Share

Bab 5

Penulis: Tulip
"Aku bukan tabib istana. Pergi ke paviliunmu pun nggak ada gunanya." Nada bicara Inara datar.

"Kalaupun nggak bisa membantu, apa kamu sama sekali nggak mengkhawatirkanku?" Dada Sanjaya naik turun, seolah sikap Inara sudah melukainya.

"Dulu waktu aku cuma batuk, kamu sudah begitu cemas sampai menjagaku sepanjang malam. Sekarang? Aku nyaris mati, tapi kamu malah nggak mau menunjukkan wajahmu!"

"Kamu terluka demi Pertiwi. Tentu saja Pertiwi yang akan merawatmu siang dan malam tanpa istirahat. Kalau aku datang, aku khawatir malah mengganggu kalian dan membuat Pertiwi nggak senang." Inara menyampaikan fakta itu dengan tenang.

Perkataan itu membuat Sanjaya hampir tersedak karena kesal. "Apa maksudmu bicara seperti itu? Pertiwi adalah tamu. Mana mungkin aku membiarkannya merawatku, bahkan melepas pakaianku untuk mengganti perban?"

"Kalau sampai tersebar, bagaimana dengan nama baiknya? Sedangkan kita adalah suami istri, nggak perlu menghindari hal-hal seperti itu!"

Ternyata, hanya ketika ada urusan yang bisa mencoreng kehormatan Pertiwi, barulah dia ingat bahwa Inara adalah istrinya yang sah.

Hati Inara dipenuhi rasa getir yang tak terlukiskan. Semua ini begitu ironis hingga dia hampir ingin tertawa.

Saat ini, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari luar pintu.

Brak! Seperti ada sesuatu yang terjatuh ke lantai.

Keduanya menoleh mengikuti suara itu. Ternyata Pertiwi entah sejak kapan sudah berdiri di luar pintu. Wajahnya pucat, matanya memerah. Di dekat kakinya ada sebuah kotak makanan yang terjatuh, dengan kuah tumpah membasahi lantai.

Dia menatap Sanjaya. Air matanya seketika mengalir deras.

"Ternyata ... ternyata selama beberapa hari ini kamu nggak membiarkanku merawatmu karena alasan ini .... Benar juga, aku cuma orang luar. Aku juga nggak seharusnya terus tinggal di sini dan membuat orang merasa terganggu .... Aku akan pergi sekarang!"

Setelah berkata demikian, dia langsung berbalik dan berlari pergi. Langkahnya sempoyongan, sosok belakangnya tampak dipenuhi kesedihan yang mendalam.

"Pertiwi!" Wajah Sanjaya berubah drastis. Dia tak lagi memedulikan Inara. Dia langsung mendorong pelayan pria yang menopangnya dan bergegas mengejar Pertiwi. Bahkan ketika luka di tubuhnya kembali terbuka dan darah mulai merembes, dia seolah tidak menyadarinya.

Inara tetap berdiri di tempatnya, menatap pintu yang kini kosong dengan ekspresi tenang.

Keesokan paginya, dia mendengar dari percakapan para pelayan bahwa Sanjaya mengejar Pertiwi dan membujuknya sepanjang malam. Pada akhirnya, Sanjaya berhasil menenangkannya. Bahkan Sanjaya memerintahkan bahwa mulai sekarang, seluruh orang di kediaman harus memperlakukan Pertiwi seperti nyonya besar dan tidak boleh mengabaikannya.

Wati begitu marah sampai matanya memerah. "Nyonya! Bagaimana bisa Tuan melakukan ini? Nyonya adalah nyonya utama di kediaman ini!"

Inara hanya menjawab singkat, "Ya." Kemudian, dia kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaannya.

Tak lama kemudian, Sanjaya datang ke paviliun Inara bersama Pertiwi. Pertiwi bersandar manja di sisinya. Nadanya terdengar meminta maaf, tetapi di wajahnya terselip sedikit provokasi.

"Inara, aku benar-benar minta maaf. Kak Jaya bilang, meski aku bukan nyonya di kediaman ini, aku juga bukan orang luar. Aku boleh minta apa pun yang kuinginkan."

"Aku bilang padanya aku menyukai paviliun tempatmu tinggal. Suasananya tenang dan damai, pemandangannya juga indah. Kak Jaya bilang dia bisa memberikannya padaku. Jadi, sepertinya aku harus merepotkanmu untuk pindah."

