Share

Bab 4

Penulis: Salshabilla FN
last update Tanggal publikasi: 2026-07-19 22:58:53

Dalam perjalanan pulang, di mobil yang sedang melaju, Selina mengungkapkan kekesalannya. 

“Bisa gak usah kurang ajar?!” teriak Selina pada Kaivan yang sedang menyetir di sebelahnya. 

Kaivan mendengus geli, melirik Selina dari samping lalu sudut bibirnya terangkat. “Kurang ajar apa? Karena bilang adik manis?” 

“Bukan itu!” 

Selina menatapnya tajam. Tapi, Kaivan hanya menoleh sekilas dan mengejeknya dengan tawa hambar. 

“Tadi di bawah meja, apa maksudnya?!” 

Kaivan mengernyit, entah bingung atau hanya pura-pura bodoh. 

“Aku bantu kamu ambil garpu yang jatuh, apanya yang kurang ajar?” 

Selina muak dengan akting polos kakak tirinya ini. 

“Kamu sengaja ‘kan pake garpu itu untuk ngelus kaki aku?!” sentak Selina dengan napas memburu. 

Kaivan tidak langsung menjawab, tetapi jemarinya mengetuk-ketuk kemudi sambil tersenyum miring. 

“Enggak.” 

“Enggak, apanya? Kamu sengaja! Dasar cowok mesum!” teriak Selina. 

Kaivan tetap tenang, tapi senyum miring yang menyebalkannya masih ada. 

“Waktu kecil Ibu kamu ngajarin apa sih sampe gak tau basic manner cara menghormati perempuan?” 

Selepas Selina mengatakan itu, ketukan jemari Kaivan di atas kemudinya berhenti. 

“Duduk! Dan jangan ribut!” perintah Kaivan.

Selina tidak menurut, dia tetap mengungkap kekesalan yang sejak tadi dia tahan.

“Ah ya…, jangan-jangan sekarang setuju untuk anter pulang juga karena ada maksud lain, iya ‘kan?” 

Kaivan tidak langsung menjawab. Tatapan Kaivan masih tertuju lurus ke depan tetapi rahangnya mengeras tipis. 

“Turunin aku di sini,” pinta Selina dengan tegas. 

Mobil masih melaju, Kaivan seperti pura-pura tidak mendengar. 

“Turunin gak?!” Selina mengguncang tangan Kaivan keras sampai akhirnya Kaivan membanting setir ke kiri dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. 

Kaivan menoleh. “Silakan turun sekarang.” 

Selina terbelalak, tidak menyangka kalau Kaivan benar-benar menurunkannya. 

“TURUN!” perintah Kaivan dengan lebih tegas membuat Selina akhirnya tidak punya pilihan selain keluar dari mobil dan membanting pintunya dengan keras. 

Tidak lebih dari tiga detik, mobil Kaivan melaju kencang meninggalkan Selina. 

“Sialan!” umpat Selina sambil menghentakkan heels-nya ke trotoar. “Dasar kakak tiri gila!” 

Selina mengecek ponselnya dan mendapati kalau ponselnya habis daya. Pikiran liarnya mulai bermain, ini malam pertama Selina ada di kota metropolitan dan Selina tidak tau seperti apa karakter orang di sini. 

Kalau pun Selina bisa menghentikan taksi yang lewat, Selina akan kebingungan saat harus mengatakan alamat pada sopir taksinya. Kebingungan Selina juga bisa dimanfaatkan. Lebih buruk lagi, Selina dibawa ke sudut kota yang gelap atau antah berantah.

Saat Selina sedang mengumpati Kaivan, sebuah mobil dengan mesin yang keras berhenti di depannya. 

Selina mengabaikannya dan sibuk menekan-nekan layap ponselnya yang mati. Sampai akhirnya, dari mobil itu Selina mendengar pengemudinya berteriak. 

“Hei, adik tiri Kaivan!” 

Selina menunduk memastikan lalu merapat ke pintu yang jendelanya baru diturunkan.

“Ayo naik,” ajaknya dengan akrab. 

Selina ragu, tetapi di saat yang sama Selina tau kalau tidak ada pilihan yang lebih baik. 

“Enggak!” tolak Selina dan menjauh. 

“Mau diculik? Apa lagi di sini rawan. Kemarin ada berita perempuan yang–”

Tanpa perlu mendengar dulu kalimatnya secara utuh, Selina langsung masuk untuk ikut bersama laki-laki yang Selina duga adalah teman Kaivan. 

“Gathan.” 

Selina melirik sekilas. Penampilan Gathan jauh dari kata elegan. Rambutnya sedikit berantakan, hoodie hitam dipadukan dengan jeans sobek di lutut. Sebelah tangannya yang menggantung santai di atas setir, memperlihatkan jam tangan mahal yang kontras dengan pakaiannya. 

Kabin mobil sportnya juga tidak kalah semrawut. Saat Selina sedang memperhatikan beberapa struk parkir dan uang receh yang berserakan di konsol tengah, tatapannya tidak sengaja menangkap beberapa bungkusan kecil berwarna perak di cup holder. 

