapi mereka malah menegurku.

Karena aku tidak kunjung menjawab, suaranya di telepon mulai terdengar seperti tangisan.

"Clara, kamu marah, ya?"

"Maaf, semua ini salahku, aku hanya … hanya ingin dicintai …."

Sambil berbicara, Irene menangis tersedu-sedu.

Sebelum aku menjawab, Felix langsung memarahiku.

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
8 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status