Compartir

Bab 4

Autor: Tulip
Hal ini seperti sebuah duri kecil yang telah tertancap di hati Inara selama bertahun-tahun. Setiap kali mengingatnya, dadanya akan samar-samar terasa nyeri.

Kini, mungkin karena hatinya sudah benar-benar mati, ketika kembali mendengar Sanjaya menyuruhnya membuat masakan Jinggara demi Pertiwi, hatinya ternyata sama sekali tidak terusik.

Inara tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia menopang tubuhnya, turun dari ranjang, lalu berjalan menuju dapur kecil.

Beberapa jam kemudian, satu meja penuh masakan Jinggara yang menggugah selera, tersaji di atas meja persegi di dapur kecil.

Wajah Inara pucat, keringat dingin membasahi keningnya. Dia harus berpegangan pada tungku agar bisa berdiri dengan susah payah.

Sanjaya memandangi hidangan-hidangan yang ditata dengan begitu indah. Ada sedikit kerumitan yang melintas di matanya. Pujian yang sudah sampai di ujung lidahnya terasa sulit untuk diucapkan.

Melihat Inara yang tampak begitu lelah dan pucat, untuk pertama kalinya dia merasakan sedikit rasa iba yang benar-benar tulus.

"Terima kasih." Dia melunakkan suaranya. "Dulu kamu selalu ingin aku menemanimu makan, 'kan? Kebetulan hari ini aku bisa menemanimu."

Inara baru saja hendak menolak ketika seorang pelayan wanita bergegas masuk. Dia adalah pelayan yang berada di sisi Pertiwi.

"Tuan, Nona Pertiwi bilang sudah lapar. Beliau bertanya apakah makanan di sini sudah selesai dimasak?"

Kelembutan di wajah Sanjaya seketika membeku. Dia melirik hidangan di atas meja, lalu menatap Inara.

Inara berkata dengan tenang, "Nggak perlu menemaniku. Aku bisa makan sendiri. Masukkan saja ke kotak makanan dan antarkan padanya."

Sanjaya sepertinya menghela napas lega. Dia pun mencari kotak makanan dan mulai memasukkan hidangan ke dalamnya dengan gerakan yang agak tergesa-gesa.

Saat mengambil mangkuk sup yang terakhir, sikunya tanpa sengaja menyenggol teko tembaga kecil yang berisi air panas dan sedang dipanaskan di tungku sebelah.

Klang! Teko tembaga itu terjatuh. Air panas yang mendidih tumpah ke luar, tepat mengenai betis Inara yang berdiri di samping.

"Ah!" Inara menahan teriakan kesakitan dan mundur dengan sempoyongan.

Sanjaya terkejut dan buru-buru meletakkan kotak makanan. "Kamu nggak apa-apa?"

Saat mengucapkan itu, matanya masih melirik ke arah kotak makanan. Bahkan tanpa sadar, kakinya sudah bergeser setengah langkah menuju pintu. Jelas sekali pikirannya sudah melayang ke tempat Pertiwi.

Betis Inara terasa perih. Namun, melihat reaksinya, di dalam hatinya dia justru merasa semua ini sangat konyol dan menggelikan.

Dia menggeleng tanpa mengatakan apa-apa. Dengan langkah pincang, dia perlahan kembali ke kamarnya.

Sanjaya melihat punggungnya menghilang di balik pintu, lalu memandangi kotak makanan yang dibawanya. Pada akhirnya, dia hanya menghela napas, mengangkat kotak itu, lalu bergegas pergi.

Setelah kembali ke kamar, Inara mengambil sendiri salep obat dan mengoleskannya pada betisnya yang terkena air panas.

Wati yang berdiri di sampingnya terus meneteskan air mata. "Nyonya, kenapa Nyonya harus menyiksa diri seperti ini ...."

Inara mengoleskan salep dengan tenang, seolah tidak merasakan sakit sama sekali.

"Aku nggak merasa tersiksa." Suaranya lembut. "Sebentar lagi, semuanya akan berakhir."

Selama beberapa hari berikutnya, Inara tidak keluar dari paviliunnya sama sekali. Dia beristirahat dengan tenang untuk memulihkan lukanya.

Apa pun yang tersebar di luar tentang bagaimana Sanjaya merawat Pertiwi dengan penuh perhatian dan memenuhi setiap permintaannya, dia sama sekali tidak peduli.

Sampai suatu hari, ketika dia sedang duduk dengan tenang sambil membaca buku di dekat jendela, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari luar, disertai keributan.

"Cepat! Hati-hati!"

"Panggil tabib istana! Cepat!"

"Awas ada tangga!"

Inara mengangkat kepala. Melalui jendela yang setengah terbuka, dia melihat sekelompok orang membawa seseorang yang berlumuran darah.

Mereka bergegas melewati halaman menuju kediaman utama. Di samping mereka, Pertiwi berjalan sempoyongan dengan mata yang memerah karena menangis.

Pria yang sedang digotong itu berwajah pucat, tetapi masih memaksakan diri mengangkat tangan untuk mengusap air mata Pertiwi.

