ANMELDENUsai menjalani hukuman penjara selama tiga tahun, Vina Naryama, kekasih masa kecilku, menemukanku di arena tinju ilegal dan menyeretku keluar dari sana. Dia memukul wajahku dan matanya terbelalak penuh amarah. "Rafael Ranjana, siapa yang kasih kau keberanian buat nggak pulang? Berani-beraninya kau membuat dirimu jadi seperti ini!" Aku mengusap darah di wajahku dan tersenyum tanpa beban. "Bu Vina, satu pukulan dua ratus juta. Kalau masih belum puas, boleh lanjut. Lumayan, bisa sekalian menutup biaya sewa rumahku tahun ini." Kepalan tangan Vina gemetar tidak terkendali, tetapi suaranya melunak. "Ikut aku pulang ... minta maaf ke Sena." "Dia berhati baik. Dia sudah lama nggak mempermasalahkan fitnah yang kau lemparkan padanya." Pandangannya menyapu luka-luka yang memenuhi tubuhku, sorot matanya tampak rumit. "Lihat dirimu sekarang, wajahmu penuh darah seperti hantu. Apa bedanya kau dengan anjing liar di tempat sampah?" Tubuhku bergetar hebat, lalu aku berbalik pergi. Vina tidak tahu, wajah berlumuran darah seperti ini adalah satu-satunya cara bertahan hidup yang kupelajari di penjara. "Jangan lupa, aku masih tunanganmu!" Langkahku terhenti. Bagaimana mungkin aku lupa? Tiga tahun lalu, pada malam pertunanganku, Sena membiusku dan menyeretku ke pelelangan pasar ilegal. Keperjakaanku diperdagangkan secara terbuka, menunggu para wanita kaya mengajukan tawaran. Malam itu, seluruh harga diriku hancur. Aku menjadi bahan tertawaan seluruh warga Kota Jica. Sementara orang yang menandatangani surat penjualanku adalah tunanganku sendiri.
Mehr anzeigenVina membelalakkan mata dan terpaku di tempat."Nggak, nggak mungkin!""Kau pasti berbohong. Mana mungkin kau bisa menikah secepat itu!""Skandal pelelangan tahun itu begitu besar. Selain aku, siapa lagi yang mau menikahimu?"Begitu kata-kata itu terlontar, Vina buru-buru menutup mulutnya."Aku bukan bermaksud begitu, Rafael."Aku menatapnya dengan tenang. Aku sama sekali tidak terkejut mendengar isi hatinya yang sebenarnya.Kalau tidak, selama ini Vina tidak akan terang-terangan selalu memihak Sena. Di dalam hatinya, selain dirinya, tidak akan ada orang lain yang mau menerima diriku yang dianggap barang rusak.Tiba-tiba embusan angin kencang datang dari belakang.Friska melesat maju dan memukul wajah Vina."Kubunuh kau!"Vina tidak sempat menghindar. Darah langsung mengalir dari wajahnya. Dia menatap Friska yang baru keluar dari rumah dengan ekspresi terkejut."Bagus! Jadi kaulah pelakor itu!"Keduanya langsung bergumul."Sudah, hentikan!"Aku bergegas maju, mencengkeram lengan Friska
Ekspresinya tampak gelisah. Seluruh dirinya terlihat lelah, tetapi matanya langsung berbinar saat melihatku."Syukurlah, kau sudah kembali."Dia tersenyum lebar ke arahku, matanya bahkan mulai memerah."Syukurlah kau kembali. Aku kira kau sudah nggak menginginkan ... rumah tua lagi.""Karena kau sudah kembali, jangan pergi lagi."Vina melangkah lebar ke depan dan meraih tanganku."Ayo, kita pulang.""Tenang saja, Sena sudah aku usir. Aku juga sudah membongkar sifat aslinya. Mulai sekarang, cuma ada kehidupan bahagia untuk kita berdua.""Nanti kita cari waktu buat menikah."Makin dia berbicara, makin bersemangat pula dirinya. Wajahnya dipenuhi senyum penuh harap.Aku langsung menepis tangan Vina dan tersenyum sinis."Bu Vina benar-benar terlalu percaya diri.""Aku kembali karena rumah tua ada di sini, bukan karena dirimu.""Aku nggak tertarik dengan urusanmu dan Sena, aku juga nggak mau memiliki keterkaitan apa pun denganmu."Aku menatapnya dingin, tanpa sedikit pun kehangatan di mataku
"Sudah waktunya bangun. Matahari sudah tinggi."Friska menerobos masuk ke ruang rawat dengan langkah tergesa."Demammu sudah turun, 'kan? Ayo bangun, hari ini aku bakal mengajakmu makan enak."Dia menyentuh dahiku dengan cekatan, lalu memberiku seteguk air."Terima kasih ...." Aku berkata dengan suara serak.Setelah dia menyelamatkanku hari itu, aku langsung kehilangan kesadaran.Sepanjang perjalanan, Friska terus menggenggam tanganku tanpa melepaskannya."Dasar bodoh. Kenapa nggak memberitahuku semua ini lebih awal? Maaf, aku datang terlambat."Tangannya begitu hangat, satu-satunya penyelamat dalam hidupku.Selama beberapa waktu ini, aku dirawat di rumah sakit milik Keluarga Wirya. Kondisi tubuhku sudah pulih sebagian besar, bahkan luka di lenganku pun telah sembuh sepenuhnya."Kenapa bilang terima kasih?"Dia menyentil dahiku pelan."Sepertinya kondisimu sudah jauh lebih baik. Beberapa hari lagi kita pulang buat melihat rumah tuamu."Kakek Friska dan kakekku adalah rekan seperjuangan
"Akhirnya Rafael berhasil disingkirkan. Mulai sekarang, Keluarga Ranjana dan Vina sepenuhnya bakal menjadi milikku. Jerih payahku selama bertahun-tahun akhirnya nggak sia-sia!""Tentu saja itu bohong. Mana mungkin aku benar-benar keracunan asap saat kebakaran.""Kalaupun dia tahu kebenarannya, aku nggak takut. Orang yang paling dia cintai adalah aku. Kalau nggak, bagaimana mungkin Rafael dibuat sampai menjadi seperti itu?""Kau nggak tahu, Rafael disiksa habis-habisan di penjara. Lucu sekali, hahaha ...."Tiba-tiba, sebuah kekuatan besar dari belakang membalikkan sofa.Sena menoleh dengan panik dan seketika bertemu dengan tatapan marah Vina."Kak Vina! Sejak kapan kau pulang?"Dia segera menutup telepon dengan panik."Apa yang kukatakan tadi nggak benar, itu cuma bercanda. Kau harus percaya padaku."Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Vina menendangnya hingga terpental.Seketika, rasa nyeri menusuk dada Sena. Setidaknya dua tulang rusuknya patah.Vina tidak memberinya kesempatan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.