LOGINSenin pagi, Sandy kembali menjalani aktivitas sekolah seperti biasa. Kakinya sudah pulih setelah beberapa hari beristirahat. Dia bahkan tidak lagi merasakan nyeri ketika berjalan menaiki tangga menuju kelas. “Tumben, hari ini kamu datang duluan,” ujar Bianca ketika melihat Sandy sedang merapikan buku di atas meja. Sandy menoleh. “Mama ada urusan pagi-pagi sekali. Jadi, sekalian nganter aku ke sekolah.” “Oh, gitu. Berarti kamu nggak bangun kesiangan. Biasanya sudah dibangunin juga tetap molor lagi.” Bianca tertawa mengingat kebiasaan Sandy yang suka datang mepet jam masuk sekolah. “Enak aja.” Sandy ikut tertawa. “Ngomong-ngomong, akhir pekan kemarin Kak Natha terus-terusan chat dan telepon aku.” Bianca yang baru saja duduk di bangkunya langsung menoleh. “Ngapain?” “Ya, nanyain kabar. Mastiin keadaanku baik-baik aja.” Kedua alis Bianca terangkat. Senyum jahil mulai muncul di wajahnya. “Kak Natha emang perhatian banget, ya.” “Aku juga heran. Kenapa tiba-tiba begitu perhati
Angin sore yang berembus cukup kencang membuat air di kolam renang bergelombang, memantulkan bayangan pepohonan yang kian menggelap seiring matahari yang makin tenggelam. “Pindah ke dalam yuk, San. Dingin nih,” ajak Bianca. Sandy mengangguk, lalu mencoba berdiri sendiri. “Sini aku bantuin. Jangan dipaksa gerak sendiri dulu. Nanti makin sakit lho,” protes Bianca. Sandy tertawa. “Iya, iya… Kebiasaan aja, sih. Jadi lupa.” Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah. “Kita nonton film aja yuk. Besok kan nggak ada PR. Jadi santai…” ajak Bianca. “Boleh. Kamu aja yang pilih filmnya. Yang romantis ya.” Bianca segera menyalakan televisi layar datar berukuran 85 inci di hadapan mereka, membuka salah satu layanan streaming berlogo huruf merah, dan memilih salah satu film romantis yang ada di sana. Belum sepuluh menit mereka menonton, ponsel Sandy berbunyi. Sebuah panggilan telepon masuk dari nomor Natha. Sandy sudah menyimpan nomor itu sejak Natha
Mobil sedan putih itu akhirnya berhenti di depan rumah Bianca. Setelah mematikan mesin, Natha segera turun dan membantu Sandy keluar dengan hati-hati. Bianca menyusul dari pintu belakang. Satpam membukakan gerbang, lalu mereka bertiga masuk ke halaman depan. Natha berjalan di samping Sandy, memastikan langkahnya tetap hati-hati sampai mereka tiba di teras rumah. “Makasih, Kak,” ucap Sandy. “Sama-sama. Kakimu jangan terlalu banyak bergerak dulu, ya. Semoga besok pagi sudah membaik.” Sandy mengangguk. “Iya, Kak.” “Nggak masuk dulu, Kak?” ucap Bianca sambil merapikan tasnya. “Lain kali aja. Nitip Sandy, ya.” “Cie…” Lagi-lagi Bianca menggoda Natha. “Tenang aja pasti dijagain kok.” Sandy langsung mencubit kecil lengan Bianca. “Awww! Sakit, Sandy!” protes Bianca. “Kamu sih bercanda mulu.” Natha hanya tersenyum melihat kelakuan adik-adik kelasnya itu. “Ya udah, aku pulang dulu,” pamit Natha. “Hati-hati di jalan, Kak,” jawab Sandy sambil melambaikan tangan. Natha ik
“Kenapa, Bi?” tanya Keira saat melihat Bianca yang baru saja menerima telepon datang dengan wajah kecewa. “Supirku bilang ban mobilku pecah di jalan. Jadi nggak bisa jemput,” jawab Bianca. “Naik mobilku aja kalau gitu. Aku antar,” tawar Natha lagi. Sandy tampak berpikir, tapi Bianca langsung mengangguk setuju. “Boleh, Kak. Kayaknya itu pilihan terbaik sekarang,” ucap Bianca. “Keira mau sekalian bareng?” tanya Natha. "Nggak usah, Kak. Aku dijemput kakakku.” “Kalau gitu kita tunggu sampai Keira dijemput dulu,” tambah Natha. Mereka berempat berjalan menuju gerbang dan mengobrol di sana sampai kakak Keira datang. Setelah Keira pulang, Natha beranjak mengambil mobil di belakang sekolah. “Aku ambil mobil dulu ya dibelakang. Kalian tunggu di sini saja,” ucap Natha kepada Sandy dan Bianca. “Oke, Kak!” jawab Bianca ceria. Sementara Sandy hanya mengangguk sambil tersenyum. Beberapa menit kemudian Natha muncul dengan sedan putihnya. Setelah mobil berhenti di depan gerbang, N
