Share

Bab 3

Author: Nani
Aku tanpa sadar mengikuti langkah ketiga kakakku, sementara hatiku makin diliputi kesedihan.

Lorong ruang bawah tanah terasa suram dan dingin hingga menusuk tulang. Ketiga kakakku berjalan dengan langkah lebar menuju pintu ruang pendingin yang sudah terbengkalai.

Kak Bobby menendang keras pintu besi yang dipenuhi lapisan es hingga menimbulkan dentuman keras.

"Viona, berhenti pura-pura mati dan keluar sekarang!"

"Penyakit jantung Nara sampai kambuh gara-gara ulahmu. Hari ini juga kau harus berlutut meminta maaf padanya!"

Dari dalam ruangan, hanya ada kesunyian yang mencekam.

Tidak ada jawaban sama sekali.

Jiwaku melayang di udara, menatap dingin wajahnya yang terdistorsi oleh amarah.

Bobby tidak tahu, orang yang berada di balik pintu itu sudah lama berhenti bernapas.

Melihat tidak ada respons dari dalam, Kak Eki mendorong kacamatanya. Senyum mengejek tersungging di sudut bibirnya.

"Masih bermain sandiwara buat menarik simpati? Kau pikir kalau diam saja, kami bakal melunak?"

"Dalam suhu yang sangat dingin, manusia secara naluriah bakal berteriak meminta tolong. Kau bahkan nggak bersuara sedikit pun. Aktingmu terlalu buruk!"

Wajah Kak Dimas dipenuhi amarah. Dia langsung mencengkeram seorang pelayan yang gemetar ketakutan di dekatnya.

"Jangan-jangan dia sudah menyuap kalian dan diam-diam kabur dari sini?"

"Cuma karena mendiamkan kami, dia pikir kami bakal mengalah? Memangnya dia kira dirinya siapa?"

Pelayan itu jatuh berlutut dengan bunyi keras dan membenturkan kepalanya berkali-kali ke lantai.

"Tuan Muda Dimas, benaran nggak seperti itu! Selama tiga hari ini, Nona Viona bahkan nggak melangkah keluar setengah langkah pun!"

Mendengar bahwa aku masih di dalam, Kak Bobby mendengus dingin lalu meraih gagang pintu ruang pendingin.

"Jelas-jelas kaulah yang hampir mencelakai Nara sampai mati, tapi sedikit pun nggak berani menanggung kesalahan. Apa kau benar-benar anggota Keluarga Atmaja?"

"Viona, cepat keluar dan minta maaf! Kami masih bakal mengakui kau sebagai adik kami! Kalau nggak ...."

Bobby menarik gagang pintu sekuat tenaga.

Pintu besi itu sama sekali tidak bergerak.

Wajah Kak Bobby seketika berubah muram. Dia mengangkat kaki dan menendang pintu itu sekali lagi dengan keras.

"Hebat juga! Berani menguncinya dari dalam? Kau pikir dengan begini kau bisa memaksa kami mengalah?"

Kak Eki dan Kak Dimas pun maju, ikut menarik gagang pintu dengan sekuat tenaga.

"Buka pintunya! Viona, cepat keluar dan minta maaf!"

Namun, sekeras apa pun mereka berusaha, pintu besi itu tetap tertutup rapat.

Kak Bobby mengernyit, amarahnya membara. "Ada apa ini? Kenapa pintunya seperti membeku?"

Aku yang melayang di udara menatap pintu besi yang sudah berubah bentuk itu, mataku dipenuhi kesedihan.

Bagaimana mungkin pintu itu tidak macet?

Tiga hari lalu, dalam suhu ekstrem -50 derajat, demi bertahan hidup, aku menghantam pintu itu dengan seluruh sisa tenagaku.

Semua kukuku terkelupas dan patah. Darah hangat mengalir dari jari-jariku, merembes masuk ke sela-sela pintu hingga ke dalam lubang kunci.

Kemudian, suhu yang sangat rendah membekukannya seketika menjadi bongkahan darah beku yang keras.

Pintu itu macet karena darah dan dagingku sendiri.

"Dia pasti sengaja merusak kunci dari dalam!"

Kak Dimas tertawa sinis karena terlalu marah, lalu menendang pintu itu dengan keras.

"Bagus! Sekarang, bahkan sudah belajar merusak kunci buat melawan kami, ya?"

Tatapan Kak Eki sedingin es. Dia langsung menoleh kepada para pengawal.

"Ambil palu besar dan mesin pemotong! Gergaji kunci pintunya!"

"Aku mau lihat, sampai kapan dia bisa bersembunyi di dalam seperti pengecut!"

"Hari ini, aku nggak percaya kami bertiga nggak bisa mendidik adik seperti dirimu!"

Tidak lama kemudian, para pengawal datang membawa peralatan berat.