Dia adalah Sanjaya. Suaranya lemah, tetapi terdengar jelas. "Pertiwi, jangan takut .... Aku nggak apa-apa. Nggak sakit ...."

Inara meletakkan bukunya dan bangkit berjalan menuju pintu.

Wati juga mendengar keributan itu. Dia mendekat dan berkata dengan suara pelan, "Nyonya, kudengar hari ini Tuan mengajak Nona Pertiwi ke Paviliun Aurum untuk memilih perhiasan. Di perjalanan pulang, mereka bertemu pembunuh bayaran. Tuan terluka parah demi melindungi Nona Pertiwi ...."

Setelah mendengarnya, wajah Inara tak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia hanya mengeluarkan suara pelan, "Oh."

Kemudian, dia berbalik kembali ke meja, mengambil bukunya, dan melanjutkan membaca, seolah semua yang terjadi di luar tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Wati tidak tahan dan bertanya, "Nyonya nggak mau menjenguk Tuan?"

Inara bahkan tidak mengangkat kepala. "Ada tabib istana, ada Pertiwi, dan ada begitu banyak pelayan. Nggak akan kekurangan satu orang sepertiku."

Selama beberapa hari berikutnya, para pelayan yang berada di sisi Sanjaya sering datang ke tempat Inara.

"Nyonya, Tuan bilang nggak bisa makan masakan dari dapur. Tuan ingin makan bubur yang biasa Nyonya masak ...."

"Nyonya, Tuan kesakitan sampai nggak bisa tidur. Tuan teringat dupa penenang yang dulu Nyonya buat ...."

"Nyonya, Tuan bilang ...."

Setiap kali, Inara selalu menolak dengan tenang.

"Aku nggak punya waktu."

"Aku nggak bisa membuatnya."

"Cari orang lain."

Sampai suatu hari, ketika dia sedang membereskan beberapa barang lama di kamarnya, dia mendengar suara langkah kaki dari belakang. Mengira salah satu pelayan kembali datang menyampaikan pesan, dia berkata tanpa menoleh.

"Sudah kubilang, aku nggak punya waktu. Aku nggak akan ke sana."

"Sesibuk itukah kamu?" Suara Sanjaya yang menahan amarah terdengar dari belakang. "Aku terluka separah ini. Bahkan untuk datang melihatku sekali saja, kamu nggak mau?"

Gerakan Inara terhenti. Dia perlahan berbalik.

Wajah Sanjaya masih agak pucat. Dia berdiri di ambang pintu dengan ditopang oleh dua orang pelayan pria. Tatapannya yang tertuju kepada Inara dipenuhi kebingungan, kemarahan, dan sedikit kesedihan yang nyaris tak terlihat.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 20

    Ada lukisan Inara yang sedang membaca di dekat jendela, menikmati bunga di halaman, sibuk di dapur, bahkan ada juga ... sosok dirinya ketika masih berada di ibu kota, duduk di dalam kereta dengan wajah murung.Setiap goresan kuas itu tampak begitu halus dan sarat akan perasaan.Di sudut kanan bawah setiap lukisan, tercantum sebuah tanggal.Lukisan yang paling awal ternyata dibuat pada tahun ketika Inara beranjak dewasa. Saat itu, di Festival Lentera ibu kota, dia berhasil menjawab sebuah teka-teki lentera dan tersenyum cerah.Saat itu, dia bahkan belum mengenal Yanuar.Inara memegang lukisan-lukisan itu dan duduk termenung di ruang kerja untuk waktu yang lama.Malam harinya ketika Yanuar pulang, dia bertanya, "Kenapa kamu ... sebaik ini padaku?"Melihat mata Inara yang sedikit memerah, Yanuar langsung mengerti apa yang telah ditemukannya. Dia tidak menceritakan tentang cinta terpendam yang selama bertahun-tahun dijaganya dengan hati-hati.Dia tidak menceritakan betapa sedihnya dirinya

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 19

    Satu tahun kemudian.Di dalam tenda paling kotor dan bobrok di barak militer, Pertiwi meringkuk di sudut. Tubuhnya dipenuhi kotoran dan luka.Tatapannya kosong. Mulutnya terus bergumam berulang kali, "Kak Jaya ... selamatkan aku ... Kak Jaya ... mereka akan membunuhku ...."Para wanita di sampingnya mencibir."Masih bermimpi? Kak Jaya-mu itu sudah membuangmu ke sini dan nggak peduli lagi!""Kudengar dia sudah gila. Dia memeluk pakaian tua lalu menceburkan diri ke kolam teratai. Setelah diselamatkan, pikirannya malah semakin kacau. Mana mungkin dia masih ingat kamu?"Pertiwi seolah tidak mendengar mereka. Dia tetap bergumam sambil menatap kosong secercah cahaya langit yang masuk melalui lubang di atap tenda.Sesekali, seorang prajurit yang mabuk masuk dan menyeretnya pergi. Dia tidak lagi meronta, seperti boneka yang sudah kehilangan jiwa.....Di ibu kota, Kediaman Adipati Utara.Kediaman yang dulunya selalu ramai oleh tamu, kini telah kehilangan kejayaannya. Plakat di atas gerbang dis