Melihat Sandy yang mendadak melamun, Keira menyikut lengannya pelan. "San? Kok malah bengong? Oh ya, kayaknya aku bakal ikut ekskul seni rupa juga deh. Ternyata aku kurang cocok sama PMR. Banyak latihan fisiknya juga kayak Paskibra."Mendengar itu, Sandy langsung menoleh ke arah Keira."Serius? Asyik nih ada temennya. Tapi bukannya kamu nggak terlalu suka menggambar, ya?""Pengin belajar aja sih. Kan enggak ada salahnya mencoba hal baru," ucap Keira sambil mengulum senyum.“Bilang aja mau deketin Kak Raka. Udah kebaca banget!” Bianca menggoda Keira sambil tertawa.Pipi Keira merona merah. "Ih, Bianca! Apaan sih! Siapa juga yang naksir Kak Raka?"Bianca makin tertawa geli. “Udah deh, nggak usah mengelak. Aku tahu kok tiap kali Kak Raka lewat kamu melongo ngeliatin dia. Ya kan, San?Sandy ikut tersenyum menatap wajah Keira yang makin bersemu merah.“Udah jangan digodain, Bi. Nanti dia ngambek nggak jadi ikut ekskul seni.”Untungnya, beberapa saat kemudian Farel dan Rio kembali dari kan
Namun, sebelum tubuhnya terjatuh, seseorang menahannya.Satu tangan melingkar di pinggang Sandy, sementara tangan lainnya menahan bahunya agar tidak kehilangan keseimbangan. Aroma maskulin yang begitu familier langsung memenuhi indra penciumannya."Pelan-pelan.”Sandy langsung mengenali suara itu. Natha. Cowok itu berdiri tepat di belakangnya, masih menopang tubuh Sandy yang nyaris terjatuh.Jantung Sandy berdegup tak karuan. Beruntung area tangga sudah sepi. Hampir semua siswa telah masuk ke kelas masing-masing sehingga tak seorang pun menyaksikan kejadian memalukan barusan."Kak Natha?" Sandy menoleh menatapnya. "Kok Kakak ada di sini?""Kalau aku telat dikit, kamu pasti udah jatuh.""Bukan itu. Tadi kan Kakak masih di lapangan basket. Kok bisa tiba-tiba—"Kalimat Sandy terputus saat mendadak Natha membantunya berdiri tegak.“Aww!” jerit SandySandy langsung meringis. Rasa nyeri yang tajam langsung menjalar dari pergelangan kaki kanan hingga betisnya.“Kenapa?”Natha tampak panik da
Hari Jumat menjadi hari yang paling dinanti oleh seluruh murid baru, termasuk Sandy. Hari terakhir MPLS ini berjalan cukup padat sekaligus melelahkan. Sejak pagi, lapangan sekolah sudah diguncang oleh sorakan yel-yel dari tiap gugus yang tampil habis-habisan demi menjadi pemenang.Puncaknya adalah
Sepanjang perjalanan pulang, Sandy lebih banyak diam menatap keluar jendela mobil. Tangannya tidak lepas dari jaket milik Natha yang kini ada di pangkuannya. Pikirannya berputar pada semua yang sudah dia lalui hari ini. Mulai dari kejadian dijemput paksa ke ruang OSIS, obrolan berdua dengan Natha,
Sesuai instruksi Natha tadi siang, begitu bel pulang sekolah berbunyi, Sandy terpaksa menyeret kakinya menuju ruang OSIS. Sepanjang jalan, dia komat-kamit berdoa agar sang Ketua OSIS tidak ada di sana. Cukup Alya saja yang dia hadapi.Namun, begitu pintu kayu itu terdorong terbuka, harapan Sandy
Sandy pikir keputusannya untuk kabur kemarin sore sudah benar. Namun, dia meremehkan kegigihan seorang Natha.Menyadari suratnya diabaikan, Ketua OSIS itu memilih mengambil tindakan yang lebih agresif.Pada hari ketiga MPLS, saat jam istirahat baru saja dimulai, ketenangan Sandy kembali terusik.S







