Compartir

Bab 2

Autor: Tulip
Senyum hangat yang terukir di wajah Inara membuat hati Sanjaya terasa tertusuk. Rasa tidak nyaman di dalam dirinya semakin kuat, bercampur dengan sedikit rasa getir yang bahkan tidak dia sadari.

"Lebih penting ...." Dia baru saja hendak bertanya lebih lanjut, tetapi Pertiwi kembali mengeluarkan erangan lemah karena merasa tidak enak badan dan mencengkeram erat lengan bajunya.

"Kak Jaya, bisa kita berangkat sekarang? Kepalaku pusing sekali. Aku ingin pulang dan berbaring ...." Suaranya lemah dan lirih, terdengar seperti memohon.

Sanjaya melirik Inara. Pada akhirnya, dia menelan kembali kata-katanya yang sudah sampai di ujung lidah dan hanya berkata singkat, "Kalau begitu, hati-hati di jalan."

Setelah itu, dia membantu Pertiwi kembali ke kereta. Tirai diturunkan, memisahkan bagian dalam kereta dan dunia di luar.

Kereta kuda itu melaju menjauh dengan suara derap kuda dan roda yang berderak, lalu segera menghilang di balik tirai hujan.

Inara tetap berdiri di tempatnya. Hujan yang dingin membasahi tubuhnya, tetapi dia seolah tidak merasakan dingin sedikit pun. Dia hanya menunduk dan mengusap liontin giok di tangannya.

Inara adalah putri seorang guru agung, Pertiwi adalah putri seorang wakil menteri, sedangkan Sanjaya adalah putra bangsawan dari keluarga adipati. Mereka bertiga tumbuh bersama sejak kecil dan sudah bersahabat sejak masa kanak-kanak.

Inara menyukai Sanjaya, tetapi di mata Sanjaya, hanya ada Pertiwi.

Demi Pertiwi, pria itu pernah memetik bunga persik pertama yang mekar pada bulan Maret. Demi Pertiwi, dia pernah menerobos masuk ke istana pada malam hari untuk meminta tabib istana mengobati sakit kepalanya. Demi Pertiwi, dia pernah mencambuk pemuda bangsawan yang bersikap kurang ajar di tengah jalan.

Di seluruh ibu kota, semua orang mengatakan bahwa Sanjaya memiliki cinta sedalam lautan. Bahkan tokoh pria dalam cerita yang tergila-gila pada seorang wanita pun kalah darinya.

Namun kemudian, Pertiwi menerima lamaran dari pria lain. Seluruh kota gempar dan mencaci Pertiwi sebagai wanita yang tidak setia dan tidak tahu berterima kasih.

Demi menjaga reputasinya, Pertiwi menangis dan menemui Sanjaya.

"Kak Jaya, kamu sangat baik. Seumur hidup ini, aku nggak pernah bertemu orang yang memperlakukanku lebih baik darimu. Tapi rasa syukur dan cinta itu berbeda. Aku nggak bisa bersamamu."

"Kini, semua orang mencaciku. Demi perasaan yang dulu pernah kamu miliki untukku, tolong bantu aku sekali lagi, boleh?"

Hati Sanjaya terasa seperti diremas-remas, tetapi dia tetap melakukannya.

Demi menjaga nama baik Pertiwi, dia melamar Inara yang selama ini mencintainya. Dia mengumumkan bahwa dirinya dan Pertiwi sama-sama sudah memiliki orang yang dicintai, bukan karena salah satu dari mereka meninggalkan yang lain.

Inara tahu bahwa Sanjaya menikahinya demi Pertiwi, tetapi dia tetap menyetujui pernikahan itu.

Pada malam pertama mereka, Sanjaya mabuk berat. Saat mereka menjalankan kewajiban sebagai suami istri, nama yang keluar dari bibirnya adalah "Pertiwi".

Setelah menikah, Sanjaya selalu murung, sehingga Inara mengerahkan seluruh tenaganya untuk memperlakukannya dengan baik.

Saat cuaca dingin, dia menambahkan pakaian untuk Sanjaya. Saat Sanjaya pulang larut malam, dia selalu menyalakan lilin untuk menunggunya. Ketika nafsu makan Sanjaya buruk, dia mempelajari berbagai resep agar bisa membuatkannya makanan yang sesuai selera.

