Short
Kak, Aku Kedinginan

Kak, Aku Kedinginan

By:  NaniCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Putri palsu itu hanya bersin sekali. Namun, ketiga kakakku langsung panik seolah langit runtuh, terus berada di sisinya untuk merawatnya tanpa beranjak sedikit pun. Oleh karena itu, ketika putri palsu itu kembali menjebakku dengan menuduhku mendorongnya hingga jatuh ke dalam danau, ketiga kakakku langsung mengurungku di ruang pendingin terbengkalai bersuhu -50 derajat, bahkan memutus satu-satunya sakelar penyelamat di dalamnya. Aku menangis dan berteriak meminta pertolongan kepada Kak Bobby yang seorang presdir, tetapi dia malah mengatakan bahwa aku kejam dan hanya mencari perhatian. Aku memohon kepada Kak Eki yang seorang dokter, tetapi dia justru berkata bahwa semua ini adalah balasan yang pantas kuterima. Aku meminta maaf kepada Kak Dimas yang merupakan pengacara ternama, tetapi dia hanya mencibir dingin. "Kalau selama ini kau iri sama Nara, aku masih bisa memakluminya. Kau tahu tubuhnya lemah, tapi masih mendorongnya ke danau. Kau benar-benar kejam!" "Orang sekeji kau memang pantas dikurung di ruang pendingin supaya sadar diri!" Setelah mengatakan itu, mereka memeluk putri palsu yang terus bersin itu lebih erat agar tetap hangat, lalu buru-buru pergi ke rumah sakit. Suhu tubuhku terus menurun, aku bisa merasakan darahku sedikit demi sedikit membeku. 36 jam kemudian, napasku benar-benar terhenti. Baru tiga hari kemudian, ketika kakak-kakakku pulang dari rumah sakit bersama putri palsu itu, mereka teringat padaku. Namun, mereka tidak tahu bahwa aku telah membeku hidup-hidup, menjadi sesosok mayat beku yang kaku.

View More

Chapter 1

Bab 1

Karena hawa dingin yang ekstrem, aku membeku hingga tewas di ruang pendingin yang terbengkalai.

Baru setelah mati, aku mengetahui bahwa putri palsu itu telah mengubah suhu -10 derajat yang sudah diatur Kak Bobby menjadi -50 derajat, bahkan membekukan satu-satunya ponsel yang bisa kupakai untuk meminta pertolongan hingga rusak.

Setelah jiwaku terperangkap di sisi ketiga kakakku, selama tiga hari ini aku hanya bisa menyaksikan mereka terus mencurahkan perhatian kepada Nara.

Kak Bobby membatalkan kerja sama bernilai triliunan hanya demi memasakkan semangkuk wedang jahe untuknya.

Kak Eki menunda seminar medis internasional dan terus berjaga di sisi ranjang rumah sakit tanpa beranjak sedikit pun.

Kak Dimas bahkan membeli kembang api di seluruh kota hanya demi melihat senyumannya setelah pulih dari sakit.

Mereka diam-diam saling berkompetisi, seolah tidak ingin kalah dalam memanjakan Nara.

Namun, tidak seorang pun teringat bahwa aku masih dikurung di dalam ruang pendingin, bahkan jasadku sudah membeku bening bak kristal.

Baru tiga hari kemudian, setelah putri palsu itu pulang dari rumah sakit, mereka teringat padaku.

Sang kepala pelayan menyambut dengan wajah pucat pasi, lalu tidak kuasa untuk tidak angkat bicara, "Ketiga Tuan Muda, Nona Viona sudah berada di dalam ruang pendingin selama tiga hari, tapi nggak ada gerakan sama sekali ...."

Kupikir setidaknya mereka akan menunjukkan sedikit kekhawatiran.

Namun, wajah kakak sulung, Bobby Atmaja, langsung dingin. Dia segera memotong ucapan kepala pelayan, "Diam! Nara baru saja keluar dari rumah sakit. Untuk apa membicarakan si pembawa sial itu?"

Kepala pelayan masih ingin melanjutkan, tetapi tatapan dingin kakak kedua, Eki Atmaja, langsung menusuk ke arahnya.

"Seorang yang bahkan berani mendorong adiknya sendiri ke danau, memangnya kenapa kalau dibiarkan merenung beberapa hari di sana?"

Kakak ketiga, Dimas Atmaja, mendengus dingin.

"Dia tahu tubuh Nara lemah, tapi tetap mendorongnya ke danau. Jangan harap bisa keluar sebelum benar-benar merenung di sana."

"Tenang saja, suhu di sana sudah kuatur. Nggak bakal sampai membunuh orang, cuma memberinya sedikit pelajaran."

Saat membicarakan pelajaran, Kak Bobby teringat bagaimana sejak kecil hidupku selalu penuh penderitaan. Ada sedikit keraguan yang melintas di matanya.

Dia menoleh pada Kak Dimas. "Yakin suhunya -10 derajat? Bagaimana kalau kita pergi melihatnya?"

Namun, sesaat setelah kata-kata itu terlontar, Nara mengangkat pergelangan tangannya. Lengan bajunya tersingkap, memperlihatkan beberapa bekas kemerahan.

Kemudian, dia terbatuk pelan dengan lemah.

"Kakak ... jangan salahkan Kak Viona. Mungkin dia memang nggak sengaja. Bagaimana kalau kita keluarkan saja ...."

Namun, saat melihat bekas merah itu, pupil Kak Eki mendadak mengecil. Dia langsung mencengkeram pergelangan tangan Nara.

"Ini luka saat dia mendorongmu?"

