Home / Fantasi / Kakak Kelas dari Mimpiku / Bab 10. Siapa Itu di Atas Atap?

Share

Bab 10. Siapa Itu di Atas Atap?

Author: Asri Lestari
last update publish date: 2026-06-24 11:00:30

"Kak," panggil Sandy memecah keheningan.

​"Ya?" sahut Natha tanpa menoleh

Dia masih fokus membelah jalanan Kota Malang yang mulai tersendat karena genangan air di sana-sini.

​"Orang tua Kakak kok bisa tahu namaku? Kak Natha pernah cerita tentang aku ke mereka?” Sandy akhirnya menyuarakan rasa penasarannya.

“Oh, itu. Kemarin lusa waktu aku pulang nggak pakai jaket, Mama nanya jaketku ke mana. Aku bilang aja dipinjam adik kelas namanya Sandy.”

“Kamu yang minjemin ya, bukan aku yang pinjam.”

“Ya,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 27. Cokelat dari Kak Natha

    Senin pagi, Sandy kembali menjalani aktivitas sekolah seperti biasa. Kakinya sudah pulih setelah beberapa hari beristirahat. Dia bahkan tidak lagi merasakan nyeri ketika berjalan menaiki tangga menuju kelas. “Tumben, hari ini kamu datang duluan,” ujar Bianca ketika melihat Sandy sedang merapikan buku di atas meja. Sandy menoleh. “Mama ada urusan pagi-pagi sekali. Jadi, sekalian nganter aku ke sekolah.” “Oh, begitu. Berarti kamu nggak bangun kesiangan. Biasanya sudah dibangunin juga tetap molor lagi.” Bianca tertawa mengingat kebiasaan Sandy yang suka datang mepet jam masuk sekolah. “Enak aja.” Sandy ikut tertawa. “Ngomong-ngomong, selama akhir pekan kemarin Kak Natha terus-terusan chat dan telepon aku.” Bianca yang baru saja duduk di bangkunya langsung menoleh. “Ngapain?” “Ya, nanyain kabar. Mastiin keadaanku baik-baik aja.” Kedua alis Bianca terangkat. Senyum jahil mulai muncul di wajahnya. “Kak Natha emang perhatian banget, ya.” “Aku juga heran. Kenapa tiba-tiba begit

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 26. Mama Tahu Sesuatu?

    Angin sore yang berembus cukup kencang membuat air di kolam renang bergelombang, memantulkan bayangan pepohonan yang kian menggelap seiring matahari yang makin tenggelam. “Pindah ke dalam yuk, San. Dingin nih,” ajak Bianca. Sandy mengangguk, lalu mencoba berdiri sendiri. “Sini aku bantuin. Jangan dipaksa gerak sendiri dulu. Nanti makin sakit lho,” protes Bianca. Sandy tertawa. “Iya, iya… Kebiasaan aja, sih. Jadi lupa.” Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah. “Kita nonton film aja yuk. Besok kan nggak ada PR. Jadi santai…” ajak Bianca. “Boleh. Kamu aja yang pilih filmnya. Yang romantis ya.” Bianca segera menyalakan televisi layar datar berukuran 85 inci di hadapan mereka, membuka salah satu layanan streaming berlogo huruf merah, dan memilih salah satu film romantis yang ada di sana. Belum sepuluh menit mereka menonton, ponsel Sandy berbunyi. Sebuah panggilan telepon masuk dari nomor Natha. Sandy sudah menyimpan nomor itu sejak Natha

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 25. Jangan-Jangan Kita Dimata-Matai!

    Mobil sedan putih itu akhirnya berhenti di depan rumah Bianca. Setelah mematikan mesin, Natha segera turun dan membantu Sandy keluar dengan hati-hati. Bianca menyusul dari pintu belakang. Satpam membukakan gerbang, lalu mereka bertiga masuk ke halaman depan. Natha berjalan di samping Sandy, memastikan langkahnya tetap hati-hati sampai mereka tiba di teras rumah. “Makasih, Kak,” ucap Sandy. “Sama-sama. Kakimu jangan terlalu banyak bergerak dulu, ya. Semoga besok pagi sudah membaik.” Sandy mengangguk. “Iya, Kak.” “Nggak masuk dulu, Kak?” ucap Bianca sambil merapikan tasnya. “Lain kali aja. Nitip Sandy, ya.” “Cie…” Lagi-lagi Bianca menggoda Natha. “Tenang aja pasti dijagain kok.” Sandy langsung mencubit kecil lengan Bianca. “Awww! Sakit, Sandy!” protes Bianca. “Kamu sih bercanda mulu.” Natha hanya tersenyum melihat kelakuan adik-adik kelasnya itu. “Ya udah, aku pulang dulu,” pamit Natha. “Hati-hati di jalan, Kak,” jawab Sandy sambil melambaikan tangan. Natha ik

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 24. Aku Tadi Nggak Salah Lihat, Kan?

