Compartir

Bab 3

Autor: Tulip
Hujan turun semakin deras.

Inara berjalan pulang sendirian ke kediaman. Seluruh tubuhnya basah kuyup, bahkan sepatunya sobek.

Seorang pelayan wanita yang berjaga di pintu terkejut saat melihatnya. Dia sampai membelalakkan mata.

"Nyonya? Bukannya Nyonya pergi melihat bunga prem? Kenapa bisa sampai basah seperti ini? Tuan mana?"

Inara menggeleng. Dia sama sekali tidak ingin mengatakan apa-apa. Baru saja melangkahkan kaki melewati ambang pintu, pandangannya tiba-tiba menggelap dan tubuhnya pun ambruk.

Dalam keadaan setengah sadar, dia bermimpi begitu banyak hal. Mimpi-mimpi itu tak berurutan dan terpecah-pecah. Semuanya merupakan potongan kejadian selama bertahun-tahun Sanjaya membuatnya kecewa demi Pertiwi.

Pada hari ulang tahunnya, Sanjaya berjanji akan makan malam bersamanya. Dia menunggu hingga larut malam, sementara makanan di meja sudah dipanaskan berkali-kali.

Namun, Sanjaya justru mengutus seseorang untuk memberi tahu bahwa suasana hati Pertiwi sedang buruk, sehingga dia pergi ke kuil di luar kota untuk menangkap kunang-kunang dan menyuruh Inara untuk tidak menunggunya lagi.

Ketika Inara terserang flu dan batuk parah, berharap Sanjaya datang menjenguknya, Sanjaya justru menemani Pertiwi yang terus dihantui mimpi buruk untuk tinggal di kuil selama tiga hari dan berdoa.

Kantong wewangian yang disulamnya sendiri untuk Sanjaya, diberikan begitu saja kepada Pertiwi hanya karena Pertiwi memuji jahitannya sangat rapi.

Ketika ayahnya sakit parah dan Inara ingin pulang menjenguk, Sanjaya justru menolak. Katanya, belakangan ini kondisi tubuh Pertiwi juga kurang baik dan butuh seseorang untuk merawatnya. Dia pun menyuruh Inara menunggu.

Namun, penantian itu justru berakhir dengan kabar duka tentang kematian ayahnya.

Terlalu banyak ....

Setiap kekecewaan seperti pisau tumpul yang perlahan mengiris hatinya. Sampai kejadian ketika dia dipaksa menggugurkan kandungan, sampai saat dia ditinggalkan dan jatuh dari tebing ....

Hati yang sudah dipenuhi luka itu akhirnya benar-benar hancur, tak mungkin lagi disatukan kembali.

Dia merasa tubuhnya semakin berat, seolah terendam dalam air es hingga menggigil kedinginan. Samar-samar, terdengar suara seorang pelayan wanita di dekat telinganya. Suara itu tercekat oleh tangis.

"Tabibnya belum datang juga?"

Pelayan wanita yang lain tersedu-sedu menjawab, "Sudah dipanggil. Tapi semua tabib di kediaman dipanggil Tuan Sanjaya ke tempat Nona Pertiwi. Aku sudah bilang Nyonya demamnya tinggi, bahkan sampai batuk darah. Aku juga sudah memohon."

"Awalnya Tuan Sanjaya sudah berniat mengirim salah satu tabib kemari, tapi Nona Pertiwi kembali batuk. Tuan Sanjaya nggak tenang meninggalkannya, jadi Nyonya disuruh menunggu lagi ...."

"Menunggu lagi? Nyonya bahkan sudah batuk darah! Bagaimana bisa menunggu? Kenapa Tuan tega melakukan ini? Nyonya begitu mencintainya, memberikan segalanya untuknya selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, di dalam hati Tuan tetap hanya ada Nona Pertiwi ...."

"Ssst .... Pelankan suaramu ...."

"Aku nggak bisa diam. Aku merasa Nyonya benar-benar nggak seharusnya diperlakukan seperti ini ...."

Setetes air mata mengalir dari sudut mata Inara dan menghilang di antara rambutnya.

Ya. Bertahun-tahun dia mencintai Sanjaya, semuanya memang tidak sepadan.

Entah berapa lama waktu berlalu, demamnya yang tinggi sepertinya sedikit mereda. Kesadarannya perlahan berjuang keluar dari mimpi buruk.

