Share

Bab 3

Penulis: Salshabilla FN
last update Tanggal publikasi: 2026-07-19 21:52:33

Acara makan malam itu berlangsung dengan tenang, meski terasa sedikit canggung bagi Selina. Padahal itu adalah pertama kalinya ia pergi ke restoran mewah berbintang lima.

Namun Selina tak tertarik, memilih sibuk dengan makanannya sambil sesekali mengangguk dan memaksakan senyum saat ayah tirinya mencoba mencairkan suasana di antara dirinya dan Kaivan.

Tentu saja Selina enggan bersikap akrab dengan pemuda itu, mengingat apa yang terjadi di pertemuan pertama mereka. Selina lagi-lagi merasa kesal saat mengingat sikap pemuda itu padanya.

Saat Selina sedang sibuk merutuki Kaivan di benaknya, ia tak sengaja menjatuhkan garpu. Suara dentingan itu cukup nyaring hingga beberapa tatapan mata mengarah padanya.

“Maaf…” gumamnya pelan, wajahnya memerah karena lagi-lagi ceroboh. Ia seketika kembali mengingat ucapan Kaivan saat memperingatinya untuk tidak berulah lagi.

Selina yakin saat ini Kaivan pasti sedang merutukinya di dalam hati.

Namun saat Selina belum sempat bergerak, Kaivan sudah lebih dulu menunduk ke bawah meja untuk mengambil garpu itu. Seketika tubuhnya membeku, mencoba mengabaikan sang kakak tiri yang berada tepat di dekat kakinya.

Selina meneguk liurnya, melirik gaun satin yang ia kenakan malam itu, tepatnya ke bagian potongan gaunnya yang cukup rendah. Ia seketika waspada dengan keberadaan Kaivan di bawah sana.

Dan tiba-tiba…

Ujung gagang garpu yang terbuat dari logam dingin itu perlahan terseret di kulit betik bawahnya. Garpu itu terus merayap menelusuri tulang kering, hingga berhenti tepat di lekukan sensitif di belakang lutut Selina. 

Selina menahan napas, jantungnya bergemuruh liar. Dia mati-matian menahan diri agar menarik kakinya secara mendadak yang bisa memicu kecurigaan. 

Ketika Kaivan akhirnya kembali duduk tegak di sisinya, Selina meliriknya dengan tajam. 

“Tolong ganti dengan yang baru,” pinta Kaivan pada pelayan yang kebetulan berdiri di dekat sana. 

Sebelum Selina meredakan kekesalahannya, suara berat sang ayah tiba-tiba menginterupsi. 

“Oh ya, berkas pendaftaran kuliah kamu udah selesai diurus. Sesuai yang kamu mau, kamu diterima di prodi pilihan pertama yang kamu mau, Pariwisata.”

Selina berusaha berterima kasih dengan sopan ditengah sisa kesalnya. 

Lalu, karena ini menyangkut dirinya, Selina bertanya, “Aku jadinya masuk kampus mana?” 

“Universitas Garuda,” jawab Adrian. “Sama kayak Kaivan, tapi di sana Kaivan ambil Manajemen Bisnis.” 

Selina melotot. Tidak cukup mereka saling bertemu di rumah dan saat makan malam seperti sekarang, lagi-lagi di luar rumah Selina harus ditempatkan di sekitar Kaivan? 

Tanpa sadar Selina melihat ke arah Kaivan lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih kuat.  

Awalnya Kaivan tidak menunjukkan reaksi, masih memotong steaknya dengan tenang, seolah pembicaraan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya. Namun beberapa detik kemudian, ia mengangkat kepala dan tatapannya bertemu dengan Selina. 

Pria itu mengernyit tipis, lalu mengangkat sebelah alisnya.

Selina langsung membuang muka sambil meraih gelas air di depannya. Ia kesal, tapi tidak bisa melakukan protes karena tahu diri. 

“Jadi, Kaivan, kamu bisa berangkat bareng Selina kalau ada jadwal yang sama,” kata Adrian tiba-tiba. 

Kaivan tampak keberatan, tapi akhirnya Selina melihat pemuda itu mengangguk singkat. 

“Kamu ‘kan udah tingkat akhir, sedangkan Selina baru masuk dan baru pindah juga ke kota ini. Jadi, Ayah harap kamu bisa bantu Selina buat adaptasi di sana, dia adik kamu,” lanjut Adrian dengan nada penuh harap.

Mendengar perkataan itu, Kaivan mendengus pelan. 

Pemuda itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gestur malas yang sangat kentara. Meski raut wajahnya jelas menunjukkan keengganan yang teramat sangat, tetapi akhirnya mengangguk kecil juga.

“Iya, Yah,” jawab Kaivan singkat dan pasrah.

Suasana meja kembali tenang. Tapi, Selina masih kesal.

Monica yang menyadari itu mencoba menghidupkan suasana.

"Selina memang dari kecil suka jalan-jalan ke pantai. Makanya dia pilih Pariwisata."