Nara buru-buru menarik tangannya.

"Bukan, bukan. Aku sendiri yang terbentur ... Kak Viona cuma marah karena aku mengambil posisinya, jadi dia cuma menarikku pelan."

"Ini yang kau sebut menarik pelan? Jelas-jelas ada orang yang menarikmu dengan kasar!"

Melihat bekas merah itu, kemarahan juga langsung memenuhi mata Kak Bobby.

Dia mengambil ponselnya dan membuka riwayat percakapannya denganku.

Percakapan itu berhenti tiga hari lalu.

Karena ponselku sudah rusak akibat suhu dingin, di layarnya hanya tampak satu pesan baru yang belum terkirim dan satu panggilan masuk.

Wajah Kak Bobby berubah muram. Dia membanting ponsel ke atas meja.

"Sudah tiga hari, tapi nggak ada satu pun pesan minta maaf. Apa dia benar-benar merasa nggak bersalah?"

"Mungkin ... Kak Viona merasa aku nggak pantas menjadi adik kalian. Sebaiknya aku pindah saja ... dengan begitu Kak Nara nggak bakal terus marah."

Nara menundukkan kepala. Suaranya begitu pelan, seolah akan hancur kapan saja. Kak Bobby langsung berdiri. Wajahnya dipenuhi amarah.

"Omong kosong apa itu! Memangnya dia punya hak buat mengusirmu? Kaulah adik yang kami besarkan sejak kecil! Selama Kak Bobby ada, lihat saja apa dia berani menindasmu!"

Kak Eki dan Kak Dimas ikut bersuara bersamaan, nada mereka dingin menusuk.

"Benar! Tadi kami bahkan sempat mengasihaninya! Memangnya dia pantas?"

"Sudah, lupakan dia. Ayo! Kakak bakal mengajakmu makan enak supaya tubuhmu cepat pulih."

Melihat itu, tubuh kepala pelayan gemetar. Dengan suara bergetar karena cemas, dia berkata lagi, "Tapi para tuan muda, Nona Viona benar-benar nggak menunjukkan tanda-tanda pergerakan apa pun selama tiga hari ini ...."

"Memangnya orang bisa mati cuma karena dikurung beberapa hari di ruang pendingin?"

Kak Dimas melambaikan tangan dengan tidak sabar.

"Selama lima belas tahun di desa, penderitaan apa yang belum pernah dia alami? Paman Rian, jangan membesar-besarkan masalah! Nanti Nara malah ketakutan."

Aku melayang di udara, mendengarkan cacian kakak-kakakku. Yang tersisa dalam hatiku hanyalah senyum getir.

Benar. Lima belas tahun di desa.

Demi membantu orang tua angkat mencari uang, aku mengangkut batu bata, memulung sampah, serta mencuci piring di tengah hujan dan udara dingin. Di usia yang masih sangat muda, tubuhku sudah dipenuhi penyakit akibat hawa dingin.

Kupikir setelah menemukan orang tua kandungku, hidupku akhirnya akan membaik. Namun, di perjalanan pulang, mereka justru mengalami kecelakaan mobil.

Ketiga kakakku bersusah payah menjemputku pulang. Sesaat sebelumnya, mereka bahkan memelukku sambil menangis, berjanji akan mengganti seluruh kasih sayang yang hilang selama lima belas tahun itu.

Namun, setiap kali mata Nara memerah dan menangis, berkata bahwa orang tua kandungnya telah berbuat dosa dan dia rela berkorban apa pun untuk menebusnya, ketiga kakakku selalu segera mengerubunginya untuk menenangkannya.

"Nara, mereka dan kau itu beda. Kau nggak bersalah. Kami bakal selalu menganggapmu adik kami!"

Setelah itu mereka berbalik dan dengan dingin memperingatkan, "Mulai sekarang, bertemanlah baik-baik dengan Nara. Jangan bawa kebiasaan burukmu dari desa ke rumah ini."

Demi tiga anggota keluarga yang tersisa, aku menahan sakit dan memilih patuh.

Namun, yang kuterima hanyalah fitnah dan jebakan Nara yang datang berulang kali. Sementara setiap penjelasanku, tidak pernah sekali pun dipercaya oleh kakak-kakakku.

Mereka hanya melemparkan satu kalimat. "Nara kami besarkan sejak kecil. Mana mungkin kami nggak tahu seperti apa sifatnya?"

Sampai tiga hari lalu, Nara sengaja menyuruh semua pelayan pergi, lalu menjatuhkan dirinya sendiri ke danau tepat di depan mereka.

Sekali lagi, aku dilempar tanpa belas kasihan ke ruang pendingin terbengkalai.

Berlutut di depan pintu besi yang diselimuti lapisan es, aku mati-matian bersujud memohon, mengatakan bahwa aku takut dingin, aku akan mati kedinginan di dalam sana.

Namun, yang kudapat hanyalah ejekan dingin dari Kak Eki.

"Kedinginan apanya! Gara-gara ulahmu Nara sampai demam. Semua ini memang akibat perbuatanmu sendiri. Membuatmu kedinginan sebentar justru bagus, biar kau sadar. Kau nggak bakal mati!"

Kak Dimas bahkan langsung mencabut satu-satunya sakelar darurat di dalam ruang pendingin, memutus seluruh jalan hidupku.

Saat ini, melihat bagaimana mereka begitu melindungi Nara, aku tidak kuasa menahan senyum sinis.

Kakak-kakakku, bukalah mata kalian. Nara yang kalian anggap paling baik hati itu telah membunuh adik kandung kalian sendiri dengan tangannya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status