Tahun demi tahun berlalu. Akhirnya, Sanjaya mulai tersenyum kepadanya. Saat hari ulang tahunnya, Sanjaya akan membawakan sebuah tusuk konde. Saat Inara sakit, Sanjaya akan berjaga di sisi ranjangnya.

Inara mengira hari-hari mereka perlahan akan menjadi lebih baik. Sampai lima tahun kemudian, Pertiwi bercerai dan kembali ke rumah keluarganya.

Sepertinya wanita itu masih sama seperti dulu, selalu tertimpa berbagai masalah. Sanjaya juga masih sama seperti dulu, selalu sibuk mengurus segala keperluannya. Bahkan karena Pertiwi berkata "kalau tinggal di rumah orang tua, aku takut orang-orang membicarakanku", Sanjaya langsung membawanya masuk ke kediamannya.

Inara menahan semuanya. Sampai ketika dia mengetahui bahwa dirinya hamil dan memberitahukan kabar itu kepada Sanjaya dengan gembira, Pertiwi kebetulan mendengarnya dan meneteskan air mata.

Sanjaya segera pergi menenangkannya. Selesai membujuk Pertiwi, dia kembali dengan membawa semangkuk obat penggugur kandungan.

"Inara, dulu Pertiwi juga pernah mengandung seorang anak, tapi pria yang nggak setia itu memaksanya menggugurkan kandungan. Melihatmu hamil, hatinya merasa sangat sedih. Untuk sementara, kita jangan punya anak dulu. Setelah dia bisa menerima keadaan, baru kita bicarakan lagi, bagaimana?"

Inara merasa seolah disambar petir. Dia berlutut dan memohon, mengatakan bahwa itu adalah darah daging mereka.

Namun, Sanjaya hanya membujuknya dengan lembut, "Kelak kita masih bisa punya anak lagi."

Kemudian, dia sendiri yang memaksa Inara meminum obat itu.

Hatinya hancur berkeping-keping. Dia benar-benar kehilangan kendali. Namun pada hari yang sama, bahkan sebelum sempat menjalani masa pemulihan setelah keguguran, dia dan Pertiwi diculik oleh para bandit.

Di tepi tebing, para bandit memaksanya memilih salah satu dari mereka. Akhirnya, Sanjaya tetap memilih Pertiwi!

Saat tubuh Inara jatuh dari tebing, dia berpikir, mungkin mati seperti ini juga tidak buruk. Namun, ternyata dia masih hidup.

Ketika membuka mata, dia mendapati dirinya terbaring di dalam sebuah gua. Seorang pria asing sudah menyelamatkannya.

Pria itu mengenakan pakaian hijau. Wajahnya luar biasa tampan. Pembawaannya pun begitu terhormat, sama sekali tidak seperti orang biasa.

Inara mengucapkan terima kasih dan hendak memberinya uang, tetapi pria itu justru tersenyum.

"Aku nggak kekurangan uang. Aku cuma belum punya istri. Bagaimana kalau kamu membalas budi dengan menikah denganku?"

Inara mengatakan bahwa dirinya sudah menikah. Namun, pria itu mengangkat alis.

"Aku justru suka perempuan yang sudah menikah. Kamu cerai saja, lalu menikah denganku."

Inara mengira dia hanya bercanda. Namun, pria itu menyelipkan sebuah liontin giok ke tangannya. Ekspresinya juga berubah serius.

"Waktu kamu demam, kamu mengigau dan melepas pakaianku. Kesucianku sudah kamu renggut, jadi kamu harus bertanggung jawab. Aku beri kamu beberapa hari untuk bercerai. Setelah itu, bawa liontin giok ini dan datanglah mencariku di Jinggara."

Inara tidak tahu apa sebenarnya yang diinginkan pria ini. Dengan wajah dan pembawaan seperti itu, mengapa dia ingin menikahi seorang wanita yang sudah pernah menikah?

Namun, hati Inara terhadap Sanjaya sudah lama mati. Meninggalkan ibu kota dan meninggalkan Sanjaya justru merupakan hal yang selama ini dia inginkan.

Dia pun menerima liontin giok itu dan berkata, "Baik."

Setelah pulang ke kediaman, hal pertama yang dilakukan Inara adalah mencari surat cerai yang pernah ditulis Sanjaya dalam keadaan mabuk bertahun-tahun lalu.

Saat itu, Sanjaya baru mengetahui bahwa kehidupan Pertiwi di rumah suaminya tidak baik. Dia menenggak minuman keras untuk mengusir kesedihan, lalu menulis surat itu dalam keadaan mabuk.

