LOGINNempel-nempel ke temannya Kaivan?
Selina menolak dengan langsung keluar dari mobil itu lalu membanting pintunya keras. Tanpa menghiraukan Gathan yang memanggil-manggil namanya, Selina berlari masuk.
Dentuman musik serta lampu neon berwarna biru dan ungu yang terus berkedip langsung menyambutnya. Melihat Kaivan pergi ke tempat seperti ini, Selina semakin yakin kalau dia akan menemukan sisi bobrok Kaivan di sini.
Selina berjalan cepat, menembus kerumunan orang, menyelip di antara orang-orang yang meloncat di lantai dansa.
Saat Selina sedang fokus mencari Kaivan yang pasti ada di antara orang-orang gila ini, seseorang tiba-tiba menarik tangannya dan membawa Selina ke pinggir kerumunan.
“Cari siapa?”
“Kaivan,” jawab Selina refleks. Gadis itu meringis diam-diam setelahnya.
Sementara, laki-laki bertubuh tinggi di depannya itu tersenyum.
Penampilannya berbeda dengan Gathan. Laki-laki ini justru lebih rapi dengan kemeja hitam berlengan panjang yang tergulung di sikunya.
Senyum tipis terukir di bibirnya, dan tatapannya terus memperhatikan Selina yang resah.
“Oh… Kaivan, ya? Dia ada, tadi aku lihat.”
“Di mana?” sahut Selina cepat.
“Tenang. Aku antar nanti, aku Darren.”
Darren mengulurkan tangannya dan Selina menyambut sekenanya sambil menyebutkan nama.
“Kaivan ada di area VIP, bukan di sini. Mau minum dulu?”
“Gak usah, aku gak minum alkohol,” tolak Selina.
Darren terkekeh pelan. “Tenang aja, di sini juga ada soda.”
Tanpa menunggu jawaban Selina, Darren berjalan ke arah bar.
Selina memperhatikannya dari kejauhan, Darren berbicara singkat dengan bartender. Tangannya sempat berada di atas meja bar beberapa detik sebelum akhirnya mengambil segelas soda dan kembali menghampiri Selina.
“Ini buat kamu.”
Selina menerima gelas itu. “Terima kasih.”
Karena penampilannya yang rapi, Selina tidak menaruh kecurigaan apapun pada Darren. Ia menyesap minumannya sambil kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Saat menyeret pandangannya ke atas, Selina akhirnya menangkap sosok yang sejak tadi ia cari.
Di balkon area VIP yang menghadap langsung ke lantai dansa, Kaivan berjalan santai. Satu tangannya melonggarkan dasi hitam di lehernya, sementara tangan yang lain dimasukkan ke dalam saku celana.
Jantung Selina langsung berdegup cepat.
Karena tidak ingin kehilangan jejaknya, Selina buru-buru melatakkan gelas sodanya di meja terdengar dan mencari akses untuk naik. Di tangga, Selina sempat dijegal petugas. Namun, saat menyebutkan nama Kaivan, ia langsung diloloskan.
Saat Selina tiba, laki-laki itu sedang duduk santai di sofa panjang, sibuk dengan ponselnya sementara beberapa perempuan mengerubunginya tanpa sungkan. Ada yang sengaja duduk terlalu dekat, ada yang menuangkan minuman ke gelas, ada yang menyandarkan dagu di sofa tepat di samping Kaivan mencoba mencuri perhatian.
Meski Kaivan tidak bereaksi, tapi pemandangan itu cukup membuat Selina yakin kalau kelakuan Kaivan tidak jauh beda dengan teman-temannya.
Tanpa pikir panjang, Selina mengambil satu gelas yang tergeletak di meja samping, lalu melangkah cepat menghampri Kaivan dan menyiramnya dengan minumannya. Gadis yang mengerubungi Kaivan seketika menjauh sambil memekik pelan, sementara Kaivan mengangkat wajahnya.
Pandangan mereka langsung bertemu.
“...Selina?”
Selina menyilangkan tangannya di depan dada.
“Wah…” ujarnya sinis. “Ternyata kayak gini kelakuan putra sulung keluarga Valerius?” Kaivan memasukkan ponselnya ke dalam jas, lalu berdiri. Tatapannya masih tertuju pada Selina.
“Kamu ngapain di sini?”
“Nanya aku?” Selina terkekeh. “Harusnya aku yang nanya. Baru aja ninggalin adiknya sendirian di pinggir jalan, bisa-bisanya duduk santai di sini di kelilingin cewek-cewek.”
Bisik-bisik langsung terdengar dari sekitar meja. Beberapa orang mulai saling berpandangan saat mendengar kata adik.
“Itu adiknya Kaivan?”
“Sejak kapan Kaivan punya adik?”
Kaivan melangkah mendekat.
“Ikut aku.”
Ia meraih pergelangan tangan Selina.
