LOGINPutri palsu itu hanya bersin sekali. Namun, ketiga kakakku langsung panik seolah langit runtuh, terus berada di sisinya untuk merawatnya tanpa beranjak sedikit pun. Oleh karena itu, ketika putri palsu itu kembali menjebakku dengan menuduhku mendorongnya hingga jatuh ke dalam danau, ketiga kakakku langsung mengurungku di ruang pendingin terbengkalai bersuhu -50 derajat, bahkan memutus satu-satunya sakelar penyelamat di dalamnya. Aku menangis dan berteriak meminta pertolongan kepada Kak Bobby yang seorang presdir, tetapi dia malah mengatakan bahwa aku kejam dan hanya mencari perhatian. Aku memohon kepada Kak Eki yang seorang dokter, tetapi dia justru berkata bahwa semua ini adalah balasan yang pantas kuterima. Aku meminta maaf kepada Kak Dimas yang merupakan pengacara ternama, tetapi dia hanya mencibir dingin. "Kalau selama ini kau iri sama Nara, aku masih bisa memakluminya. Kau tahu tubuhnya lemah, tapi masih mendorongnya ke danau. Kau benar-benar kejam!" "Orang sekeji kau memang pantas dikurung di ruang pendingin supaya sadar diri!" Setelah mengatakan itu, mereka memeluk putri palsu yang terus bersin itu lebih erat agar tetap hangat, lalu buru-buru pergi ke rumah sakit. Suhu tubuhku terus menurun, aku bisa merasakan darahku sedikit demi sedikit membeku. 36 jam kemudian, napasku benar-benar terhenti. Baru tiga hari kemudian, ketika kakak-kakakku pulang dari rumah sakit bersama putri palsu itu, mereka teringat padaku. Namun, mereka tidak tahu bahwa aku telah membeku hidup-hidup, menjadi sesosok mayat beku yang kaku.
View MoreKasus Nara diputus dengan sangat cepat.Bukti-bukti yang memberatkannya lengkap dan membentuk rangkaian yang utuh, sengaja menurunkan suhu ruang pendingin, menutup ventilasi, serta merusak alat darurat untuk meminta pertolongan.Pada hari putusan sidang pertama dibacakan, Kak Dimas berdiri di depan gedung pengadilan, mendongak menatap langit kelabu.Seorang wartawan berlari menghampirinya dan menyodorkan mikrofon tepat ke depan wajahnya."Pengacara Dimas, maaf, Pak Dimas, apa pendapat Anda tentang hasil putusan ini?"Dia menundukkan kepala, menatap wartawan itu sekilas."Terlalu ringan."Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.Setelahnya, jiwaku tetap berada di vila Keluarga Atmaja untuk waktu yang sangat lama.Begitu lama hingga aku melihat musim berganti dari akhir musim panas menuju puncak musim hujan.Kak Bobby mengunci kamar lamaku.Tidak seorang pun diizinkan masuk.Namun, setiap akhir pekan, dia sendiri akan membuka pintu kamar itu dan duduk
Saat Nara dibawa pergi, seluruh lampu di sepanjang jalan sudah menyala.Kilatan lampu merah dan biru dari mobil polisi memantul di dinding putih vila, berkedip tanpa henti.Dua polisi wanita menopang tubuh Nara saat membawanya keluar. Rambutnya berantakan, jejak air mata di wajahnya belum mengering, dan dari bibirnya hanya satu kalimat yang terus terucap berulang kali."Kak Bobby, tolong aku ... Kak Eki ... Kak Dimas ... aku nggak sengaja ...."Tidak seorang pun menanggapinya.Tiga bersaudara itu berdiri di depan jendela kaca besar ruang tamu, tidak satu pun menoleh ke arah luar.Mobil polisi pun melaju, lampu belakangnya perlahan menghilang ditelan malam.Vila kembali sunyi.Kepala pelayan turun ke ruang bawah tanah bersama petugas rumah duka.Aku mengikuti mereka, melayang masuk ke ruang pendingin.Para petugas rumah duka sudah terbiasa menghadapi kematian, tetapi saat pintu ruang pendingin dibuka, pria paruh baya yang memimpin rombongan itu tetap tertegun sejenak.Dia melirik tubuh
Kepala pelayan bergerak cepat memeriksa rekaman CCTV.Sistem keamanan vila dirancang khusus atas permintaan Kak Bobby, diklaim mampu mengawasi segala arah tanpa ada titik buta. Bahkan sudut-sudut taman pun dipasangi kamera inframerah dengan mode penglihatan malam.Apalagi lorong menuju ruang pendingin di ruang bawah tanah.Layar proyektor terbentang di ruang tamu, sementara kepala pelayan menyambungkan perangkat dengan tangan gemetar.Nara berlutut di lantai, wajahnya yang semula pucat pasi kini kehilangan seluruh warna.Bibirnya bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tenggorokannya terasa seperti tersumpal kapas.Rekaman CCTV mulai diputar.Waktu, tiga hari lalu, 19:47:23.Di layar, tiga bersaudara itu sedang menyeret Viona menuju ruang pendingin.Kak Eki dan Kak Dimas mencengkeram masing-masing satu lengan Viona, menyeretnya hingga ujung sepatunya meninggalkan jejak terputus-putus di lantai.Viona meronta.Namun, bagaimana mungkin gadis 17 tahun dengan kondisi persendian s
Di ruang tamu, Nara meringkuk di sofa, tubuhnya terselimuti selimut kasmir, sementara kedua tangannya menggenggam secangkir cokelat panas.Di permukaan, dia tampak sedang memainkan ponselnya, sudut bibirnya bahkan masih menyunggingkan senyum samar.Padahal, setiap beberapa detik, matanya melirik ke arah tangga.Mereka sudah terlalu lama berada di bawah.Awalnya, Nara mengira kakak-kakaknya hanya akan turun untuk memarahi Viona, lalu kembali dengan kesal. Setelah itu, dia tinggal bermanja sedikit pada saat yang tepat, dan masalah ini pun akan berlalu begitu saja.Namun, hampir 40 menit telah berlalu.Dia meletakkan ponselnya, lalu menggigit bibir bawahnya.Minus lima puluh derajat, selama tiga hari.Bukan berarti Nara tidak pernah memikirkan kemungkinan Viona benar-benar celaka.Namun, menurutnya, orang yang tumbuh besar di desa pasti lebih tahan dingin.Lagi pula, Nara hanya mengubah suhu, bukan turun tangan sendiri.Kalaupun sesuatu benar-benar terjadi, itu karena kakak-kakaknya yang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.