Adrian tersenyum.

"Bagus,” katanya. "Siapa tahu nanti setelah lulus kamu bisa bantu mengembangkan destinasi wisata keluarga."

Selina hanya tersenyum singkat. Tidak terkejut sama sekali. 

Valerius Group memang punya hotel, resort, dan beberapa kawasan wisata di pulau-pulau kecil yang tropis. Salah satunya yang akan dibangun ada di pulau tempat Selina tinggal dulu. 

Meskipun agak menyebalkan, Selina akui kalau perkataan Kaivan tadi siang ada benarnya juga. Selina dan ibunya itu mirip oleh-oleh yang dibawa pulang dari perjalanan bisnis. 

Selina dan Kaivan tidak banyak bicara sampai pelayan mengangkat piring dessert.

Saat pramusaji menawarkan kopi atau teh, Adrian memesan kopi hitam, sedangkan Monica dan Selina memilih teh. Berbeda dari yang lain, Kaivan menggeleng dan memilih untuk tidak memesan minuman apa pun. 

Baru beberapa menit kemudian, ketika kopi dan teh tersaji di atas meja, Kaivan berdiri dari kursinya sambil mengambil kunci mobil yang sejak tadi tergeletak di samping ponselnya.

"Aku duluan."

Adrian yang baru saja mengangkat cangkir kopinya menoleh.

"Mau ke mana?"

"Ketemu teman."

"Sekarang?"

Kaivan mengangguk singkat. "Iya."

Adrian mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya tersenyum.

"Ya udah. Ayah sama Monica juga masih mau jalan sebentar setelah ini." Tatapan Adrian kemudian beralih kepada Selina yang masih duduk diam. "Sekalian antar adik kamu pulang dulu."

Hening sesaat.

Kaivan tidak langsung menjawab. Tatapannya bergeser ke arah Selina yang di saat yang sama juga sedang menatapnya.

Selina memberi kode gelengan kaku, menyuruh Kaivan menolaknya karena Selina tidak mau satu mobil dengan Kaivan. Selina pikir, di depan orang tuanya saja Kaivan menemukan celah untuk diam-diam bertindak kurang ajar, apa lagi nanti saat mereka hanya berdua terperangkap di mobil?

Tapi, di luar dugaan, Kaivan malah berjalan mendekat ke samping kursi Selina dan mengulurkan tangannya. 

“Ayo pulang, adik manis?” 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 56

    Dengan bibir yang masih saling memagut, Kaivan berdiri sambil tetap menahan tubuh Selina agar tidak lepas dari rengkuhannya.Selina hanya menurutinya dengan pasrah, melingkarkan kedua tangannya di leher Kaivan, membiarkan Kaivan membawanya berpindah dari sofa menuju ranjang besar yang ada di tengah kamarnya.Begitu punggung Selina menabrak kasur, Kaivan tidak langsung melepaskan tautan bibir mereka. Pria itu mengurung tubuh Selina di bawahnya, menopang tubuhnya sendiri dengan sebelah tangan sementara tangan yang menangkup rahang gadis itu.“Mmph… Kai…”Selina mengerang pelan saat ciuman itu terasa lebih dalam dan menuntut.Kaivan memberikan isapan kencang di bibir Selina, sebelum akhirnya dia memberi jarak untuk melihat jelas Selina yang terengah di bawahnya.“Kenapa? Kamu mau aku berhenti?”Selina menggeleng pelan.Jawaban itu membuat Kaivan menarik sudut bibirnya membentuk senyum.“Kamu mau kita sejauh apa?” tanya Kaivan dengan nada rendah yang cukup berbahaya di tengah deru napas

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 55 - Memulai Hubungan Terlarang

    “Pacaran sama kamu?” tanya Selina memastikan pendengarannya.Kaivan tersenyum miring. “Kenapa? Belum apa-apa kamu udah merasa kalau itu opsi yang akan terjadi karena kejujuran kamu?”Selina tidak menjawab.Dia akan bertahan sekuat mungkin, meski sudah tidak yakin.“Pastiin hp kamu merekam semuanya dengan baik,” pinta Selina.Kaivan mengangguk dan berkata singkat, “Sure.”Mereka pindah ke sofa lounge beludru di sudut kamar yang menghadap langsung ke jendela kaca besar.Selina duduk dengan punggung bersandar kaku, sementara Kaivan mengambil tempat di seberangnya, memastikan ponsel yang merekam suara mereka tetap tergeletak tak jauh dari jangkauan.Efek dari red wine itu mulai bekerja, Selina merasa kepalanya semakin berat. Namun, Kaivan kembali menyodoran gelas kedua ke hadapannya.“Minum lagi,” bisik Kaivan dengan nada rendah. “Kalau kamu yakin sama pendirian kamu, minum lagi. Kita harus lihat... seberapa jauh mulut kamu bisa berbohong saat akal sehat kamu benar-benar hilang.”Selina