Dia membuka mata dengan linglung dan mendapati Sanjaya duduk di sisi ranjang.

Melihat istrinya sadar, wajah Sanjaya langsung menunjukkan ekspresi lega. Dia membungkuk mendekat dan bertanya dengan nada penuh perhatian, "Inara, kamu sudah sadar? Bagaimana? Masih nggak enak badan? Masih ada yang sakit?"

Inara menatapnya dengan tatapan kosong.

Tatapan itu membuat Sanjaya merasa tidak nyaman. Setelah terdiam sejenak, dia menjelaskan, "Pelayan bilang kamu demam tinggi dan batuk darah. Aku ... sebenarnya ingin memanggil tabib, tapi kondisi Pertiwi juga sangat mendesak."

"Sejak kecil tubuhnya memang lemah. Kali ini dia juga sangat ketakutan. Kepalanya sangat pusing. Dia terus-menerus batuk. Aku benar-benar nggak tenang meninggalkannya, jadi ...."

"Kamu nggak perlu menjelaskan." Inara menyela ucapannya. Suaranya sangat serak, tetapi nadanya justru luar biasa tenang.

"Ini kediaman milikmu. Kamu adalah kepala keluarga. Tabib akan mengobati siapa, tentu saja kamu yang memutuskan. Aku menghormati keputusanmu."

Sanjaya terdiam mendengar perkataannya. Sedikit kepanikan melintas di wajahnya. "Apa maksudmu mengatakan ini kediamanku? Ini rumah kita bersama."

"Aku tahu kali ini aku kurang mempertimbangkan keadaanmu dan membuatmu merasa dirugikan. Aku janji, lain kali ... lain kali, di antara kamu dan Pertiwi, aku pasti akan mendahulukanmu. Bagaimana?"

Inara tidak menjawab. Dia hanya menatapnya dalam diam. Tatapan itu terlalu jernih, terlalu tenang, seolah dia sudah lama mengetahui bahwa janji itu tidak akan pernah bisa dipenuhi Sanjaya.

Kepanikan dalam hati Sanjaya semakin kuat. Tanpa sadar, dia ingin menghindari tatapan Inara, tetapi dia juga tidak rela. Dia ingin mengatakan sesuatu lagi untuk menebus kesalahannya.

Namun, sebelum sempat memikirkan kata-kata yang tepat, Inara sudah menutup mata dengan lelah, seolah bahkan untuk sekadar menatapnya pun dia sudah merasa terlalu letih.

Kata-kata yang sudah sampai di ujung lidah Sanjaya kembali ditelannya. Melihat wajah Inara yang pucat dan rapuh, seolah akan hancur hanya dengan sekali sentuh, rasa bersalah di dalam hatinya semakin berat.

Setelah berpikir sejenak, dia melunakkan nada bicaranya dan berkata, "Karena kamu sudah sadar dan demammu juga sudah sedikit turun ... ada satu hal yang ingin kuminta darimu."

Bulu mata Inara bergetar pelan, tetapi dia tidak membuka mata.

"Beberapa hari ini nafsu makan Pertiwi buruk. Apa pun yang dimakan terasa hambar. Hari ini dia tiba-tiba ingin makan bakso daging kepiting dan udang ala Jinggara. Koki di kediaman sudah mencobanya beberapa kali, tapi tetap nggak bisa membuat rasa yang sama."

Dia berhenti sejenak, lalu nadanya semakin lembut. "Aku ingat, masakan Jinggara adalah keahlianmu. Bagaimana kalau ... kamu bantu buatkan sekali saja? Biar nafsu makannya kembali."

Inara perlahan membuka mata dan menatapnya.

"Kamu tahu ...." Suaranya sangat lembut, membawa kelelahan dan kepedihan yang sulit diungkapkan. Dia meneruskan, "Kenapa aku paling pandai masak masakan Jinggara?"

Sanjaya tertegun. Jelas, dia tidak pernah memikirkan pertanyaan itu.

Inara melihat ekspresi bingung di wajahnya. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis. Lengkungan itu dipenuhi ejekan terhadap dirinya sendiri.

Dia teringat dua tahun pertama setelah mereka menikah. Karena Pertiwi menikah dengan orang lain, Sanjaya terus murung dan kehilangan selera makan hingga tubuhnya menjadi sangat kurus.