Tulisan tangannya berantakan, tetapi setiap goresannya begitu kuat seolah ingin menembus kertas.

[ Hati kami tak lagi sejalan, perasaan pun telah berakhir. Dengan ini, aku menceraikan Inara dan membebaskannya untuk pulang ke keluarganya. Mulai saat ini, kami berpisah baik-baik dan masing-masing menjalani hidup dengan bahagia. ]

Mungkin setelah sadar dari mabuk, Sanjaya sudah melupakannya. Atau mungkin dia memang tidak pernah menganggapnya penting dan sembarangan melemparkannya ke suatu sudut tanpa tahu lagi di mana.

Namun, saat itu Inara yang masih mencintainya mengambil surat itu dengan hati yang hancur. Dia menyimpannya jauh di dasar sebuah peti, seolah menyembunyikan luka yang tidak mungkin sembuh.

Kini, luka itu justru menjadi kunci yang membawanya menuju kebebasan.

Dia membawa surat cerai yang ditulis sendiri oleh Sanjaya itu ke balai pemerintahan untuk didaftarkan.

Dia hanya perlu menunggu hingga akhir bulan, ketika prosesnya selesai dan cap resmi kerajaan sudah dibubuhkan. Setelah itu, dirinya dan Sanjaya tak akan memiliki hubungan apa pun lagi.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 20

    Ada lukisan Inara yang sedang membaca di dekat jendela, menikmati bunga di halaman, sibuk di dapur, bahkan ada juga ... sosok dirinya ketika masih berada di ibu kota, duduk di dalam kereta dengan wajah murung.Setiap goresan kuas itu tampak begitu halus dan sarat akan perasaan.Di sudut kanan bawah setiap lukisan, tercantum sebuah tanggal.Lukisan yang paling awal ternyata dibuat pada tahun ketika Inara beranjak dewasa. Saat itu, di Festival Lentera ibu kota, dia berhasil menjawab sebuah teka-teki lentera dan tersenyum cerah.Saat itu, dia bahkan belum mengenal Yanuar.Inara memegang lukisan-lukisan itu dan duduk termenung di ruang kerja untuk waktu yang lama.Malam harinya ketika Yanuar pulang, dia bertanya, "Kenapa kamu ... sebaik ini padaku?"Melihat mata Inara yang sedikit memerah, Yanuar langsung mengerti apa yang telah ditemukannya. Dia tidak menceritakan tentang cinta terpendam yang selama bertahun-tahun dijaganya dengan hati-hati.Dia tidak menceritakan betapa sedihnya dirinya

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 19

    Satu tahun kemudian.Di dalam tenda paling kotor dan bobrok di barak militer, Pertiwi meringkuk di sudut. Tubuhnya dipenuhi kotoran dan luka.Tatapannya kosong. Mulutnya terus bergumam berulang kali, "Kak Jaya ... selamatkan aku ... Kak Jaya ... mereka akan membunuhku ...."Para wanita di sampingnya mencibir."Masih bermimpi? Kak Jaya-mu itu sudah membuangmu ke sini dan nggak peduli lagi!""Kudengar dia sudah gila. Dia memeluk pakaian tua lalu menceburkan diri ke kolam teratai. Setelah diselamatkan, pikirannya malah semakin kacau. Mana mungkin dia masih ingat kamu?"Pertiwi seolah tidak mendengar mereka. Dia tetap bergumam sambil menatap kosong secercah cahaya langit yang masuk melalui lubang di atap tenda.Sesekali, seorang prajurit yang mabuk masuk dan menyeretnya pergi. Dia tidak lagi meronta, seperti boneka yang sudah kehilangan jiwa.....Di ibu kota, Kediaman Adipati Utara.Kediaman yang dulunya selalu ramai oleh tamu, kini telah kehilangan kejayaannya. Plakat di atas gerbang dis