Jelas, bukan permen.

“Nama kamu? Namanya siapa?” 

Selina tersentak. “Ya?” 

Gathan mengernyit. “Ya? Namanya, ‘Ya’?” 

Selina mendengus kesal. Dia tidak berniat mendapatkan teman baru sekarang, apa lagi berteman dengan orang yang seberantakan ini dan akrab dengan Kaivan. 

Tapi, demi membuat laki-laki itu tidak terus menatapnya dan fokus ke jalanan di depan, Selina terpaksa mengatakan namanya. “Selina.” 

Gathan tersenyum. “Langsung pulang?” 

“Kaivan langsung pulang?” Selina bertanya balik. 

“Anak itu gak mungkin ada di rumah jam segini.” 

Selina menyipitkan matanya. Melihat Kaivan berteman dengan orang yang seburuk ini, ditambah lagi berani meninggalkan Selina di tepi jalan sendiri, Selina merasa yakin kalau Kaivan ini bukan anak baik seperti yang tampak di depan ayahnya. 

“Ya udah, bawa aku ke tempat Kaivan,” putus Selina dengan tegas. 

Senyum aneh muncul di wajah Gathan. “Yakin?”  

“Kenapa harus gak yakin?” tanya Selina. 

Sambil menggosok-gosok dagunya dan menatap Selina, Gathan bilang, “Mungkin di sana kamu bakal nempel terus ke kakak karena takut sama lingkungannya?” 

Selina berdecak kecil. Seburuk apa pun tempatnya nanti, Selina rasa dia tidak akan sudi menempel ke laki-laki yang kesan pertamanya membuat Selina bergidik. 

“Gak akan,” kata Selina dengan tegas. “Lihat aja nanti.” 

Gathan terkekeh singkat dan mulai menjalankan mobilnya. 

Sekitar lima belas menit kemudian, mobil sampai di depan sebuah club malam. 

Selina melihat bangunan besar dengan lampu neon yang menyala mencolok itu dengan alis berkerut. Suara dentuman musik bahkan sudah terdengar dari dalam mobil, sementara beberapa orang berdiri di depan pintu masuk dengan pakaian yang jauh dari kata sopan.

Selina tidak pernah datang ke tempat seperti ini. Sekali pun ibunya di pulau bekerja di beach club yang ada di sana, tapi Selina tidak pernah datang. 

“Ini tempat Kaivan?”

Gathan mematikan mesin lalu menoleh santai. “Iya, kenapa? Takut? Mau mulai nempelin kakak sekarang?” 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 56 -

    Dengan bibir yang masih saling memagut, Kaivan berdiri sambil tetap menahan tubuh Selina agar tidak lepas dari rengkuhannya.Selina hanya menurutinya dengan pasrah, melingkarkan kedua tangannya di leher Kaivan, membiarkan Kaivan membawanya berpindah dari sofa menuju ranjang besar yang ada di tengah kamarnya.Begitu punggung Selina menabrak kasur, Kaivan tidak langsung melepaskan tautan bibir mereka. Pria itu mengurung tubuh Selina di bawahnya, menopang tubuhnya sendiri dengan sebelah tangan sementara tangan yang menangkup rahang gadis itu.“Mmph… Kai…”Selina mengerang pelan saat ciuman itu terasa lebih dalam dan menuntut.Kaivan memberikan isapan kencang di bibir Selina, sebelum akhirnya dia memberi jarak untuk melihat jelas Selina yang terengah di bawahnya.“Kenapa? Kamu mau aku berhenti?”Selina menggeleng pelan.Jawaban itu membuat Kaivan menarik sudut bibirnya membentuk senyum.“Kamu mau kita sejauh apa?” tanya Kaivan dengan nada rendah yang cukup berbahaya di tengah deru napas m

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 55 - Memulai Hubungan Terlarang

    “Pacaran sama kamu?” tanya Selina memastikan pendengarannya.Kaivan tersenyum miring. “Kenapa? Belum apa-apa kamu udah merasa kalau itu opsi yang akan terjadi karena kejujuran kamu?”Selina tidak menjawab.Dia akan bertahan sekuat mungkin, meski sudah tidak yakin.“Pastiin hp kamu merekam semuanya dengan baik,” pinta Selina.Kaivan mengangguk dan berkata singkat, “Sure.”Mereka pindah ke sofa lounge beludru di sudut kamar yang menghadap langsung ke jendela kaca besar.Selina duduk dengan punggung bersandar kaku, sementara Kaivan mengambil tempat di seberangnya, memastikan ponsel yang merekam suara mereka tetap tergeletak tak jauh dari jangkauan.Efek dari red wine itu mulai bekerja, Selina merasa kepalanya semakin berat. Namun, Kaivan kembali menyodoran gelas kedua ke hadapannya.“Minum lagi,” bisik Kaivan dengan nada rendah. “Kalau kamu yakin sama pendirian kamu, minum lagi. Kita harus lihat... seberapa jauh mulut kamu bisa berbohong saat akal sehat kamu benar-benar hilang.”Selina