Inara begitu cemas sampai kebingungan. Dia mencoba berbagai resep, tetapi Sanjaya selalu hanya mencicipi satu suap sebelum meletakkannya kembali.

Sampai suatu hari, setelah mabuk, dia berkata dengan samar, "Aku ingin makan masakan Jinggara, yang rasanya lebih ringan ...."

Inara merasa seperti mendapatkan harta karun. Dia mengira Sanjaya akhirnya bersedia makan.

Dia segera mengeluarkan banyak uang. Melalui berbagai kenalan, dia mendatangkan seorang koki terkenal dari Jinggara. Dia belajar sedikit demi sedikit. Tangannya sampai melepuh, jarinya sampai terluka saat memotong bahan makanan, tetapi dia tetap menahan rasa sakit itu.

Akhirnya, dia berhasil membuat satu meja penuh masakan Jinggara yang cukup layak. Ketika Sanjaya mencicipinya, untuk pertama kalinya dia makan beberapa suap lebih banyak.

Waktu itu, Inara begitu bahagia hingga hampir menangis. Dia merasa semua kerja kerasnya terbayar.

Namun kemudian, secara kebetulan dia baru mengetahui bahwa ibu Pertiwi berasal dari Jinggara dan makanan yang paling disukai Pertiwi adalah masakan Jinggara.

Ternyata, bukan masakan Jinggara yang dia rindukan. Yang sebenarnya dia rindukan adalah Pertiwi.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 20

    Ada lukisan Inara yang sedang membaca di dekat jendela, menikmati bunga di halaman, sibuk di dapur, bahkan ada juga ... sosok dirinya ketika masih berada di ibu kota, duduk di dalam kereta dengan wajah murung.Setiap goresan kuas itu tampak begitu halus dan sarat akan perasaan.Di sudut kanan bawah setiap lukisan, tercantum sebuah tanggal.Lukisan yang paling awal ternyata dibuat pada tahun ketika Inara beranjak dewasa. Saat itu, di Festival Lentera ibu kota, dia berhasil menjawab sebuah teka-teki lentera dan tersenyum cerah.Saat itu, dia bahkan belum mengenal Yanuar.Inara memegang lukisan-lukisan itu dan duduk termenung di ruang kerja untuk waktu yang lama.Malam harinya ketika Yanuar pulang, dia bertanya, "Kenapa kamu ... sebaik ini padaku?"Melihat mata Inara yang sedikit memerah, Yanuar langsung mengerti apa yang telah ditemukannya. Dia tidak menceritakan tentang cinta terpendam yang selama bertahun-tahun dijaganya dengan hati-hati.Dia tidak menceritakan betapa sedihnya dirinya

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 19

    Satu tahun kemudian.Di dalam tenda paling kotor dan bobrok di barak militer, Pertiwi meringkuk di sudut. Tubuhnya dipenuhi kotoran dan luka.Tatapannya kosong. Mulutnya terus bergumam berulang kali, "Kak Jaya ... selamatkan aku ... Kak Jaya ... mereka akan membunuhku ...."Para wanita di sampingnya mencibir."Masih bermimpi? Kak Jaya-mu itu sudah membuangmu ke sini dan nggak peduli lagi!""Kudengar dia sudah gila. Dia memeluk pakaian tua lalu menceburkan diri ke kolam teratai. Setelah diselamatkan, pikirannya malah semakin kacau. Mana mungkin dia masih ingat kamu?"Pertiwi seolah tidak mendengar mereka. Dia tetap bergumam sambil menatap kosong secercah cahaya langit yang masuk melalui lubang di atap tenda.Sesekali, seorang prajurit yang mabuk masuk dan menyeretnya pergi. Dia tidak lagi meronta, seperti boneka yang sudah kehilangan jiwa.....Di ibu kota, Kediaman Adipati Utara.Kediaman yang dulunya selalu ramai oleh tamu, kini telah kehilangan kejayaannya. Plakat di atas gerbang dis