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 18

    Sanjaya maju dua langkah, semakin mendekati tepi jurang.Tatapan Yanuar seketika berubah tajam. Dia menarik Inara sedikit ke belakang.Namun, Sanjaya seolah tidak menyadarinya. Dia menoleh dan memandang Inara. Anehnya, sebuah senyum yang nyaris seperti kelegaan muncul di wajahnya."Inara, waktu itu aku memilih Pertiwi dan berutang satu nyawa padamu." Suaranya sangat pelan hingga nyaris terbawa angin. "Sekarang, aku kembalikan nyawaku padamu, ya?"Belum selesai gema suaranya menghilang, di bawah tatapan terkejut semua orang, dia benar-benar melompat ke dalam jurang yang diselimuti kabut!"Sanjaya!"Ekspresi Yanuar seketika berubah. Dia berteriak keras dan refleks mengulurkan tangan untuk menangkapnya, tetapi hanya berhasil meraih secarik kain pakaiannya yang robek.Para pengawal berseru kaget dan bergegas ke depan. Namun, tidak ada seorang pun lagi di tepi jurang. Hanya suara angin gunung yang menderu kencang.Tubuh Inara bergoyang pelan. Wajahnya sedikit memucat, sementara jemarinya ta

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 17

    Hari ini, Yanuar mengenakan jubah panjang berwarna biru langit, membuat sosoknya terlihat semakin tampan dan tegap.Begitu melihat pemandangan di hadapannya, dia sedikit mengernyit. Dengan beberapa langkah cepat, dia maju dan melindungi Inara di belakang tubuhnya, lalu menatap dingin Sanjaya yang berada di tanah."Tuan Sanjaya," ujar Yanuar. Suaranya tidak keras, tetapi menyiratkan tekanan yang tidak bisa dibantah. "Kamu mengganggu istri orang di siang bolong ... apa begini didikan Kediaman Adipati Utara? Atau cambukan yang kamu terima di ibu kota masih belum cukup?"Sanjaya sama sekali tidak menghiraukan ucapan Yanuar. Dia hanya menatap Inara dengan intens, seolah di dunia ini hanya tersisa wanita itu seorang."Inara ...."Dia kembali memanggilnya dengan suara parau.Inara seolah tiba-tiba teringat sesuatu. Dia mengangkat tangan dan mencabut sebuah tusuk konde dari rambutnya. Itu adalah tusuk konde berbentuk kupu-kupu yang sudah sangat tua. Sayap kupu-kupu yang terbuat dari lilitan be

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 16

    Malam semakin larut, sementara lilin-lilin merah menyala terang.Sanjaya dilempar keluar dari kediaman Keluarga Jagapadi dan terduduk lemas di sudut jalan yang dingin dan kotor. Dari kejauhan, dia masih bisa mendengar samar-samar suara keramaian para tamu yang sedang menggoda pengantin baru.Dia bisa membayangkan kamar yang dipenuhi dekorasi pernikahan itu. Di bawah temaram lilin merah, Inara mengenakan gaun pengantin yang sudah tak terhitung berapa kali muncul dalam mimpinya, tetapi kini dia justru tersenyum kepada pria lain.Dia bahkan seolah bisa mendengar samar-samar suara tawa dan bisikan mesra di antara sepasang kekasih, disusul erangan yang lebih intim dan menghancurkan hatinya.Setiap suara itu bagaikan jarum beracun yang menghujani bagian paling rapuh dalam hatinya. Rasa sakit itu membuatnya meringkuk. Dia membuka mulut ingin menangis, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.Hanya air mata panas yang mengalir deras dari kedua matanya yang sudah kering.Dia tahu. Dia

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 15

    Inara menggenggam belati dingin itu dengan tangan yang tetap stabil.Dari balik kerudung merah, dia menatap pria yang sedang dilanda keputusasaan di hadapannya dengan diam. Kemudian, sedikit demi sedikit, dia menarik tangannya kembali.Trang!Belati itu jatuh ke lantai.Di bawah tatapan putus asa Sanjaya, Inara mengangkat tangan dan perlahan menyingkap kerudung pengantinnya.Di bawah mahkota pengantin, wajahnya dirias sempurna dengan alis dan mata yang indah. Namun, kedua matanya sedingin es yang telah membeku selama ribuan tahun, tanpa sedikit pun kehangatan."Sanjaya," ucapnya.Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas hingga ke setiap sudut aula pernikahan."Kamu masih ingat apa yang kamu katakan padaku waktu aku berlutut sambil menangis dan memohon agar kamu nggak menggugurkan anak kita?"Sanjaya mematung.Kenangan yang selama ini sengaja dia kubur, mendadak menyerbu pikirannya. Wajah Inara yang pucat, tatapannya yang putus asa dan tangannya yang gemetar saat mencengkeram ujung

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status