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 54 - Alkohol dan Kejujuran

    Kaivan mengintimidasi Selina dengan mengikis jarak.Jantung Selina semakin berdebar kuat seiring dengan ujung hidung mereka yang nyaris bersentuhan.Kaivan sudah memiringkan kepalanya, matanya terkunci menatap bibir Selina yang sedikit terbuka karena terkejut.Namun, tepat sebelum bibir itu benar-benar menempel, sebuah suara derit pintu kecil dan langkah kaki memecah keheningan dapur.Ckrelek.Seorang pelayan wanita paruh baya yang baru saja keluar dari ruang utilitas di sisi dalam dapur terkesiap pelan saat melihat posisi majikannya yang sangat intim.“Eu—euh, maaf, Tuan, Nona. Saya… saya tadi ke sini untuk memastikan apa pemanas air di pantry lantai bawah sudah dimatikan atau belum,” cicit pelayan paruh baya itu dengan suara bergetar, kepalanya menunduk dalam-dalam tanpa berani menatap ke arah meja kitchen island.Selina tersentak. Ia langsung mendorong dada Kaivan kuat-kuat hingga pria itu sedikit melangkah mundur.Sementara itu, Kaivan mendengkus keras. Tanpa menoleh sepenuhnya, K

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 53 - Jatuh Cinta?

    Selina yang pulang diantar Aldeo sampai di rumah hampir bersamaan dengan Kaivan yang juga baru pulang.Gadis itu menahan menahan napas seketika saat mobil Aldeo berhenti tepat di belakang mobil Kaivan.“Al, kamu langsung pulang aja, jangan turun,” kata Selina yang was-was Aldeo akan diinterogasi atau sekedar ditatap dengan sinis.“Tenang aja,” kata Aldeo sambil keluar dari mobil dan berjalan memutari bodi kendaraan untuk membukakan pintu untuk Selina.Selina menggigit bibirnya. Sama sekali tidak bisa tenang.Detak jantungnya yang semula stabil kini menggila saat melihat pintu pengemudi mobil di depan mereka terbuka dan Kaivan turun dari mobilnya.Pria itu berdiri di samping mobilnya dan menutup pintu dengan cukup keras. Sorot matanya langsung terkunci ke arah Selina yang baru keluar dari mobil Aldeo.“Makasih Al, udah anter aku pulang,” kata Selina dengan kaku berharap Aldeo cepat pergi sebelum ketegangan ini meledak jadi sesuatu yang di luar kendali.“Sama-sama,” balas Aldeo hangat.

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 52 - Melawan Pesona Terlarang

    Selina tertegun mendengar penuturan Kaivan.Ternyata Selina benar-benar salah menilai Kaivan selama ini. Pria itu justru tidak seburuk yang Selina duga.Alih-alih menolak dan menganggapnya benalu, Kaivan justru pernah berusaha menerimanya. “Maaf kalau sikap aku buruk dan mungkin menyakiti kamu,” tutur Kaivan lagi, menunjuk ke arah mangkuk Selina meminta Selina melanjutkan makannya lagi. “Aku akan berusaha lebih baik mulai dari sekarang.”***Seharusnya Selina mengutarakan penolakannya atas sikap baik yang Kaivan janjikan setelah ini.Seharusnya Selina meminta Kaivan untuk tetap bersikap seperti biasanya, Kaivan yang menyebalkan dan membuat Selina merasa ditolak.Seharusnya... Selina tidak menerimanya begitu saja karena kalau Kaivan bersikap baik, lebih baik dari sekarang, yang justru akan memburuk adalah kondisi jantung Selina.Contohnya seperti beberapa saat lalu, sebelum Selina masuk kamar, Kaivan mengacak rambutnya singkat dan menyuruh Selina istirahat serta mengandalkannya kalau

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 51 - Kakak Tiri yang Baik

    Apa hanya kebetulan saja bintang lautnya muncul?Alih-alih menjawab pertanyaan Kaivan, Selina melirik kembali Bintang laut yang ada di sana.“Kenapa ada Bintang laut di sini?” tanya Selina pelan.Tapi tidak cukup pelan untuk sampai tidak terdengar oleh Kaivan.“Karena kamu mau lihat makhluk yang gak ada otaknya itu,” jawab Kaivan membuat Selina mengerjap pelan. Ketika Selina masih tidak tau harus merespon apa, tiba-tiba Kaivan menyahut. “Kita di bawah laut, ini tempat mereka.” “Oh.” Selina melirik ke sudut lain, ada juga bintang laut di area lain, dan akhirnya Selina menerima. Oh, mungkin ini tempat mereka. “Makasih,” gumam Selina. “Udah bawa aku ke sini.” Kaivan mengangguk pelan. Tak lama, seorang pelayan datang membawa nampan perak berisi hidangan pertama rangkaian tasting menu. “Amuse-bouche dari chef kami,” ucap pelayan tersebut ramah sambil meletakkan piring kecil bermotif minimalis di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status