Namun Selina langsung menhentaknya.
“Jangan sentuh aku!”
“Selina.”
“Apa?!” bentaknya. “Takut aku aduin ke Om Adrian?”
Kaivan kembali mencoba meraih tangannya, kali ini dengan gerakan lebih tegas.
“Kita pulang dulu.”
“Aku nggak mau.”
Penolakan itu membuat Kaivan menghentakkan tubuh Selina sampai tubuhnya menabrak dada Kaivan.
Belum sempat salah satu dari mereka kembali berbicara, tiba-tiba Selina merasakan nyeri menghantam kepalanya.
“Bentar,” gumam Selina.
Pandangannya berkunang-kunang, ia mengerjap beberapa kali.
Kenapa tiba-tiba pusing?
Selina memegang pelipisnya sebentar, lalu berusaha melangkah mundur menjauhi Kaivan. Namun, lantai di bawah kakinya seolah bergoyang.
Di tengah pandangannya yang mulai kabur, ia sempat menangkap sosok Darren berdiri di depannya. Lalu, wajahnya berubah jadi Kaivan lagi.
“Selina kenapa?” tanya Kaivan sambil menyentak tangannya dengan kuat. “Kamu habis minum apa?”
“Minum… soda,” jawab Selina terbata-bata.
“Dari mana? Siapa yang kasih kamu?!”
Tubuh Selina hampir limbung, tapi tidak sampai merosot ke bawah karena ada sepasang tangan yang menahannya.
“Di bawah… Darren….”
Tubuh Selina seketika melayang. Selina sempat memejamkan matanya kuat. Saat Selina mendongak, Selina melihat rahang Kaivan yang mengeras.
Mungkin di sekitar tangga, Selina diturunkan. Selina bersandar pada apa pun yang ada di sana.
Saat membuka mata lagi, pandangannya sudah dipenuhi bayangan yang saling bertumpuk. Ia melihat Kaivan melangkah menjauh, turun ke lantai dansa, dan secara ajaib orang-orang yang semula memenuhi lantai itu perlahan membelah seperti memberi jalan.
Masih dari tempatnya, Selina melihat Kaivan menyeret seseorang ke tengah lalu memukulnya sampai jatuh.
Terakhir… Selina hanya ingat suara Kaivan yang berteriak.
“Berani-beraninya lo mau jebak Selina?!”
Kaivan akan menciumnya?"Tolong jangan bikin masalah lagi, atau kamu akan dapat hukuman," bisik Kaivan tepat di depan bibir Selina, suaranya pelan namun amat menekan.Selina menahan napas. Jantungnya berdegup begitu keras hingga rasanya mau melompat keluar dari rongga dadanya. Namun, tepat sebelum bibir pria itu menyenggol miliknya, Kaivan mendadak memundurkan tubuhnya secara drastis.Pria itu menyandarkan kepala pada headrest, menghembuskan napas berat seraya memejamkan mata sejenak, seolah sedang mengontrol emosinya yang sempat memuncak. "Kamu gila?" pekik Selina pelan. Pria itu tidak menjawab, hanya menyalakan mesin mobil SUV-nya dan membuat suara derum mesinnya memecah keheningan kabin. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Selina, Kaivan memutar kemudi dan menginjak gas, membawa mobil meluncur keluar parkiran.*** Malam hari, di Mansion Valerius yang terasa dingin. Selina duduk di tepi ranjangnya yang luas, memeluk kedua lutut dan menatap kosong ke arah jendela kamar.Pikiran Seli
Kaivan menatap Selina lurus-lurus. "Jangan pikir aku lakuin itu untuk menyelamatkan kamu," bisik Kaivan tajam.Selina berdecak seraya melipat kedua tangannya di depan dada. “Jelas, aku tau kamu cuma menyelamatkan reputasi kamu sendiri.”“Adik pintar,” puji Kaivan dengan dingin. Jemarinya melepaskan cengkeraman di pergelangan tangan Selina begitu saja. “Jadi tolong, setelah ini jangan bikin masalah lagi.” Untuk perkataan yang terakhir itu, Selina tidak terima. “Siapa yang bikin masalah? Aku?” Selina menunjuk dadanya sendiri, menatap Kaivan dengan tatapan tak percaya. “Aku berterima kasih karena kamu jadi repot gebukin orang semalem. Tapi seingatku, aku juga gak pernah minta kamu jadi pahlawan!” *** Begitu sampai di area kampus, Kaivan mematikan mesin mobilnya dan menoleh pada Selina.“Selina, ada berapa kelas hari ini?” Bukan cuma nada suaranya yang dingin, lewat pantulan cermin dashboard, Selina juga bisa merasakan tatapan tajam Kaivan yang tertuju lurus padanya. “Dua kelas.” S