Wati akhirnya tak mampu menahan diri dan menangis. "Nona, itu nggak sesuai aturan! Nyonya kami adalah nyonya utama di kediaman ini. Bagaimana mungkin Nona ...."

"Wati." Inara menghentikannya dengan suara lembut. Dia mendongak dan menatap Sanjaya.

Ekspresi tidak nyaman melintas di wajah Sanjaya. Dia tahu permintaan ini memang keterlaluan. Dia menduga Inara akan merasa diperlakukan tidak adil, menangis, membuat keributan, dan mempertanyakannya.

Bahkan dia sudah menyiapkan banyak alasan untuk menjelaskan dan menenangkannya.

Suasana hati Pertiwi sedang tidak baik. Dia membutuhkan lingkungan yang nyaman untuk memulihkan diri. Inara adalah nyonya di kediaman ini, jadi seharusnya lebih lapang dada. Dia akan mencarikan paviliun yang lebih baik untuk Inara.

Baru saja Sanjaya hendak berbicara, Inara sudah berkata dengan tenang, "Nggak apa-apa. Aku akan segera mengosongkan tempat ini untukmu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 20

    Ada lukisan Inara yang sedang membaca di dekat jendela, menikmati bunga di halaman, sibuk di dapur, bahkan ada juga ... sosok dirinya ketika masih berada di ibu kota, duduk di dalam kereta dengan wajah murung.Setiap goresan kuas itu tampak begitu halus dan sarat akan perasaan.Di sudut kanan bawah setiap lukisan, tercantum sebuah tanggal.Lukisan yang paling awal ternyata dibuat pada tahun ketika Inara beranjak dewasa. Saat itu, di Festival Lentera ibu kota, dia berhasil menjawab sebuah teka-teki lentera dan tersenyum cerah.Saat itu, dia bahkan belum mengenal Yanuar.Inara memegang lukisan-lukisan itu dan duduk termenung di ruang kerja untuk waktu yang lama.Malam harinya ketika Yanuar pulang, dia bertanya, "Kenapa kamu ... sebaik ini padaku?"Melihat mata Inara yang sedikit memerah, Yanuar langsung mengerti apa yang telah ditemukannya. Dia tidak menceritakan tentang cinta terpendam yang selama bertahun-tahun dijaganya dengan hati-hati.Dia tidak menceritakan betapa sedihnya dirinya

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 19

    Satu tahun kemudian.Di dalam tenda paling kotor dan bobrok di barak militer, Pertiwi meringkuk di sudut. Tubuhnya dipenuhi kotoran dan luka.Tatapannya kosong. Mulutnya terus bergumam berulang kali, "Kak Jaya ... selamatkan aku ... Kak Jaya ... mereka akan membunuhku ...."Para wanita di sampingnya mencibir."Masih bermimpi? Kak Jaya-mu itu sudah membuangmu ke sini dan nggak peduli lagi!""Kudengar dia sudah gila. Dia memeluk pakaian tua lalu menceburkan diri ke kolam teratai. Setelah diselamatkan, pikirannya malah semakin kacau. Mana mungkin dia masih ingat kamu?"Pertiwi seolah tidak mendengar mereka. Dia tetap bergumam sambil menatap kosong secercah cahaya langit yang masuk melalui lubang di atap tenda.Sesekali, seorang prajurit yang mabuk masuk dan menyeretnya pergi. Dia tidak lagi meronta, seperti boneka yang sudah kehilangan jiwa.....Di ibu kota, Kediaman Adipati Utara.Kediaman yang dulunya selalu ramai oleh tamu, kini telah kehilangan kejayaannya. Plakat di atas gerbang dis