    “Kenapa, Bi?” tanya Keira saat melihat Bianca yang baru saja menerima telepon datang dengan wajah kecewa. “Supirku bilang ban mobilku pecah di jalan. Jadi nggak bisa jemput,” jawab Bianca. “Naik mobilku aja kalau gitu. Aku antar,” tawar Natha lagi. Sandy tampak berpikir, tapi Bianca langsung mengangguk setuju. “Boleh, Kak. Kayaknya itu pilihan terbaik sekarang,” ucap Bianca. “Keira mau sekalian bareng?” tanya Natha. "Nggak usah, Kak. Aku dijemput kakakku.” “Kalau gitu kita tunggu sampai Keira dijemput dulu,” tambah Natha. Mereka berempat berjalan menuju gerbang dan mengobrol di sana sampai kakak Keira datang. Setelah Keira pulang, Natha beranjak mengambil mobil di belakang sekolah. “Aku ambil mobil dulu ya dibelakang. Kalian tunggu di sini saja,” ucap Natha kepada Sandy dan Bianca. “Oke, Kak!” jawab Bianca ceria. Sementara Sandy hanya mengangguk sambil tersenyum. Beberapa menit kemudian Natha muncul dengan sedan putihnya. Setelah mobil berhenti di depan gerbang, N

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 23. Kak Natha Makin Perhatian

    Melihat Sandy yang mendadak melamun, Keira menyikut lengannya pelan. "San? Kok malah bengong? Oh ya, kayaknya aku bakal ikut ekskul seni rupa juga deh. Ternyata aku kurang cocok sama PMR. Banyak latihan fisiknya juga kayak Paskibra."Mendengar itu, Sandy langsung menoleh ke arah Keira."Serius? Asyik nih ada temennya. Tapi bukannya kamu nggak terlalu suka menggambar, ya?""Pengin belajar aja sih. Kan enggak ada salahnya mencoba hal baru," ucap Keira sambil mengulum senyum.“Bilang aja mau deketin Kak Raka. Udah kebaca banget!” Bianca menggoda Keira sambil tertawa.Pipi Keira merona merah. "Ih, Bianca! Apaan sih! Siapa juga yang naksir Kak Raka?"Bianca makin tertawa geli. “Udah deh, nggak usah mengelak. Aku tahu kok tiap kali Kak Raka lewat kamu melongo ngeliatin dia. Ya kan, San?Sandy ikut tersenyum menatap wajah Keira yang makin bersemu merah.“Udah jangan digodain, Bi. Nanti dia ngambek nggak jadi ikut ekskul seni.”Untungnya, beberapa saat kemudian Farel dan Rio kembali dari kan

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 22. Malu Banget Digendong Kak Natha

    Namun, sebelum tubuhnya terjatuh, seseorang menahannya.Satu tangan melingkar di pinggang Sandy, sementara tangan lainnya menahan bahunya agar tidak kehilangan keseimbangan. Aroma maskulin yang begitu familier langsung memenuhi indra penciumannya."Pelan-pelan.”Sandy langsung mengenali suara itu. Natha. Cowok itu berdiri tepat di belakangnya, masih menopang tubuh Sandy yang nyaris terjatuh.Jantung Sandy berdegup tak karuan. Beruntung area tangga sudah sepi. Hampir semua siswa telah masuk ke kelas masing-masing sehingga tak seorang pun menyaksikan kejadian memalukan barusan."Kak Natha?" Sandy menoleh menatapnya. "Kok Kakak ada di sini?""Kalau aku telat dikit, kamu pasti udah jatuh.""Bukan itu. Tadi kan Kakak masih di lapangan basket. Kok bisa tiba-tiba—"Kalimat Sandy terputus saat mendadak Natha membantunya berdiri tegak.“Aww!” jerit SandySandy langsung meringis. Rasa nyeri yang tajam langsung menjalar dari pergelangan kaki kanan hingga betisnya.“Kenapa?”Natha tampak panik da

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 7. Kak Natha Nyebelin Banget!

    Hari Jumat menjadi hari yang paling dinanti oleh seluruh murid baru, termasuk Sandy. Hari terakhir MPLS ini berjalan cukup padat sekaligus melelahkan. Sejak pagi, lapangan sekolah sudah diguncang oleh sorakan yel-yel dari tiap gugus yang tampil habis-habisan demi menjadi pemenang.Puncaknya adalah

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 3. Surat? Jadul Banget Sih!

    Hari kedua MPLS berjalan tidak kalah melelahkan dari hari pertama. Begitu bel istirahat berbunyi, Sandy menarik napas lega.“Ke kantin, yuk!” ajaknya kepada Bianca, Keira dan Farel.Bianca dan Keira setuju, tapi Farel tidak bisa ikut.“Sorry, ya, gaes. Aku sudah ada janji sama Rio.”Baru saja Farel

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 2. Kok Dia Nongol Terus?

    Selama upacara pembukaan MPLS berlangsung, Sandy sama sekali tidak bisa fokus.Dia bisa merasakan sepasang mata tajam Natha terus mengawasinya dari atas podium pengurus OSIS. Dan ternyata, Bianca dan Keira juga merasakan hal yang sama.​“Ini perasaanku aja, atau emang dari tadi Kak Natha ngelihatin

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 1. Hah? Dia Beneran Ada?

    ​"San, Sandy!!"​Sandy tersentak saat sebuah tepukan mendarat di bahunya. Suasana lapangan upacara pagi itu terasa sangat terik dan gerah, membuatnya sempat kehilangan fokus.Sepertinya Kota Malang yang terkenal dengan hawa sejuknya sudah menghilang karena pemanasan global. Baru pukul setengah dela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status