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 18

    Sanjaya maju dua langkah, semakin mendekati tepi jurang.Tatapan Yanuar seketika berubah tajam. Dia menarik Inara sedikit ke belakang.Namun, Sanjaya seolah tidak menyadarinya. Dia menoleh dan memandang Inara. Anehnya, sebuah senyum yang nyaris seperti kelegaan muncul di wajahnya."Inara, waktu itu aku memilih Pertiwi dan berutang satu nyawa padamu." Suaranya sangat pelan hingga nyaris terbawa angin. "Sekarang, aku kembalikan nyawaku padamu, ya?"Belum selesai gema suaranya menghilang, di bawah tatapan terkejut semua orang, dia benar-benar melompat ke dalam jurang yang diselimuti kabut!"Sanjaya!"Ekspresi Yanuar seketika berubah. Dia berteriak keras dan refleks mengulurkan tangan untuk menangkapnya, tetapi hanya berhasil meraih secarik kain pakaiannya yang robek.Para pengawal berseru kaget dan bergegas ke depan. Namun, tidak ada seorang pun lagi di tepi jurang. Hanya suara angin gunung yang menderu kencang.Tubuh Inara bergoyang pelan. Wajahnya sedikit memucat, sementara jemarinya ta

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 17

    Hari ini, Yanuar mengenakan jubah panjang berwarna biru langit, membuat sosoknya terlihat semakin tampan dan tegap.Begitu melihat pemandangan di hadapannya, dia sedikit mengernyit. Dengan beberapa langkah cepat, dia maju dan melindungi Inara di belakang tubuhnya, lalu menatap dingin Sanjaya yang berada di tanah."Tuan Sanjaya," ujar Yanuar. Suaranya tidak keras, tetapi menyiratkan tekanan yang tidak bisa dibantah. "Kamu mengganggu istri orang di siang bolong ... apa begini didikan Kediaman Adipati Utara? Atau cambukan yang kamu terima di ibu kota masih belum cukup?"Sanjaya sama sekali tidak menghiraukan ucapan Yanuar. Dia hanya menatap Inara dengan intens, seolah di dunia ini hanya tersisa wanita itu seorang."Inara ...."Dia kembali memanggilnya dengan suara parau.Inara seolah tiba-tiba teringat sesuatu. Dia mengangkat tangan dan mencabut sebuah tusuk konde dari rambutnya. Itu adalah tusuk konde berbentuk kupu-kupu yang sudah sangat tua. Sayap kupu-kupu yang terbuat dari lilitan be

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 16

    Malam semakin larut, sementara lilin-lilin merah menyala terang.Sanjaya dilempar keluar dari kediaman Keluarga Jagapadi dan terduduk lemas di sudut jalan yang dingin dan kotor. Dari kejauhan, dia masih bisa mendengar samar-samar suara keramaian para tamu yang sedang menggoda pengantin baru.Dia bisa membayangkan kamar yang dipenuhi dekorasi pernikahan itu. Di bawah temaram lilin merah, Inara mengenakan gaun pengantin yang sudah tak terhitung berapa kali muncul dalam mimpinya, tetapi kini dia justru tersenyum kepada pria lain.Dia bahkan seolah bisa mendengar samar-samar suara tawa dan bisikan mesra di antara sepasang kekasih, disusul erangan yang lebih intim dan menghancurkan hatinya.Setiap suara itu bagaikan jarum beracun yang menghujani bagian paling rapuh dalam hatinya. Rasa sakit itu membuatnya meringkuk. Dia membuka mulut ingin menangis, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.Hanya air mata panas yang mengalir deras dari kedua matanya yang sudah kering.Dia tahu. Dia

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 15

    Inara menggenggam belati dingin itu dengan tangan yang tetap stabil.Dari balik kerudung merah, dia menatap pria yang sedang dilanda keputusasaan di hadapannya dengan diam. Kemudian, sedikit demi sedikit, dia menarik tangannya kembali.Trang!Belati itu jatuh ke lantai.Di bawah tatapan putus asa Sanjaya, Inara mengangkat tangan dan perlahan menyingkap kerudung pengantinnya.Di bawah mahkota pengantin, wajahnya dirias sempurna dengan alis dan mata yang indah. Namun, kedua matanya sedingin es yang telah membeku selama ribuan tahun, tanpa sedikit pun kehangatan."Sanjaya," ucapnya.Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas hingga ke setiap sudut aula pernikahan."Kamu masih ingat apa yang kamu katakan padaku waktu aku berlutut sambil menangis dan memohon agar kamu nggak menggugurkan anak kita?"Sanjaya mematung.Kenangan yang selama ini sengaja dia kubur, mendadak menyerbu pikirannya. Wajah Inara yang pucat, tatapannya yang putus asa dan tangannya yang gemetar saat mencengkeram ujung

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status