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 18

    Sanjaya maju dua langkah, semakin mendekati tepi jurang.Tatapan Yanuar seketika berubah tajam. Dia menarik Inara sedikit ke belakang.Namun, Sanjaya seolah tidak menyadarinya. Dia menoleh dan memandang Inara. Anehnya, sebuah senyum yang nyaris seperti kelegaan muncul di wajahnya."Inara, waktu itu aku memilih Pertiwi dan berutang satu nyawa padamu." Suaranya sangat pelan hingga nyaris terbawa angin. "Sekarang, aku kembalikan nyawaku padamu, ya?"Belum selesai gema suaranya menghilang, di bawah tatapan terkejut semua orang, dia benar-benar melompat ke dalam jurang yang diselimuti kabut!"Sanjaya!"Ekspresi Yanuar seketika berubah. Dia berteriak keras dan refleks mengulurkan tangan untuk menangkapnya, tetapi hanya berhasil meraih secarik kain pakaiannya yang robek.Para pengawal berseru kaget dan bergegas ke depan. Namun, tidak ada seorang pun lagi di tepi jurang. Hanya suara angin gunung yang menderu kencang.Tubuh Inara bergoyang pelan. Wajahnya sedikit memucat, sementara jemarinya ta

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 17

    Hari ini, Yanuar mengenakan jubah panjang berwarna biru langit, membuat sosoknya terlihat semakin tampan dan tegap.Begitu melihat pemandangan di hadapannya, dia sedikit mengernyit. Dengan beberapa langkah cepat, dia maju dan melindungi Inara di belakang tubuhnya, lalu menatap dingin Sanjaya yang berada di tanah."Tuan Sanjaya," ujar Yanuar. Suaranya tidak keras, tetapi menyiratkan tekanan yang tidak bisa dibantah. "Kamu mengganggu istri orang di siang bolong ... apa begini didikan Kediaman Adipati Utara? Atau cambukan yang kamu terima di ibu kota masih belum cukup?"Sanjaya sama sekali tidak menghiraukan ucapan Yanuar. Dia hanya menatap Inara dengan intens, seolah di dunia ini hanya tersisa wanita itu seorang."Inara ...."Dia kembali memanggilnya dengan suara parau.Inara seolah tiba-tiba teringat sesuatu. Dia mengangkat tangan dan mencabut sebuah tusuk konde dari rambutnya. Itu adalah tusuk konde berbentuk kupu-kupu yang sudah sangat tua. Sayap kupu-kupu yang terbuat dari lilitan be

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 16

    Malam semakin larut, sementara lilin-lilin merah menyala terang.Sanjaya dilempar keluar dari kediaman Keluarga Jagapadi dan terduduk lemas di sudut jalan yang dingin dan kotor. Dari kejauhan, dia masih bisa mendengar samar-samar suara keramaian para tamu yang sedang menggoda pengantin baru.Dia bisa membayangkan kamar yang dipenuhi dekorasi pernikahan itu. Di bawah temaram lilin merah, Inara mengenakan gaun pengantin yang sudah tak terhitung berapa kali muncul dalam mimpinya, tetapi kini dia justru tersenyum kepada pria lain.Dia bahkan seolah bisa mendengar samar-samar suara tawa dan bisikan mesra di antara sepasang kekasih, disusul erangan yang lebih intim dan menghancurkan hatinya.Setiap suara itu bagaikan jarum beracun yang menghujani bagian paling rapuh dalam hatinya. Rasa sakit itu membuatnya meringkuk. Dia membuka mulut ingin menangis, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.Hanya air mata panas yang mengalir deras dari kedua matanya yang sudah kering.Dia tahu. Dia

  • Kala Kupu-Kupu Tak Lagi Hinggap   Bab 15

    Inara menggenggam belati dingin itu dengan tangan yang tetap stabil.Dari balik kerudung merah, dia menatap pria yang sedang dilanda keputusasaan di hadapannya dengan diam. Kemudian, sedikit demi sedikit, dia menarik tangannya kembali.Trang!Belati itu jatuh ke lantai.Di bawah tatapan putus asa Sanjaya, Inara mengangkat tangan dan perlahan menyingkap kerudung pengantinnya.Di bawah mahkota pengantin, wajahnya dirias sempurna dengan alis dan mata yang indah. Namun, kedua matanya sedingin es yang telah membeku selama ribuan tahun, tanpa sedikit pun kehangatan."Sanjaya," ucapnya.Suaranya tidak keras, tetapi terdengar jelas hingga ke setiap sudut aula pernikahan."Kamu masih ingat apa yang kamu katakan padaku waktu aku berlutut sambil menangis dan memohon agar kamu nggak menggugurkan anak kita?"Sanjaya mematung.Kenangan yang selama ini sengaja dia kubur, mendadak menyerbu pikirannya. Wajah Inara yang pucat, tatapannya yang putus asa dan tangannya yang gemetar saat mencengkeram ujung

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status