Share

Bab 4

Author: Krosan
Aku tidak tahu di mana rumah Juando, jadi aku mencoba menelusuri akun media sosial Evelyn.

Dia cantik, berasal dari keluarga kaya, dan punya banyak pengagum di media sosial.

Biasanya dia hanya mengunggah konten kecantikan.

Namun hari ini dia tiba-tiba mengunggah video yang berisi keluhan.

"Guys, serius deh, lucu banget! Aku belum pernah lihat wanita yang begitunya nekatnya mengejar laki-laki!"

"Kalau bukan karena aku keluar uang buat mendapatkan informasi soal jadwal dan susunan acara pernikahannya, sahabat masa kecilku itu bahkan masih nggak percaya kalau wanita itu sudah mulai mempersiapkan pernikahan sendirian!"

Melihat wajahnya terlalu lama membuat perutku mual.

Aku buru-buru mencari lokasi yang pernah diunggah Evelyn sebelumnya.

Akhirnya, di klub yang sering mereka datangi, aku menemukan Juando.

Baru keluar dari lift, aku sudah bisa mendengar tawa berlebihan Evelyn.

"Nanti aku bakal siarkan langsung pernikahannya. Juando, kamu jangan datang. Biar dia terus nunggu sampai benar-benar kehilangan muka."

Suara perempuan lain terdengar pelan dan ragu-ragu,

"Kayaknya kurang baik deh, Evelyn. Akunmu punya ratusan ribu pengikut. Kalau benar dilakukan, gimana dia bisa hidup setelah itu?"

"Kak Juando, gimana kalau kamu bicara baik-baik sama dia lagi, kasih kompensasi atau apa gitu."

Juando terdiam sejenak, lalu mencibir,

"Lakukan saja seperti kata Eve. Aku juga mau lihat dia bisa mempermalukan dirinya sampai sejauh apa."

Aku menggenggam telapak tanganku erat-erat, lalu berbalik pergi.

Beberapa hari ini, Juando tidak pernah menerima pesan dariku yang berisi permintaan maaf atau sikap mengalah.

Namun grup mereka justru makin ramai.

Evelyn berkata dengan bangga,

"Untung aku menyamar jadi pemilik kontrakan, jadi dia nggak memblokirku. Semua unggahan Instagramnya masih bisa kulihat."

"Lihat deh gaun pengantinnya. Modelnya kuno banget. Bahkan kalau musuhku yang pakai, aku tetap kasihan."

Di sembilan foto yang diunggah.

Aku mengenakan gaun pengantin model tertutup tanpa memperlihatkan lengan.

Namun orang yang memotretnya sangat ahli, membuat sosokku yang berdiri di dekat jendela tampak begitu suci dan anggun.

Aku bagaikan segumpal awan yang ringan, seolah bisa menghilang kapan saja.

Suara Juando menjadi serak. Tanpa sadar dia membuka foto aslinya lalu menyimpannya.

Tiba-tiba dia membayangkan diriku berjalan ke arahnya dengan gaun pengantin.

Jantungnya ternyata berdebar pelan.

Evelyn di grup sama sekali tidak menyadarinya, masih terus mengomentari.

"Dasar bodoh. Dia bahkan mengirim undangan pernikahan padaku. Katanya dia mengundang lebih dari seribu orang dan berharap aku juga datang."

"Hahaha, jelas aku datang dong. Aku benar-benar nggak sabar lihat dia berdiri di atas panggung sambil mempermalukan dirinya sendiri!"

Tak lama kemudian tibalah hari pernikahan. Evelyn kembali membagikan unggahan Instagram itu secara langsung ke grup.

[Akhirnya Nenek bisa menyaksikan kebahagiaanku.]

Foto yang menyertainya memperlihatkan Nenek yang duduk di kursi roda dan aku yang mengenakan gaun pengantin. Mata Nenek dipenuhi air mata haru.

Salah satu sahabat Juando berkata,

"Waduh, kok aku jadi agak nggak tega, ya. Jangan-jangan neneknya nanti langsung meninggal karena syok?"

"Kak Juando, kamu benar-benar nggak datang?"

Bibir Juando bergerak pelan seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi Evelyn lebih dulu memotongnya,

"Justru serunya kalau keluarganya ada di sana! Dulu nenek tua itu sampai duduk seminggu di kantor dinas pendidikan sambil bertongkat cuma buat melaporkanku karena merundung cucunya.

"Gara-gara itu Ayah menyita yacht-ku. Sampai sekarang aku masih belum melampiaskan kekesalan itu!"

Sambil berkata begitu dia kembali menguji Juando,

"Hei, Juando. Jangan-jangan kamu mulai luluh, ya? Kamu sudah janji mau membantuku!"

Juando mengatupkan giginya.

"Mana mungkin. Dia berani memaksaku menikah, berarti dia juga harus siap menanggung akibatnya."

Evelyn akhirnya merasa lega dan mengirim emoji ciuman.