Percikan api beterbangan, sementara suara mesin pemotong yang memekakkan telinga menggema di seluruh ruang bawah tanah.

Seiring mesin pemotong makin dalam mengikis logam, celah kecil pada pintu akhirnya berhasil dibuka paksa.

Dalam sekejap, hawa dingin yang ekstrem bercampur bau busuk yang menyengat menerobos keluar dari celah pintu.

Mencium bau itu, wajah semua orang langsung pucat pasi.

"Tu ... Tuan Muda Bobby ... bau ini nggak biasa!"

Seluruh tubuh pelayan itu gemetar hebat, suaranya berubah ketakutan. "I ... ini ... ini bau mayat!"

Udara seketika membeku dalam keheningan.

Gerakan Kak Bobby yang sedang menghantam pintu mendadak terhenti, pupil matanya mengecil drastis.

Namun, pada detik berikutnya, Kak Dimas menampar wajah pelayan itu dengan keras.

"Diam! Tutup mulut kotormu!"

"Mana mungkin -10 bisa membunuh orang? Kau kira aku baru belajar pengetahuan dasar hari ini?"

Setelah mengatakannya, Dimas mendorong pengawal ke samping dan merebut palu besar dari tangannya.

"Viona, dengarkan! Meski ayah dan ibu sudah tiada, hari ini, kami bertiga bakal mendidikmu dengan baik atas nama mereka!"

Setelah mengatakannya, Dimas mengangkat palu besar tinggi-tinggi. Dengan amarah yang meluap sepenuhnya, dia menghantamkannya keras ke kunci pintu yang sudah hampir lepas.

Brak!

Dentuman keras yang memekakkan telinga mengguncang seluruh ruangan.

Pintu besi berat yang telah memenjarakanku selama tiga hari tiga malam, pintu yang berlumuran darah dan dagingku, akhirnya roboh dengan suara menggelegar.

Cahaya menyilaukan dari luar pintu seketika menerangi ruang pendingin yang gelap gulita.

Ketiga kakakku melangkah masuk ke dalam kabut putih yang membekukan dengan wajah penuh amarah.

"Kenapa sedingin ini?"

"Viona, keluar ...."

Raungan marah Kak Bobby mendadak terhenti ketika matanya menangkap sosok yang meringkuk di sudut ruang pendingin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 9

    Kasus Nara diputus dengan sangat cepat.Bukti-bukti yang memberatkannya lengkap dan membentuk rangkaian yang utuh, sengaja menurunkan suhu ruang pendingin, menutup ventilasi, serta merusak alat darurat untuk meminta pertolongan.Pada hari putusan sidang pertama dibacakan, Kak Dimas berdiri di depan gedung pengadilan, mendongak menatap langit kelabu.Seorang wartawan berlari menghampirinya dan menyodorkan mikrofon tepat ke depan wajahnya."Pengacara Dimas, maaf, Pak Dimas, apa pendapat Anda tentang hasil putusan ini?"Dia menundukkan kepala, menatap wartawan itu sekilas."Terlalu ringan."Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.Setelahnya, jiwaku tetap berada di vila Keluarga Atmaja untuk waktu yang sangat lama.Begitu lama hingga aku melihat musim berganti dari akhir musim panas menuju puncak musim hujan.Kak Bobby mengunci kamar lamaku.Tidak seorang pun diizinkan masuk.Namun, setiap akhir pekan, dia sendiri akan membuka pintu kamar itu dan duduk

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 8

    Saat Nara dibawa pergi, seluruh lampu di sepanjang jalan sudah menyala.Kilatan lampu merah dan biru dari mobil polisi memantul di dinding putih vila, berkedip tanpa henti.Dua polisi wanita menopang tubuh Nara saat membawanya keluar. Rambutnya berantakan, jejak air mata di wajahnya belum mengering, dan dari bibirnya hanya satu kalimat yang terus terucap berulang kali."Kak Bobby, tolong aku ... Kak Eki ... Kak Dimas ... aku nggak sengaja ...."Tidak seorang pun menanggapinya.Tiga bersaudara itu berdiri di depan jendela kaca besar ruang tamu, tidak satu pun menoleh ke arah luar.Mobil polisi pun melaju, lampu belakangnya perlahan menghilang ditelan malam.Vila kembali sunyi.Kepala pelayan turun ke ruang bawah tanah bersama petugas rumah duka.Aku mengikuti mereka, melayang masuk ke ruang pendingin.Para petugas rumah duka sudah terbiasa menghadapi kematian, tetapi saat pintu ruang pendingin dibuka, pria paruh baya yang memimpin rombongan itu tetap tertegun sejenak.Dia melirik tubuh