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 54 - Alkohol dan Kejujuran

    Kaivan mengintimidasi Selina dengan mengikis jarak.Jantung Selina semakin berdebar kuat seiring dengan ujung hidung mereka yang nyaris bersentuhan.Kaivan sudah memiringkan kepalanya, matanya terkunci menatap bibir Selina yang sedikit terbuka karena terkejut.Namun, tepat sebelum bibir itu benar-benar menempel, sebuah suara derit pintu kecil dan langkah kaki memecah keheningan dapur.Ckrelek.Seorang pelayan wanita paruh baya yang baru saja keluar dari ruang utilitas di sisi dalam dapur terkesiap pelan saat melihat posisi majikannya yang sangat intim.“Eu—euh, maaf, Tuan, Nona. Saya… saya tadi ke sini untuk memastikan apa pemanas air di pantry lantai bawah sudah dimatikan atau belum,” cicit pelayan paruh baya itu dengan suara bergetar, kepalanya menunduk dalam-dalam tanpa berani menatap ke arah meja kitchen island.Selina tersentak. Ia langsung mendorong dada Kaivan kuat-kuat hingga pria itu sedikit melangkah mundur.Sementara itu, Kaivan mendengkus keras. Tanpa menoleh sepenuhnya, K

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 53 - Jatuh Cinta?

    Selina yang pulang diantar Aldeo sampai di rumah hampir bersamaan dengan Kaivan yang juga baru pulang.Gadis itu menahan menahan napas seketika saat mobil Aldeo berhenti tepat di belakang mobil Kaivan.“Al, kamu langsung pulang aja, jangan turun,” kata Selina yang was-was Aldeo akan diinterogasi atau sekedar ditatap dengan sinis.“Tenang aja,” kata Aldeo sambil keluar dari mobil dan berjalan memutari bodi kendaraan untuk membukakan pintu untuk Selina.Selina menggigit bibirnya. Sama sekali tidak bisa tenang.Detak jantungnya yang semula stabil kini menggila saat melihat pintu pengemudi mobil di depan mereka terbuka dan Kaivan turun dari mobilnya.Pria itu berdiri di samping mobilnya dan menutup pintu dengan cukup keras. Sorot matanya langsung terkunci ke arah Selina yang baru keluar dari mobil Aldeo.“Makasih Al, udah anter aku pulang,” kata Selina dengan kaku berharap Aldeo cepat pergi sebelum ketegangan ini meledak jadi sesuatu yang di luar kendali.“Sama-sama,” balas Aldeo hangat.

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 52 - Melawan Pesona Terlarang

    Selina tertegun mendengar penuturan Kaivan.Ternyata Selina benar-benar salah menilai Kaivan selama ini. Pria itu justru tidak seburuk yang Selina duga.Alih-alih menolak dan menganggapnya benalu, Kaivan justru pernah berusaha menerimanya. “Maaf kalau sikap aku buruk dan mungkin menyakiti kamu,” tutur Kaivan lagi, menunjuk ke arah mangkuk Selina meminta Selina melanjutkan makannya lagi. “Aku akan berusaha lebih baik mulai dari sekarang.”***Seharusnya Selina mengutarakan penolakannya atas sikap baik yang Kaivan janjikan setelah ini.Seharusnya Selina meminta Kaivan untuk tetap bersikap seperti biasanya, Kaivan yang menyebalkan dan membuat Selina merasa ditolak.Seharusnya... Selina tidak menerimanya begitu saja karena kalau Kaivan bersikap baik, lebih baik dari sekarang, yang justru akan memburuk adalah kondisi jantung Selina.Contohnya seperti beberapa saat lalu, sebelum Selina masuk kamar, Kaivan mengacak rambutnya singkat dan menyuruh Selina istirahat serta mengandalkannya kalau

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 51 - Kakak Tiri yang Baik

    Apa hanya kebetulan saja bintang lautnya muncul?Alih-alih menjawab pertanyaan Kaivan, Selina melirik kembali Bintang laut yang ada di sana.“Kenapa ada Bintang laut di sini?” tanya Selina pelan.Tapi tidak cukup pelan untuk sampai tidak terdengar oleh Kaivan.“Karena kamu mau lihat makhluk yang gak ada otaknya itu,” jawab Kaivan membuat Selina mengerjap pelan. Ketika Selina masih tidak tau harus merespon apa, tiba-tiba Kaivan menyahut. “Kita di bawah laut, ini tempat mereka.” “Oh.” Selina melirik ke sudut lain, ada juga bintang laut di area lain, dan akhirnya Selina menerima. Oh, mungkin ini tempat mereka. “Makasih,” gumam Selina. “Udah bawa aku ke sini.” Kaivan mengangguk pelan. Tak lama, seorang pelayan datang membawa nampan perak berisi hidangan pertama rangkaian tasting menu. “Amuse-bouche dari chef kami,” ucap pelayan tersebut ramah sambil meletakkan piring kecil bermotif minimalis di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status