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 18

    Sanjaya maju dua langkah, semakin mendekati tepi jurang.Tatapan Yanuar seketika berubah tajam. Dia menarik Inara sedikit ke belakang.Namun, Sanjaya seolah tidak menyadarinya. Dia menoleh dan memandang Inara. Anehnya, sebuah senyum yang nyaris seperti kelegaan muncul di wajahnya."Inara, waktu itu aku memilih Pertiwi dan berutang satu nyawa padamu." Suaranya sangat pelan hingga nyaris terbawa angin. "Sekarang, aku kembalikan nyawaku padamu, ya?"Belum selesai gema suaranya menghilang, di bawah tatapan terkejut semua orang, dia benar-benar melompat ke dalam jurang yang diselimuti kabut!"Sanjaya!"Ekspresi Yanuar seketika berubah. Dia berteriak keras dan refleks mengulurkan tangan untuk menangkapnya, tetapi hanya berhasil meraih secarik kain pakaiannya yang robek.Para pengawal berseru kaget dan bergegas ke depan. Namun, tidak ada seorang pun lagi di tepi jurang. Hanya suara angin gunung yang menderu kencang.Tubuh Inara bergoyang pelan. Wajahnya sedikit memucat, sementara jemarinya ta

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 17

    Hari ini, Yanuar mengenakan jubah panjang berwarna biru langit, membuat sosoknya terlihat semakin tampan dan tegap.Begitu melihat pemandangan di hadapannya, dia sedikit mengernyit. Dengan beberapa langkah cepat, dia maju dan melindungi Inara di belakang tubuhnya, lalu menatap dingin Sanjaya yang berada di tanah."Tuan Sanjaya," ujar Yanuar. Suaranya tidak keras, tetapi menyiratkan tekanan yang tidak bisa dibantah. "Kamu mengganggu istri orang di siang bolong ... apa begini didikan Kediaman Adipati Utara? Atau cambukan yang kamu terima di ibu kota masih belum cukup?"Sanjaya sama sekali tidak menghiraukan ucapan Yanuar. Dia hanya menatap Inara dengan intens, seolah di dunia ini hanya tersisa wanita itu seorang."Inara ...."Dia kembali memanggilnya dengan suara parau.Inara seolah tiba-tiba teringat sesuatu. Dia mengangkat tangan dan mencabut sebuah tusuk konde dari rambutnya. Itu adalah tusuk konde berbentuk kupu-kupu yang sudah sangat tua. Sayap kupu-kupu yang terbuat dari lilitan be

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 16

    Malam semakin larut, sementara lilin-lilin merah menyala terang.Sanjaya dilempar keluar dari kediaman Keluarga Jagapadi dan terduduk lemas di sudut jalan yang dingin dan kotor. Dari kejauhan, dia masih bisa mendengar samar-samar suara keramaian para tamu yang sedang menggoda pengantin baru.Dia bisa membayangkan kamar yang dipenuhi dekorasi pernikahan itu. Di bawah temaram lilin merah, Inara mengenakan gaun pengantin yang sudah tak terhitung berapa kali muncul dalam mimpinya, tetapi kini dia justru tersenyum kepada pria lain.Dia bahkan seolah bisa mendengar samar-samar suara tawa dan bisikan mesra di antara sepasang kekasih, disusul erangan yang lebih intim dan menghancurkan hatinya.Setiap suara itu bagaikan jarum beracun yang menghujani bagian paling rapuh dalam hatinya. Rasa sakit itu membuatnya meringkuk. Dia membuka mulut ingin menangis, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.Hanya air mata panas yang mengalir deras dari kedua matanya yang sudah kering.Dia tahu. Dia

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 15

    Inara menggenggam belati dingin itu dengan tangan yang tetap stabil.Dari balik kerudung merah, dia menatap pria yang sedang dilanda keputusasaan di hadapannya dengan diam. Kemudian, sedikit demi sedikit, dia menarik tangannya kembali.Trang!Belati itu jatuh ke lantai.Di bawah tatapan putus asa Sanjaya, Inara mengangkat tangan dan perlahan menyingkap kerudung pengantinnya.Di bawah mahkota pengantin, wajahnya dirias sempurna dengan alis dan mata yang indah. Namun, kedua matanya sedingin es yang telah membeku selama ribuan tahun, tanpa sedikit pun kehangatan."Sanjaya," ucapnya.Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas hingga ke setiap sudut aula pernikahan."Kamu masih ingat apa yang kamu katakan padaku waktu aku berlutut sambil menangis dan memohon agar kamu nggak menggugurkan anak kita?"Sanjaya mematung.Kenangan yang selama ini sengaja dia kubur, mendadak menyerbu pikirannya. Wajah Inara yang pucat, tatapannya yang putus asa dan tangannya yang gemetar saat mencengkeram ujung

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status