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 7

    Kepala pelayan bergerak cepat memeriksa rekaman CCTV.Sistem keamanan vila dirancang khusus atas permintaan Kak Bobby, diklaim mampu mengawasi segala arah tanpa ada titik buta. Bahkan sudut-sudut taman pun dipasangi kamera inframerah dengan mode penglihatan malam.Apalagi lorong menuju ruang pendingin di ruang bawah tanah.Layar proyektor terbentang di ruang tamu, sementara kepala pelayan menyambungkan perangkat dengan tangan gemetar.Nara berlutut di lantai, wajahnya yang semula pucat pasi kini kehilangan seluruh warna.Bibirnya bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tenggorokannya terasa seperti tersumpal kapas.Rekaman CCTV mulai diputar.Waktu, tiga hari lalu, 19:47:23.Di layar, tiga bersaudara itu sedang menyeret Viona menuju ruang pendingin.Kak Eki dan Kak Dimas mencengkeram masing-masing satu lengan Viona, menyeretnya hingga ujung sepatunya meninggalkan jejak terputus-putus di lantai.Viona meronta.Namun, bagaimana mungkin gadis 17 tahun dengan kondisi persendian s

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 6

    Di ruang tamu, Nara meringkuk di sofa, tubuhnya terselimuti selimut kasmir, sementara kedua tangannya menggenggam secangkir cokelat panas.Di permukaan, dia tampak sedang memainkan ponselnya, sudut bibirnya bahkan masih menyunggingkan senyum samar.Padahal, setiap beberapa detik, matanya melirik ke arah tangga.Mereka sudah terlalu lama berada di bawah.Awalnya, Nara mengira kakak-kakaknya hanya akan turun untuk memarahi Viona, lalu kembali dengan kesal. Setelah itu, dia tinggal bermanja sedikit pada saat yang tepat, dan masalah ini pun akan berlalu begitu saja.Namun, hampir 40 menit telah berlalu.Dia meletakkan ponselnya, lalu menggigit bibir bawahnya.Minus lima puluh derajat, selama tiga hari.Bukan berarti Nara tidak pernah memikirkan kemungkinan Viona benar-benar celaka.Namun, menurutnya, orang yang tumbuh besar di desa pasti lebih tahan dingin.Lagi pula, Nara hanya mengubah suhu, bukan turun tangan sendiri.Kalaupun sesuatu benar-benar terjadi, itu karena kakak-kakaknya yang

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 5

    Ponsel itu terlepas dari tangan Eki, lalu jatuh membentur lantai ruang pendingin dengan bunyi nyaring.Kak Bobby mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Gerakannya begitu lambat, sama sekali tidak seperti biasanya.Dia menatap enam kata itu cukup lama.Kemudian, tangannya mulai gemetar, dari ujung jari menjalar ke lengan, hingga seluruh tubuhnya.[Kak, aku kedinginan. Tolong selamatkan aku.]Gagal dikirim.Di samping kotak pesan, tanda seru merah berdiri diam.Dia mengirimnya.Dia meminta pertolongan.Dia sama sekali tidak mengirim pesan permintaan maaf.Di dalam ruang sedingin ini, dengan jari-jari yang hampir beku, dia mengetik enam kata itu.Tapi pesan itu tidak terkirim.Karena ponselnya sudah rusak akibat membeku.Kak Bobby teringat beberapa jam sebelumnya, saat dia membanting ponselnya ke meja dan berkata, "Sudah tiga hari, tapi nggak ada satu pun pesan minta maaf. Apa dia benar-benar merasa nggak bersalah?"Tiba-tiba dia membungkuk dan menghantamkan tinjunya ke lantai.Permukaan

  • Kak, Aku Kedinginan   Bab 4

    Dinding bagian dalam ruang pendingin dipenuhi lapisan es yang tebal, sementara kabut putih memenuhi ruangan.Langkah ketiga bersaudara itu serempak terhenti.Di sudut ruangan, sesosok tubuh meringkuk bersandar di dinding.Kedua lengannya memeluk lutut erat-erat, kepalanya tertunduk di antara kedua lutut, seolah berusaha mengecilkan tubuhnya sekecil mungkin demi mempertahankan sisa kehangatan terakhir di dalam dadanya.Kulitnya telah berubah menjadi ungu tua, tertutup lapisan es yang tipis.Kesepuluh jarinya terulur ke arah pintu besi. Semua kukunya patah dan terkelupas, sementara darah merah gelap telah membeku menjadi serpihan es, membentuk jejak yang memanjang dari ujung jari hingga tiga meter ke daun pintu.Jejak itu adalah jejak saat dia merangkak.Pada detik-detik terakhir hidupnya, Viona mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk merangkak sedikit demi sedikit menuju pintu.Pupil mata Kak Bobby membesar seketika. Bibirnya bergetar hebat, tetapi tidak satu kata pun mampu keluar."Mi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status