Pagi hari Selina terbangun dengan kepala yang pening. Sambil mengurut pelipisnya yang berdenyut kencang, Selina mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia mendapati dirinya di kamar asing yang luas dan dingin. Lalu…, jantungnya seketika mencelos saat matanya menangkap Kaivan ada di sofa seberang. Pria itu memejamkan matanya dalam posisi duduk, masih mengenakan kemeja putih yang dia pakai semalam. Selina beranjak dari tempat tidur, melangkah mendekat. “Kamu ngapain aku semalem?!” sentaknya sambil menendang Kaivan pelan. “Ini di mana? Kenapa aku dibawa ke sini?!” Kelopak mata Kaivan terbuka perlahan. Dia mendongak ke arah Selina, berdecak dan memejamkan matanya lagi. “Bisa diem?” bisik Kaivan rendah. “Gak bisa. Hei! Jangan tidur lagi, kenapa kita di sini? Kamu ngapain semalem?” Selina terus menendang-nendang kaki Kaivan sampai akhirnya Kaivan jengah. Pria itu membuka matanya, berdiri, dan menahan kedua bahu Selina. “Lihat baik-baik,” pinta Kaivan sambil menyorot Selina taj
Nempel-nempel ke temannya Kaivan? Selina menolak dengan langsung keluar dari mobil itu lalu membanting pintunya keras. Tanpa menghiraukan Gathan yang memanggil-manggil namanya, Selina berlari masuk.Dentuman musik serta lampu neon berwarna biru dan ungu yang terus berkedip langsung menyambutnya. Melihat Kaivan pergi ke tempat seperti ini, Selina semakin yakin kalau dia akan menemukan sisi bobrok Kaivan di sini. Selina berjalan cepat, menembus kerumunan orang, menyelip di antara orang-orang yang meloncat di lantai dansa. Saat Selina sedang fokus mencari Kaivan yang pasti ada di antara orang-orang gila ini, seseorang tiba-tiba menarik tangannya dan membawa Selina ke pinggir kerumunan. “Cari siapa?” “Kaivan,” jawab Selina refleks. Gadis itu meringis diam-diam setelahnya. Sementara, laki-laki bertubuh tinggi di depannya itu tersenyum. Penampilannya berbeda dengan Gathan. Laki-laki ini justru lebih rapi dengan kemeja hitam berlengan panjang yang tergulung di sikunya.Senyum tipis te
Dalam perjalanan pulang, di mobil yang sedang melaju, Selina mengungkapkan kekesalannya. “Bisa gak usah kurang ajar?!” teriak Selina pada Kaivan yang sedang menyetir di sebelahnya. Kaivan mendengus geli, melirik Selina dari samping lalu sudut bibirnya terangkat. “Kurang ajar apa? Karena bilang adik manis?” “Bukan itu!” Selina menatapnya tajam. Tapi, Kaivan hanya menoleh sekilas dan mengejeknya dengan tawa hambar. “Tadi di bawah meja, apa maksudnya?!” Kaivan mengernyit, entah bingung atau hanya pura-pura bodoh. “Aku bantu kamu ambil garpu yang jatuh, apanya yang kurang ajar?” Selina muak dengan akting polos kakak tirinya ini. “Kamu sengaja ‘kan pake garpu itu untuk ngelus kaki aku?!” sentak Selina dengan napas memburu. Kaivan tidak langsung menjawab, tetapi jemarinya mengetuk-ketuk kemudi sambil tersenyum miring. “Enggak.” “Enggak, apanya? Kamu sengaja! Dasar cowok mesum!” teriak Selina. Kaivan tetap tenang, tapi senyum miring yang menyebalkannya masih ada. “Waktu kecil I
Acara makan malam itu berlangsung dengan tenang, meski terasa sedikit canggung bagi Selina. Padahal itu adalah pertama kalinya ia pergi ke restoran mewah berbintang lima.Namun Selina tak tertarik, memilih sibuk dengan makanannya sambil sesekali mengangguk dan memaksakan senyum saat ayah tirinya mencoba mencairkan suasana di antara dirinya dan Kaivan.Tentu saja Selina enggan bersikap akrab dengan pemuda itu, mengingat apa yang terjadi di pertemuan pertama mereka. Selina lagi-lagi merasa kesal saat mengingat sikap pemuda itu padanya.Saat Selina sedang sibuk merutuki Kaivan di benaknya, ia tak sengaja menjatuhkan garpu. Suara dentingan itu cukup nyaring hingga beberapa tatapan mata mengarah padanya.“Maaf…” gumamnya pelan, wajahnya memerah karena lagi-lagi ceroboh. Ia seketika kembali mengingat ucapan Kaivan saat memperingatinya untuk tidak berulah lagi.Selina yakin saat ini Kaivan pasti sedang merutukinya di dalam hati.Namun saat Selina belum sempat bergerak, Kaivan sudah lebih dul