"Ya sudah, aku dandan dulu buat datang ke pernikahan. Jangan lupa tonton siaran langsungnya, ya! Aku sengaja keluar uang buat promosi siarannya. Aku benar-benar nggak sabar lihat apa yang bakal terjadi nanti."

Grup itu kembali hening sejenak, lalu muncul lagi tangkapan layar unggahan Instagram.

[ Seumur hidup, hanya dia.]

Foto yang menyertainya adalah dua buku nikah.

Sahabat Juando langsung kebingungan dan segera menandai Juando di grup,

"Kak Juando, bukankah kamu bilang dia sudah membakar surat nikah palsu itu? Terus ini apa?"

Namun pesan itu lama sekali tidak mendapat balasan.

Saat itu Juando sedang mengendarai mobil tercepatnya, melaju sekencang mungkin menuju lokasi pernikahan.

Bukankah ini cuma sebuah upacara?

Kalau memang itu yang Sanora inginkan, berikan saja.

Bukan sesuatu yang terlalu besar, 'kan.

Lagi pula, mereka belum resmi mendaftarkan pernikahan, jadi itu tidak dianggap melanggar janjinya kepada Evelyn.

Ketika akhirnya tiba di lokasi pernikahan, upacaranya baru saja dimulai.

Syukurlah, dia belum terlambat.

Juando mengeluarkan cincin nikah yang sudah disiapkannya dari dalam saku.

Entah kenapa, tadi dirinya sempat mampir ke toko perhiasan.

Ternyata ukuran jari gadis itu sudah lama terukir dalam ingatannya.

Evelyn yang duduk di bawah panggung langsung berubah pucat. Ratusan ribu orang membanjiri siaran langsung.

Semuanya berteriak ingin melihat perempuan tak tahu malu yang mati-matian mengejar laki-laki itu.

Akan tetapi, sekarang justru Juando yang lebih dulu berdiri di atas panggung.

Lagu pernikahan mulai dimainkan. Juando menatap penuh harap ke ujung karpet merah.

Namun sosok pengantin wanita tak kunjung muncul.

Pembawa acara mengangkat mikrofon.

"Nona Sanora mengucapkan selamat datang kepada semua tamu yang telah hadir di acara ini. Sekarang mari kita saksikan sebuah video terlebih dahulu."

Acara?

Perasaan aneh yang tak bisa dijelaskan tiba-tiba muncul di hati Juando.

Mungkin pembawa acara yang disewa mendadak kurang profesional.

Dia mengalihkan pandangannya ke layar. Baru melihatnya satu detik, dunia di depan matanya langsung berputar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kala Kabut Membuyar   Bab 10

    Dokter yang kutunggu akhirnya tiba di vila.Setelah memberiku obat bius, pandanganku mulai kabur, tetapi tiba-tiba kulihat wanita itu melepas masker wajahnya, memperlihatkan wajahnya yang penuh kegilaan.Evelyn mengangkat pisau bedah dan mengarahkannya ke leherku."Sanora, nggak nyangka, 'kan? Meskipun hidupku sudah hancur, kamu juga jangan harap bisa hidup tenang!"Aku ingin berteriak meminta tolong, tetapi tubuhku sama sekali tidak memiliki tenaga.Tepat saat pisaunya menusuk ke arahku, sesosok pria menerjang ke hadapanku.Pisau itu menghunjam tubuhnya dengan telak.Darah hangat menetes ke tubuhku. Namun pria itu malah dengan hati-hati menyeka darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangannya.Dia lalu berkata kepadaku dengan suara lembut,"Nora, andai saja benar-benar bisa kembali ke masa lalu.""Saat kamu dirundung mereka dulu, aku pasti akan menyelamatkanmu, seperti sekarang ini.”Wajahku memucat, dan dengan suara serak aku memanggilnya,"Juando ...."Evelyn masih terus menga

  • Kala Kabut Membuyar   Bab 9

    Setelah bulan madu berakhir.Marco mengecupku sebelum berangkat bekerja, sementara aku tinggal di rumah menunggu dokter spesialis estetika yang sudah membuat janji untuk datang.Bel pintu berbunyi, lalu aku pergi membukakan pintu.Namun yang berdiri di depan bukanlah dokter, melainkan Juando.Dia langsung mendorongku ke dinding, lalu seperti orang gila menggigiti bekas ciuman di leherku.Aku menamparnya keras, seluruh tubuhku gemetar."Juando, kamu benar-benar sudah gila!"Matanya merah, dipenuhi urat-urat darah."Bersamanya kamu bahagia? Hah? Apa kamu tahu, setiap hari aku terus memikirkanmu sampai nggak bisa tidur!"Aku berusaha mendorongnya menjauh, tetapi tenagaku tidak mampu melawannya.Akhirnya aku menggigit bahunya sekuat tenaga."Juando, saat kamu mempermainkanku dulu, seharusnya kamu sudah siap menerima akhir seperti ini."Juando menghantamkan tinjunya ke dinding dengan putus asa.Dia menyingsingkan lengan bajunya. Di lengannya terdapat banyak bekas luka bakar memanjang."Liha

  • Kala Kabut Membuyar   Bab 8

    Saat itu aku baru saja masuk ke perusahaan baru, lalu dilarikan ke rumah sakit karena alergi serbuk sari.Aku tidak tahu bahwa hari itu sebenarnya ada dua orang yang datang menjengukku di rumah sakit.Selain Juando, satunya lagi adalah paman Juando,Marco.Dia adalah atasanku di perusahaan baru itu.Perusahaan itu adalah perusahaan pertama yang berhasil dia dirikan setelah keluar dari keluarga Lucas.Saat aku pingsan karena alergi di kantor, dia sedang mengadakan rapat di ruang konferensi.Dia baru saja hendak menanyakan apa yang terjadi, tetapi malah melihat keponakannya menggendongku pergi ke rumah sakit.Dia tahu seperti apa sifat Juando.Seharian hanya mengikuti gadis dari Keluarga Yasar ke mana-mana.Bahkan demi membantu pendanaan perusahaan Keluarga Yasar, dia pernah mencuri rahasia perusahaan dan menyerahkannya kepada mereka.Orang yang rela melakukan apa saja demi Evelyn seperti itu, kini ternyata perempuan di pelukannya sudah berganti menjadi orang lain.Karena penasaran, seka

  • Kala Kabut Membuyar   Bab 7

    Setelah upacara pernikahan selesai, aku sedang berkeliling bersulang dengan para tamu.Tiba-tiba terdengar keributan dari pintu masuk.Aku mendongak. Juando baru saja menendang pelayan yang berusaha menghalanginya hingga menyingkir.Saat pandangan kami bertemu, dia langsung terpaku di tempat."Sanora, kamu nggak mau jelaskan? Kamu sengaja memancingku datang ke pernikahan ini, lalu mempermainkanku seperti orang bodoh!""Katakan padaku, bagaimana mungkin kamu menikah dengannya?"Aku perlahan meletakkan gelas anggur, lalu berdiri tenang di hadapannya."Kurasa itu tidak sepenuhnya menipu. Bukankah sejak awal aku selalu bilang kalau minggu ini aku akan menikah?""Hanya saja kamu nggak pernah percaya."Juando mundur selangkah dengan wajah tak percaya. Seluruh tubuhnya gemetar."Aku kira ....""Kira apa? Kira aku pasti akan menikah denganmu?""Juando, kamu jelas sudah melihat bekas luka di tubuhku, tetapi kamu memilih pura-pura tidak melihat dan tetap membantu Evelyn.""Lagi pula, sejak awal

  • Kala Kabut Membuyar   Bab 6

    Saat SMA, Juando sedang berada di luar negeri.Yang dia tahu dari Evelyn hanyalah bahwa ada seorang siswi yang selalu memusuhinya.Namanya Sanora.Dalam program pertukaran pelajar internasional, si pria pertama kali bertemu gadis itu.Gadis itu berbicara dengan fasih, menyampaikan pendapatnya dengan tenang tanpa rendah diri maupun arogan.Juando sangat mengaguminya. Seusai presentasi, dia ingin menghampiri si gadis untuk mengobrol sebentar.Namun dia melihat papan nama bertuliskan nama gadis itu.Ternyata dialah orang yang telah merebut jatah Evelyn.Setelah mengetahui hal itu, Evelyn langsung mengatur semuanya dengan penuh semangat,"Juando, kejar dia saja! Dulu dia keras kepala setengah mati, sama sekali nggak mau mengaku salah. Melihatnya saja sudah bikin muak.""Aku benar-benar ingin tahu, kalau nanti dia sadar sudah dipermainkan pacarnya sendiri, apa dia masih bisa tetap setenang itu.""Gimana? Kita bertaruh, yuk."Entah kenapa, pria itu menerima taruhan itu.Namun seiring tahun d

  • Kala Kabut Membuyar   Bab 5

    Video yang muncul bukanlah video kenangan kisah cinta yang telah dipersiapkan dengan saksama,melainkan sosok Evelyn yang mengenakan seragam SMA, dengan wajah penuh kesombongan."Sanora, kamu melapor ke guru kalau aku merundungmu, ya? Mana mungkin? Kami cuma bercanda antarteman sekelas kok!"Gadis dengan pipi penuh lebam itu dipaksa hingga terpojok di dekat wastafel kamar mandi.Matanya tetap jernih dan penuh tekad.Saat alat pengeriting rambut ditempelkan ke tangannya, dia menggigit bibirnya sekuat tenaga tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.Darah mengalir dari sudut bibirnya.Hati Juando bergetar.Nora.Dia sama sekali tidak pernah tahu bahwa Sanora pernah mengalami perundungan sekejam itu semasa SMA.Yang dia ingat hanyalah setiap kali wanita itu terbangun dari mimpi buruk,punggungnya yang kurus gemetar di dalam pelukannya.Gigi Sanora bergemeletuk, bahkan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.Namun, Juando tidak pernah bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi padanya.Dia h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status